Part 5 (Bukan Halusinasi)

1879 Words
Lampu kamar sudah padam tapi mataku terus bersinar seolah tak peduli penghematan energi. Kornea mata bahkan bergerak naik turun mengikuti layar ponsel, membaca setiap bait demi bait yang ada di artikel serta komentar media sosial. Kim Gazza benar-benar menjadi perbincangan dunia. Tak hanya di negaranya, seluruh penggemar internasional mempertanyakan ketiadaannya dalam konser Super X. Bahkan beberapa penggemar berani berspekulasi.  Menghela napas panjang. Sepertinya aku benar-benar sudah gila. Kenapa harus menampungnya di sini? Jika dia benar-benar Kim Gazza, sudah pasti akan menjadi masalah besar untukku. Di negara ini seorang idola memperoleh penjagaan ketat, seketat malaikat maut menjaga umat manusia. Jika agensi dan masyarakat tahu Gazza ada di rumahku, bukan tidak mungkin artikel rancu akan bertebaran dan tentunya aku akan mendapatkan banyak ancaman serta ujaran kebencian. Hidupku tidak akan tenang.  "Hah!" helaku menatap kosong langit-langit kamar. Hari semakin pagi namun mataku belum juga kehilangan energi. Aku memutuskan keluar kamar dan duduk menatap Gazza dengan kebodohan, mengumpat pada diriku sendiri. Tetap saja aku pun perempuan yang menatap laki-laki tampan dengan perasaan senang. Kupikir semua perempuan semacam itu, tidak perlu munafik.  "Mama." Gazza tiba-tiba bersuara. Air matanya menetes dalam lelap, membuatku tertawa.  "Ssshhh, dia bilang dia bukan bayi tapi dia..." "Aku lelah dan aku takut." Tangisnya semakin menjadi dan tangannya gemetar. Aku mencoba merapikan selimutnya, menyisakan kepala yang tak tertutup, tapi tangan kanannya gesit meraih tanganku dan menggenggamnya erat, semacam seorang anak yang menggenggam tangan ibunya ketika dia ketakutan. Yang kulihat benar-benar air mata dan gumam rasa takut dari bibir pucatnya. Rasa ibaku benar-benar hadir, terbukti dari balas genggamku dan usap jariku di punggung telapak tangannya, dia nampak begitu tenang setelahnya. Subuh hari tiba, aku terbangun di lantai dengan tangan masih dalam genggaman Gazza. Aku mulai panik hendak memintanya keluar dari rumahku segera, sebelum penduduk sekitar tahu dan berita akan menyebar dengan cepat. Akan tetapi, tangannya begitu panas dan wajahnya pucat. "Gazza," panggilku berusaha membangunkannya namun tak mendapat respon. Berulangkali memastikan suhu tubuhnya dan mendapatkan jawaban bahwa dia sedang demam. Aku  mencoba membangunkannya lagi. Ada respon namun nampak begitu lemas. "Kita ke rumah sakit," ajakku sudah kepalang panik. Tidak peduli rumor apa yang akan beredar nanti, aku bisa melakukan klarifikasi atau orang akan segera melupakan rumor itu jika kami tidak lagi saling bertemu. Lebih mengerikan jika dia mati di sini maka selamanya aku akan menjadi pembunuh. Mengalungkan tangannya ke bahuku. "Kamu siapa?" tanyanya dengan nada yang lemas.  "Tidak penting. Kita harus cepat, ini hari pertamaku mengajar, aku tidak punya banyak waktu," ujarku berusaha memapahnya tapi dia menolak. "Aku tidak mau ke rumah sakit, mereka akan menemukanku. Aku hampir bunuh diri karena tidak mengikuti kata hatiku. Aku hanya ingin tenang untuk beberapa hari. Bahkan meski sakit, aku sedang tidak ingin bertemu dengan orang-orang yang seolah memiliki jiwa dan ragaku." Aku tidak mengerti untuk beberapa kalimatnya, tapi jika dia sempat berpikir untuk bunuh diri, itu artinya dia benar-benar tidak dalam keadaan yang baik-baik saja. Lukisan tingkah bayinya yang ceria dalam acara ragam sangatlah palsu, matanya bahkan menyimpan pilu. "Tetap saja, kamu sedang sakit. Aku tidak mau kamu mati di sini." "Jika kamu membawaku ke rumah sakit, itu akan menyulitkan hidupmu. Akan ada rumor yang berkembang dan itu tidak mudah untuk kamu hadapi." "Aku lebih tidak mau menjadi pembunuh karena kamu mati di sini." "Kumohon, aku tidak mau siapapun tahu kalau aku ada di sini, aku ingin sendiri tanpa aturan yang mengungkung hak asasiku sebagai  manusia," pintanya dengan mata berkaca-kaca. "Kumohon!" "Lalu aku harus bagaimana?" tanyaku pasrah. Memang tidak enak menjadi manusia yang penuh dengan simpati dan empati tanpa pernah tahu dia sedang dibodohi atau dia memang sedang membantu seseorang. "Rawat aku!" Mengernyitkan dahi. "Aku tidak bisa. Ah, ini hari pertamaku mengajar. Aku tidak bisa izin atau datang terlambat. Belum lama ini aku  kehilangan pekerjaan, aku tidak mau kehilangan pekerjaan lagi. Aishhh, apa gunanya menceritakan itu padamu," keluhku frustasi.  "Kalau begitu, biarkan aku tidur di sini, bersiaplah untuk pekerjaanmu." "Aku tidak bisa, ah." "Kumohon!" Sungguh wajah memelasnya membuatku tidak berdaya.  Benar, hari ini aku membiarkan Gazza tetap di rumahku. Aku tidak punya obat demam, aku hanya berjanji akan membelikannya setelah mengajar nanti. Dia setuju dan hanya memintaku untuk membuatkannya teh hangat. "Hara!" panggil Juna dari bawah tangga dengan sepeda ontelnya. Dia mengenakan seragam guru berwarna hitam putih, menggendong tas hitam. Seolah konsep hidupnya adalah monokrom tapi terpatahkan oleh mata sipit yang penuh warna. Aku sungguh belum percaya di distrik ini ada laki-laki setampan dia. Jika dia pergi ke kota dan melamar pada sebuah agensi, sudah pasti dia akan lolos meski hanya menampakkan batang hidungnya. "Jok belakang kosong!"  Tersenyum. "Bukankah ada angkutan umum menuju sekolah?" "Ah, lebih menyenangkan bersepeda di pagi hari." Aku setuju berboncengan dengannya. Semakin membuatku bertanya-tanya, aku tumbuh di lingkungan yang kejam puluhan tahun tapi aku punya rasa simpati dan empati yang tinggi. Jika boleh kusombongkan, aku cukup baik pada siapapun yang kutemui, bahkan meski orang baru.  "Kamu punya obat demam?" tanyaku di tengah perjalanan. Aku mengkhawatirkan Gazza, seharusnya aku memaksa dia pergi ke rumah sakit, bukan hanya pasrah. Bagaimana jika dia mati di rumahku?  "Ada di rumah, apa kamu sedang demam?" tanya Juna terus mengayuh pedal sepedanya. "Tidak." "Lalu siapa yang demam?"  "Kim Gazza." "Hah?"  "Bukan-bukan, kucingku maksudnya." Juna terkekeh. "Kucing demam itu bentuknya seperti apa?" "Ha-ha. Hidungnya ingusan." "Ha-ha." Meski aku mudah dekat dengan orang baru, tapi sejak kejadian mengerikan menyangkut Kim Jae, aku memutuskan untuk tidak mudah mempercayai orang baru. Walaupun aku masih tetap mempercayainya dalam beberapa hal. Aku hanya takut Juna membocorkan rahasia bahwa Gazza ada di rumahku. Jika bocor sudah pasti menjadi masalah pelik.  Tiba di sekolah pukul 07.29, 1 menit sebelum terlambat. Aku berencana tiba di sini 15 menit yang lalu tetapi keadaan tidak terduga kualami, aku harus terlambat karena Juna terlalu menikmati paginya dengan bersepeda. Sekolahnya cukup bagus dan luas, semacam sekolah di kota. Memang dalam segi pembangunan pendidikan negara ini tidak main-main, baik di distrik maupun di kota, semuanya sama.  Setelah memperkenalkan diri di hadapan seluruh tenaga kependidikan di SMA Guangsi, Juna mengantarku ke kelas yang akan kuajar nanti, kelas XI C dengan rumor kelas paling ramai. Memang benar, saat Juna masuk dan aku menunggu di depan kelas, suara sorak-sorai tidak dapat dikendalikan.  "Pak Juna, apakah sekarang waktunya pelajaran biologi?" pekik salah satu siswa terdengar hingga luar kelas.  "Sistem reproduksi manusia!" Siswa lain lagi tak mau kalah membuatku tertawa sendirian. "Sistem reproduksi katak!" balas Juna dengan ketegasannya. Dia terlihat keren dari balik jendela. "Yahhhh! Nggak asik!" seru satu kelas kompak.  "Aishh, Udin, kamu akan menyesal sudah mengatakan ini." Udin, aku ingat cerita Juna tentang murid yang paling menyebalkan di sekolah ini. Bukan karena dia nakal tapi dia terlalu banyak membanyol ketika pelajaran sedang  berlangsung. Dia juga banyak membuat lelucon untuk mematahkan sebuah teori, dia juga paling suka pelajaran Biologi. "Masuk, Bu!"  Melangkah dengan mantap dan senyum matahari yang begitu terang. Akhirnya aku bisa tersenyum lebar meski hatiku tidak baik-baik saja. Banyak hal masih kukhawatirkan termasuk Gazza yang kutinggalkan di rumah tanpa nomor telepon, tanpa uang, bahkan tanpa password pintu rumahku. Baiklah, aku harus fokus pada hari pertamaku mengajar, aku tidak ingin membuat kesalahan.  "Woooaaah, guru biologi yang baru, Pak?" seru siswa laki-laki dengan baju yang dikeluarkan. Tubuhnya sedikit lebih gelap dibandingkan yang lain. "Mantap nih!" "Udin!" tegur Juna dengan nada lembut. "Perkenalkan ini Bu Hara, guru baru yang akan mengajar kalian pelajaran sastra." Membungkuk untuk menyapa mereka. Wajah yang awalnya ceria menjadi redup. "Yah, aku tidak suka perempuan sastra, tapi yang ini bisa dipertimbangkan," celetuk Udin membuatku tertawa.  "Bu." Seorang siswi mengacungkan tangannya. "Ibu penggemar Super X, bukan? Kalau bukan siap-siap resign 3 bulan lagi ya, Bu?" Aku mengernyitkan dahi, berharap Juna menjelaskannya. Memang benar, Juna menjelaskan dalam bisikannya bahwa setiap guru yang bukan penggemar Super X akan diperlakukan buruk di kelas ini. Hampir 98% penghuni kelas ini adalah penggemar Super X, mereka akan mengerjakan soal sembari mendengarkan lagu-lagu milik idola mereka, bernyanyi bersama, dan itu sangat berisik sekali. Tidak ada guru yang bisa menghentikan ulah mereka. "Oh, saya suka lagu ballad-nya. Beberapa kali saya juga menyaksikan acara ragamnya." "Aihh, bukan penggemar berarti?" Jika aku mengatakan bukan penggemar, sepertinya terlalu sulit bagiku beradaptasi dengan kelas ini. Lebih-lebih Juna sudah memberiku petuah agar lebih banyak bersabar menghadapi kelas XI C. Itu artinya kelas ini benar-benar menyulitkan. Toh, kalaupun aku mengatakan aku penggemar Super X, tidak sepenuhnya salah.  "Bu Hara penggemar Super X kok. Dia sering berhalusinasi bertemu anggota Super X," seloroh Juna. Dia tidak tahu bahwa aku benar-benar bertemu dengan Kim Gazza, bahkan tidur dalam satu atap yang sama. Tak apalah, yang terpenting semua siswa menerimaku.  "Berarti Bu Hara tahu kalau Kim Gazza tidak hadir di konsernya kemarin?" Mengangguk ragu.  "Ke mana dia kira-kira, Bu? Ah, aku takut dia kabur bersama seorang perempuan." Kalimat itu membuatku terbatuk-batuk. "Rumor yang beredar kan dia bertengkar dengan manajer dan agensinya soal rumor dating, Bu. Bagaimana jika dia tidur bersama seorang perempuan?" Aku masih terbatuk-batuk tapi kucoba untuk bersikap biasa, tersenyum lebar dan menanggapi kalimatnya. "Ya, sebenarnya mau kencan dengan siapapun itu kan haknya Kim Gazza." "Tidak bisa, Bu. Dia bayi kita semua, tidak boleh kencan dengan siapapun." Menghela napas panjang. Begitulah aturan di dunia boyband yang masih tidak kumengerti hingga saat ini. Tak akan ada karir yang bertahan lama jika mereka terlibat rumor kencan. Hari pertama mengajar penuh dengan kejutan, bertemu anak-anak ajaib dengan berbagai keluguan mereka. Ada pula kelas yang tenang, dihuni orang-orang pintar, tapi sedikit membosankan karena terlalu tegang. Aku akan menikmatinya, apapun itu, aku perlu hidup dengan normal sekarang. "Juna, turunkan aku di apotek terdekat, ya?" "Sebenarnya kamu beli obat demam untuk apa?" "Emm, untuk jaga-jaga saja." "Tapi kamu sedang tidak demam, kan?"  "Tidak." Juna menuruti apa kataku, kami berbelok ke kanan sebelum Toko Bibi Ni. Aku membeli semua berbagai macam obat demam karena aku tidak tahu mana yang paling cocok untuk Kim Gazza. Bahkan aku tidak tahu dosisnya nanti bagaimana, apoteker yang sedang berjaga saja terlihat bingung. Yang terpenting Gazza tidak mati di rumahku. "Terima kasih, Gaz..." Aku hampir salah memanggil Juna karena yang kupikirkan selalu Gazza. "Juna." "Kamu sungguh penggemar Super X. Kamu masih berhalusinasi." "Ha-ha. Siapa yang tidak mengidolakan Super X coba?" balasku sedikit kaku. "Aku pulang dulu, terima kasih atas tumpangannya." Tersenyum lebar. "Terima kasih kembali. Oh ya, aku lupa menyampaikan salam dari bibiku pagi tadi." Mengangguk-angguk. "Nanti aku akan menyapa bibi. Sampaikan permintaan maafku karena belum sempat menyapanya." Berlari mendaki anak tangga melewatkan pemandangan pantai dari depan rumahku.  "Gazza?" panggilku tidak mendapatkan jawaban apapun. Yang kudapati Gazza menggigil di atas sofa yang bahkan tak cukup nyaman untuk tubuhnya yang panjang. "Kamu baik-baik saja?" Ini pertanyaan paling bodoh yang kulontarkan. "Ah, aku harus bagaimana? Kita ke rumah sakit saja. Kumohon!" Terus mengusap dahinya yang panas sekali.  Gazza membuka matanya. "Beri aku obat demam saja, aku mencarinya di semua sisi tapi tidak ada kotak obat sama sekali," keluhnya berusaha untuk duduk tapi dia terlalu lemah.  Menyisir setiap sudut rumahku, terlihat seperti kapal pecah, buku-buku berserakan, bungkus roti tertumpuk di meja dapur, bahkan ada pecahan gelas di sebelah meja makan. "Aiisssh, kamu benar-benar merepotkanku," keluhku kesal. Aku juga salah dalam hal ini, aku tidak membuatkan Gazza sarapan tadi pagi, bahkan sekadar memberitahunya di mana aku menyimpan roti tawar dan selai. "Maaf." Menghela napas panjang. "Ada obat demam di kantong plastik hitam. Kamu bisa memilih mana yang cocok untuk gejala sakitmu dan pulang setelah meminumnya." "Aku masih lemas, biarkan aku di sini malam ini saja," rengeknya dengan suara parau. "Aku akan membuatkan makanan untukmu, mungkin kamu akan mendapatkan energimu lagi," kataku bergegas ke dapur dan memakai celemek.  "Tidak perlu, aku menghabiskan semua roti tawarmu, aku ingin tidur." "Ya!"  Menyebalkan sekali, bahkan ketika aku berteriak, dia tidak peduli dengan matanya yang terpejam. Aku takut tersandung masalah namun dia yang memiliki masalah besar terlihat santai. Dia memang sangat tampan, hidung mancung, tubuh tegap menjulang, dan terkenal. Tetap saja, laki-laki tidak bisa menginap di rumah perempuan sembarangan. Jika orang lain tahu sudah pasti masalah membesar, aku juga bisa diusir dari distrik ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD