Part 4 (Kim Gazza?)

2073 Words
Bau khas pantai yang segar bercampur garam berganti dengan bau beer ketika seorang laki-laki dengan make up tebal di ujung-ujung matanya mendekat. Aku tak suka bau beer, sejak kecil aku tak pernah terbiasa dengan baunya. Benar, itu karena aku memiliki agama yang teguh melarangnya. Suara debur ombak yang tenang pun seolah kalah dengan teriakkan khas manusia frustasi. Beberapa langkah semakin mendekat, laki-laki itu tiba-tiba saja limbung di hadapanku membuatku berdiri hendak menolongnya, tapi dia justru duduk menghadap pantai dan tertawa. Dia terus bergumam bahwa dunia ini terlalu palsu. Orang bilang Tuhan yang mengatur hidup manusia tapi pada kenyataannya manusia yang lebih kuat mengatur manusia lain yang dianggap lemah. Mendengar itu membuatku kembali duduk di belakangnya.  "Aishhh, aku tidak percaya, aku baru saja mempertaruhkan karirku. Ha-ha." Tawanya semakin lebar tapi tidak ada kebahagiaan di sana, yang terdengar justru tangis dan jerit d**a yang sesak.  Semua yang dia gumamkan memang ada benarnya. Dunia ini terlalu palsu. Ada yang sesak dadanya tapi selalu tersenyum gembira, ada yang ketakutan tapi nampak riang seolah tak ada hambatan. Yang jarang dilakukan adalah ketika manusia sangat bahagia, tapi berpura-pura menjadi yang paling sedih di dunia.  "Ya!" Menoleh ke belakang memanggilku, lampu di belakang dengan jelas menyorot wajahnya. Kali ini aku  berharap hanya halusinasi tapi seperti sangat nyata. Yang ada di depanku persis sekali dengan Kim Gazza, anggota termuda Super X yang selalu dianggap bayi oleh para penggemarnya. Tidak, dalam setiap acara ragam yang dibintangi Super X, dia memang seperti bayi yang manja pada Kakak-kakaknya. "Kamu punya beer? Beri aku satu botol saja."  Menghela napas. "Aku pasti sudah mabuk meski hanya mencium baunya saja," gumamku karena kupikir sedang berhalusinasi. Tidak mungkin Kim Gazza ada di sini, jauh dari kota dan tidak mengikuti konsernya. Kudengar aturan di boyband cukup rumit dan ketat.  "Ya, kamu mengenalku, bukan? Semua orang mengenalku. Aku bayi di negara ini. Ha-ha. Kamu tahu? Ah, mustahil kamu tidak mengetahuinya." Dengan mata sayu, tawa yang lebar tapi jelas itu bukan hal yang menyenangkan untuk dia tertawakan. Setidaknya aku pernah belajar psikologi bersama teman-temanku, untuk menilai garis wajah para politisi. "Arrgghhh, aku muak dengan semuanya!" lenguhnya memecah debur ombak.  Dia nampak begitu mengerikan dengan segala umpatannya dan bau alkohol membuatku tak tahan berada di dekatnya. Aku juga mulai berhalusinasi berlebihan. Maka, aku meninggalkan dia sendiri di bibir pantai. Tidak peduli dia akan tergulung ombak atau terkubur di pasir, aku takut jika dia bukan orang baik-baik.  "Bukan, itu bukan Kim Gazza. Ah, halusinasiku terlalu berlebihan, mungkin karena dalam perjalanan dari Seulasia ke Guangsi tadi aku menyaksikan acara ragam Super X. Itulah kenapa malam ini aku berhalusinasi tentang salah satu anggotanya," gumamku berjalan menuju Toko Kelontong Bibi Ni dengan lampu tumblr-nya yang warna-warni mengitari plakat toko.  Juna sedang ada di depan toko, merapikan botol-botol minuman yang sepertinya baru saja turun dari truk. "Bukankah aku sudah mengatakan agar kamu menghubungiku jika membutuhkan sesuatu?" tegurnya sembari mengelap tangan pada celemek di dadanya.  "Bagaimana aku bisa menghubungimu jika kamu tidak meninggalkan nomor teleponmu untukku? Haruskah dengan kekuatan teleportasi?" selorohku masuk ke dalam toko.  "Telepati bukan teleportasi," sanggahnya mengikutiku di belakang. "Baiklah, sekarang kuberikan nomor teleponku, tapi jangan beritahu siapapun. Di distrik ini aku idola banyak orang," selorohnya menulis di atas kertas struk bekas.  Menggeleng-nggeleng kecil sembari memilih beberapa bahan makanan. "Eh, ngomong-ngomong soal idola.  Di pantai tadi aku melihat Kim Gazza, idol dari Super X. Kamu tahu, kan?" Juna tertawa. "Ya, apa kamu punya kebiasaan berhalusinasi?" Membawa belajaanku ke kasir. "Ya, kupikir aku sedang mabuk." "What?" Juna  nampak terkejut, keluar dari balik komputernya dan mendengus di depan wajahku. "Tidak ada bau alkohol. Kupikir kamu beragama, aku melihat tulisan ayat di rak bukumu." "Tentu saja aku tidak benar-benar menegak alkohol. Aku mabuk karena mencium baunya tadi. Ah, orang yang mirip sekali dengan Kim Gazza itu mendekatiku dengan bau alkohol yang menyengat, kupikir karena itu aku mabuk dan berhalusinasi bahwa dia mirip dengan Kim Gazza. Seantero negeri ini tahu Super X sedang ada konser di Atrium Ibukota," jelasku menyiapkan tas belanjaku. "Benar, mana mungkin itu Kim Gazza. Dia masih seperti bayi, dia akan selalu mengikuti anggota tertua mereka, jika tidak ada anggota tertua di sini, maka sudah pasti juga itu bukan dia," kata Juna sembari menghitung belanjaanku. "Perlu aku antar?"  Menggeleng.  "Atau mau menungguku 1 jam lagi, kita bisa pulang bersama."  "Ah, tidak. Aku harus segera beristirahat, besok hari pertamaku mengajar." Juna mengangguk-angguk. "Kalau begitu, bawa payung di sebelah kanan pintu. Kudengar sebentar lagi hujan." "Tapi di pantai tadi tidak mendung." "Lihat lah keluar!" Menunjuk langit yang nampak melalui pintu kaca. "Cuaca di masa sekarang cepat sekali berubah-ubah." Mengangguk dan mengikuti perintahnya. Toh, tak ada salahnya berjaga-jaga, payung ada memang seharusnya sebelum hujan bukan setelah hujan. Aku berani membawanya pun karena payung di sana tak hanya satu, artinya aku tidak perlu mengkhawatirkan Juna.  Berjalan 100 meter dan benar, gemuruh di langit berhasil menjatuhkan airnya ke bumi. Deburan ombak tersamarkan oleh rintik hujan yang deras sekali, tapi aku menyukainya, sangat. Aku ingat masa-masa kecil yang tak pernah kembali. Saat aku bermain air hujan di halaman rumah bersama dengan ayah, berlagak seolah wartawan yang sedang memburu informasi tanpa peduli panas ataupun hujan. Tanpa sadar aku tersenyum lalu kecewa, aku tak akan pernah kembali ke posisiku sebagai wartawan. Tak apa, aku hanya akan menghadapi siswa-siswi remaja bukan menghadapi politisi yang setiap ucapannya licin serta mengerikan.  Menikmati rintik hujan, berjalan senang sembari bersenandung salah satu lagu ballad milik Super X, lagu yang berisi tentang janji dua insan saat hujan. Indahnya dunia diwarnai lagu-lagu yang beragam. Dalam keadaan apapun seolah-olah ada lagu yang tepat untuk menggambarkan. "Dan aku berjanji saat hu..." Nadaku berhenti begitu aku tahu seseorang meneduh di bawah pohon yang tak begitu rindang. Percuma saja, tubuhnya nampak basah kuyup. Aku pura-pura bersenandung lagi, berjalan pelan mendekatinya. Dia yang sedang menunduk lesu dan sesekali tertawa. "Ish, orang gila seringkali dibuang tapi orang waras dengan sengaja meneguk alkohol agar menjadi gila," gumamku melewati laki-laki berbaju hitam dengan paduan warna bling-bling yang menyilaukan.  Kakiku hendak melangkah pergi tapi laki-laki itu menatapku dengan sorot mata yang menyala meski masih cukup sayu. Dia tidak mengatakan apapun, mata kami hanya saling menatap, bertemu di udara yang basah. Aku segera melangkahkan kakiku lagi, berjalan lebih cepat, dan pulang ke rumah.  Sialnya, pikiranku tidak bisa seegois itu, aku terus memikirkannya. Dia tidak punya payung, dia akan sakit besok pagi jika terus meneduh di bawah pohon yang daun-daun saja enggan melindunginya. "Ah!" lenguhku bergegas mengambil dua payung di dekat pintu. Berlari menyibak hujan tapi yang kudapati hanya pohon dan angin yang berhembus kencang. "Apa kamu mengkhawatirkanku?" tanya seseorang dari arah belakang, berbalik. "Ah, kamu peduli karena tahu aku Gazza, bukan? Ya, jika aku tidak terkenal, tidak akan ada orang yang peduli denganku." Tertawa masam.  "Berhentilah mengaku-ngaku sebagai Kim Gazza. Bayi seperti dia apa bisa meminum alkohol?" kataku memberikan payung untuknya.  "Ya!" bentaknya membuatku tersentak, dia juga mengibaskan payung yang kuberikan sampai terjatuh. "Aku bukan bayi dan aku lelah selalu dianggap bayi! Arrrgggghhhh!"  Aku benar-benar tidak bisa berkata-kata. Dia mengejutkanku dengan amarahnya yang meraung-raung merusak rintik hujan yang turun.  "Stop panggil aku bayi, aku muak!" Mendorong bahuku dengan telunjuknya. Tidak membuatku marah, orang mabuk akan selalu melakukan itu tanpa sadar. Yang membuatku tak nyaman hanyalah bau alkoholnya. Lebih-lebih, laki-laki bertubuh tinggi ini limbung di bahu kananku membuat payung yang melindungiku jatuh dan terbang terbawa angin. Tubuhnya melengkung, aku benar-benar terlalu pendek untuknya. "Haishhh!" desisnya. "Tak ada satupun yang mengerti bahwa aku lelah berpura-pura, aku lelah menjadi ceria padahal aku butuh waktu untuk merasa lelah beberapa saat. Ah, kenapa skenario hidupku harus ditentukan oleh manusia, bukan Tuhan?" keluhannya itu datang bersamaan dengan tangis. Sungguh, aku tidak tahu harus berbuat apa. Dia menangis tersedu-sedu dan terus mengeluh di bahuku. Sementara aku kedinginan karena hembus angin kencang dan hujan yang mulai membasahi tubuhku. Aku ingin mengusap punggungnya, setidaknya itu bisa membuatnya lebih tenang tapi dia terlalu asing untukku.  "Hooeeek!"  "Ya!" jeritku mendorongnya hingga jatuh dan kepalanya terbentur jalanan. "Astaga, astaga, maafkan aku. Aduh, aku harus bagaimana?" gumamku panik. Itu karena ada sedikit darah yang keluar dari dahinya.  Aku bingung, harus meninggalkannya sendiri di sini atau bertanggungjawab atas dirinya. Ah, tapi sepertinya kubiarkan saja, aku tidak mengenalnya dan tidak perlu bertanggungjawab atas lukanya karena dia juga memuntahkan isi perutnya di punggungku, baunya sungguh membuatku mual. Tidak-tidak, bagaimana jika dia mengingat wajahku dan besok menuntutku bertanggungjawab atas semuanya? Ah, aku lelah  berhubungan dengan masalah yang pelik.  "Maaf, maaf, tolong lupakan apa yang terjadi malam ini. Ah, maaf," kataku lagi dan telah mengambil keputusan. Aku mulai mencari di mana dia menyimpan dompet, setidaknya  dari sana aku tahu di mana dia tinggal dan bisa memesan taksi untuknya. Akan tetapi, tidak ada apapun yang bisa kutemukan. "Maaf, Pak, Kak, Om, ah, siapa lah itu. Di mana dompet Anda?" tanyaku berusaha menyadarkan dia yang mengeluh sakit di dahi.  "Aw." Menyentuh lagi dahinya. "Apa aku bodoh?" "Mungkin," balasku lirih.  "Aiiissshh!" Menyentil dahiku dengan telunjuknya. Bahkan meski dia mabuk tenaganya masih cukup kuat untuk membuat aku mengaduh. "Aku sedang dalam pelarian dan tidak membawa apapun. Ah, semua barangku ada di Kak Delvin." "Delvin?" "Ya." "Em, Anda sungguh member Super X?" "Kamu pikir aku bergurau? Hooeeek!" Kembali memuntahkan isi perutnya. Begitupun denganku yang sudah tidak tahan lagi menahan semua bah.  "Ya! Kenapa Anda terus-menerus muntah di hadapan saya? Ishhh!" keluhku mendorongnya sampai jatuh dan tidak terbangun. Tentu saja aku panik, sangat panik. Mencoba menepuk-nepuk pipinya tapi tidak ada tanda-tanda kesadaran. "Bangunlah, kumohon!" bisikku tak ingin membuat kegaduhan di jalanan sepi.  Berulangkali aku mencoba membangunkannya hingga dia sedikit membuka mata dan mengeluhkan matanya berat untuk terbuka. Aku berusaha memapahnya karena dari arah barat ada seseorang berjalan mendekat. Tidak mau terkena masalah, aku tak ingin orang lain melihat ini. Maka, kubawa laki-laki ini tanpa pikir panjang. Tentu saja susah payah, tubuhku yang mungil memapah laki-laki dengan tinggi badan 180an. Kupikir aku sudah gila. Menaiki anak tangga dengan beberapa kali terjatuh dan menerima u*****n. Dia terus mengumpat ketika kami jatuh bersamaan. Dia pikir tubuhnya tidak berat? Ah, jika benar dia Kim Gazza, aku akan meminta ganti rugi yang banyak karena sudah merepotkanku dan mengumpat padaku sembarangan. Meski itu juga salahku, andaikata aku tidak berbaik hati, aku tidak akan sesusah ini sekarang.  Menghidupkan lampu begitu masuk ke dalam rumah, wajahnya jelas sekali, setiap garisnya seolah membenarkan bahwa dia adalah Kim Gazza, anggota termuda dari boyband yang sedang menguasai pangsa pasar musik dunia saat ini. Untuk memastikannya lagi, aku membuka pencarian di internet dan menuliskan namanya. Yang muncul di paling atas adalah artikel perihal Kim Gazza yang meninggalkan konser 2 jam sebelum konser berlangsung. Pihak agensi mengatakan ketidakhadiran Gazza di Atrium Seulasia karena kondisinya yang tidak sehat tapi beberapa sumber mengatakan terjadi pertengkaran di back stage sehingga Kim Gazza melarikan diri.  Menatap wajah yang menggigil dengan mata terpejam di atas lantai rumahku. "Anda benar-benar Kim Gazza? Aish, kenapa aku selalu menggunakan bahasa formal?" gumamku. Kembali membandingkan wajah laki-laki ini dengan foto Kim Gazza yang banyak sekali menghias laman internet. "Aku tidak melihat ada perbedaan di sini, ah, aku pasti sudah gila!" Meninggalkannya di ruang tamu.  Membersihkan tubuhku, berganti pakaian, dan mengeringkan rambut. Bau muntahannya bahkan tidak mudah hilang meski aku memakai banyak sabun dan parfum. Makan apa saja dia saat mabuk tadi? Sungguh menjijikkan.  Keluar dari kamar dan mendapati Gazza terbaring di lantai dengan bibir yang semakin pucat. Jika aku tidak mengurusnya, dia bisa mati di sini dan aku sudah pasti menjadi tersangka pembunuhan. Akan tetapi, bagaimana aku harus mengurusnya? Membuka bajunya? Tidak mungkin, aku juga tidak punya baju ganti untuknya.  Aku berpikir banyak cara sampai akhirnya aku memilihkan beberapa baju longgarku untuknya, jelas sangat kecil bagi Gazza tapi tidak mungkin membiarkannya memakai pakaian basah semalaman. Ini sangat dingin sekali. "Ya, Gazza, entah palsu atau asli. Ya, Gazza!" panggilku menepuk-nepuk pipinya. "Bangunlah dan berganti pakaian. Aku tidak bisa membukanya. Aku tidak bakat dalam kasus pemerkosaan." Orang mungkin akan tertawa mendengarnya tapi Gazza hanya diam saja karena dia sedang tidak waras.  "Enggghhhh!" lenguhnya sedikit membuka mata setelah kutampar keras pipi kanannya. Semoga dia tidak mengingat malam ini dan tak berencana melakukan visum besok pagi. "Ya, bangunlah!"  "Ha?" balasnya dengan mata sayu dan napas berbau alkohol. Tidak ingin menyerah, aku terus berusaha menyadarkannya. Memberi air minum sebanyak-banyaknya. Haruskah aku menelepon Juna dan memintanya membawakan obat pengar? Mungkin sebentar lagi dia pulang. Tidak, jika aku meminta bantuannya, dia akan tahu aku menyembunyikan laki-laki ini di rumahku, tentu tak lazim baginya.  "Gazza!" Menepuk pipinya sekali lagi dan dia menjawab bahwa dia akan berganti baju sendiri. Dia benar-benar melakukannya di depan mataku. Aku langsung berlari ke kamar dan mengunci pintu secepat mungkin. Samar-samar kudengar suara orang terjatuh, aku harus menunggu lama untuk memastikannya lagi.  Beberapa menit kemudian aku keluar untuk membawakannya selimut dan mendapati Gazza tertidur di atas sofa mengenakan kaus oblong berwarna merah jambu yang kekecilan untuk tubuhnya. Lengannya sangat sesak dan bahkan kaus itu tak cukup untuk menutup pusarnya. Sementara celana training-ku menjadi sangat ketat dan tak menutup seluruh kakinya. Aku terkekeh melihat penampilannya sebelum mengambilkan dia selimut. Dia pasti kedinginan, bibirnya tak berhenti menggigil.         
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD