Tumitku menyentuh ujung jurang, berbicara dan mati karena terjatuh atau diam dengan menerima pertolongan dari pembunuhku. Jika aku ada di tengah-tengah pohon, di bawah sana ada singa menungguku dan di atas ular. Aku terluka untuk dua pilihan itu. Diam menjadi pengkhianat atau mati dengan sia-sia. Bukankah setiap warga negara yang mencintai negaranya selalu memimpikan politik yang bersih agar senantiasa aman dan damai? Benar, aku pun menginginkannya. Ingin pemimpin yang bersih tetapi aku tidak dalam posisi pantas berkeinginan sekarang.
Ketua Tim Produksi memberiku pilihan, mundur dengan uang pesangon lebih tinggi atau dipecat dengan uang pesangon seadanya. Bahkan perusahaanku seolah tak memberi kesempatan untuk mengurus name tag baru. Jika sudah begini, tidak mungkin ada masalah perusahaan secara natural, ini memang sudah dibuat-buat.
Selain itu, kiriman Kalium Sianida dan pisau tajam seringkali menungguku di depan rumah. Puncaknya hari ini, si empu Kalium Sianida dan pisau itu datang bersama dua barangnya. Tidak, bukan si empu, ia hanya pesuruh bertopeng yang datang bersama dengan koper hitam, nampak bercahaya di tengah malam.
Apakah Tuhan sedang berlaku tidak adil padaku? Dia membiarkanku hidup bahagia beberapa tahun, merasakan kehilangan dan kesedihan bertahun-tahun, membiarkanku hidup sulit dan sebatangkara, sekarang Dia justru memberiku hidup yang menakutkan. Seolah tak memberiku pilihan untuk berbahagia dalam ketenangan.
"Ini negosiasi terakhir yang akan kubuat." Menyudutkanku di dekat pintu rumah. "Surat pengunduran dirimu, kamu hanya perlu menandatanganinya." Memberiku amplop putih.
Tentu saja aku sudah menangis ketakutan, gemuruh dadaku riuh, ingin sekali berlari tetapi kakiku terlalu lemah untuk pergi. Bahkan, sekarang berontak di tempat saja aku tidak bisa menyanggupi.
"Nak, kamu terlalu lama hidup sengsara. Haruskah kamu hidup dengan ketakutan hingga mati? Kumohon, diamlah dan ikuti perintah." Nadanya berubah menjadi lembut, penuh simpati dan empati. "Kamu akan hidup tenang, menerima uang, dan apapun yang kamu minta bisa kamu dapatkan."
"Haruskah saya mengkhianati negara saya?"
"Nak, ini bukan waktunya untuk memikirkan negara. Bahkan rakyat seperti kita tak ada kesempatan untuk itu. Percayalah, aku akan menjagamu selama kamu memilih untuk diam. Pergilah ke desa, terima uangnya, hiduplah di sana, ikut sertifikasi guru, aku akan menjamin keselamatanmu."
Menunduk, mengingat semua kesulitan yang kualami. Dosa besar semacam apa yang kuperbuat, sehingga Tuhan memberiku hidup yang sulit. Bahkan sekadar berbakti pada negaraku untuk waktu yang lama saja tidak ada kesempatan.
"Aku minta maaf, tapi tolong ikuti apa kataku!" Pria itu pergi dengan meninggalkan beberapa racun, sebilah pisau, dan satu koper uang berikut surat pengunduran diri.
Sebagai manusia tentu aku punya sisi individualis dan serakah. Aku ingin hidup lebih lama, menikah, dan berbahagia. Tak ingin rasanya mati cepat dan sia-sia. Haruskah aku mengkhianati negaraku? Sungguh, untuk mencari bukti sekecil apapun aku tidak mampu. Bukan tidak mampu, tidak ada kesempatan sebab setiap gerakku selalu menyentuh ujung jurang.
Setelah pertimbangan yang matang, aku memutuskan untuk diam, terpaksa bungkam, dan mengkhianati negaraku. Namun aku tak menerima uang dari Kim Jae, aku meninggalkannya di rumah lamaku. Hanya pesangon yang kuterima dan dengan hasil penjualan rumah di kota, aku berhasil membeli sebuah rumah di atas bukit kecil di Distrik Guangsi, Provinsi Borneo. Sebuah distrik di ujung timur Koreanesia yang terkenal dengan bukit dan pantai berpasir putihnya.
Sebelum memutuskan pergi, aku sempat mengambil kuliah singkat untuk mendapatkan sertifikasi guru. Aku mengikuti arahan meski tak menerima uang. Semua murni dengan uangku sendiri, tabungan, hasil menjual rumah, dan pesangon. Selain itu aku juga mendaftar sebagai guru di beberapa sekolah, maka, ketika aku memutuskan untuk pindah, aku sudah punya tujuan yang jelas.
Tiba di Distrik Guangsi, aku tak benar-benar merasa bahagia tapi kupikir harus ada sedikit pemaksaan untuk bahagia. Sudah cukup aku hidup sengsara, melelahkan, penuh kesedihan, dan bayang-bayang takut setiap malam. Hidup nyamanku harus dimulai dari sini, aku harus melupakan sedikit masa laluku meski itu mustahil. Aku ingin berbahagia meski tak menjadi seperti yang ayahku inginkan. Wartawan? Aku sungguh melepasnya karena nyaliku tak cukup besar untuk menghadapi kematian yang sia-sia.
"Ya!" keluhku sesekali membuang napas. "Kenapa aku tidak menitipkan koperku di truk?" Menarik koper dengan susah payah, menaiki tangga demi tangga menuju rumahku di ujung bukit paling atas. Jika kutitipkan koper ini di truk bersama barang-barangku yang dikirim kemarin, maka tidak perlu aku memanggul dan menariknya susah payah.
"Perlu bantuan?" tawar seorang laki-laki yang baru saja keluar dari pintu rumahnya sembari melepas headset di telinga kanan, mengenakan hoodie berwarna putih yang nampak terlalu besar untuk ukuran tubuhnya.
Mungkinkah aku salah dalam risetku? Kupikir Distrik Guangsi hanya menyuguhkan pemandangan alam, ternyata juga menyuguhkan pemandangan manusia yang mengagumkan. Bibir tebalnya, tinggi badannya, garis wajahnya, semacam member boyband yang terserat di surga terpencil.
Menghembuskan napas, aku harus ingat bahwa aku sedang dalam pembuangan. "Tidak perlu, saya bisa sendiri."
"Baiklah," balasnya melipat kedua tangan di depan dadanya, memperhatikanku yang susah payah memanggul koper. Ini jauh lebih curam dari yang kubayangkan. Tanpa koper, tangga-tangga ini ringan bagiku tapi kali ini lain, semacam mengangkut dosa-dosa pejabat di negaraku. "Ah, aku tidak tahan melihat perempuan kesulitan." Tiba-tiba saja berlari kecil dan mengambil alih koperku yang berat. "Astaga, ini berat sekali."
Aku menahan tawa. Wajahnya nampak kesulitan tapi dia berusaha keras untuk tidak menunjukkannya. Tetap saja, dia terlau lemah.
"Jangan mentertawakanku, sungguh, aku malu. Tolong bantu saja aku," pintanya dengan wajah memerah. "Ah, sepertinya aku harus lebih banyak berolahraga setelah ini."
Tersenyum tipis mengambil bagian di sisi koper, seraya mengucapkan terima kasih. Kami mulai mendaki anak tangga satu per satu. Dia juga sempat bergumam perihal kenapa seorang perempuan mugil memilih rumah di atas bukit kecil yang tangganya saja terlalu curam. Aku memang terlihat mungil, tidak, aku memang mungil.
"Kalau boleh tahu, siapa namamu? Em, aku Arjuna, kamu bisa memanggilku Juna. Penduduk asli Guangsi, mungkin kamu heran karena ada orang tampan tinggal di desa." Dia terlihat berusaha keras bersikap ramah padaku atau memang dia memiliki kepercayaan diri yang tinggi.
"Saya Haruna Hara, pindahan dari..."
"Ah, mungkinkah kamu Guru Bahasa SMA Guangsi dari Seulasia?"
Sedikit bingung. "Benar. Bagaimana..."
"Aku tenaga pengajar di sana. Maaf sebelumnya, lebih nyaman menggunakan bahasa sehari-hari daripada bahasa formal karena ini bukan pidato kenegaraan jelang hari kemerdekaan," selorohnya. "Wah, jalananku tidak akan sepi lagi mulai sekarang."
"Maaf, maksudnya?"
"Aku jadi punya teman sepanjang perjalanan ke sekolah."
"Oh." Mengangguk-angguk paham.
Sampai di halaman rumahku dengan semilir angin yang lembut membelai dan pemandangan laut lepas yang memanjakan mata. Untuk inilah aku memilih rumah di atas bukit, tak jauh dari pantai, hembus angin yang lembut, dan pemandangan yang tentunya menyenangkan mata. Aku perlu bersenang-senang untuk melupakan semuanya.
"Kamu tinggal sendiri?" tanya Juna menarik koperku mendekati pintu rumah yang sedang kubuka.
Mengangguk.
"Oh, aku tinggal bersama dengan bibiku. Sebagai informasi awal, aku yatim piatu, mungkin kamu perlu berpikir untuk berteman denganku. He-he. Biasanya anak kota suka memilih-milih teman."
"Aku juga yatim piatu."
Juna nampak kaget sampai menjatuhkan koperku. "Aw, Aw, aw. Maaf."
"Tidak masalah." Tersenyum lebar.
"Em, maaf juga kalau aku sok akrab, di sini tak banyak anak muda seusia kita, kebanyakan dari mereka merantau, jadi aku tak punya teman untuk berbicara banyak hal," jelasnya.
"Apa kamu tahu usiaku?"
"Tidak, menebak saja. Mungkin 25 tahun."
"Kamu benar."
Tersenyum lebar, matanya menyisir setiap sudut rumahku yang belum berbentuk. Segala macam barang masih bertumpuk, kardus-kardus masih mengisi sebagian besar luas ruangan utama, bahkan dapurku masih kosong dengan beberapa sarang laba-laba.
Aku menawarkan minum pada Juna, setidaknya air putih yang kubeli di tengah perjalanan tadi. Namun Juna menolak dan justru menawarkan bantuannya padaku. Kesan pertamaku dia terlalu baik pada orang asing. Padahal kebanyakan orang masa kini tak acuh pada sesama. Dia juga tak sungkan menceritakan kondisi serta standar ajar yang diterapkan di SMA Guangsi. Tidak hanya itu, dia bahkan menyebut siapa saja murid yang paling pintar dan paling nakal di sekolah.
"Em, di mana televisi ini harus kuletakkan?" tanyanya di tengah-tengah cerita.
"Di sana!" Menunjuk ruang kosong di tengah-tengah rak buku. Memang dirancang sedemikian rupa, rak buku bersamaan dengan rak televisi. Kuletakkan di tengah-tengah ruang utama agar dapat menjadi pembatas juga dengan meja makan kecil yang sudah kusiapkan.
"Kamu tinggal sendiri tapi menyiapkan meja makan. Apa kamu sudah berencana menikah sehingga menyiapkannya untukmu dan suami?"
Terkekeh. "Ya, siapa tahu ada yang mau menemaniku makan di meja makan."
"Aku mau."
"Tapi aku tidak mengizinkanmu."
"Baiklah, aku hanya bercanda."
Sekali lagi Juna membuatku terkekeh. Kuharap ini bukan hanya kesan pertama, aku ingin memiliki teman akrab di sini, laki-laki atau perempuan, muda atau tua. Setidaknya ada teman untukku berbicara.
"Hara, maaf. Sepertinya aku tidak bisa membantumu lebih banyak karena sore ini aku ada pekerjaan paruh waktu," seru Juna usai melihat detik jam di tangannya.
"Sudah menjadi guru masih..."
"Ah, ini rahasia. Aku dipaksa bibiku menjaga toko kelontongnya di ujung jalan. Jika tidak, aku tak akan mendapatkan jatah makan."
Sedikit terkejut karena bibinya bersikap kejam semcam itu.
Juna justru terkekeh menatap wajahku. "Jangan terkejut begitu. Bibiku orang yang paling baik di dunia ini, untuk itu aku membalas budinya dengan menjadi pekerja paruh waktu. Jika kamu membutuhkan bahan makanan, tidak perlu ke sana, kamu bisa menghubungiku. Aku akan mengantarnya ke rumahmu, tentu saja gratis."
Mengangguk-angguk. Sedikit lega, itu artinya aku tidak hidup di lingkungan yang kejam. Aku sudah lelah hidup di lingkungan yang menyulitkanku. Berharap sekali Tuhan membiarkanku hidup tenang dan beribadah padanya tanpa gangguan.
Tinggal lah aku sendiri di rumah sederhana dengan pemandangan luar yang mengagumkan. Aku harus segera menyelesaikan pekerjaanku sebelum petang datang, agar nanti malam aku dapat beristirahat dengan nyaman.
Malam tiba dan aku baru saja menyelesaikan pekerjaanku. Rumahku sudah seperti rumah pada umumnya, rapi dan bersih. Menyisakan satu pekerjaan agar rumahku semakin sempurna. Benar, bahan makanan. Aku harus mengisi kulkasku dengan berbagai bahan makanan untuk esok pagi.
"Ha-ha." Juna membuatku tertawa sendirian, karena memintaku menghubunginya jika aku membutuhkan bahan makanan, dia akan mengantarnya dengan gratis, tapi dia tidak meninggalkan nomor teleponnya untukku.
Mau tidak mau, aku harus berjalan ke ujung jalan, toh tak begitu jauh. Selain itu aku bisa lebih mengenal lingkungan ini di malam hari. Benar saja, aku dimanjakan oleh debur ombak dan bintang-bintang yang tak kutemui di ibukota. Pemandangan desa membuatku terbuai. Kaki mungilku tak melangkah ke tujuan yang sebenarnya. Ia justru melangkah ke bibir pantai dengan pasir putihnya yang bercahaya di malam hari.
Sekadar duduk dan menikmati hembus angin malam. Bulan yang bulat sempurna dan bintang yang terus bercahaya. Indah sekali dan menenangkan, lebih-lebih saat aku memejamkan mata. Seolah aku tengah terbang menuju surga dengan damai.
Membuka mataku dan melihat seseorang bertubuh tinggi dengan pakaian yang menyilaukan mata, berjalan gontai. Mungkin dia sudah menghabiskan puluhan botol beer sebelum datang ke pantai. Semakin mendekat ke arahku, postur tubuh dan caranya berpakaian nampak tak asing.
"Bukankah itu Kim Gazza?" gumamku mulai menyipitkan mata, memastikan apakah yang kulihat adalah anggota termuda dari grup Super X yang lagu ballad-nya selalu menemani malam-malam sunyiku serta program ragamnya yang seringkali menghibutku. "Ah, tidak mungkin." Membantah diriku sendiri karena aku tahu malam ini Super X sedang ada konser di Atrium Seulasia. Tidak mungkin dia datang jauh-jauh ke Guangsi hanya untuk mabuk, karirnya sudah pasti lebih penting dari apapun.