“Ada apa sih, Mas?” Nadaku sedikit ketus. Tentu saja, karena aku ke sini—ke dalam kamar, jadi tidak bisa mencari tahu lebih lanjut apa tujuan mereka ‘kan? “Dek … kok gitu sih? Datang-datang malah kayak orang yang lagi marah?” “Lha kamu ngapain panggil aku. Aku lagi mau bantu ibu di dapur lho?” “Kan udah ada Eliza, Dek. Kamu santailah di sini sama aku.” “Tadi ‘kan katanya boleh, aku mau bantu ibu, Mas. Sekarang malah dipanggil ke sini lagi.” Perasaanku menjadi jengkel karena ulah mas Lutfan ini. “Lho Dek, kamu kok jadi sewot gitu sih? Harusnya senang lho, kamu aku panggil ke sini.” “Kamu tuh nggak tau, Mas.” “Maksud kamu apa, Dek?” “Dahlah … aku nggak jadi marah. Kenapa kamu memanggilku ke sini, Mas?” “Beneran kamu nggak jadi marah, Dek?” “Ya ampun Mas … ada apa aku dipanggil k

