7.I am tired

1012 Words
Rasa sakit yang dialami oleh seseorang tidak akan ada yang tahu seberapa besar rasa sakit itu jika mereka belum pernah merasakan hal yang sama. Orang hanya bisa menilai dari apa yang mereka lihat, tanpa mau memahami apa yang sebenarnya dirasakan oleh orang itu." — Bella Bella selalu pulang ke rumah pada malam hari, bahkan tengah malam, meskipun pekerjaannya tidak terlalu banyak. Namun, ia tetap memilih untuk pulang larut karena selalu merasa sesak setiap kali masuk ke dalam rumah. Tapi malam ini, ia terpaksa pulang lebih awal karena adik iparnya mengatakan bahwa ia sedang menunggu dirinya. Akhirnya, Bella segera pulang untuk menemui gadis itu. "Kakak Bella-ku tersayang!!" sapa gadis itu dengan penuh semangat. Bella hanya bisa tersenyum melihat sang adik ipar yang selalu ceria dan menyambut dirinya dengan penuh sukacita. Jolie akhir-akhir ini sangat sibuk karena baru saja pindah universitas. Hari ini, Jolie akhirnya bisa menemui Bella setelah menyelesaikan semua urusannya. "Kau semakin cantik. Sudah berapa banyak laki-laki yang menyatakan perasaan padamu?" canda Bella sambil mengedipkan sebelah matanya. Jolie hanya bisa tertawa melihat tingkah kakak iparnya yang selalu menggoda dirinya. Keduanya asyik mengobrol di ruang tengah sampai tidak menyadari kedatangan Gabriel dan kedua orang tuanya. Pria itu sempat terdiam saat melihat bagaimana Bella kembali ceria ketika bersama Jolie. Bahkan, wanita itu terlihat baik-baik saja dan tidak menunjukkan kesedihan sama sekali di wajahnya ketika sedang bersama sang adik ipar. "Ehem." Suara dehaman dari Gabriel menghentikan tawa Bella. Wanita itu langsung mengubah ekspresinya menjadi datar saat mendengar suara Gabriel. "Oh, kau sudah pulang?" Bukan suara Bella yang bertanya, melainkan Jolie. "Mom, Dad, kalian juga datang berkunjung?" tanya gadis itu heran melihat kedatangan kedua orang tuanya. Mereka jarang sekali menginjakkan kaki di rumah sang kakak ipar setelah menikah. Bella yang masih duduk membelakangi Gabriel dan kedua orang tuanya seketika menegang. Jujur saja, ia tidak ingin bertemu dengan kedua mertuanya, karena pasti akan ada rasa sakit lagi yang kembali ia rasakan. Bella tidak sanggup melihat orang-orang yang selama ini menatapnya dengan kebencian. Ia akan semakin teringat bagaimana calon anaknya dulu ditolak. "Selamat datang, Nyonya dan Tuan. Silakan duduk, saya akan buatkan minuman." Kata Bella setelah cukup lama diam. Mendengar sebutan itu tentu saja membuat semua orang cukup terkejut. Sebab, dulu Bella selalu memaksa untuk memanggil kedua orang tua Gabriel dengan sebutan Ibu dan Ayah, karena tidak diizinkan memanggil mereka Mom dan Dad. Tapi kini, wanita itu menyebut mereka dengan sapaan formal, seolah sudah tidak berharap apa pun dari keluarga itu. Sikap Bella yang seakan langsung menghindar pun semakin menegaskan hal tersebut. "Wanita itu berubah drastis. Dia bahkan menghindari kami," batin ibu Gabriel. Ia menyadari perubahan sikap Bella. Dulu, wanita itu sangat ceria dan penuh perhatian. Tapi kini, sorot matanya tampak redup, tubuhnya terlihat lebih kurus, dan keceriaan yang dulu ada seakan telah lenyap. Di dapur, Bella berusaha membuatkan minuman untuk kedua mertuanya dengan tangan bergetar. Ingin sekali rasanya ia menangis dan berteriak bahwa ia tidak ingin bertemu dengan siapa pun. Bayang-bayang wajah mereka yang menolak keberadaan anaknya dulu kembali muncul dalam pikirannya. Rasa sakit yang ia rasakan bukan hanya karena dirinya yang tidak diterima di keluarga itu, tapi juga karena penolakan mereka terhadap anak yang ia kandung. "Nyonya, biar saya bantu membuatkan minuman," kata salah seorang pelayan. Mereka tahu Bella sedang merasa tidak nyaman karena kedatangan kedua orang tua Gabriel. "Tidak perlu, aku bisa sendiri. Kau pergilah dan istirahat," katanya dengan suara sedikit bergetar. Karena khawatir, pelayan itu akhirnya memilih untuk tetap berada di dapur, mengawasi Bella dari kejauhan. Ia takut terjadi sesuatu pada wanita itu. Benar saja. Karena tidak fokus, Bella akhirnya terjatuh. Tangannya membentur ujung meja dapur dengan sangat keras. Untungnya, minuman yang ia bawa tidak mengenai tubuhnya, karena airnya masih sangat panas. Dengan cepat, Berta—salah satu pelayan—membantu Bella berdiri. Ia terkejut saat melihat lengan kiri Bella yang mulai membiru. Berta langsung berteriak meminta beberapa pelayan lain untuk mengambilkan kain dan es untuk mengompresnya. "Kakak ipar, bagaimana bisa terjadi seperti ini?" tanya Jolie dengan khawatir setelah diberitahu oleh salah satu pelayan. Bella tersenyum melihat kekhawatiran di wajah Jolie. Ia mengelus rambut gadis itu dengan tangan kanannya yang masih bisa digerakkan. "Tidak apa. Jangan khawatir. Ini tidak sakit sama sekali," ujarnya dengan lembut. "Ayo, kita ke rumah sakit," ajak Jolie. "Ini benar-benar tidak sakit. Aku akan mengompresnya dengan es, nanti juga membaik. Tidak perlu ke rumah sakit," tolak Bella. Tiga orang yang sejak tadi duduk di ruang tengah langsung menghampiri setelah mendengar suara Jolie yang heboh. Mereka cukup terkejut saat melihat tangan Jolie memegangi lengan Bella yang tampak memar. "Apa yang terjadi? Kenapa kau sangat ceroboh?" tanya Gabriel dengan suara keras. Semua orang terdiam melihat wajah Gabriel yang tampak marah. "Bukan masalah besar, hanya kesalahan kecil. Tidak perlu marah-marah seperti itu," ujar Bella santai, lalu segera pergi ke kamarnya untuk mengobati tangannya yang perlahan mulai terasa ngilu. Bella mengunci pintu kamarnya agar tidak ada yang masuk. Ia tidak peduli jika dianggap tidak sopan. Yang ia inginkan saat ini hanyalah sendiri. Entah kenapa, ia merasa ingin menangis dan menghilang dari dunia ini. Sejak tadi pagi, ia sudah merasa sangat lelah dan hanya ingin berada di suatu tempat di mana tidak ada satu pun orang yang ia kenal. "Tuhan, aku benar-benar merasa sangat lelah. Bolehkah aku pulang ke pangkuan-Mu sekarang?" Perlahan, air mata Bella mulai membasahi kedua pipinya. Sejak tadi ia menahan diri untuk tetap terlihat baik-baik saja. Tapi kini, ia tidak bisa lagi menahan air matanya. Di luar kamar Bella, semua orang terdiam. Tak satu pun mengeluarkan sepatah kata setelah Bella masuk ke dalam. Berbeda dengan Jolie, ia justru menangis saat menelepon saudara kembarnya, Jonathan. Dengan suara bergetar, ia mengadu bahwa kakak iparnya terluka dan sedang mengurung diri di dalam kamar. Selama ini, hanya Jolie dan Jonathan yang menerima keberadaan Bella. Begitu juga dengan sepupu mereka, Cassie. Namun, wanita itu sedang pergi berbulan madu dengan suaminya. Harapan Jolie saat ini hanya pada Jonathan. Ia berharap saudara kembarnya itu bisa segera datang dan membantu Bella kembali seperti dulu. Bella sangat berubah, semunya tampak berbeda. Tidak ada Bella yang ceria dan penuh ekspresi seperti biasnya. Sekarang hanya Bella yang suka merenung dan terpuruk.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD