8.I want to give up

1021 Words
"Kak, tolong bantu aku saat ini saja," pinta Jolie pada Gabriel, membuat laki-laki itu mengurutkan keningnya, tidak mengerti kenapa adiknya terlihat begitu berharap ia memberikan bantuan saat ini. "Tolong berikan aku kunci kamar Kakak Bella. Aku ingin memastikan keadaannya. Aku mohon sekali, tolong berikan aku kunci cadangan kamarnya," mohon Jolie dengan sungguh-sungguh sambil menyatukan kedua tangannya. Gabriel cukup terkejut dengan permintaan Jolie, membuatnya bertanya-tanya apakah dia terlihat begitu jahat pada Bella sehingga adiknya sampai harus memohon hanya untuk mendapatkan kunci cadangan wanita itu. Tanpa mengatakan apa pun, Gabriel mengambil sesuatu dari saku celana bahannya dan menyerahkannya pada sang adik. Jolie langsung mengucapkan terima kasih, mencium pipinya, lalu segera pergi ke kamar Bella dan membuka pintu dengan tergesa-gesa. Sejak awal pernikahan Gabriel dengan Bella, Jolie memang sangat menerima kehadiran Bella sebagai kakak iparnya. Ia juga sangat menjaga wanita itu agar tidak ada yang bisa menyakitinya. Jolie selalu membela Bella di depan seluruh keluarga yang menjatuhkan wanita itu. "Kakak, ayo kita pergi ke rumah sakit. Aku tidak ingin terjadi sesuatu lagi padamu," pinta Jolie setelah berhasil membuka kamar Bella. Lagi-lagi Bella menunjukkan senyuman manisnya dan mengatakan bahwa dia tidak perlu dibawa ke rumah sakit. "Tanganku benar-benar tidak terasa sakit. Aku tidak memerlukan dokter hanya untuk luka kecil seperti ini," ujarnya sebelum Jolie kembali memaksanya untuk pergi ke rumah sakit. Jolie memandang sendu kakak iparnya yang malah tersenyum lembut padanya. Sejak dulu Bella selalu mengatakan bahwa ia baik-baik saja meskipun ada orang yang berusaha menyakitinya. "Permisi, Nyonya. Tuan memanggil Anda untuk datang ke ruang tengah," kata seorang pelayan setelah mengetuk pintu kamar Bella yang terbuka lebar karena ulah Jolie. "Katakan Kakak Bella tidak bisa keluar. Dia sedang sakit dan membutuhkan istirahat," kata Jolie dengan wajah kesal. "Tanganku sudah dikompres, sudah tidak terasa sakit lagi. Ayo kita ke ruang tengah. Tidak enak jika kita tetap di sini. Di luar ada kedua orang tuamu," ajak Bella. Wanita itu segera bangkit dari duduknya, perlahan menggenggam tangan kirinya yang terasa begitu sakit. Bahkan hanya dengan gerakan kecil saja, rasanya sangat nyeri. Di sana, terlihat seorang pria muda seusia Gabriel dengan jas dokter tengah berbincang bersama kedua orang tua Gabriel. Bella yakin bahwa dia adalah dokter yang sengaja dipanggil untuk memeriksa lukanya. "Kak David, tolong periksa tangan Kakakku tersayang," kata Jolie dengan suara manja pada laki-laki yang tak lain adalah teman baik kakaknya. David tersenyum lembut ke arah Jolie. Gadis itu memang sangat manja padanya, mungkin karena Gabriel tidak pernah memanjakan adik perempuannya seperti yang ia lakukan. "Jadi kau yang memanggil dokter untuk memeriksa lukaku?" tanya Bella pada Jolie, yang langsung diangguki oleh gadis itu. "Apa kamu mengira aku yang memanggil dokter ke sini?" Gabriel bertanya seakan laki-laki itu tengah meremehkan Bella yang berharap jika dirinya yang memanggil dokter untuknya. Bella tidak mempedulikan apa yang dikatakan Gabriel. Dia segera duduk dan menyodorkan tangannya pada dokter. Ia ingin segera pergi dari sana dan menjauh dari Gabriel agar emosinya tetap stabil. Dokter David memeriksa luka pada tangan Bella dengan teliti. Ia meringis melihat Bella berusaha menyembunyikan rasa sakitnya. Selain memeriksa luka, dokter David juga mengamati gerak-gerik Bella untuk melihat kondisi psikis wanita itu. Hanya dengan sekali tatapan, ia sudah tahu ada luka besar yang tengah dimiliki oleh Bella. "Kita harus ke rumah sakit. Aku rasa lenganmu cedera, jadi lebih baik diperiksa lebih lanjut karena ini cukup parah," kata dokter David. "Apa yang terjadi?" tanya Jolie. "Sepertinya ada pergeseran pada sikunya," jawab David yang masih memegang tangan Bella. Bella terkejut bukan main saat tahu dirinya mengalami cedera yang cukup serius. Padahal ia pikir jika hanya terjatuh, tidak akan separah itu. Akhirnya, ia pun memilih untuk ikut ke rumah sakit seperti yang disarankan oleh dokter David. Ia tidak mau terjadi hal serius pada tangannya yang akan menghambat pekerjaannya nanti. Setelah melakukan pemeriksaan dan tangannya diperban, Bella meminta Jolie agar mereka pergi ke suatu tempat lebih dulu. Dia tidak mau cepat-cepat kembali ke rumah karena ada kedua orang tua Gabriel. Tapi Jolie menolak karena Bella membutuhkan waktu istirahat. Akhirnya Bella menurut, karena dokter David yang tadi mengantarkan mereka ke rumah sakit kini mengantar mereka pulang. "Aku akan datang lagi besok pukul 09.00 pagi. Apa kau bersedia, Nyonya?" tanya dokter David dengan sopan. "Tidak perlu, Dokter. Terima kasih karena sudah mau datang kemari. Aku benar-benar baik-baik saja hanya karena luka kecil ini. Maaf sudah merepotkan," ujar Bella. Besok dirinya harus bekerja, jadi tidak mungkin ia akan meminta izin hanya karena luka kecil di tangannya. Sebelumnya Bella sudah berjanji bahwa dia tidak akan mengambil libur kerja jika tidak ada hal yang benar-benar mendesak. Ia tidak mau gajinya terpotong, karena dia harus segera mendapatkan banyak uang untuk kedua orang tuanya agar bisa segera pergi meninggalkan semua kenangan buruk yang telah menjatuhkan dirinya hingga tidak bisa lagi bangkit. Malam ini Bella benar-benar harus memaksakan diri untuk keluar dari kamar dan ikut makan malam bersama Gabriel serta kedua orang tuanya. Jolie tidak bisa ikut karena gadis itu akan menjemput Jonathan yang baru saja mendarat. Jika biasanya Bella akan mengeluarkan banyak kata-kata untuk mencairkan suasana di meja makan, kini dia hanya diam dan fokus menghabiskan makanannya. "Nyonya, mohon maaf. Ponsel Anda berbunyi sejak tadi, jadi saya membawanya ke sini karena takut panggilan penting," kata seorang kepala pelayan. "Baiklah, terima kasih," ucap Bella, merasa bersyukur karena akhirnya bisa meninggalkan meja makan. "Tuan, Nyonya, saya mohon izin untuk mengangkat panggilan terlebih dulu," kata Bella, kemudian segera pergi menuju kolam renang untuk mengangkat panggilan dari bosnya. Bella mengerutkan kening saat atasannya mengatakan bahwa ia akan diliburkan selama satu minggu. Ia sudah memaksa untuk tetap bisa bekerja, tapi sang atasan menolak dengan alasan bahwa Bella membutuhkan istirahat. "Sudahlah, percuma juga aku memohon untuk tidak diliburkan. Dia berteman baik dengan Gabriel, jadi dia tidak akan berani menolak permintaan laki-laki itu," gumamnya setelah panggilan telepon selesai. Bella duduk di pinggir kolam renang, menatap kosong ke permukaan air. Dari dalam rumah, Gabriel memperhatikan Bella yang terlihat murung. "Bahkan dia terlihat seperti mayat hidup yang bisa bergerak," gumamnya. "David mengatakan bahwa Bella sebenarnya mengalami depresi. Kau harus membantunya untuk sembuh," kata John pada putranya. John sadar bahwa Bella bukanlah gadis buruk seperti yang ia kira. Sekarang ia melihat bahwa Bella hanya seorang wanita yang terluka dan butuh pertolongan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD