Pagi ini, Bella bangun dengan malas, mengingat dirinya harus libur bekerja selama satu minggu ke depan. Fakta baru yang ia ketahui ialah ternyata bosnya teman dari Gabriel. Dan laki-laki itu adalah penyebab kenapa dirinya tiba-tiba diliburkan dari pekerjaan, padahal ia tidak memberitahu bosnya jika sedang terluka.
Jam masih menunjukkan pukul 05.30 pagi. Ia mengambil jaket lalu keluar dari kamar. Karena pagi ini ia tidak perlu bersiap-siap untuk berangkat bekerja, Bella memilih untuk pergi jalan-jalan pagi. Ketika keluar dari kamarnya, suasana rumah sangat sepi. Mungkin semua orang belum bangun. Hanya ada beberapa pelayan yang sudah mulai bekerja.
"Jika ada yang mencariku, tolong katakan jika aku sedang pergi untuk menghirup udara segar di luar," katanya pada kepala pelayan.
"Baik, Nyonya. Apakah Anda memerlukan sopir?" tanya kepala pelayan.
"Tidak perlu, aku hanya jalan-jalan di sekitar sini saja, jadi aku akan berjalan kaki," tolak Bella, lalu segera pergi meninggalkan rumah.
Rumah besar milik Gabriel cukup jauh dari rumah yang lain. Bukan hanya itu, sebelum keluar dari gerbang pun Bella harus berjalan cukup lama. Baru keluar dari gerbang saja, dia sudah sangat kelelahan karena pintu utama dengan gerbang cukup jauh. Setelah berhasil keluar, Bella berlari kecil menyusuri jalanan yang sepi. Akhirnya ia bisa menghirup udara segar di pagi hari seperti dulu sebelum menikah.
"Rasanya sangat menyenangkan. Aku ingin seperti ini setiap hari sebelum bekerja lagi," gumamnya sambil menghirup udara segar yang masuk ke dalam hidungnya.
Jam menunjukkan pukul 08.00 pagi. Semua orang sudah mulai keluar dari kamar masing-masing dan akan melakukan aktivitas. Karena pagi ini bukanlah hari libur, mereka segera sarapan dan harus meninggalkan rumah untuk melakukan aktivitas seperti biasa. Ada dua orang yang belum datang ke meja makan, yaitu Bella dan Jolie.
"Di mana Kakakku tersayang?" Pertanyaan Jolie membuat semua orang menoleh pada gadis itu.
Sejak tadi, mereka tidak melihat Bella sama sekali, bahkan mereka berpikir jika Bella sedang bersama adik iparnya. Tapi gadis itu malah mencari keberadaan Bella.
"Aku pikir Kakak Bella bersama denganmu, karena dia belum keluar dari kamarnya sejak tadi," kata Jonathan.
"Aku bahkan sejak tadi mencari keberadaannya. Dia tidak ada di kamarnya saat aku baru bangun dan pergi ke sana. Lalu aku mencarinya ke seluruh rumah, tapi dia tidak ada. Aku pikir dia sedang memasak dan menyiapkan sarapan," jelas Jolie. Wajahnya kini berubah menjadi khawatir karena semua orang tidak tahu di mana keberadaan Bella.
Gabriel yang tadinya duduk menikmati kopinya langsung beranjak meninggalkan meja makan. Laki-laki itu berlari ke luar rumah untuk mencari keberadaan sang istri. Gabriel mencari Bella di seluruh penjuru rumah. Ia tampak seperti orang kesetanan saat tak kunjung menemukan keberadaan sang istri.
Semua orang juga sibuk mencari Bella. Gabriel bergabung dengan kedua orang tua dan juga kedua adiknya yang ada di depan pintu.
"Jolie, apakah dia tidak mengangkat telepon?" tanyanya ketika melihat adik perempuannya mencoba menelepon seseorang.
"Dia tidak membawa ponselnya," jawab Jonathan karena Jolie sibuk menghubungi seseorang untuk menanyakan keberadaan Bella.
Mendengar jawaban dari Jonathan membuat Gabriel semakin berpikiran buruk. Entah kenapa, ia merasa takut jika Bella meninggalkannya begitu saja.
"Sial! Di mana semua orang? Kenapa tidak ada yang tahu keberadaan istriku?" teriak Gabriel frustrasi.
Terlihat seorang wanita paruh baya berjalan dengan tergesa-gesa menghampiri Gabriel yang tanpa emosi. Wanita itu bahkan hampir terpeleset karena tergesa-gesa.
"Tuan, maafkan saya karena membuat semua orang khawatir. Tadi pagi-pagi sekali, Nyonya Bella berpamitan pergi untuk jalan-jalan pada saya," kata wanita itu dengan takut.
"Thomas, bawa seluruh anggotamu untuk mencari keberadaan istriku. Dan bawa dia pulang secepatnya. Jangan sampai dia terluka sedikit pun. Cepat pergi sekarang!" perintah Gabriel, lalu segera masuk ke dalam rumah.
Setelah beberapa menit Gabriel masuk ke dalam rumah, laki-laki itu kembali keluar dengan langkah lebar. Ia masuk ke dalam mobilnya yang sudah disiapkan oleh sopir.
"Wah! Apakah Kakakmu sudah mulai jatuh cinta pada Kakakku yang cantik?" ujar Jolie pada Jonathan yang masih melihat mobil kakaknya meninggalkan rumah.
"Apakah aku bermimpi? Melihat laki-laki arogan itu kehilangan akal sehat karena tidak menemukan istri yang dibencinya?" gumam Jonathan. Ia masih tidak percaya melihat kakaknya seperti orang kesurupan saat mendengar kabar bahwa Bella tidak ada di seluruh penjuru rumah.
Berbeda dengan kedua anak kembarnya, pasangan suami istri yang sejak tadi ikut mencari Bella memilih masuk ke dalam rumah putra mereka. Setelah mendengar Bella berpamitan untuk jalan-jalan, mereka cukup merasa lega karena wanita itu tidak pergi begitu saja setelah membuat kekacauan di keluarga Alexander.
Di sebuah meja kafe, terlihat seorang wanita cantik dengan rambut panjang yang digerai tengah menikmati secangkir kopi. Setelah cukup lama berlari dan kakinya terasa pegal, ia memilih untuk beristirahat di sebuah kafe yang buka 24 jam. Wanita itu fokus dengan kopinya, tidak peduli pada beberapa orang yang melihatnya dengan wajah mencemooh. Ya, mereka pasti tahu apa yang telah dilakukan oleh Bella pada Gabriel, calon pemimpin utama dari keluarga Alexander yang terkenal kaya raya.
Setelah mengalami insiden mengerikan di mal, Bella tidak pernah berani membuka berita tentang dirinya. Dia takut banyak komentar kebencian tentang mendiang anaknya. Padahal, pemberitaan di luar sana banyak yang menaruh simpati pada Bella. Banyak juga yang mulai memahami kondisi Bella setelah insiden itu. Namun, Bella terlalu takut. Dia tidak ingin muncul di publik setelah insiden itu, sehingga ia tidak sadar bahwa ada begitu banyak mata yang menatapnya iba.
"Kenapa istriku tidak mengajak suaminya untuk meminum kopi di luar?" Suara bariton di belakangnya membuat Bella terperanjat kaget.
Perlahan ia menolehkan kepalanya, menatap seseorang yang sudah bisa ia tebak. Laki-laki itu berdiri menjulang tinggi di belakangnya dengan bersedekap d**a. Wajahnya yang datar membuat Bella langsung mengalihkan pandangannya dari Gabriel.
Karena Bella tidak memberikan respons apa pun, Gabriel langsung mengambil duduk di depan wanita itu. Dia menatap Bella yang malas, sibuk menyesap kopinya yang masih sedikit berasap.
"Bisakah kau pergi dari sini?" pinta Bella, karena ia cukup risih dengan tatapan Gabriel dan beberapa orang yang memotret kebersamaan mereka.
Bella berpikir, pasti nanti akan ada banyak sekali pemberitaan yang membuatnya semakin buruk di mata masyarakat. Apalagi melihat tatapan dingin dari Gabriel yang duduk di depannya.
"Aku kira kau akan menawarkan kopi untuk suamimu, ternyata kamu malah mengusirku," ketus Gabriel.
Tidak mempedulikan apa yang dikatakan oleh Gabriel, dia memilih untuk cepat-cepat menghabiskan kopinya dan segera pergi dari sana. Niat hati ingin keluar dari rumah dan menenangkan pikiran, tapi sumber masalah dalam pikirannya malah menghampirinya. Setelah menghabiskan kopinya, Bella segera pergi dari sana tanpa mengatakan apa pun pada sang suami.
"Jangan menyentuhku!" Bella mencetak tangannya saat Gabriel menarik pergelangannya.
Suaranya yang cukup keras membuat beberapa orang yang ada di sekitar melihat keduanya. Sekarang dia yakin bahwa Gabriel pasti akan marah padanya dan mempermalukan dirinya di depan umum seperti biasanya.
Tapi dugaan Bella salah. Laki-laki itu malah tersenyum dengan perlakuannya. Entah kenapa, dia merasa aneh dengan sikap Gabriel pagi ini.
"Istriku sangat lucu saat sedang marah, membuatku tidak ingin membiarkanmu keluar dari kamar." Gabriel mengelus kepala istrinya dengan lembut.
Apa yang dilakukan oleh dua orang itu tentu saja tidak luput dari pandangan semua orang yang ada di sekitar. Banyak yang mengabadikan momen itu, karena jika mereka bisa mendapatkan informasi terbaru tentang Gabriel dan Bella, pasti mereka akan mendapatkan banyak uang setelah menjual informasi pada media.
"Ck, apa kau salah makan?" Gabriel hanya terkekeh mendengar perkataan istrinya.
"Baiklah, Sayang. Aku meminta maaf karena perlakuanku semalam padamu. Jangan marah lagi dan ayo pulang." Gabriel menarik pinggang sang istri agar berada di sampingnya.
"Gabriel, apakah kau benar-benar sudah gila? Jaga sikapmu, sialan!" maki Bella dengan tatapan tajam pada laki-laki yang masih merangkul pinggangnya dengan erat.
Cup
Sungguh di luar dugaan, Bella membelalakkan matanya saat bibirnya bersentuhan dengan bibir sang suami. Ia langsung menutup wajahnya ketika Gabriel melepaskan ciuman mereka. Dengan kesal, dia menarik Gabriel untuk segera pergi dari sana karena menjadi tontonan banyak orang.
Brakkk
Bella menutup pintu mobil dengan keras. Ia benar-benar kesal dengan apa yang telah dilakukan oleh Gabriel tadi. Sekarang yang ia pikirkan bukan tentang adegan yang dilakukan oleh Gabriel di depan umum, melainkan komentar orang di luar sana nantinya yang akan membuat namanya semakin buruk.
"Sayang, apa kau menikmati ciuman dariku?" Pertanyaan bodoh itu keluar dari bibir Gabriel, membuat Bella langsung meninju lengan kiri laki-laki itu saking kesalnya.
"Sebenarnya apa yang kau rencanakan padaku, sialan?" geram Bella. Ia sangat yakin jika laki-laki yang berstatus sebagai suaminya itu sedang merencanakan sesuatu pada dirinya. Karena tidak mungkin Gabriel, yang selalu menolak keberadaannya dan bahkan tidak pernah mau disentuh olehnya, kini bersikap baik dan romantis di depan umum. Bahkan, laki-laki itu tidak segan untuk menyentuh dan menciumnya di depan banyak orang.
"I didn't have anything planned, I just wanted to kiss my wife in front of lots of people. Wouldn't it be great to get a sudden kiss in public?" jawab Gabriel dengan santai.
(Aku tidak punya rencana apa-apa. Aku hanya ingin mencium istriku di depan banyak orang. Bukankah menyenangkan mendapatkan ciuman tiba-tiba di depan umum?)
"Bella, ingat laki-laki ini yang telah membuat anakmu meninggal. Selama ini dia membencimu dan anak yang kau kandung, jadi jangan pernah luluh dengan perlakuannya. Karena pasti dia akan membuatmu menyesal suatu hari nanti!" batin Bella. Ia tidak akan terlena dengan apa yang dilakukan oleh Gabriel hari ini. Sejak awal pernikahan, laki-laki itu tidak pernah mau menganggap keberadaan dirinya. Bahkan, selalu memberikan sumpah serapah pada bayi yang masih ada di dalam kandungan.