10. I wouldn't hope

1056 Words
Dalam perjalanan pulang, Bella hanya diam. Dia benar-benar kesal karena apa yang dilakukan oleh Gabriel bisa menimbulkan masalah untuk dirinya. Mungkin semua orang tidak berani menggunjing Gabriel karena laki-laki itu bisa melakukan apa pun yang dia mau. Tapi dirinya, meskipun menjadi menantu keluarga Alexander, bukanlah orang yang dihormati seperti keluarga Alexander pada umumnya. Semua orang bahkan terang-terangan mencemoohnya dan menghina anak yang dulu dia kandung. Sesampainya di rumah, Bella langsung keluar dari mobil dan kembali mengulangi apa yang dilakukannya tadi, yaitu membanting pintu mobil dengan sangat keras. "Kakakku yang cantik!" teriak Jolie yang sejak tadi menunggu di depan pintu utama. Gadis itu berlari menuruni tangga lalu segera memeluk Bella dengan erat. "Ada apa? Kenapa kamu memelukku seperti ini?" tanya Bella, kebingungan dengan sikap adik iparnya. "Aku kira kau benar-benar pergi seperti yang ada dalam mimpiku. Tadi aku benar-benar takut kau meninggalkan kakakku yang jahat ini," jawab Jolie. Dia masih tidak mau melepaskan pelukannya pada Bella. Bella menghela napas pelan lalu mengelus punggung Jolie dengan lembut. Beberapa minggu lalu, Jolie memang mengatakan bahwa dia mengalami mimpi buruk. "Sudah, jangan menangis. Dia tidak akan meninggalkanmu. Bukankah kau tahu dia rela melakukan apa pun, bahkan menghancurkan perusahaan keluarganya sendiri, hanya demi mendapatkanku?" Bella memejamkan matanya mendengar perkataan yang dilontarkan oleh Gabriel. Sebelumnya, ia memang tidak peduli dengan apa yang laki-laki itu katakan tentang dirinya. Bahkan walaupun ia dipermalukan di depan umum pun, ia tidak pernah mempermasalahkan itu. Tapi sekarang dia akan mempertegas pada dirinya sendiri dan juga Gabriel bahwa ia sudah tidak menginginkan laki-laki itu lagi. Mungkin untuk sekarang dia hanya akan diam saja sebelum melancarkan usahanya untuk meninggalkan Gabriel secara diam-diam. Fokusnya sekarang hanya untuk mencari uang sebanyak mungkin agar bisa mengembalikan perusahaan kedua orang tuanya. "Ayo kita masuk. Bukankah kau ada kuliah pagi ini?" ujar Bella. Sebelum masuk ke dalam rumah, Bella menarik napas dalam-dalam. Ia harus mempersiapkan diri untuk mendapatkan sindiran pedas dari ibu mertuanya. Wanita paruh baya itu tidak pernah menerima keberadaannya dan selalu membuatnya merasa tidak nyaman. Dengan keributan yang dia buat pagi ini, pasti ia akan mendapatkan sindiran mematikan. "Kakak Bellaku yang cantik, apa tanganmu sudah diobati?" tanya Jolie dengan lembut. "Tanganku benar-benar tidak terasa sakit sama sekali dari kemarin, jadi jangan khawatir. Aku akan mengobatinya nanti setelah kau berangkat kuliah," jawab Bella lembut. Di ruang tamu, kedua orang tua Gabriel tengah duduk di sana. Mereka kompak melihat kedatangan Bella yang dirangkul oleh Jolie. Hanya melihat sebentar lalu mereka kembali sibuk dengan laptop masing-masing. Bella merasa sedikit lega karena sekarang tidak langsung disemprot dengan sindiran. Semua orang sudah berangkat melakukan aktivitas masing-masing. Kini tinggal Bella sendiri yang hanya berdiam di rumah. Ia tidak diperbolehkan keluar rumah oleh Gabriel. Karena bosan tidak ada kegiatan, Bella memilih untuk pergi ke taman belakang. Dia melihat beberapa tanaman bunga yang belum dipindahkan ke dalam pot. "Melly, ayo temani aku berkebun," ajaknya pada salah satu pelayan yang ada di taman belakang. "Tapi, Nyonya, Tuan melarang Anda untuk melakukan aktivitas yang terlalu berat. Bukankah tangan Anda sedang sakit?" kata Melly. Ia menatap tangan Bella yang sudah dibalut dengan perban agar tidak terkena debu dan orang yang melihat tangannya tidak jijik. "Hanya menanam bunga tidak akan membuatku merasa lelah. Malah aku akan merasa lebih senang jika menanam bunga. Ayo temani aku," Bella menarik pelan tangan Melly agar ikut dengan dirinya. Akhirnya, mau tidak mau Melly menemani Bella untuk menanam beberapa bunga yang baru saja datang. Sebenarnya, bunga-bunga itu dibeli oleh Jolie karena gadis itu ingin membuat taman bunga untuk kakak iparnya tersayang. Gadis itu sangat tahu bahwa Bella begitu menyukai bunga dan sering berkebun sebelum menikah dengan Gabriel. Akhirnya, karena tidak ingin kakak iparnya merasa kesepian dan stres, Jolie membelikan bermacam-macam bunga untuk ditanam di taman belakang. "Nyonya, apa kau takut pada cacing?" tanya Melly dengan wajah yang sedikit memucat. Bella menoleh pada pelayan muda yang ada di belakangnya. Ia sedikit terkejut saat melihat wajah Melly yang terlihat pucat. Lalu, ia melihat ke arah pot yang tadi dipegang oleh Melly. Di sana ada cacing tanah cukup besar yang sedang bergerak, seakan ingin bersembunyi di dalam tanah. Bella langsung mengambil cacing itu dengan batang kayu dan membuangnya ke dalam pot besar. "Wah, Nyonya, kau sangat hebat. Benar-benar wanita yang sangat sempurna," Melly bertepuk tangan dengan semangat saat melihat majikannya tidak terlihat geli sama sekali melihat cacing tanah yang begitu besar. Bella hanya menggelengkan kepalanya pelan melihat Melly yang berlebihan memuji dirinya. Keduanya kembali melanjutkan menanam beberapa bunga pada pot. Setelah semuanya selesai, Bella mengambil beberapa bunga yang sudah tumbuh indah di taman itu. Ia merangkainya membentuk bando dari beberapa macam bunga. "Nyonya, apa yang tidak kau bisa lakukan?" tanya Melly dengan penasaran. Selama ini, Melly memperhatikan bahwa Bella selalu bisa melakukan segalanya dengan sangat baik. Mendapatkan pertanyaan seperti itu, Bella menghembuskan napasnya pelan. Dulu, pertanyaan seperti ini sering ia dapatkan dari teman-temannya saat masih sekolah. Tapi setelah melakukan perbuatan keji pada Gabriel, pertanyaan itu tidak pernah lagi muncul karena semua orang sibuk mencaci makinya. "Ada banyak hal yang tidak bisa aku lakukan di dunia ini," jawab Bella dengan senyum simpul. "Aku tidak bisa mengembalikan anakku untuk kembali hidup, aku tidak bisa mengembalikan kehidupan Gabriel seperti dulu lagi, aku juga tidak bisa mengembalikan kebahagiaan kedua orang tuaku, bahkan aku juga tidak bisa memaafkan diriku sendiri atas semua kejahatan yang sudah kulakukan di masa lalu." Bella segera menundukkan kepalanya saat merasa air matanya akan jatuh. Ia sudah berjanji untuk menjadi wanita kuat dan tidak akan pernah menangisi nasibnya lagi, apalagi nasib yang sekarang ia terima karena perbuatannya sendiri. Melly menjadi bungkam setelah mendapat jawaban dari sang majikan. Ia merasa bersalah karena bertanya hal seperti itu. Sebenarnya, ia tidak berniat untuk menyakiti perasaan Bella. Namun, ia terlalu kagum pada wanita yang menjadi majikannya ini, karena wanita muda seperti Bella sudah bisa melakukan apa pun. "Kakak Bella ku tersayang!" teriakan maut Jolie terdengar nyaring. Bella hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan melihat kelakuan adik iparnya. Melly yang tadinya duduk di samping Bella segera berdiri dan memberikan hormat pada Jolie. "Melly, tetaplah duduk di samping kakakku tersayang. Tidak perlu memberiku hormat seperti itu. Bukankah kita seumuran? Jadi lebih baik kita berteman saja," kata Jolie, mengulurkan tangannya pada Melly. Melly dengan ragu menerima uluran tangan adik dari majikannya. Ada rasa bahagia dan segan untuk berteman dengan anak dari keluarga Alexander. Mereka pun kembali melanjutkan merangkai bunga hingga jam makan siang, barulah mereka selesai dan masuk ke dalam rumah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD