Part 25 - Skenario

1868 Words
Samuel sedang memikirkan cara untuk bisa menyelesaikan masalah ini. Mereka akan pergi ke bawah jika masalah antara polisi dan orangtua Nicholas sudah teratasi. “Bagaimana, kalau kita membuat skenario?” usul Samuel. Mereka tidak tahu apa yang dimaksud skenario di sini. “Maksudmu?” Samuel mencoba menjelaskannya kepada teman-temannya. “Maksudnya adalah…” ia menggantungkan ucapannya. Melihat Samuel yang menggantungkan ucapannya itu membuat teman-temannya memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. “Apa?” Samuel memiliki sebuah ini. Idenya kali ini sedikit jahat. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan supaya orangtua Nicholas tidak mengetahui hal ini. Apalagi, mereka sudah berkoordinasi dengan pihak kepolisian. “Aku ada ide, mungkin terdengar sedikit jahat, namun kita harus melakukannya. Kita akan mengatakan kepada orangtua Nick jika kita tidak bisa ikut untuk melakukan pencarian karena kita tidak diizinkan orangtua. Setelah itu, Kim sebagai pemilik rumah harus mengatakan kalau Kim akan ikut orangtuanya pergi ke luar negeri untuk beberapa waktu. Selain itu, kita harus bisa menyembunyikan lubang yang ada di gudang sehingga pihak yang melakukan pencarian tidak bisa menemukannya. Kita tidak bisa membatalkan kasus begitu saja, karena kita tidak ada bukti jika Nick sudah ditemukan. Satu-satunya cara yang bisa kita lakukan hanyalah ini. Namun, jika kalian ada usulan, kalian bisa mengatakannya.” Usulan dari Samuel itu terdengar menarik. Pasalnya, laporan yang masuk ke kepolisian tidak bisa dibatalkan begitu saja tanpa adanya bukti-bukti yang mendukung. Yang bisa mereka lakukan hanyalah ini. dengan membuat skenario jika mereka tidak diizinkan untuk melakukan pencarian ini. Thomas menanggapi usulan dari Samuel tersebut. “Sam, bagaimana cara menutup lubang itu? Tidak mungkin kita menutupnya dari bawah sana, bukan? Jika kita ada di atas, kita bisa saja menutupnya dengan almari atau yang lain, lalu bagaimana jika kita menutupnya dari bawah?” “Benar, Sam. Jika mereka bisa menemukan lubang ini, pasti mereka akan melakukan pencarian juga. Lalu, bagaimana jika hal itu bisa terjadi?” Beberapa sanggahan dari teman-temannya itu membuat Samuel terdiam sesaat. Apa yang mereka katakan benar, bagaimana jika itu semua terjadi? Pasti mereka akan terkena masalah juga karena telah menyembunyikan sebuah fakta yang mengejutkan ini. “Apakah kalian ada jalan keluar untuk masalah ini? Sungguh, aku belum memiliki pandangan dan jawaban akan hal ini.” Samuel benar-benar merasa buntu sekarang. Ia tidak tahu apa ide yang akan ia munculkan di otaknya. Mereka nampaknya juga ikut berpikir keras akan hal ini. Mereka harus menemukan jawaban dan solusinya secepat mungkin sehingga mereka dapat segera mencari keberadaan Nicholas. Suara jentikan jari dari Dylan memecahkan keheningan di antara mereka. Sepertinya, ia memiliki ide mengenai masalah ini. “Aku ada ide!” Mereka semua penasaran dengan ide dari Dylan. “Apa?” ucap mereka bersamaan. Dylan mulai menjelaskan tentang ide yang ia dapatkan. “Kita harus mencari sesuatu kotak atau apapun itu yang bisa menutupi lubang itu. Kotak itu harus memiliki ukuran yang sesuai atau lebih besar dari lubang itu. Untuk teknisnya, aku yang terakhir turun ke bawah. Itu artinya, aku yang akan menutup lubang itu. Saat aku turun ke bawah, aku akan menutup lubang itu menggunakan kardus. Penyusunannya, di atas keramik penutup lubang itu akan aku taruh beberapa kardus. Saat aku sudah turun, aku akan menutupnya dari bawah dengan cara menggeser keramik itu. Jadi, keramik itu bisa tertutup dengan bantuan kardus atau kotak itu.” Mereka berusaha mencerna apa yang Dylan jelaskan. Penjelasannya tidak mudah diterima oleh teman-temannya. “Bagaimana maksudmu, Dylan? Aku tidak mengerti dengan yang kau katakan,” ucap Chan. Chan yang sedari tadi diam berusaha mencerna apa yang dikatakan oleh Dylan. Kimberly pun demikian. Ia juga tidak paham dengan perkataan Dylan. “Iya, aku juga tidak paham. Intinya, kau yang akan mengurus ini, bukan.” Dylan mengangguk menanggapi ucapan kimebrly. “Benar. Aku yang akan mengurus ini saja dan mengatur strateginya. Namun, aku meminta bantuan kalian untuk mencari sebuah kardus atau kotak yang berukuran sekitar empat puluh kali empat puluh sentimeter atau melebihhi ukuran dari keramik lebih baik.” “Baiklah, kita akan membantumu mencarinya.” “Kalau begitu, masalah menutup lubang bawah tanah itu sudah clear. Kita harus membuat alasan yang lebih masuk akal kepadaorangtua Nick. tidak mungkin kita semua akan mengatakan jika tidak diizinkan oleh orangtua kita. Mungkin, kalian yang berkuliah di luar kota bisa mengatakan kalau kalian kembali ke kota tempat kampus kalian berada. Sedangkan yang lain, kalian bisa beralasan apapun yang terpenting tidak sampai kita ketahuan berbohong. Untuk Kim, kau harus beralasan yang dapat meyakinkan mereka jika kau benar-benar pergi ke luar negeri,” Samuel menjelaskan secara rinci kepada teman-temannya. Rencana mereka untuk bersandiwara harus berrhasil. Mereka harus segera mencari Nicholas malam ini. Kimberly mengangguk menyanggupi apa yang sudah Samuel perintahkan padanya. Nampaknya, mereka sudah memiliki jawabannya. Mereka mengatakan alasan mereka masing-masing kepada Samuel. “Sam, kita akan mengatakannya secara bersama-sama dengan datang ke rumah Nick atau bagaimana?” tanya Elizabeth. “Menurutku, lebih baik perwakilan saja, bagaimana? Tidak mungkin jika ke rumah Nick secara bersama-sama. Untuk yang beralasan ke luar negeri atau ke luar kota ada baiknya untuk tidak ikut ke rumah Nick,” usul Gabriella. “Apa yang dikatakan Gaby ada benarnya. Namun, menurutku, Sam dan Tommy wajib datang ke rumah Nick, karena mereka yang ikut terlibat dalam pencarian. Setidaknya ada tiga orang yang harus pergi ke rumah Nick,” ucap Chan. “Kalau begitu, aku saja yang akan ikut dengan Sam dan Tommy. Orangtua Nick sudah menganggapku seperti anak mereka. Aku akan merasa bersalah jika tidak datang menemuinya langsung. Tenang saja, nanti aku akan bilang jika orangtuaku tidak mengizinkanku karena aku harus menjalani suatu pemeriksaan,” Elizabeth mengajukan dirinya untuk ikut dengan Samuel dan Thomas. Orangtua Nicholas mengenal Elizabeth dengan baik. Rasanya tidak etis jika Elizabeth tidak ikut bersama mereka. “Oke, kalau begitu, kita langsung berangkat saja. Sedangkan sisanya, kalian membantu Dylan untuk mencari apa saja yang dibutuhkan Dylan. Setelah itu, kalian harus kembali ke rumah masing-masing dan berkumpul lagi di rumah Kimberly pukul delapan malam.” Mereka menyanggupi apa yang diucapkan Samuel baru saja. Setelah itu, mereka mulai melakukan apa yang sudah diperintahkan. Samuel, Thomas, dan Elizabeth pergi menuju rumah Nicholas menggunakan motor Samuel dan Thomas, sedangkan Elizabeth membonceng Samuel. Lain halnya dengan Dylan, Chan, Kimberly, dan Gabriella, mereka membantu Dylan untuk mencari kotak atau kardus yang diinginkan oleh Dylan.   ***   Kini, Samuel, Thomas, dan Elizabeth sudah sampai di rumah Nicholas. Mereka turun dari motornya. Mereka sepertinya sedang menyusun strategi apa saja yang akan mereka katakan kepada orangtua Nicholas. “Apa yang akan kita katakan nanti, Sam?” tanya Elizabeth. “Aku akan mengatakan jika kita tidak bisa ikut untuk melakukan pencarian nantinya. Dan aku akan mengatakan alasannya kepada mereka. Khusus untukmu, kau akan mengatakannya sendiri. Yakinkan mereka jika apa yang kita ucapkan ini benar adanya. Mereka pasti akan percaya padamu.” “Baiklah.” “Ya, sudah, kalau begiu kita masuk saja ke dalam,” ajak Thomas. Akhirnnya, mereka bertiga berjalan beriringan dan masuk ke dalam pekarangan rumah Nicholas. Seperti biasa, rumah ini selalu sepi. Mungkin karena dikelilingi hutan-hutan dan hampir tidak ada rumah selain rumah mereka. Mereka kini berada di depan pintu rumah Nicholas. Samuel menekan tombol bel di samping pintu itu. Ia menekannya beberapa kali hingga sang tuan rumah membuka pintunya. Tidak lama kemudain, pintu itu terbuka. Pintu itu dibuka oleh ayah Nicholas, yaitu Pak Mark. “Sam? Kenapa kau datang ke sini? Silahkan, kita berbicara di dalam saja.” Pak mark menggiring mereka masuk ke dalam rumahnya itu. Mereka dibawa oleh Pak Mark ke ruang tamu miliknya. “Silahkan duduk.” Mereka duduk di sofa itu. Sebelum memulai pembicaraan, Pak Mark memanggil Bu Mark yang seeprtinya sedang melakukan kegiatan di dapur. Pak Mark menyuruh Bu Mark untuk menemui Samuel, Thomas, dan Elizabeth. Tidak berselang lana, Bu Mark muncul di hadapan mereka. Bu Mark menyapa mereka dan duduk di samping Pak Mark. “Jadi, apa yang membuat kalian datang ke sini?” tanya Pak Mark yang penasaran maksud Samuel, Thomas, dan Elizabeth karena datang ke rumah mereka secara tiba-tiba. Samuel mempersiapkan kata-kata yang sudah ia siapkan sebelumnya saat menuju ke rumah Nicholas ini. “Saya dan teman-teman saya sebelumnya memohon maaf kepada paman dan bibi” Pasangan suami istri itu tidak paham dengan maksud permintaan maaf mereka. “Minta maaf untuk apa, Sam?” Samuel memandangi Thomas dan Elizabeth untuk memastikan. Mereka meyakinkan Samuel untuk mengatakannya. Akhirnya, Samuel mengatakan maksud kedatangan mereka dan maksud permintaan maaf mereka. “Saya mewakili teman-teman saya memohon maaf kepada paman dan bibi karena…” pikiran Samuel merasa kosong tiba-tiba. Kalimat-kalimat yang sudah ia siapkan tiba-tiba menghilang begitu saja. “Karena apa, Sam?” Samuel terkejut. Thomas yang ada di samping Samuel berusaha menenangkannya. “Tenang saja, Sam. Semua akan baik-baik saja.” Perkataan dari Thomas itu membuat Samuel merasa sedikit yakin untuk mengucapkan apa yang akan ia katakan kepada Pak Mark dan Bu Mark itu. “Karena, saya dan teman-teman saya yang lain tidak bisa membantu dalam pencarian Nick nantinya. Kebetulan, beberapa dari kami harus kembali ke kota tempat kita berkuliah, sedangkan Kimberly nantinya akan ikut orangtuanya ke luar negeri. Saya dan Thomas ada beberapa proyek kampus yang tidak bisa ditinggalkan. Saya ingin sekali membantu, namun, apa daya kita terhalang oleh kegiatan-kegiatan.” Kini giliran Elizabeth yang akan mengatakan alasan mengapa ia tidak ikut untuk mencari Nicholas. “Paman, Bibi, Beth mohon maaf karena tidak bisa ikut untuk mencari Nick. Beth harus menjalankan pemeriksaan Beth karena kejadian waktu di hutan. Kemungkinan, nanti Beth akan ikut papa untuk sementara waktu.” Pak Mark dan Bu Mark mengerti dengan kondisi mereka. Lagipula, mereka sebelumnya tidak mengizinkan Samuel dan teman-temannya untuk ikut dalam melakuakn pencarian ini. “Tidak apa-apa. Itu bukan suatu masalah. Sebelumnya, saya juga sudah menyarankan kalian untuk tidak ikut melakukan pencarian, bukan? Jadi, tidak perlu meminta maaf karena hal ini. Kami menegerti dengan kondisi kalian. Dan untuk Beth, semoga kamu cepat sembuh, ya.” Samuel, Thomas, dan Elizabeth merasa lega karena orangtua Nicholas itu percaya dengan perkataan Samuel. Mereka bisa menjalankan misi ini dengan mudah nantinya. “Terimakasih untuk Paman dan bibi karena sudah mengerti keadaan ini.” “Itu bukan masalah bagi kami. Kalian sudah menjalin komunikasi yang baik dengan kami itu adalah hal yang penting. Dan terimakasih juga karena sudah membantu kami membantu mengurus hal ini.” Meskipun orangtua Nicholas itu terlihat sangat tenang, sebenarnya mereka sangat terpukul dengan keadaan ini. Sudah seminggu anak semata wayangnya itu menghilang dan belum ditemukan juga. Bahkan, belum ada pemberitahuan dari pihak yang berwajib yang mengurus pencarian Nicholas. Saat ini, mereka hanya bisa menunggu kabar baik itu datang. Jika pada akhirnya yang muncul adalah berita yang kurang baik, mereka sudah ikhlas mulai sekarang. Karena, menurut mereka semua memang akan kembali di sisi Tuhan di waktu yang sudah ditetapkan oleh-Nya. Mereka melakukan perbincangan-perbincangan singkat sebelum memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah Nicholas ini. Mereka tidak lupa berpamitan kepada kedua orangtua Nicholas dan meminta maaf karena mereka tidak turut serta dalam melakukan pencarian Nicholas. Mereka meminta kepada Pak Mark dan Bu Mark untuk mengabari mereka jika Nicholas sudah ditemukan. Setelah berpamitan, mereka keluar dari rumah Nicholas dan menuju ke rumah mereka masing-masing. Namun, saat di tengah perjalanan, mereka menghentikan motor mereka. Samuel mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang. “Halo?” “Halo, Sam? Bagaimana?” “Kita berangkat malam ini. Pastikan pukul delapan malam kita sudah siap di rumah Kim.”   ***   To be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD