Part 26 - Rencana

1901 Words
“Halo?” “Halo, Sam? Bagaimana?” “Kita berangkat malam ini. Pastikan pukul delapan malam kita sudah siap di rumah Kim.” “Maksudmu?” Tidak ada balasan dari Samuel. “Halo, Sam?” Dylan melihat ponselnya dan ternyata panggilan itu sudah ditutup oleh Samuel. Samuel menutup panggilannya kepada Dylan begitu saja tanpa mengatakan alasannya. Hal itu membuat Dylan, Chan, Gabriella, dan Kimberly heran. “Ada apa?” tanya mereka bersamaan. “Entahlah. Dia hanya mengatakan kalau kita harus berkumpul di rumah Kim pukul delapan malam.” “Apa maksud perkataan Sam itu?” tanya Gabriella. Ia tidak paham dengan yang Samuel katakan. Samuel hanya mengatakan untuk datang ke rumah Kimberly pukul delapan malam. “Aku juga tidak tahu, Gab.” Chan berusaha mengartikan maksud dari Samuel itu. Sepertinya ia tahu apa yang dimaksud oleh Samuel. “Apakah mereka mampu meyakinkan orangtua Nick?” Sepertinya apa yang diucapkan Chan itu benar. Jika memang benar Samuel, Thomas, dan Elizabeth diizinkan untuk tidak ikut pencarian, maka mereka akan siap melakukan rencana yang sudah disusun oleh mereka. “Jika itu benar, syukurlah.” “Aku juga berharap demikian.” “Baiklah, karena kita sudah menyusun kardus sedemikian rupa, kita langsung pulang saja dan kembali ke rumah Kim pukul delapan malam seperti yang sudah dijanjikan sebelumnya. Dan jangan lupa bawa semua peralatan yang penting dan bawa bekal, karena kita tidak tahu apa yang ada di bawah sana. Menurutku, di bawah sana seperti lorong bawah tanah seperti yang digunakan pada saat masa penjajahan. Mungkin saja, itu bisa menjadi penghubung ke tempat lain. Jadi, untuk antisipasi lebih baik kita membawa semua yang diperlukan,” Dylan mengulang perkataan yang sudah disampaikan Samuel sebelumnya. Ia harus memperingatkan teman-temannya untuk membawa apapun yang kiranya penting. Ia tidak ingin ada masalah lagi kali ini. Kardus-kardus yang dimaksud Dylan sudah mereka tata sedemikian rupa. Dylan yang mengerti dengan rencananya, jadi dialah yang menyusunnya. Mereka berharap jika hal ini tidak diketahui oleh siapapun. Jika sampai ada yang mengetahui hal ini, tamatlah riwayat mereka. Mereka pasti akan terkena masalah karena sudah menemukan sesuatu namun tidak melaporkannya kepada pihak yang berwajib. Chan, Kimberly, dan Gabriella mengangguk mendengar penuturan dari Dylan. Mereka mengingat baik-baik apa yang sudah Dylan sampaikan kepada mereka. Dylan melanjutkan perkataannya yang sempat tertunda, “Jangan lupa kalian meminta izin kepada orangtua kalian. Jika kalian memiliki keberanian untuk jujur, katakan saja jika kalian ingin mencari Nick. Jika kalian tidak memiliki keberanian, entahlah apakah berbohong disaat seperti ini tepat atau tidak. Aku yakin, kalian bisa mengatasi hal ini.” Chan mengangguk. “Sepertinya aku akan mengatakan jika aku akan ke apartemenku di kota lain. Semoga saja orangtuaku tidak curiga akan hal ini.” Gabriella nampak bingung alasan apa yang akan ia katakan kepada orangtuanya nantinya. Ia berkuliah di kota ini, tidak mungkin ia akan mengatakan ke luar kota karena urusan studi. “Gab, kau bilang saja kepada orangtuamu jika kau akan ikut denganku ke luar negeri. Bilang saja jika aku yang mengajakmu.” “Sepertinya itu ide yang bagus,” Gabriella setuju dengan saran dari Kimberly. Sebenanya, Gabriella tidak suka berbohong kepada orangtuanya, namun apa boleh buat, pasti orangtuanya tidak akan mengizinkannya untuk mencari Nicholas. Karena dirasa urusan mereka saat ini sudah selesai, akhirnya mereka memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing dan akan kembali ke rumah Kimberly pukul delapan malam nanti.   *** Pukul delapan malam. Rumah Kimberly sudah dipenuhi oleh Samuel dan teman-temannya. Mereka kini berkumpul di teras rumah kimberly dengan bawaan mereka yang bisa dikatakan lumayan banyak. Kali ini, mereka datang tepat waktu. Mereka terlihat seperti hendak berkemah seperti beberapa waktu yang lalu. Mereka membawa tas carrier, sepatu gunung, dan juga tenda. Samuel berinisiatif membawa tenda untuk berjaga-jaga jika mereka akan menemukan sebuah tempat seperti hutan atau yang lainnya. Samuel yakin jika apa yang ada di bawah gudang ini adalah lorong bawah tanah. Dan lorong bawah tanah pasti akan menghubungkan dengan suatu tempat. Biasanya, lorong bawah tanah akan menghubungkan ke sebuah hutan atau sebuah rumah yang sudah tidak berpenghuni. “Kita seperti akan pergi berkemah layaknya beberapa hari yang lalu,” ucap Thomas. Thomas kini juga membawa tenda. Samuel yang menyuruhnya untuk membawa tenda karena untuk berjaga-jaga. Di sisi lain, mereka datang ke rumah Kimberly tanpa membawa kendaraan mereka. Mereka datang ke sini menggunakan sebuah taksi. Mereka sengaja melakukan itu karena pada saat evakuasi dilakukan, supaya tidak ada yang curiga jika kendaraan mereka berada di sini. Jika ada yang mengetahui kenapa kendaraan mereka ada di sini, pasti akan menimbulkan kecurigaan yang lain. Samuel memastikan apa yang mereka bawa sudah lengkap. Ia tidak ingin kejadian Nicholas yang lupa sesuatu yang dapat menyebabkan sebuah masalah. “Kalian yakin sudah tidak ada yang tertinggal?” Untuk memastikan, mereka memeriksa satu persatu barang bawaan mereka. Setelah memeriksa, mereka yakin jika tidak ada yang tertinggal. “Apakah kalian sudah siap?” tanya Samuel memastikan kesiapan mereka untuk melakukan perjalanan panjang ini. Sebenarnya mereka belum menemukan petunjuk apakah Nicholas benar-benar berada di bawah gudang itu atau tidak. Namun, mereka berpendapat setidaknya mereka mencari terlebih dahulu dan dengan harapan Nicholas berada di bawah sana. “Aku sudah siap.” “Tentu saja.” “Siap!” Mendengar kesiapan mereka, akhirnya Samuel berjalan kearah gudang dan diikuti teman-temannya dari belakang. Saat sudah sampai di depan gudang, mereka memasuki gudang itu dan tak lupa menutupnya. Mereka kini berada di dalam gudang dalam keadaan gelap dan berdesak-desakkan. Ditambah lagi, dengan tas besar yang mereka bawa semakin menambah sesak dan panas di dalam gudang ini. Mereka menyalakan senter mereka. Mereka dapat melihat kardus berbentuk kotak yang sudah dipersiapkan Dylan sebelumnya. Sebelum menjalankan misi mereka, mereka tidak lupa untuk berdoa kepada Tuhan supaya mereka bisa menemukan Nicholas di bawah sana dan membawanya pulang dalam keadaan yang baik. Selain itu, mereka juga berdoa supaya mereka diberi keselamatan sehingga mereka bisa bersama-sama kembali dalam keadaan yang baik pula. Setelah doa selesai, mereka mendekati lubang itu. “Jadi, bagaimana rencanamu?” tanya Samuel kepada Dylan. Dylan mengintruksikan mengenai rencananya kali ini. Ia menyuruh Samuel untuk turun ke bawah terlebih dahulu. Akhirnya, Samuel menuruti perintah dari Dylan. Samuel turun ke bawah menggunakan tangga yang sudah ada di bawah lubang itu. Sedangkan, tas Samuel masih berada di atas. Tidak memungkinkan baginya untuk turun dengan mengenakan tas. Saat ia sudah sampai di bawah, Thomas memberikan tas Samuel dari atas. Samuel yang sudah di bawah mencoba melihat di sekelilingnya. Gelap. Hampir tidak ada apa-apa di sini. “Bagaimana, Sam?” Thomas memastikan apakah di bawah sana baik-baik saja atau tidak. “Tidak ada apa-apa di sini!” teriak Samuel dari bawah sana. Suaranya menggema di sebuah lorong bawah tanah ini. Dugaannya benar. Ini adalah sebuah lorong bawah tanah. Dari tempat berpijaknya sekarang, Samuel hanya melihat sebuah jalan satu arah. Sedangkan sisi-sisi yang lain hanyalah sebuah tembok saja. Akhirnya, mereka turun satu persatu hingga menyisakan Dylan yang masih berada di atas sana. Saat semuanya sudah turun ke bawah, kini giliran Dylan yang melakukan rencananya. Ia melemparkan tasnya ke bawah. Ia mulai turun menggunakan tangga itu. Saat badannya sudah setengah turun, ia menggeser keramik yang sudah ia siapkan di samping lubang itu. Di atas keramik itu ada tiga buah kardus yang ukurannya melebihi ukuran keramik. Hal ini bertujuan supaya kardus ini dapat menutupi seluruh keramik ini sehingga tidak ada yang mengetahui jika ada sebuah lubang di gudang ini. Dylan mengisi kardus itu dengan beberapa barang yang tidak terlalu berat. Hal itu dilakukan supaya tidak terlalu berat saat menggesernya nanti. Ia mengisi kardus dengan barang-barang juga memiliki tujuan tersendiri. Tujuannya adalah, jika ada seekor hewan yang menyenggol kardus itu, kardus itu tidak terjatuh aatu bergeser sedikit saja. Sehingga, keramik itu masih tertutupi dengan kardus dengan baik. Dylan mulai menggeser keramik dan kardus-kardus yang berada di atas keramik itu secara perlahan. Semakin lubang ini tertutup, posisi Dylan semakin turun ke bawah. Karena setengah badannya sudah tidak muat karena keramik itu sudah ditutup setengah, Dylan pun menurunkan badannya. Tangannya menggeser keramik itu dari bawah sana. Ia menggesernya dengan perlahan supaya kardus-kardus itu tidak terjatuh. Dan pada akhirnnya, lubang itu dapat tertutup dengan sempurna seperti yang ia harapkan. Meskipun sedikit susah menggesernya dari bawah, namun, Dylan dapat melakukan hal tersebut dengan baik. Mereka merasa lega akhirnya rencana Dylan berjalan dengan baik. “Kau cerdik sekali.” Dylan kini sudah berada di bawah bersama teman-temannya yang lain. Ia memperhatikan sekitar. Ini adalah sebuah lorong bawah tanah. Mereka mulai menyusuri lorong bawah tanah ini. Sepertinya lorong bawah ini sudah lama tidak digunakan. Lorong itu diperkirakan memiliki tinggi sekitar dua meter dan lebar sekitar satu meter. Sedangkan untuk panjangnya, mereka belum mengetahui secara pasti karena lorong ini belum terlihat ujungnya. Lorong ini benar-benar gelap. Mereka hanya mengandalkan senter yang mereka bawa. Mereka belum menemui jalan lain selain jalan ini. Selain itu, lorong ini juga memiliki beberapa kelokan meskipun hanya ada satu kelokan saja. Lorong ini terlihat seperti perjalanan satu arah. Mereka juga belum menemukan jalan yang bercabang atau pertigaan. “Kenapa lorong ini tidak terlihat ujungnya?” ucap Chan. Suara Chan menjadi terdengar besar saat berada di sini. Lorong ini hening sekali. Hanya ada suara derap langkah kaki mereka dan suara beberapa serangga di sekeliling mereka. “Gelap sekali di sini.” “Benar. Aku juga merasa gerah dan sesak di sini.” Tidak ada celah udara sedikit pun di sini. Hal itu menyebabkan rasa gerah dan sesak yang luar biasa. Mereka melepas jaket yang mereka kenakan. Keringat bercucuran di tubuh mereka. Sudah setengah jam mereka berjalan, mereka belum menemukan apapun selain jalan yang lumayan panjang ini. Untuk memecahkan keheningan di antara mereka, Samuel menanyakan suatu hal kepada teman-temannya. “Menurut kalian, dulunya lorong ini digunakan untuk apa?” Mereka nampak memikirkan jawaban dari pertanyaan Samuel. “Menurutku, ini dulu adalah tempat persembunyian orang-orang pada masa perang berlangsung,” jawab Elizabeth. Dalam pelajaran sejarah yang ia pelajari pada semasa SMA, seringkali lorong bawah tanah digunakan untuk tempat persembunyian bagi prajurit atau tentara-tentara yang hendak berperang. “Aku memiliki jawaban yang sama dengan Beth.” “Sepertinya, lorong ini akan menuju suatu tempat persembunyian. Tapi, entahlah, aku juga tidak tahu.” Mereka terus membicarakan hal itu dan hal yang lain. Hingga pada akhirnya, mereka menemukan sesuatu. Terdapat dua jalur yang berbeda. Jalur sebelah kiri terlihat lebih sempit, sedangkan jalur sebelah kanan terlihat lebih lebar. Mereka tidak mengetahui jalur mana yang akan mereka pilih. “Kita harus memilih jalur kanan atau kiri?” “Astaga, aku tidak tahu.” “Jalur sebelah kiri cenderung lebih sempit. Biasanya, kalau kita praktekkan di jalanan, jalan yang sempit adalah jalan yang buntu, benar bukan?” Apa yang dikatakan Kimberly itu benar. Biasanya, jalur yang sempit itu menunjukkan jalur yang buntu. Sedangkan, jalur sebelah kanan memiliki luas dan lebar yang sama dengan lorong yang sebelumnya. Mereka berpikir, jika jalur yang benar adalah jalur kanan. “Jadi, kita ambil jalur kanan?” Mereka serentak mengatakan “Ya”. Karena mereka setuju jika jalur yang benar adalah jalur kanan, akhirnya mereka mengambil jalur kanan tersebut dan mulai berjalan menyusurinya. Tiba-tiba, hawa dingin melanda mereka. Padahal, tidak ada celah apapun di sini. Samuel melihat ke arah jam tangannya, waktu sudah hampir tengah malam. Mungkin, itulah mengapa suasana menjadi sangat dingin. Mereka kembali mengenakan jaket yang sempat mereka lepas. Benar-benar hawa dingin ini seperti saat mereka sedang berada di Little Forest saat mencari Nicholas. Dari kejauhan, mereka melihat sesuatu di depan sana. Melihat hal itu, mereka menyorotkan senter yang mereka bawa pada objek tersebut. Mereka terkejut dengan apa yang mereka lihat di depan sana.     *** To be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD