Dari kejauhan, mereka melihat sesuatu di depan sana. Melihat hal itu, mereka menyorotkan senter yang mereka bawa pada objek tersebut. Mereka terkejut dengan apa yang mereka lihat di depan sana.
“Benda apa itu?”
Karena rasa penasaran yang tinggi, mereka mendekatkan langkahnya menuju sesuatu yang menurut mereka aneh di depan sana. Mereka berjalan perlahan menuju benda yang menempel di dinding itu. Kini, jarak mereka dengan benda itu hanya satu meter. Benda yang ada di hadapan mereka itu terlihat seperti kayu yang menyerupai pintu. Saat mereka melihat lebih detail dengan menyoroti beberapa bagian kayu itu, benar saja itu adalah sebuah pintu. Pintu itu memiliki tinggi setengah dari tinggi lorong ini. Pintu itu terbuat dari kayu yang sudah terlihat lapuk. Sepertinya, kayu ini sudah lama ada di lorong ini. Bisa saja usia kayu ini sudah berpuluh-puluh tahun. Karena jika dilihat dengan jelas, kayu ini seperti kayu-kayu model lama yang jarang sekali ditemukan di masa sekarang.
“Menurut kalian, apakah di balik pintu ini terdapat suatu tempat?” tanya Thomas.
“Entahlah, namun aku juga berpikir demikian.”
“Bagaimana kalau kita langsung buka?” Dylan mengusulkan untuk membuka pintu tersebut. Mereka seperti belum berani membuka pintu itu. Mereka takut jika ada apa-apa di balik pintu itu.
“Tidak, aku tidak berani,” ucap Chan. Disaat seperti ini, nyali Chan selalu menciut. Ia tidak berani mengambil resiko jika ia yang harus membukanya. Ia berpikir, bagaimana jika ada monster di balik pintu itu?
“Dasar, penakut!” ejek Kimberly. Sejak kejadian tadi pagi, mereka belum berbincang sama sekali. Sepertinya, mereka masih malu dengan kepergoknya mereka oleh Gabriella.
Karena tidak ada yang memberanikan diri untuk membuka pintu itu, akhirnya Samuel yang berinisiatif untuk membuka pintu itu sendiri. “Kalian semua penakut. Aku saja yang akan membukanya.” Samuel memang benar-benar pemberani. Ia tidak peduli ada apa di balik pintu itu. Baginya, apapun yang menurutnya mencurigakan, bisa saja itu menjadi petunjuk mengapa Nicholas bisa menghilang.
Saat Samuel hendak membuka pintu itu, Samuel menyadari suatu hal. Pintu ini tidak memiliki kenop pintu. Entah bagaimana caranya untuk bisa membuka pintu ini. Saat memegang sebuah palang kayu yang berada di tengah-tengah pintu itu, Samuel merasa ada yang aneh. Pintu itu tidak benar-benar tertutup, melainkan sudah terbuka sebelumnya. Entah memang tidak bisa menutup dengan sempurna karena pintu ini tidak terdapat kenop pintu atau karena sudah ada seseorang yang masuk ke dalam pinu itu.
“Guys, kemarilah! Lihat ini! Pintu ini tidak benar-benar tertutup.” Mendengar apa yang dikatakan Samuel itu, teman-temannya penasaran dan langsung mendekati Samuel. Mereka melihat pintu yang tidak benar-benar tertutup itu.
“Apakah ada orang yang masuk ke sini sebelumnya?” tanya Gabriella.
“Jika itu benar, bisa saja yang masuk ke dalam sini adalah Nick.” Penuturan dari kimberly terdengar masuk akal. Mereka merasa begitu antusias jika ini merupakan jalan untuk menemukan Nicholas.
Tanpa ada aba-aba, langsung saja mereka membuka pintu tersebut. Betapa terkejutnya saat mereka membuka pintu tersebut. Mereka terkejut dengan apa yang mereka lihat di balik pintu tersebut.
“What…the…hell…”
“Apa?”
“Hutan?”
Ya. Di balik pintu itu adalah sebuah hutan. Hutan ini sangat berbeda dengan hutan Little Forest. Langit di hutan ini tidak terang maupun gelap. Hanya terlihat mendung dengan kabut yang menyelimutinya. Nuansa hutan ini mirip sekali dengan yang ada di film-film horror. Kondisi hutan itu pasti lembab. Maka dari itu, saat beberapa meter sebelum pintu itu mereka sudah merasakan hawa yang sangat dingin. Mereka bisa melihat hutan itu sangat lebat sekali. Dan dedaunan di hutan itu tidak kering. Padahal, kondisi hutan di Little Forest dan sekitarnya sudah mulai mengering.
Samuel melihat kearah jam digital yang ada di ponselnya. Waktu di jam tersebut menunjukkan tengah malam. Namun, kenapa di hutan ini terlihat seperti masih pagi? Atau bahkan ini masih sore hari?
Samuel menunjukkan ponselnya kepada teman-temannya. “Lihat! Sekarang pukul dua belas malam. Bagaimana suasana di sini bisa terlihat masih seperti pagi hari? Atau sore hari? Entahlah, di sini terlihat seperti mendung dan tidak ada cahaya matahari.”
Mereka mencoba membuktikan apa yang dikatakan oleh Samuel itu. Mereka membuka ponsel masing-masing. Mereka melihat jam digital yang ada di ponsel mereka. benar. Sekarang memasuki pukul dua belas malam.
“Benar, sekarang pukul dua belas malam.”
“Iya, punyaku juga sama. Kenapa di sini tidak menunjukkan tengah malam? Apakah ada perbedaan waktu di sini?” Thomas heran dengan hal tersebut. Menurutnya, ada perbedaan waktu antara di sini dengan yang ada di tempat mereka tinggal.
“Jika memang itu benar, apakah kita berada di alam semesta lain?” ucapan dari Elizabeth itu membuat teman-temannya tercengang. Ini bukan sebuah film yang menjelaskan jika ada alam semesta lain di dunia ini layaknya film-film Marvel.
“Ini bukan sebuah film. Aku tidak percaya akan hal itu,” Chan menyangkal apa yang dikatakan oleh Elizabeth. Ia tidak percaya jika ada alam semesta lain di dunia ini selain dunianya yang ia tinggali. Menurutnya, alam semesa lain hanyalah sebuah mitos belaka yang tidak terbukti kebenarannya. Hanya film-film dan buku-buku yang menjelaskan atau menceritakan mengenai adanya alam semesta lain.
“Aku tidak percaya akan hal itu. Mungkin saja, lorong ini membawa kita ke negara lain yang memiliki zona waktu yang berbeda.” Sama halnya dengan Chan, Dylan tidak percay dengan apa yang dikatakan oleh Elizabeth. Menurutnya, hanya ada satu dunia saja di alam semesta ini. Bagaimana bisa seseorang bisa hidup dengan berbeda alam semesta?
“Menurutku, apa yang diaktakan Beth mungkin saja. Aku pernah membaca buku jika kita hidup di dunia ini tidak sendiri. Ada makhluk-makhluk atau tempat lain yang mungkin tidak kita sadari keberadaannya. Namun, mereka itu ada.” Berbeda dengan pendapat Chan dan Dylan, Thomas cenderung percaya dengan adanya alam semesta lain. Bisa saja apa yang dikatakan oleh buku itu benar adanya.
“Aku antara percaya dan tidak percaya. Menurutku, jika ini memang alam semesta lain, mengapa begitu mudahnya kita menemukan tempat ini? Bukankah di film-film atau di buku-buku genre fantasi akan menceritakan bagaimana susahnya membuka suatu tempat apalagi jika alam semesta lain. Maksudku, bagaimana tempat ini bisa ditemukan begitu saja tanpa adanya suatu tantangan dalam membukanya?” ucap Kimberly. Ia bahkan tidak tahu apakah ia percaya akan hal ini atu tidak.
Samuel sedari tadi hanya diam tanpa ikut menyatakan asumsi-asumsi seperti teman-temannya. Ia terus memandangi hutan itu. Menurut Samuel, hutan ini sedikit mencurigakan. Kenapa di hutan yang luas seperti ini terdengar sangat sunyi sekali? Padahal, di Little Forest yang notabene-nya hutan kecil saja terdengar begitu riuh oleh suara burung atau suara hewan yang berjalan di sebuah semak-semak.
“Hentikan pembicaraan kalian sebentar.” Mendengar hal itu, mereka terdiam dalam keadaaan bingung mengapa Samuel menyuruhnya berhenti berbicara. Saat mereka tediam, Samuel terdiam seperti sedang memperhatikan sesuatu. “Apakah kalian meyadari, kenapa hutan ini terasa sunyi sekali? Maksudku, saat kira berada di Little Forest kemarin, kita mendengakan suara hewan-hewan bahkan serangga. Di sini aku tidak mendengarkan apapun kecuali suara gesekan dedaunan karena tertiup angina.”
Karena ucapan Samuel tersbeut, mereka mulai menyadarinya. Mereka tidak mendengarkan suara apapun di sini. Benar-benar sunyi.
“Atau mungkin, karena kita terlalu jauh dengan hutan itu? Secara kita masih berada di lorong ini. Mungkin, saat kita memasuki hutan itu, hutan itu tidak terdengar sunyi lagi.”
“Apa yang kau katakan ada benarnya, Kim. Kalau begitu, kita datangi saja hutan yang ada di depan sana.” Samuel melangkahkan kakinya keluar dari lorong hutan ini. Saat keluar dari lorong tersebut, Samuel melihat-lihat sekitarnya. Ternyata, pintu tersebut menyatu dengan lereng sebuah bukit yang ada di hutan ini. artinya, lorong itu dibangun di dalam bukit. Entah bagaimana mereka yang membuat ide lorong dibuat di dalam sebuah bukit. Samuel dan teman-temannya merasa heran akan hal itu. Bukit tempatnya berpijak saat ini memiliki tingkat kemiringan yang tidak terlalu curam. Jika dilihat dari luar, lorong tadi terlihat seperti gua, namun memiliki sebuah pintu. mungkin saja, dulunya ini adalah sebuah gua namun dirombak menjad sebuah lorong bawah tanah.
Samuel dan teman-temannya tidak sengaja menemukan sebuah plakat persis di samping pintu tadi. Plakat atau papan itu terbuat dari kayu yang ukurannya sekitar lima puluh sentimeter. Papan tersebut terlihat sudah rusak. Di papan itu terdapat sebuah tulisan yang ditulis menggunakan cat berwarna putih yang bertuliskan “Welcome to Hidden Woods”.
“Hidden Woods?” Mereka penasaran apa maksud dari kata “Hidden Woods”.
“Apakah ini sebuah nama tempat?”
“Aku tidak yakin. Sepertinya Hidden Woods memang nama dari hutan ini. melihat hutan ini berada di tempat tersembunyi.
Gabriella merasa bulu kuduknya berdiri. Ia merasa takut berada di sini. “Kenapa…aku merasa takut berada di sini?”
“Aku juga merasakan hal yang sama denganmu.”
Samuel berjalan meninggalkan mereka yang masih merasa takut dengan hutan ini. Melihat Samuel yang berjalan terlebih dahulu, mereka memutuskan mengikuti arah Samuel berjlan. Sebenarnya, Samuel hanya ingin melihat-lihat saja daerah sebelum menuju hutan yang ada di depan mereka. Area sebelum hutan ini seperti sebuah tanah lapang yang tidak ditumbuhi pepohonan. Persis seperti berada di Little Forest yang mana depan hutan Little Forest berisi tanah lapang yang digunakan untuk berkemah. Samuel terus berjalan hingga akhirnya ia sampai di depan pintu masuk hutan itu. Hutan itu kini tepat berada di depan mata mereka. Hanya melihatnya dari depan, hutan itu sepertinya cukup lebat. Bahkan disaat mendung seperti ini, hutan itu terlihat sangat gelap karena cahaya tidak bisa menembus masuk ke dalam hutan itu karena rapatnya pepohonan.
Hutan ini sangat besar. Mereka juga tidak tahu apakah hutan ini memiliki ujung atau tidak. Di sekitar hutan terdapat perbukitan yang bisa mereka lihat dengan jelas. Meskipun perbukitan tersebut sangat berbeda dengan perbukitan yang berada di Parama, yang mana perbukitan di sana sangat tinggi, sedangkan di sini perbukitannya tidak terlalu tinggi.
“Sam, apakah kau yakin akan masuk ke dalam hutan ini?” Chan menelan ludahnya. Ia sangat takut sekarang ini. Ia merasa berada di dunia lain bersama teman-temannya.
Bahkan, mereka tidak tahu apakah Nicholas betul-betul berada di hutan ini atau tidak.
“Ya, kurasa kita harus masuk ke dalam hutan ini.”
Akhirnya, mereka memutuskan untuk masuk ke dalam hutan itu. Perjalanan barupun dimulai.
***
To be continued