“Sam, apakah kau yakin akan masuk ke dalam hutan ini?” Chan menelan ludahnya. Ia sangat takut sekarang ini. Ia merasa berada di dunia lain bersama teman-temannya.
Bahkan, mereka tidak tahu apakah Nicholas betul-betul berada di hutan ini atau tidak.
“Ya, kurasa kita harus masuk ke dalam hutan ini.”
Akhirnya, mereka memutuskan untuk masuk ke dalam hutan itu. Perjalanan barupun dimulai.
Mereka mulai melangkah masuk ke dalam hutan yang mereka kira bernama Hidden Woods itu. Langkah demi langkah mereka lalui. Mereka tidak menemukan apapun di hutan itu. Suasana di hutan itu masih mendung dan dingin. Seringkali mereka merapatkan jaket mereka karena dingin menembus tubuh mereka padahal sudah menggunakan jaket tebal. Bahkan, mereka juga mengenakan syal sebagai penghangat tubuh tambahan. Namun, tetap saja hawa dingin masih merasuki mereka. Selain itu, mereka belum menemukan apapun di sini. Bahkan, mereka belum mendengar apapun selain suara angin yang berhembus hingga menggoyangkan dedaunan pohon-pohon dan juga mereka mendengar suara derap langkah mereka yang menginjak dedaunan kering yang jatuh ke tanah. Hutan ini nampak bersih. Mereka tidak menemukan bekas api unggun atau sampah yang berada di sini. Sepertinya, memang jarang ada manusia yang datang ke sini.
Mereka berpikir, jika memang benar Nicholas berada di sini, lalu bagaimana cara Nicholas untuk bisa bertahan hidup? Di sini bahkan seperti tidak ada tanda-tanda kehidupan. Mereka juga belum melihat adanya hewan atau suatu tanaman atau tumbuhan yang kiranya bisa dimakan. Mereka juga belum melihat adanya mata air di sini. Mereka juga berpikir, apakah benar Nicholas benar-benar berada di sini dan berada di tempat lain, atau malah mereka yang tersesat di sini? sepertinya mereka tidak tersesat di hutan ini. Jalur di hutan ini cukup mudah menurut mereka. Tidak mungkin bagi mereka jika mereka tersesat di hutan ini.
Sedari tadi mereka masih tengelam dalam pikiran mereka masing-masing. Mereka belum saling berbicara sejak masuk ke dalam hutan ini. Mereka hanya mengikuti langkah Samuel yang berada di baris paling depan. Samuel selalu menjadi guide bagi teman-temannya. Mereka percaya dengan laki-laki itu. Samuel hanya berjalan menurut intuisinya saja. Padahal, ia tidak tahu apakah jalan yang diambilnya ini benar atau tidak. Namun, feeling Samuel selalu benar, menurutnya.
“Kenapa tidak ada tanda-tanda kehidupan di sini?” tanya Gabriella pada teman-temannya. Biasanya, di hutan mereka akan menemukan seekor hewan entah itu tikus, burung, landak, atau hewan lainnya. Bahkan, suara serangga hanya bisa mereka dengar saat berada di pintu lorong tadi.
“Entahlah, Gab, aku juga tidak mengetahuinya. Mungkin karena hutan ini berada ditempat terpencil, makanya tidak ada tanda-tanda kehidupan di sini,” balas Elizabeth.
“Jika iya, kenapa hewan tidak bisa berada di sini? Atau karena cuaca yang seperti ini? Atau ada hal lain yang membuat hutan ini tidak ada tanda-tanda kehidupan?” Ucapan dari Thomas membuat mereka semakin ketakutan. Jika memang benar apa yang dikatakan Thomas, pasti ada sesuatu yang menyebabkan tidak ada tanda-tanda kehidupan di sini. Jika di film-film atau buku-buku yang mereka baca, hutan yang tidak berpenghuni itu biasanya hutan angker yang dimana terdapat banyak hantu di dalamnya. Jika seandainya hutan ini memang angker, tamatlah riwayat mereka. Mereka semua takut dengan makhluk yang bernama hantu.
“Apakah tempat ini angker?”
“Entahlah, dilihat dari suasansa sepertinya kita sedang berada di tempat yang mirip dengan film Silent Hill, apakah kalian tahu film itu?” Samuel mengatakan hal tersebut dengan entengnya. Padahal, teman-temannya sudah setengah mati ketakutan jika mereka benar-benar berada di tempat yang mirip dengan Silent Hill. Bagaimana tidak ketakutan, di film Silent Hill sendiri diceritakan seseorang berada di sebuah tempat yang sangat sunyi hingga hal-hal aneh muncul. Mereka tidak mampu jika harus berhadapan dengan hal yang seperti itu. Saat menonton Silent Hill saja mereka tidak berani menonton sampai selesai. Baru setengah film diputar, mereka langsung cepat-cepat keluar dari bioskop karena mereka tidak kuat dengan jumpscare film itu.
“Tidak! Tidak mungkin kita berada ditempat yang seperti itu. Itu sangat menakutkan dan mungkin aku akan mati seketika jika itu benar,” ucap Elizabeth. Tentu saja ia tidak mau jika mereka berada di tempat seperti Silent Hill.
Tidak terasa mereka sudah berjalan begitu lama. Mereka tidak dapat menghitung berapa kilometer mereka melangkah. Yang jelas, sudah satu setengah jam mereka berjalan namun mereka msih belum menemukan apapun di sini.
Hingga akhirnya, suara Kimberly membuat teman-temannya berhenti melangkah. “Apakah kita salah mengambil jalur hingga akhirnya kita menemukan tempat ini?”
Mereka menengok kearah Kimberly. Mereka tiba-tiba terdiam setelah mendengar ucapan dari Kimberly. Apakah perkataan Kimberly tersebut benar jika mereka mengambil jalan yang salah? Atau karena jalan yang salah itulah yang menuntun mereka menemukan hutan aneh ini? Jika memang mereka salah mengambil jalur, lalu jalur mana yang dianggap benar?
“Tidak, sepertinya kita berada di jalan yang benar,” Thomas mengingat-ingat jalur perjalanan yang mereka lalui. Hingga pada akhirnya, Thomas teringat sesuatu. “Bukankah tadi terdapat dua jalur? Kanan dan kiri. Jalur kanan menuju ke hutan ini, sedangkan jalur kiri menuju…”
“Sebentar. Jalur kiri tadi tidak terlalu meyakinkan. Bagaimana bisa jalan sesempit itu menunjukkan suatu tempat? Pasti itu hanyalah ruangan rahasia para orang-orang yang ebrperang pada zaman dahulu. Mungkin saja ini jalan yang benar. Lagipula, kita belum menyusuri hutan ini seluruhnya,” Dylan menyangkal ucapan Thomas. Menurut Dylan, jalan yang mereka tempuh ini sudah benar. Bisa saja ini mereka masih berada di awal hutan ini. Dan mungkin saja, kehidupan akan ada setelah mereka sampai di tengah-tengah hutan.
“Aku yakin nanti di depan sana kita akan menemukan sesuatu,” ucap Samuel meyakinkan mereka. sebenarnya, Samuel juga tidak terlalu yakin apakah akan ada sesuatu di depan sana atau tidak. ia hanya ingin menenangkan perasaan teman-temannya saja saat ini. Menurutnya, mereka akan menemukan sebuah tempat untuk beristirahat setelah ini.
“Apa kau yakin?”
“Aku tidak terlalu yakin, namun tidak ada salahnya untuk mencoba bukan? Lagipula, rute masuk ke hutan ini hanya lurus saja dari pintu masuk tadi. Kita akan mudah untuk menemukan jalan keluarnya,” balas Samuel. Kepercayaan saat ini sangat penting. Samuel selalu percaya dengan kata hatinya dan apa yang ia pilih. Jika ia berpikir negatif, pasti ia kan cemas dan hal itu dapat menyebabkan pikirannya menjadi kacau. Pikiran yang kacau akan membuat pemikirna-pemikiran negatif lainnya sehingga ia tidak bisa memutuskan sesuatu dengan benar.
“Baiklah, aku percaya padamu, Sam.”
Samuel kini menanggung kepercayaan dari teman-temannya. Dan itu adalah hal yang berat. Tentu saja ia tidak mau jika harus mengecewakan mereka dengan kata-katanya. Samuel berharap, jika dirinya dan teman-temannya akan menemukan sesuatu di depan sana. Setidaknya mereka menemukan sebuah tempat untuk beristirahat.
Sebenarnya, bisa saja mereka beristirahat di sekitar sini. Hanya saja, hutan di sini terlalu rimbun dan banyak semak belukar. Mereka khawatir jika kejadian Thomas beberapa waktu lalu yang terkena jebakan akan menimpa mereka lagi. Di sisi lain, mereka sebenarnya juga tidka percaya jika ada jebakan atau perangkap hewan di sini. Tempat sesunyi ini tidak mungkin akan ada perangkap mengingat akses untuk ke sini dan tidak ada tanda-tanda kehidupan di sini.
“Bagaimana jika kita lanjutkan perjalanan lagi? Siapa tahu kita dapat menemukan tempat untuk beristirahat,” ajak Chan. Ia benar-benar ingin istirahat saat ini. sudah sedari keberangkatannya menuju hutan ini, ia dan teman-temannya sama sekali belum istirahat. Ditambah lagi, tas yang ia bawa terasa sangat berat di pundaknya.
Mendengar permintaan Chan, akhirnya mereka melanjutkan perjalanan mereka untuk menyusuri hutan ini lagi. Sama seperti tadi. Langit di sini masih saja mendung. Belum ada tanda-tanda akan berubah menjadi gelap layaknya malam hari. Mereka mengabaikan hal itu. Malah semakin bagus jika cuacanya mendung seperti ini. Jika suasananya panas, maka akan terasa gerah sekali berjalan dan membawa barang-barang berat. Jika cuacanya hujan, akan lebih menyulitkan mereka karena tidak ada tempat teduh di sini. Sekalipun jika mereka mendirikan tenda, pasti tenda akan diterjang oleh hujan dan angin yang menyertainya.
Setengah jam berlalu. Hanya ada hutan yang mereka temukan. Entah berapa luasnya hutan ini hingag mereka belum menemukan apapun selain pepohonan. Mereka terasa lelah karena sudah berjalan begitu lama. Akhirnya, mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak di bawah pohon yang tidak terlalu rimbun seperti pepohonan sebelumnya.
“Kita istirahat di sini saja.”
Ajakan Samuel itu disetujui oleh teman-temannya. Samuel meletakkan tas yang ia bawa dan mendudukkan dirinya di atas tanah. Teman-temannya pun melakukan hal yang sama dengan apa yang dilakukan oleh Samuel. Akhirnya, mereka semua beristirahat di bawah pohon itu.
Mereka mengeluarkan makanan dan minuman yang ada di tas mereka. Mereka berniat untuk memasak makanan instan kali ini. Menurut mereka, makanan instan akan lebih mudah dimasak dan lebih bertahan lama daripada makanan olahan. Mereka tidak tahu berapa lama mereka akan berada di sini. Mereka tidak ingin, mereka kehabisan bekal padahal Nicholas belum ditemukan.
Mereka tidak lupa mengeluarkan peralatan masak. Seperti biasa, Kimberly, Gabriella, dan Elizabeth yang akan memasak. Sedangkan untuk laki-laki, mereka mencari kayu bakar untuk membuat api unggun supaya badan mereka terasa sedikit hangat. Saat ini, udaranya sangat dingin sekali. Jika mereka hanya diam saja, pasti akan terasa dingin. Maka dari itu, mereka berinisiatif untuk membuat api unggun.
Samuel, Thomas, Dylan, dan Chan pergi untuk mencari kayu bakar. Mereka mencari di sekitaran tempat mereka beristirahat kali ini. Keempat laki-laki itu tidak mau pergi terlalu jauh karena mereka takut jika mereka tersesat di hutan yang masih terasa asing bagi mereka. Mereka juga tidak tahu dengan kondisi sesungguhnya hutan ini. Maka dari itu, mereka memutuskan untuk tidak mencari kayu bakar terlalu jauh.
Setelah kayu bakar terkumpul, keempat laki-laki itu kembali ke tempat peristirahatan meeka. Mereka melihat Kimberly, Gabriella, dan Elizabeth sedang sibuk memasak makanan bagi mereka.
Samuel, Thomas, Dylan, dan Chan mulai membakar kayu bakar tersebut hingga menjadi sebuah api unggun. Disaat yang bersamaan, makanan yang dibuat sudah siap untuk disantap. Mereka memakan mie instan yang sudah mereka buat sambil menatap langit yang masih mendung dengan hawa dingin yang masih terasa di badan mereka.
***
To be continued