Samuel, Thomas, Dylan, dan Chan pergi untuk mencari kayu bakar. Mereka mencari di sekitaran tempat mereka beristirahat kali ini. Keempat laki-laki itu tidak mau pergi terlalu jauh karena mereka takut jika mereka tersesat di hutan yang masih terasa asing bagi mereka. Mereka juga tidak tahu dengan kondisi sesungguhnya hutan ini. Maka dari itu, mereka memutuskan untuk tidak mencari kayu bakar terlalu jauh.
Setelah kayu bakar terkumpul, keempat laki-laki itu kembali ke tempat peristirahatan mereka. Mereka melihat Kimberly, Gabriella, dan Elizabeth sedang sibuk memasak makanan bagi mereka.
Samuel, Thomas, Dylan, dan Chan mulai membakar kayu bakar tersebut hingga menjadi sebuah api unggun. Disaat yang bersamaan, makanan yang dibuat sudah siap untuk disantap. Mereka memakan mie instan yang sudah mereka buat sambil menatap langit yang masih mendung dengan hawa dingin yang masih terasa di badan mereka.
Di sela-sela makan, mereka saling berbincang satu sama lain. Perbincangan ringan mereka lakukan untuk melepas penat dan menjernihkan pikiran mereka. Karena saking asyiknya berbincang, mereka tidak menyadari suatu hal, langit yang tadinya mendung berubah menjadi gelap. Gelap langitnya seperti malam hari.
“Kenapa langitnya tiba-tiba gelap?” tanya Chan. Mereka bersamaan langsung menatap ke langit yang ada di atas. Mereka heran mengapa tiba-tiba langit menjadi gelap. Mereka juga tidak mengetahui mengapa langitnya bisa gelap secara tiba-tiba. Biasanya, jika hendak malam hari, langit tidak akan gelap begitu saja, melainkan melalui proses seperti adanya senja atau jika tidak secara perlahan-lahan langit akan gelap. Namun, saat ini tidak ada tanda-tanda malam hari akan datang. Gelapnya malam datang tanpa mereka sadari.
“Apakah karena kita tidak menyadari jika langit sudah gelap karena kita terlalu asyik berbincang-bincang?” Memang sedari tadi mereka tidak menyadari apapun di sekitarnya karena terlalu asyik berbincang satu sama lain. Bisa saja itu terjadi karena ketidaksadaran mereka.
“Entahlah, mungkin benar karena kita tidak menyadari jika langit secara perlahan berubah menjadi gelap.”
Akhirnya, mereka melupakan hal itu. Mungkin benar mereka tidak menyadari jika sudah memasuki malam hari.
Samuel melihat jam tangan yang ada di tangan kirinya. Di jam tersebut menunjukkan pukul tiga pagi. Pantas saja dirinya merasa sangat mengantuk sekarang. “Bagaimana kalau kita mendirikan tenda di sini? Sekarang pukul tiga pagi, kita harus beristirahat untuk melanjutkan perjalanan nanti. Lagipula, sekarang di sini sudah masuk malam hari. Ini waktu yang tepat untuk beristirahat,” ajaknya.
Mereka mengecek apakah sekarang benar pukul tiga pagi atau tidak. Dan ternyata benar, sekarang pukul tiga pagi.
“Kalau begitu, kita langsung saja mendirikan tenda di sini. Aku merasa sangat lelah sekali,” ucap Thomas. Setelah itu, mereka yang kebagian membawa tenda langsung menyiapkan tenda yang sudah dibawa. Mereka bersama-sama mendirikan dua buah tenda. Nantinya, satu tenda untuk laki-laki dan satunya lagi untuk perempuan. Karena kerjasama mereka baik, tenda dapat didirikan dengan cepat.
“Akhirnya, selesai juga. Kita langsung beres-beres barang kita masing-masing dan langsung masuk ke dalam tenda. Ingat, langsung istirahat karena perjalanan kita masih jauh. Entah sampai kapan kita berada di sini. Selagi masih bisa beristirahat, gunakan waktu itu dengan baik.” Mereka mengangguk menuruti perkataan Samuel.
Mereka pun memasukkan tas mereka ke dalam tenda dan mengeluarkan beberapa isi tas mereka untuk keperluan tidur. Setelah selesai menata dan mengeluarkan beberapa benda untuk keperluan tidur, mereka pun berbaring di dalam tenda dan terlelap dalam mimpinya maing-masing.
***
Alarm ponsel Kimberly berdering pada pukul tujuh pagi. Dering ponsel itu membuat Kimberly, Gabriella, dan Elizabeth terbangun dari tidurnya. Mereka perlahan membuka mata mereka yang masih terasa berat. Mereka hanya tidur beberapa jam saja setelah melakukan perjalanan panjang. Lelah masih menyelimuti mereka. Namun, mau tidak mau mereka harus bangun pagi ini dan kembali untuk mencari Nicholas.
“Sudah pagi, ya?” ucap Gabriella sambil membuka mulutnya, ia menguap.
“Ya, alarm ponselku berbunyi pada pukul tujuh pagi. Namun, sepertinya di luar masih gelap,” jawab Kimberly. Dari dalam tenda, suasana di luar tenda masih terlihat gelap. Untuk memastikan apakah hal tersebut benar atau salah, Kimberly membuka sedikit resleting tenda. Kimberly mengintip dari dalam tenda. Dan benar saja, suasana di luar sana masih terlihat sangat gelap. Ia bahkan tidak bisa melihat apapun di luar sana karena gelapnya malam hari dan rapatnya hutan ini.
“Benar di sini masih malam hari?” tanya Elizabeth yang tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Kimberly. Ia membuktikan sendiri dengan membuka pintu tenda. Ia percaya dengan apa ang dikatakan Kimberly. Saat ini malam hari, padahal di jam ponsel dan jam tangan mereka menunjukkan pukul tujuh pagi.
“Bagaimana bisa terdapat perbedaan waktu?”
“Sepertinya, kita berada di luar Parama. Atau bahkan kita sedang berada di luar negeri? Jika iya, negara mana yang dekat dengan negara kita yang memiliki perbedaan waktu yang cukup lama? Negara tetangga kita bahkan waktunya hampir sama dengan negara kita,” Kimberly bahkan tidak tahu sedang di mana mereka sekarang. Jika apa yang ada di pikirannya itu benar, mereka saat ini sedang berada di belahan dunia mana?
“Betul juga apa kata Kim, tidak ada negara tetangga yang memiliki perbedaan waktu selama ini. Paling lama hanya berbeda dua jam saja. Itupun lokasi negaranya terpaut begitu jauh dengan negara kita meskipun masih dalam satu kawasan benua,” tambah Elizabeth.
“Sebentar, jika memang kita berada di negara lain, jika menaiki sebuah kendaraan umum, kita akan membutuhkan waktu yang lama untuk sampai di negara tersebut, bukan? Namun, kenapa kita hanya dengan berjalan saja mampu sampai dalam waktu sekitar satu sampai dua jam saja?”
Mereka menjadi bingung setelah apa yang dikatakan oleh Gabriella. Sungguh semua ini tidak masuk akal. Apakah mereka melewati jalan pintas atau yang lain?
"Apakah karena kita melalui jalan pintas?"
"Jalan pintaspun menurutku tidak akan secepat itu sampainya."
“Astaga, aku tidak mengetahui ini semua."
Mereka masih bertanya-tanya dengan lokasi mereka saat ini. Mereka seperti benar-benar tersesat padahal mereka dapat mengetahui arah pulang dari hutan ini.
"Jika ini masih malam, ada baiknya kita tidur lagi dan saat pagi sudah datang, kita bisa bangun dalam keadaan segar. Lagipula, kita masih mengantuk juga, bukan?” ajak Kimberly.
“Ide bagus. Pasti para laki-laki itu juga masih tertidur pulas.”
Mereka mengambil posisi untuk tidur kembali. Mereka kembali merebahkan tubuhnya. Lalu memejamkan matanya. Baru beberapa detik memejamkan matanya, mereka mendengar suara teriakan dari luar tenda. Sontak saja mereka terkejut dengan teriakan tersebut. Mereka langsung terduduk dan merasa penasaran dengan apa yang sedang terjadi di luar tenda mereka.
“Bangun!”
“Kim! Gab! Beth!”
Teriakan tersebut membuat mereka panik.
“Ada apa di luar sana?”
“Entahlah. Aku juga tidak tahu.” Dengan sigap, Kimberly membuka pintu tenda tersebut. Di balik pintu tenda itu, terdapat empat orang laki-laki yang tak lain adalah Samuel, Thomas, Dylan, dan Chan. Kimberly, Gabriella, dan Elizabeth akhirnya keluar dari tenda dan menemui empat laki-laki itu.
“Kenapa kalian berteriak seperti itu?”
“Ada apa?”
“Kenapa kalian terlihat panik?”
Ketiga perempuan itu penasaran lantaran Samuel dan yang lain mengeluarkan ekspresi seperti panik dan heran. Entah apa yang terjadi dengan keempat laki-laki itu. Mereka masih belum menjawab pertanyaan dari kimberly, Gabriella, dan Elizabeth.
“Ambil ponsel kalian!” Samuel memerintah ketiga wanita itu.
Ketiga wanita itu bertanya-tanya mengapa Samuel menyuruh mereka untuk mengambil ponsel mereka. “Kenapa?” tanya mereka bersamaan.
“Sudah, ambil saja. Akan ku jelaskan nanti.”
Akhirnya, ketiga perempuan itu menuruti apa yang diperintahkan oleh Samuel. Mereka masuk ke dalam tenda mereka dan mengambil ponsel mereka. Setelah itu, mereka kembali menemui Samuel dan yang lain.
“Sudah. Katakan sebenarnya ada apa?”
“Buka ponselmu,” suruh Thomas. Thomas melihat rasa penasaran dari perempuan-perempuan itu. “Sudah, buka ponselmu.”
Kimberly, Gabriella, dan Elizabeth mematuhi perkataan dari Thomas. Mereka membuka ponsel mereka.
“Apakah ada sinyal?” pertanyaan dari Dylan tentu saja membuat ketiga perempuan itu terkejut. Bagaimana bisa ada sinyal di hutan seperti ini? Di Little Forest yang hutannya tidak terlalu rimbun saja di sana tidak terdapat sinyal, apalagi di tempat yang seperti ini.
Akhirnya, ketiga perempuan itu memeriksa ponselnya apakah terdapat sinyal atau tidak. Mereka mengaktifkan data internet mereka. Beberapa detik kemudian, pemberitahuan dari ponsel mereka seperti pemberitahuan pesan masuk ke ponsel mereka. Mereka sungguh tidak percaya akan hal ini. Mereka sebelumnya mematikan data internet karena mereka pikir di hutan ini tidak terdapat sinyal. Dan saat mereka membuka ponsel untuk melihat jam, mereka tidak menyadari dengan tanda sinyal yang ada di ponsel mereka.
“Serius? Bagaimana bisa ada sinyal di sini? Dan pesan-pesan juga bisa masuk ke dalam ponselku,” Kimberly masih heran dengan hal ini. Ia sungguh tidak percaya akan hal ini.
“Maka dari itu, kita juga tidak percaya,” Chan yang pertama kali mengetahui hal ini saja masih belum percaya, apalagi mereka yang baru saja mengetahui hal ini. “Dan kau mau yang membuat kalian terkejut?”
Mereka semakin penasaran dengan apa yang dimaksud oleh oleh Chan.
“Coba buka peta, di titik tempat ini berada.”
Mereka menuruti perkataan Chan. Mereka membuka aplikasi peta digital yang ada di ponsel mereka. Jaringan di sini begitu stabil dan kecepatannya normal seperti biasanya. Tidak perlu menunggu waktu lama, aplikasi peta digital itu sudah terbuka. Alangkah terkejutnya mereka setelah melihat titik di mana tempat mereka berada.
Dwyne’s Home.
Ya. Peta digital itu menunjukkan titik rumah Kimberly dan nama tempat bertuliskan Dwyne’s Home. Yang mana Dwyne’s Home merupakan nama rumah Kimberly yang terdaftar di peta digital itu.
“What the hell…”
Kimberly masih tidak percaya peta digital itu menunjukkan jika mereka sedang berada di rumahnya. Padahal jelas-jelas mereka sedan berada di sebuah hutan.
“Bagaimana ini bisa? Apakah ada kesalahan dengan peta digital ini?”
“Tidak mungkin. Jika terdapat kesalahan, tidak mungkin semua ponsel menunjukkan tempat yang sama.”
Perkataan Dylan itu benar. Tidak mungkin jika secara bersamaan peta digital yang ada di ponsel mereka mengalami kesalahan. Pasti ada sesuatu yang patut mereka curigai di sini. Kenapa bisa hutan ini memiliki titik di rumah Kimberly?
“Coba cari tempat bernama Hidden Woods.”
Mereka secara bersamaan mencari tempat Hidden Woods di peta digital itu. Lagi-lagi, mereka tidak percaya dengan apa yang mereka temukan setelah mengetikkan nama tempat di kolom pencarian peta digital itu.
Tempat tidak dapat ditemukan.
“Apa maksudnya ini?”
“Tidak dapat ditemukan?”
“Sebenarnya kita sedang berada di mana saat ini?”
***
To be continued