“Coba cari tempat bernama Hidden Woods.”
Mereka secara bersamaan mencari tempat Hidden Woods di peta digital itu. Lagi-lagi, mereka tidak percaya dengan apa yang mereka temukan setelah mengetikkan nama tempat di kolom pencarian peta digital itu.
Tempat tidak dapat ditemukan.
“Apa maksudnya ini?”
“Tidak dapat ditemukan?”
“Sebenarnya kita sedang berada di mana saat ini?”
Mereka heran bagaimana bisa Hidden Woods tidak terdaftar di peta digital. Rasa penasaran mereka semakin menjadi-jadi. Pasalnya, saat mereka membuka peta digital itu, peta itu menunjukkan mereka sedang berada di rumah Kimberly. Sedangkan saat mereka menari Hidden Woods mereka tidak dapat menemukannya.
“Apakah nama hutan ini bukan Hidden Woods?” ucap Dylan.
Mereka menimang ucapan dari Dylan itu. “Sepertinya nama hutan ini benar Hidden Woods. Buktinya saja di depan tadi terdapat papan Welcome to Hidden Woods.”
“Sudah pasti ada yang aneh dengan hutan ini.”
Tiba-tiba Chan terpikirkan dengan suatu hal. “Jika hutan ini terdapat keanehan, dan Nick berada di sini, dipastikan dia sedang tidak baik-baik saja.”
Ucapan Chan membuat teman-temannya semakin khawatir. Bagaimana tidak, Chan mengatakan jika Nicholas pasti sedang mengalami kesusahan di sini. Mereka langsung memiliki kekhawatiran lebih kepada Nicholas. Sebelumnya, mereka percaya jika Nicholas akan baik-baik saja karena mereka yakin naluri bertahan hidup Nicholas sangat kuat. Laki-laki itu tidak akan mudah menyerah begitu saja terhadap kenyataan. Karena itulah mereka selalu yakin Nicholas akan baik-baik saja. Namun, ucapan Chan tadi mengubah pikiran mereka. Mereka tidak yakin lagi jika Nicholas baik-baik saja.
“Sam, bagaimana ini? Apa yang harus kita lakukan? Apakah Nick baik-baik saja?” Gabriella sangat khawatir dengan kondisi Nicholas saat ini. Sebelumnya, ia sangat yakin jika Nicholas dalam keadaan baik. Setelah melihat keanehan di hutan ini, Gabriella menjadi tiak yakin jika Nicholas dalam keadaan baik.
“Kau tidak perlu khawatir. Kita juga tidak tahu apakah Nick betul-betul berada di hutan ini atau tidak,” Samuel bahkan ikut khawatir dengan hal tersebut. Padahal Samuel selalu terlihat tenang supaya sikap tenangnya itu bisa menular kepada teman-temannya. Namun, kali inni tidak. Ia benar-benar khawatir dan ia menunjukkan ekspresi khawatir itu. “Kita berkemas lalu kita lanjutkan perjalanan kita. Malam ini juga kita akan berjalan menyusuri hutan ini.”
Samuel memerintahkan teman-temannya untuk membereskan barang-barang mereka. Mereka langsung menuju tenda mereka masing-masing lalu membereskan beberapa barang yang sempat mereka keluarkan dari tas mereka. Setelah membereskan barang-barang pribadi mereka, kini mereka mulai merubuhkan tenda. Setelah tenda rubuh, para laki-laki itu melipat tenda sedemikian rupa. Sedangkan sisanya, mereka mematikan api unggun yang masih menyala dan membersihkan tempat yang mereka dirikan tenda. Setelah semua pekerjaan selesai, mereka berkumpul lalu membentuk lingkaran.
“Ada baiknya kita berdo’a kepada Tuhan Yang Maha Esa, semoga kita diberi kemudahan dalam perjalanan kita dan kita diberi keselamatan sampai kita bisa menemukan Nick,” Samuel memimpin doa saat ini. Mereka menundukkan kepala mereka untuk memohon kepada Tuhan untuk diberikan kemudahan, kelancaran, keselamatan, dan tentunya mereka dapat menemukan Nicholas seceaptnya dan Nicholas ditemukan dalam keadaan yang baik.
Setelah memanjatkan doa, Samuel memberikan peringatan dan instruksi kepada teman-temannya. Ia harus memastikan teman-temannya dalam kondisi yang baik. “Seperti biasa, aku yang akan berjalan di depan, lalu di belakangku ada Chan. Setelah itu Kim, Gaby, dan Beth. Lalu disusul Tommy dan paling akhir ada Dylan. Sekali lagi aku ingatkan kepada kalian, saat perjalanan mungkin aku tidak bisa mengawasi kalian terus-menerus, jika ada teman kalian yang ada di depan kalian ada masalah, langsung katakan kepada kita. Karena Dylan berada di belakang sendiri, Tommy kau memiliki tugas untuk menjaga Dylan juga.” Mereka mengangguk mendengarkan instruksi dari Samuel. Samuel menata formasi barisan dengan tujuan supaya mereka saling menjaga satu sama lain.
“Dan, ya, jangan menyentuh apapun di sini. Jangan sampai kejadian yang menimpa Beth terulang kembali. Perhatikan langkah kalian, ini malam hari dan di sini gelap sekali. Perhatiakn dengan baik karena bisa saja di sana nanti akan banyak lubang atau jebakan atau semacamnya. Perhatikan kondisi kalian baik-baik. Jika kalian merasa lelah atau ingin istirahat, bilang, jangan dipaksakan. Jika kalian menemukan sesuatu yang mencurigakan apapun itu, katakan kepada kita, siapa tahu sesuatu itu dapat menunjukkan kepada kita di mana keberadaan Nick,” lanjut Samuel. Teman-teman Samuel berusaha mengingat dan mematuhi apa yang sudah diperintahkan oleh Samuel. Mereka juga tidak ingin perjalanan kali ini mengalami hambatan karena perbuatan mereka.
“Baik, Sam.”
“Oke, Sam.”
“Siap!”
Mereka sudah siap melakukan perjalanan malam ini. Samuel melangkahkan kakinya terlebih dahulu, kemudian disusul oleh Chan dan seterusnya sesuai dengan formasi yang sudah disusun sebelumnya. Benar saja, perjalanan malam ini sangat gelap dan nampak mengerikan. Mereka seperti sedang melakukan jelajah malam seperti pada masa-masa sekolah dulu. Pada masa sekolah, ada sebuah kegiatan rutin yang dilakukan seperti berkemah di sekolah lalu melakukan kegiatan layaknya uji nyali. Mereka menjadi teringat pada masa-masa itu.
Sepanjang perjalanan mereka masih terdiam dan fokus pada langkah mereka. Jika sebelumnya saat masuk hutan ini sudah ada semacam jalan menuju hutan. Namun, semakin mereka masuk ke dalam hutan, jalan setapak itu semakin menghilang. Kini, mereka benar-benar berada di hutan rimba. Hutan ini memiliki kondisi pepohonan yang rapat, berbeda dengan Little Forest. Mereka hampir tidak dapat melihat luasnya langit di atas sana karena tertutupi oleh pepohonan yang menjulang tinggi. Mereka fokus pada setiap langkah mereka. Semakin lama, ranting-ranting pohon dan semak belukar menjadi sangat banyak. Bisa saja nanti mereka jatuh tiba-tiba karena tersandung oleh kayu-kayu atau terlilit oleh semak-semak yang menjalar.
Medan tanah di hutan ini masih mudah untuk dilalui. Tidak menanjak maupun menurun. Medannya masih datar. Entah nanti apakah akan ada tanjakan mengingat sekeliling hutan ini terdapat beberapa bukit.
Samuel tiba-tiba menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Teman-temannya yang berada di belakang langsung menghentikan langkah mereka dan menatap kearah Samuel. “Apakah kalian baik-baik saja?”
Rupanya, Samuel hanya ingin menanyakan kondisi teman-temannya saat ini.
“Aman, Sam.”
“Aku baik-baik saja.”
Mendengar semua jawaban dari teman-temannya, Samuel merasa lega. Ia takut saat ia berjalan tiba-tiba temannya menghilang secara misterius seperti yang ada di dalam film-film adventure. Samuel memang sering menyaksikan film bergenre seperti itu. Maka dari itu, ia dapat menyusun strategi dengan baik berkat film-film yang ia tonton.
Karena teman-temannya dalam kondisi yang baik dan mereka masih ingin melanjutkan perjalanan, akhirnya Samuel menuruti ucapan mereka. Ia dan teman-temannya melanjutkan perjalanan mereka.
Satu jam berlalu. Dua jam berlalu. Mereka belum menemukan apapun di sini. Mereka hanya menemukan hutan saja. Hutan juga masih sama sunyinya seperti saat pertama kali mereka datang kemari. Samuel memutuskan untuk beristirahat sejenak di sebuah pohon. Teman-temannya pun juga ikut beristirahat. Mereka mengeluarkan botol minum yang mereka bawa, lalu meminum air yang ada di botol tersebut. Mereka menyadari, air yang ada di botol mereka sisa sedikit saja. Sedangkan, mereka belum menemukan mata air di sini.
“Air minumku sebentar lagi akan habis,” ucap Thomas yang melihat air di dalam botol yang menyisakan seperempat botol saja.
“Begitupun denganku. Air minumku juga tinggal sedikit lagi. Akankah kita menemukan mata air di sekitar sini?”
“Seharusnya di sekitar sini ada mata air. Entahlah, setelah ini kita mencari mata air terlebih dahulu, bagaimana?” usul Dylan. Ia berharap, setidaknya ada sebuah sungai kecil atau apapun itu yang memunculkan mata air. Jika mereka tidak dapat menemukan air, mereka bisa mati karena kehausan. Ditambah lagi, mereka akan berjalan berkilo-kilo meter nantinya. Tidak mungkin jika mereka tidak membutuhkan air. Jika pepohonan di sini tumbuh begitu lebat, pastinya akan ada mata air di sini atau curah hujan di sini sangat tinggi.
“Baiklah, setelah selesai istirahat, kita akan mencari mata air.”
Mereka beristirahat sejenak sambil duduk menyender di sebuah pohon atau tidur terlentang tanpa alas di atas tanah. Mereka menatap langit. Mereka lagi-lagi tenggelam dalam pikiran mereka. sudah satu minggu lebih mereka melakukan pencarian namun Nicholas belum juga ditemukan. Bahkan mereka juga tidak tahu apakah Nicholas benar-benar berada di sini atau tidak.
Saking lamanya mereka menatap langit dan saling terdiam satu sama lain, mereka hampir tidak menyadari suatu hal. Langit berubah menjadi sedikit cerah. Itu artinya, sebentar lagi akan pagi hari. “Langit berubah menjadi cerah. Sepertinya, sebentar lagi akan memasuki pagi hari,” ucap Gabriella yang menyadari perubahan warna langit di atas sana.
“Iya. Akupun berpikir demikian. Sebentar lagi langit akan berubah menjadi terang. Dan itu akan mempermudah kita dalam melakukan perjalanan ini.”
Dan benar apa yang mereka katakan. Matahari mulai menunjukkan sinarnya. Langit menunjukkan sunrise terbaiknya. Meskipun mereka tidak dapat melihat matahari dengan jelas karena tertutupi oleh pepohonan, namun mereka masih dapat melihat langit yang mulai cerah. Warna langit berubah menjadi warna kuning oranye. Warna yang sangat indah bagi mereka. Dengan melihat warna langit yang indah membuat hati mereka sedikit tenang.
Semakin lama, warna kuning oranye di langit menjadi pudar tergantikan dengan warna biru khas warna langit.
“Bagaimana kalau kita melanjutkan perjalanan kita?” ajak Samuel. Ia merasa jika istirahatnya sudah cukup. Jika mereka terlalu lama beristirahat, tujuan mereka untuk menemukan Nicholas tidak akan segera tercapai.
“Setuju! Tetapi kita harus mengisi botol minum kita terlebih dahulu.”
“Baiklah.”
Mereka pun bangkit dari posisi mereka. Seperti biasa, Samuel yang berjalan di depan lalu diikuti teman-temannya yang lain. Saat ini, mereka akan mencari mata air terlebih dahulu kemudian mereka akan melanjutkan perjalanan mereka untuk mencari Nicholas.
Setelah jam berjalan, dari kejauhan mereka mendengar suara gemericik air. Itu pertanda jika ada sebuah sungai di sekitar sini.
“Apakah kalian mendengar itu?” Mereka mempertajam pendengaran mereka untuk mendengarkan sesuatu yang dimaksud oleh Kimberly.
“Ya, aku mendengarnya. Itu suara air mengalir, bukan?”
“Benar. Di sini pasti ada sungai.”
“Darimana suara itu berasal?” tanya Elizabeth. Suara itu masih samar didengar mereka. Mereka belum dapat memastikan darimana suara tersebut berasal.
“Sepertinya suara itu berasal dari…” Thomas kembali memfokuskan pada suara air mengalir itu untuk memastikan darimana suara itu berasal. “Dari sana,” Thomas menunjukkan arah ke timur.
Tanpa berpikir panjang, mereka langsung berlari menuju arah timur. Formasi yang mereka susun sudah berantakan. Mereka berlari begitu saja.
Dari jarak lima puluh meter, mereka dapat melihat sebuah sungai yang arusnya cukup deras. Sungai itu tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Mungkin lebarnya sekitar dua sampai tiga meter. Untuk panjang sungai, mereka tidak dapat memastikannya karena mereka belum tahu darimana hulu sungai itu berada dan di mana sungai itu bermuara. Mereka tidak sabar ingin menceburkan diri mereka ke sungai itu. Langsung saja, mereka berlari menuju sungai itu. Sungai itu sangat bersih dan terlihat sangat menyegarkan.
Sesampainya di pinggir sungai, mereka melepaskan tas, sepatu, kaos kaki, dan jaket yang mereka kenakan. Setelah itu, mereka menceburkan diri mereka ke dalam sungai yang dangkal itu.
“Segar sekali!”
“Akhirnya, aku bisa mandi juga.”
Thomas meminum air yang ada di sungai itu. Rasanya segar sekali. Sungai ini sangat-sangat jernih. Mungkin karena berada di tempat yang tersembunyi sehingga tidak diketahui oleh banyak manusia sehingga sungai ini belum tercemar sama sekali.
Karena keasyikan mereka bermain di sungai itu, mereka baru menyadari jika di sungai ini terdapat beberapa ikan yang sedang berenang.
“Ada ikan?”
“Iya, aku baru menyadarinya!”
“Lumayan kita bisa makan siang dengan ikan ini.”
Selain itu, mereka masih belum menyadari jika sungai ini merupakan pemisah antara hutan yang sebelumnya dengan hutan yang ada di seberang sungai ini.
***
To be continued