Karena keasyikan mereka bermain di sungai itu, mereka baru menyadari jika di sungai ini terdapat beberapa ikan yang sedang berenang.
“Ada ikan?”
“Iya, aku baru menyadarinya!”
“Lumayan kita bisa makan siang dengan ikan ini.”
Selain itu, mereka masih belum menyadari jika sungai ini merupakan pemisah antara hutan yang sebelumnya dengan hutan yang ada di seberang sungai ini.
“Guys?”
“Ada apa, Sam?” Mereka menatap kearah Samuel yang memanggil mereka. Mereka menghentikan aktivitas bermain air mereka.
Samuel mengarahkan jari telunjuknya kearah hutan yang ada di depan mereka. hutan yang ebrbeda dengan hutan yang mereka lewati sebelumnya. “Menurut kalian, itu hutan yang berbeda dengan hutan yang tadi atau masih sama?”
“Sepertinya itu masih hutan yang tadi kita lalui.”
“Menurutku, kedua hutan ini saling terpisah. Bisa dilihat dari sini, menurutku hutan itu dipisahkan oleh sungai ini. Jika hutan yang sebelumnya tidak terdapat tanda-tanda kehidupan, namun, mulai dari sini kita bisa menemukan adanya ikan-ikan di sungai ini,” jawab Dylan.
“Apa yang dikatakan oleh Dylan ada benarnya. Mungkin di hutan sana kita akan menemukan hewan-hewan lainnya,” tambah Thomas.
“Bisa jadi.”
“Bisa saja memang di hutan sebelumnya tidak ada hewan-hewan karena hewan-hewan tersebut tinggal di hutan itu.”
“Mungkin.”
“Kalau begitu, bagaimana jika kita beristirahat sejenak di sini sambil mengisi air minum dan mengambil beberapa ikan untuk bekal kita perjalanan nanti,” usul dari Chan itu ada benarnya. Mereka harus membawa beberapa ikan yang ada di sini untuk bekal nanti. Tak lupa mereka juga harus mengisi botol mereka. Karena mereka tidak tahu apakah di hutan sana nanti mereka dapat menemukan mata air lagi.
Chan mengeluarkan kantong plastik yang ia bawa. Samuel, Thomas, dan Dylan mengambil beberapa ekor ikan. Mereka mengambil dengan tangan kosong. Pastinya, mereka akan kesusahan mengambil ikan-ikan itu. Terlebih lagi mereka mengambilnya dari sungai.
“Astaga! Ikan ini sangat susah ditangkap,” keluh Thomas. Sedari tadi, ia belum dapat menangkap satu ikan pun. Begitupun dengan Samuel dan Dylan, mereka juga belum dapat menangkap ikan. Sedangkan Chan, di sisi lain sungai ia sudah mendapatkan satu ekor ikan dengan bantuan plastik yang ia bawa tadi.
“Aku dapat satu ekor ikan!” teriak Chan yang berjarak beberapa meter dari Samuel, Thomas, dan Dylan.
“Bagaimana bisa kau menangkapnya, Chan?” tanya Thomas.
“Gunakan apapun yang bisa digunakan,” jawab Chan. Ia memamerkan hasil tangkapannya kepada teman-temannya.
Sedangkan Kimberly, Gabriella, dan Elizabeth mereka sedang sibuk mengisi botolnya dan botol teman-temannya. Mereka bertiga juga sibuk mengganti baju mereka di dalam tenda yang sudah mereka dirikan sebelumnya.
“Apa kalian sudah dapat ikan?” tanya Chan mengejek. Kini, ia sudah mendapatkan dua ekor dengan mudahnya.
“Kau mengejekku?”
“Tentu saja!”
Karena merasa kasihan dengan Samuel, Thomas, dan Dylan yang tidak bisa menangkap ikan dengan mudah, akhirnya Chan memberikan beberapa buah plastik kepada mereka. Mereka berusaha menangkap ikan dengan teknik yang sudah diajarkan oleh Chan. Setelah melalui kesusahan, mereka mendapatkan beberapa ekor ikan yang dirasa sudah cukup.
Melihat Kimberly, Gabriella, dan Elizabeth yang sudah berganti pakaian, akhirnya Samuel, Thomas, Dylan, dan Chan naik dari sungai itu dan menuju daratan. Keempat laki-laki itu kini bergantian yang berganti pakaian di dalam tenda itu. Sedangkan ketiga perempuan itu mereka saling berdiri di pinggiran sungai dan memotret untuk dijadikan sebuah memori atau dalam ponselnya. Foto-foto itu mereka abadikan untuk mengenang jika mereka pernah datang ke tempat asing ini.
Tidak lama kemudian, keempat laki-laki itu muncul di tengah-tengah Kimberly, Gabriella, dan Elizabeth. Rupanya, mereka sudah selesai dengan sesi ganti pakaian mereka. Ketujuh orang itu mereka mengemasi barang-barang mereka dan membersihkan tenda yang mereka gunakan untuk berganti pakaian.
“Sudah selesai berberes?” tanya Samuel memastikan.
Mereka semua mengangguk menandakan jika mereka sudah selesai melakukan kegiatan mengemasi barang-barang mereka dan memastikan jika tidak ada barang mereka yang tertinggal. Setelah itu, mereka berkumpul lagi dan mulai melakukan perjalanan menyusuri hutan yang ada tepat di hadapan mereka saat ini.
Jika hutan yang sebelumnya memiliki pepohonan yang rapat, di hutan yang akan mereka telusuri ini memiliki pepohonan yang tidak terlalu rapat. Selain itu, mereka mendengar beberapa suara kicauan burung dari hutan ini. Mereka sempat heran bagaimana bisa ada perbedaan kondisi di kedua hutan itu? Apakah memang benar jika kedua hutan itu berbeda tempat? Entahlah, mereka belum mengetahui hal itu dengan pasti.
Baru beberapa menit mereka menyusuri hutan itu, mereka dapat melihat beberapa hewan seperti burung, landak, dan serangga. Berbeda sekali dengan hutan yang sebelumnya. Jika hutan yang sebelumnya terasa sangat sunyi, di sini malah seperti hutan pada umumnya. Mereka berpikir, jika hutan sebelumnya itu adalah hutan pembuka yang mana tidak banyak makhluk hidup yang hidup di sana kecuali tumbuh-tumbuhan. Makhluk hidup sepertinya memiliki habitat di hutan ini, bukan di hutan yang sebelumnya. Dan sungai tadi, sepertinya ungai itu pemisah antara hutan pembuka dan hutan yang asli. Bisa saja, di akhir hutan ini mereka akan menemukan hutan penutup atau ujung dari hutan ini. Jika memang benar begitu, pastinya hutan ini sangat luas sekali.
Mereka terus berjalan sesuai formasi yang mereka tentukan sebelumnya. Siang hari mulai terik. Cahaya matahari dapat menembus hutan ini karena hutan ini tidak terlalu rapat dan memiliki celah-celah yang lumayan besar. Mereka merasakan déjà vu saat berjalan di hutan ini. Mereka merasa jika mereka sedang menjelajahi Little Forest beberapa waktu yang lalu.
Karena penasaran, Dylan membuka ponselnya. Di hutan ini masih saja ada sinyal. Bahkan, ia bisa membalas pesan-pesan yang masuk dari ponselnya. Dylan penasaran dengan salah satu aplikasi yang ada di ponselnya, yaitu peta digital. Ia membuka peta digital itu melalui ponselnya. Hanya membutuhkan waktu beberapa detik saja untuk dapat melihat di mana dirinya sekarang berada. Betapa terkejutnya Dylan saat melihat posisinya sekarang ini. Peta itu menunjukkan rute perjalanan Dylan mulai yang darinya berada di rumah Kimberly menuju ke Little Forest. Sebelumnya, Dylan memiliki inisiatif untuk mengaktifkan rute perjalanannya. Saat ia melihat rute perjalanannya saat ini, ia sangat terkejut dengan rute perjalanan yang ia lalui. Ia segera memberi tahu teman-teman yang ada di depannya. “Guys!” teriaknya.
Mendengar panggilan dari Dylan, semua orang menghentikan langkah mereka dan berbalik menuju Dylan. Mereka tidak tahu apa maksud Dylan memanggil mereka. Mereka mengira jika Dylan sedang dalam masalah. Samuel merasa khawatir dengan Dylan. Ia tidak mau kejadian yang menimpa Thomas beberapa waktu lalu terulang kembali. Samuel yang berada di baris paling depan langsung berlari menghampiri Dylan yang berada di baris paling belakang.
“Kau kenapa? Ada masalah apa?” tanya Samuel dengan khawatir.
“Tidak. Aku baik-baik saja dan kalian tidak peru khawatir. Aku hanya ingin memberitahu kalian suatu ha,” Dylan menggantungkan ucapannya. Tampak dari muka teman-temannya menyiratkan ekspresi bingung. Apa yang akan Dylan beritahu kepada mereka?
Dylan menyodorkan ponselnya kepada teman-temannya. Ia menunjukkan layar yang menampilkan peta yang berisi rute perjalanan. Mereka masih belum paham dengan apa yang ditunjukkan oleh Dylan tersebut.
“Apa maksudmu, Dylan?” tanya Thomas yang tidak mengetahui maksud dari Dylan
“Peta? Kenapa? Apa kita salah mengambil jalur?”
Dylan menyangkal apa yang dikatakan oleh teman-temannya. “Bukan, bukan itu maksudku.”
“Lalu, apa maksudmu?” tanya mereka.
Dylan berusaha menjelaskannya kepada teman-temannya. Ia menunjuk beberapa bagian rute perjalanan yang ada di peta itu. “Lihat ini baik-baik! Saat kita menyadari jika peta ini menunjukkan di rumah Kim, aku sudah merasa curiga ada yang aneh dengan hutan ini. Akhirnya, aku mengaktifkan rute perjalanan sehingga peta akan menampilkan jalur mana saja yang sudah kita lewati. Dan saat aku mengecek rute perjalanan, rute tersebut berjalan yang semula berada di rumah Kim menjadi berada di Little Forest. Ini artinya, kita sedang berada di Little Forest sekarang. Lihat, titik terakhir kita berada di Little Forest, bukan?”
Mereka mencermati peta digital yang ada di ponsel Dylan itu. Dan benar apa yang dikatakan oleh Dylan. Mereka kini berada di Little Forest. Namun, bagaimana bisa hal itu terjadi? Mengapa mereka bisa berada di Little Forest?”
“Bagaimana mungkin?”
“Kita di Little Forest? Namun, kenapa suasananya sangat berbeda dengan Little Forest yang sebenarnya?”
“Menurut pandanganku, seperti yang sudah terjadi sebelumnya. Saat kita masih berada di awal hutan ini, peta menunjukkan kita sedang berada di rumah Kim. Anggap saja hutan yang sebelumnya itu adalah rumah Kim. Lalu, sekarang peta ini menunjukkan kalau kita sedang berada di Little Forest. Dapat disimpulkan jika ini ada kaitannya dengan tempat kita di Parama. Bisa saja kita saat ini berada di dunia lain yaitu dunia di bawah kota Parama itu sendiri. Maka dari itu, peta ini menunjukkan jika kita sedang berada di Parama,” Samuel mengatakan hal tersebut berdasarkan referensi dari film-film yang pernah ia tonton sebelumnya. Jika film yang ia tonton menceritakan mengenai dunia lain, bisa saja mereka memang berada di dunia lain dan teori-teori mengenai dunia lain itu benar adanya.
Mereka hampir tidak percaya dengan apa yang sudah diucapkan oleh Samuel. Sebagian dari mereka tidak percaya dengan adanya dunia lain. Sedangkan sisanya, mereka masih diambang antara percaya dan tidak percaya. Ini semua benar-benar berada di luar nalar mereka. apakah benar jika adanya dunia lain atau dunia pararel itu nyata atau hanya konspirasi yang dibuat oleh manusia sehingga bisa menjadi cerita yang menarik untuk dibaca atau hal yang lainnya.
“Jika memang benar kita berada di dunia lain, aku tidak bisa mempercayainya. Bagaimana mungkin kita bisa masuk ke dalam dunia lain hanya melalui lorong bawah tanah?” Chan benar-benar tidak percaya akan hal ini. Lebih tepatnya, ia masih bimbang apakah ia percaya atau tidak.
“Aku hanya percaya jika di dunia ini kita tidak hidup sendiri. Aku kira maksud dari ungkapan itu adalah kita hidup berdampingan dengan makhluk-makhlus halus sehingga aku percaya jika ungkapan itu benar. Namun, jika yang dimaksud oleh ungkapan itua dalah dunia parallel aku sungguh tidak percaya jika hal itu benar-benar sebuah kenyataan,” ucap Kimberly. Sama seperti halnya dengan Chan, Kimberly masih belum bisa menerima kenyataan mengenai hal ini.
“Entah itu benar atau tidak, yang terpenting saat ini adalah kita mencari Nick. Hanya itu saja fokus kita saat ini. Lupakan sejenak apa itu dunia lain, dunia parallel atau dunia khayalan itu. Nick belum ditemukan. Jadi, kumohon pada kalian, kita fokus untuk mencari Nick dan fokus untuk bertahan hidup di sini. Lagipula, di sini suasananya masih seperti di dunia pada umumnya. Kita masih bisa beradaptasi di sini. Jangan cemaskan hal itu,” ucap Thomas. Ia hanya ingin fokus mereka tidak teralihkan dengan hal yang lain. Mencari Nicholas adalah hal yang terpenting saat ini dibandingkan mencaritahu saat ini mereka sedang berada di mana.
Mendengar ucapan dari Thomas, mereka akhirnya menuruti apa yang diucapkan oleh Thomas tersebut. Mereka sejenak melupakan mengenai teori dunia lain atau yang lainnya. Meskipun dalam diri mereka masih penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi. Namun, benar apa yang dikatakan oleh Thomas, menemukan Nicholas adalah hal yang terpenting saat ini dibandingkan mencari informasi mengenai keberadaan mereka saat ini.
Meskipun rasa penasaran yang masih menyelimuti mereka, mereka tetap melanjutkan perjalanan ini dengan rasa penasaran yang masih tertanam dalam diri mereka.
***
To be continued