Seperti apa yang dikatakan oleh Thomas, mereka harus fokus mencari Nicholas saat ini. mereka menghilangkan sejenak rasa penasaran mereka terhadap hutan ini dan kembali melanjutkan pencarian Nicholas. Suasana sudah menunjukkan sore hari, namun sayangnya, mereka belum menemukan tanda-tanda keberadaan Nicholas. Mereka hanya menemukan hewan-hewan dan beberapa tumbuhan yang hidup dengan baik di sini.
Mereka hampir merasa putus asa karena tidak segera menemukan Nicholas. Mereka merasa usaha mereka ini sia-sia. Mungkin betul apa yang dikatakan sebelumnya jika mereka salah mengambil jalur. Mereka berpikir jika Nicholas tidak berada di sini. Namun, mereka harus menyangkal pikiran tersebut. Mereka tidak boleh pupus harapan hanya karena merasa lelah karena belum juga menemukan Nicholas. Mereka harus berprasangka baik dan percaya jika Nicholas benar-benar berada di sini.
Tiba-tiba sebuah panggilan suara masuk di ponsel Samuel. Mendengar ponselnya berdering, Samuel dan teman-temannya berhenti sejenak. Samuel mengambil ponselnya yang berada di saku celananya. Ia membuka ponsel tersebut dan membaca siapa yang meneleponnya saat ini. Rupanya orangtua Nicholas yang menelepon Samuel.
“Siapa, Sam?”
“Ayah Nick. Kalian diam sebentar dan jangan mengeluarkan suara,” kata Samuel yang tidak ingin orangtua Nicholas mencurigai keberadaan mereka. Sebelumnya, mereka beralasan sedang ada kesibukan yang mendesak yang membuat mereka tidak bisa membantu mencari Nicholas saat ini. Samuel tentu saja tidak ingin orangtua Nicholas mengetahui yang sebenarnya. Jika mereka mengetahui yang sebenanrya, pasti mereka akan merasa kecewa pada Samuel dan teman-temannya.
Thomas dan yang lainnya langsung terdiam tanpa suara. Samuel mengangkat panggilan tersebut dan tak lupa ia menyalakan pengeras suara di panggilan tersebut sehingga teman-temannya bisa mendengar apa yang akan dikatakan oleh orangtua Nicholas.
“Halo?” sapa Samuel. Samuel dan teman-temannya mendengar sesuatu meskipun secara samar-samar jika orangtua Nicholas sedang berada di keramaian atau sedang membicarakan sesuatu. Terdengar dari beberapa orang yang berbicara kepada ayah Nicholas itu.
“Halo, Sam? Ada sesuatu yang ingin paman sampaikan padamu,” ucap Pak Mark di seberang sana. Lantas, Samuel dan yang lainnya penasaran dengan apa yang ingin disampaikan oleh Pak Mark kepada Samuel.
Samuel melirik kearah teman-temannya. Ia juga penasaran dengan apa yang akan dikatakan oleh Pak Mark kepadanya. “Apa yang ingin Paman katakan kepadaku?”
Terdengar dari seberang sana Pak Mark sedang berbicara dengan beberapa orang. Samuel tidak dapat mendengar percakapan tersebut karena sepertinya Pak Mark menjauhkan ponselnya saat berbicara dengan orang itu. Tidak laam kemudian, Pak Mark menjawab pertanyaan dari Samuel yang sempat tertunda tadi. “Ah, ya, Paman ingin mengatakan sesuatu padamu. Hari ini akan dilakukan pencarian Nick. Sekarang, Paman dan pihak kepolisian sudah berada di rumah temanmu Kimberly. Kita sedang memeriksa sekitar rumah Kimberly. Doakan saja semoga kami menemukan jawaban dari hilangnya Nick di sini.”
Terlihat dari raut muka mereka, mereka merasa khawatir jika polisi-polisi itu menemukan tempat ini. Jika mereka menemukan tempat ini dan menemukan mereka, mereka akan dalam masalah yang besar nantinya. Mereka telah mencoba menyembunyikan sesuatu hal yang penting dari mereka. Apalagi, mereka seharusnya terlibat dalam pencarian ini.
Samuel tidak tahu harus berkata apa. Thomas hanya menyarankan kepada Samuel dengan isyarat jika ia mengiyakan ucapan dari Pak Mark itu. Akhirnya, Samuel menuruti ucapan dari Thomas itu. “Syukurlah kalau begitu. Jika nanti ada kabar mengenai petunjuk keberadaan Nick, tolong kabari saya, ya, Paman? Dan, atas nama teman-teman saya mohon maaf karena tidak bisa ikut terlibat langsung dalam pencarian Nick ini.”
“Tidak masalah. Baik, nanti akan Paman kabari jika ada perkembangan mengenai Nick. Ya, sudah, Paman tutup teleponnya karena paman akan segera melakukan pencarian.”
“Baik, Paman. Semoga berhasil.”
Tidak lama kemudian, telepon itu ditutup oleh Pak Mark.
Samuel merasa khawatir sama seperti yang lain. Ia khawatir jika tim evakuasi itu menemukan keberadaan tempat ini dan menemukan mereka. “Bagaimana ini?”
“Dylan, apakah kau sudah memastikan menutup dengan benar lubang itu?” tanya Chan. Jika ada sedikit celah yang tidak tertutupi, bisa saja tim evakuasi dapat menemukan lubang itu.
“Entahlah, aku berada di bawah jadi aku tidak dapat memastikan bagaimana keadaan di atas, apakah tertutup dengan benar atau tidak. Namun, kalian jangan khawatir, ukuran kotak yang menutupi lubang itu memiliki ukuran yang lebih besar dari lubang itu sendiri. Aku yakin, lubang itu akan tertutup dengan baik,” balas Dylan. Ia sebenarnya tidak dapat memastikan dengan benar apakah lubang itu dapat tertutupi dengan baik atau tidak. Namun, Dylan memiliki keyakinan dan kepercayaan jika lubang itu tertutupi dengan baik.
“Lalu, bagaimana jika mereka memindahkan kotak-kotak itu?”
Pertanyaan dari Gabriella itu menambah beban pikiran mereka. Bisa saja mereka memindahkan kotak-kotak itu karena alasan lain.
“Menurutku tidak, untuk apa mereka memindahkan kotak-kotak itu?”
“Iya, lagipula kotak-kotak itu berdempetan dengan tembok. Tidak mungkin mereka akan memindahkan kotak-kotak itu begitu saja.”
Kekhawatiran mereka menambah sedikit demi sedikit. Namun, melihat Dylan yang percaya jika semua ini akan baik-baik saja, mereka berusaha menghilangkan rasa khawatir yang ada dalam diri mereka.
“Pak Mark nanti akan memberitahu Sam mengenai perkembangan pencarianna, bukan? Jika mereka menemukan tempat ini biarlah. Asalkan mereka tidak menemukan kita. Jika sampai mereka menemukan kita, tamatlah riwayat kita. Maka dari itu, informasi dari Pak Mark itu penting sekali. Pastinya, jika mereka menemukan tempat ini, Pak Mark akan menghubungi Sam. Jika itu benar terjadi, kita harus sesegera mungkin pergi dari tempat ini atau bersembunyi dari mereka,” ucap Thomas. Ia percaya jika semua ini akan baik-baik saja. Jika tidak baik-baik saja, mereka harus menyusun rencana supaya mereka tidak ditemukan oleh tim evakuasi itu.
“Yang dikatakan Tommy ada benarnya.”
“Aku setuju denganmu, Tommy.”
Mereka memandangi langit. Senja berubah menjadi malam hari. Mereka harus segera mencari tempat untuk istirahat malam ini. Mereka harus benar-benar mengisi tenaga mereka dengan cukup. Hampir tiga hari mereka berada di sini. Mereka tidak ingin pencarian kali ini sia-sia. Maka dari itu, mereka harus benar-benar memperhatikan kondisi mereka dengan baik.
Tepat sekali. Mereka baru saja berhenti di salah satu tanah lapang yang tidak terlalu luas itu. Tanah lapang itu kira-kira bisa menampung dua tenda mereka. “Kita istirahat di sini saja.”
Mereka menuruti ucapan dari Samuel. Akhirnya, mereka meletakkan tas mereka di tanah. Mereka mulai mendirikan tenda dan menyiapkan beberapa perlengkapan lainnya. Mereka saling bahu membahu dalam mendirikan tenda atau menyiapkan peralatan yang lain. Tidak lupa mereka juga menyiapkan peralatan untuk memasak malam ini. Tidak membutuhkan waktu lama, tenda dan perlengkapan mereka sudah tertata dengan rapi.
Seperti biasanya, Samuel, Thomas, Dylan, dan Chan bertugas untuk mencari kayu bakar, sedangkan Kimberly, Gabriella, dan Elizabeth bertugas untuk menyiapkan makanan bagi mereka. Tugas itu sepertinya sudah menjadi kebiasaan bagi mereka. Tanpa adanya aba-aba, mereka sudah berinisiatif untuk melakukan tugas mereka masing-masing.
Samuel dan teman laki-lakinya mencari kayu bakar di sekitar tempat mereka mendirikan tenda. Karena mereka belum menemukan kayu bakar yang kering, akhirnya mereka memutuskan untuk mencari kayu bakar yang jaraknya lumayan jauh dari tempat mereka mendirikan tenda. Dengan bantuan senter, mereka mencari ranting-ranting atau kayu bakar kering yang layak untuk dijadikan sebuah api unggun. Menurut mereka, api unggun sangat wajib dinyalakan disaat berada di hutan. Api unggun selain digunakan untuk penghangat badan juga dapat digunakan untuk mengusir hewan buas.
Setelah lama mencari, akhirnya, mereka menemukan beberapa ranting pohon yang cocok untuk dijadikan sebuah api unggun. Mereka memutuskan untuk kembali ke tempat mereka semula.
Saat di tengah-tengah perjalanan, Chan seperti melihat sesuatu yang bergelantungan di sebuah ranting pohon. Ia terdiam sebentar menyaksikan benda yang bergelantung di ranting itu. Ia berpikir, jika itu adalah hantu. Chan memang sangat penakut jika berurusan dengan makhluk-makhluk halus. Ia masih saja terpaku dengan apa yang ia lihat. Sedangkan, teman-temannya sudah berjalan mendahuluinya. Melihat Chan yang terdiam di belakang mereka, mereka pun menghampiri laki-laki itu. Mereka takut jika ada sesuatu yang menimpa Chan.
“Kau kenapa?”
“Chan, are you okay?”
“Chan?”
Mereka mengikuti arah pandangan Chan. Mereka melihat ada sesuatu di ranting pohon itu. Mereka sempat berpikir jika itu hantu. Namun, pandangan mereka berubah. Tidak mungkin hantu akan tetap di sana tanpa bergerak sedikitpun.
“Itu bukan hantu,” kata Samuel untuk menyadarkan Chan dari sikap diamnya.
Chan menggeleng. “Bukan, bukan itu maksudku, Sam. Ya, aku berpikir jika itu hantu, namun, itu terlihat seperti sebuah kain. Apa kalian memiliki pemikiran yang sama sepertiku?”
Mereka tidak paham apa yang dimaksud oleh Chan. Yang ada di pikiran mereka adalah itu bukanlah hantu sungguhan.
“Astaga! Aku berpikir jika itu hantu. Namun, aku berpikir kembali jika itu sebuah kain. Dan apakah kalian tahu maksudnya? Maksudnya adalah, pasti ada seseorang yang melintasi sini atau sengaja meninggalkan kain itu di ranting itu. Tidak mungkin kain itu milik kita karena kita baru melewati tempat ini baru saja. Pasti ada orang yang pernah melewati daerah ini,” jelas Chan pada teman-temannya. Mereka terkejut dengan penuturan dari Chan. Jika ada orang yang pernah melintasi daerah ini, bisa saja itu adalah jejak orang yang mereka cari beberapa hari ini.
Dengan sigap, Samuel berlari kearah kain yang menggantung di sebuah ranting pohon itu. Ia mengambil kain yang berada di sebuah ranting yang tidak terlalu tinggi. Setelah mengambil kain itu, kain itu bukanlah sebuah kain biasa. Itu semacam syal berwarna merah marun. Samuel sepertinya mengenali syal itu. Ia mengarahkan senter yang ia bawa untuk melihat ke salah satu sisi syal itu. Di salah satu syal itu terdapat bordiran berupa tulisan kecil yang bertuliskan “N.R.”
“Lihat tulisan ini, N.R, aku yakin ini milik Nick. Nick pernah bercerita padaku jika neneknya membuatkan kado ulang tahun untuknya berupa syal ini,” ucap Samuel. Ada perasaan bahagia sekaligus terkejut yang melanda mereka. Mereka bahagia setelah sekian lama mereka akhirnya menemukan jejak Nicholas. Tanpa basa-basi, mereka langsung berlari kearah tenda mereka. Mereka harus memberitahukan ini kepada Kimberly, Gabriella, dan Elizabeth.
Sesampainya di tenda, kayu bakar yang mereka bawa mereka letakkan begitu saja. Hal itu menimbulkan perasaan terkejut bagi tiga perempuan itu. Mereka yang sedang berbincang singkat sambil menyiapkan makan malam, mereka langsung berdiri dan menemui keempat laki-laki itu.
“Ada apa? Kenapa kalian berlari seperti ini?” Kimberly khawatir jika sesuatu terjadi pada salah satu laki-laki itu.
Samuel langsun menunjukkan syal yang ia bawa. Ketiga perempuan itu tidak mengerti apa yang dilakukan oleh Samuel. Samuel dapat membaca ketidaktahuan itu dari ekspresi Kimberly, Gabriella, dan Elizabeth. Langsung saja, ia memberitahu kepada mereka mengenai syal tersebut. “Ini milik Nick, ya, Chan menemukannya di ranting pohon yang ia lihat saat setelah mencari kayu bakar.”
Ketiga perempuan itu terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Samuel. Itu artinya, Nicholas benar-benar berada di hutan ini. Dan langkah untuk mencari Nicholas semakin dekat.
“Itu artinya, Nick berada di sini?” Gabriella merasa sangat senang sekali mendengar kabar tersebut. Akhirnya, ia akan segera bertemu dengan Nicholas---orang yang sangat ingin ia temui saat ini.
“Ya, pasti Nick sengaja meninggalkan syalnya di ranting itu karena ia tahu jika kita akan pergi untuk mencarinya.”
Mereka memiliki harapan untuk menemukan Nicholas saat ini. Dan peluang untuk menemukan Nicholas di hutan ini sangat besar. Mereka yakin, Nicholas pasti berada di sekitar sini.
***
To be continued