Part 33 - Kabut

1727 Words
Mereka hendak beristirahat malam ini. Namun, karena mereka menemukan jejak Nicholas, mereka mengurungkan niat mereka untuk beristirahat malam ini. Mereka harus mencari Nicholas malam ini juga, karena mereka percaya jika Nicholas masih berada di sekitar sini. “Kita harus mencari Nick malam ini juga!” “Ya. Aku yakin jika dia masih berada di sekitar sini.” Tiba-tiba Kimberly teringat dengan makan malam yang sudah ia buat bersama Gabriella dan Elizabeth. Dirinya tidak tega jika harus membuang makanan itu begitu saja. Jika makanan itu disimpan juga tidak memungkinkan karena makanan itu mudah basi. “Bagaimana kalau kita makan malam dahulu? Maksudku, kita sudah memasak makanan, dan tidak mungkin akan dibuang begitu saja. Jika disimpan, makanan itu akan basi. Kita tidak bisa menyia-nyiakan makanan dalam kondisi yang seperti ini.” Mereka setuju dengan perkataan Kimberly. Di saat yang seperti ini tidak baik bagi mereka menghambur-hamburkan makanan begitu saja. Akhirnya, mereka makan malam sejenak. Setelah itu, mereka mengemasi barang-barang dan tenda yang sudah sempat mereka dirikan. Mereka bahkan tidak beristirahat malam ini untuk mencari Nicholas. Tidak lama kemudian, tenda dan barang-barang mereka sudah tertata dengan baik. Mereka siap melakukan pencarian saat ini. Samuel kembali memimpin mereka. Samuel mengarahkan mereka ke tempat di mana syal itu ditemukan. Tempat syal itu berada tidak jauh dari tempat mereka mendirikan tenda. Mereka sudah sampai di bawah pohon tempat syal semula berada. “Syal Nick tadi berada di pohon ini. Aku yakin, ia sengaja menaruhnya di sini.  Lalu, pertanyaannya adalah, kemana perginya Nick setelah meletakkan syal di pohon ini?” tanya Samuel kepada teman-temannya. Ia ingin mendengar pendapat dari teman-temannya. “Aku tidak tahu. Ini di hutan, jalur manapun bisa diambil olehnya.” “Benar juga. Tapi menurutku, dia pergi kearah barat.” “Sebentar, ini sedikit mencurigakan, jika Nick dapat masuk ke sini dengan mudah, kenapa ia harus meninggalkan jejak di sini? Maksudku adalah jalur yang ia ambil sama seperti kita saat datang ke sini. Bukankah seharusnya mudah baginya untuk meninggalkan tempat ini? Lagipula, kita belum masuk ke dalam hutan lebih jauh,” ucap Dylan. Beberapa teman-temannya sepertinya tidak paham dengan maksud dari ucapan Dylan. Bahasa yang Dylan gunakan terlalu berbelit sehingga mereka susah untuk mengartikannya. “Apa maksudmu?” Dylan bahkan juga bingung bagaimana caranya untuk menjelaskan apa yang ia maksud kepada teman-temannya. Ia berpikir sebentar sebelum mengarikan secara lebih mudah kepada teman-temannya. “Maksudku, jika Nick menghilang di daerah sini, bukankah seharusnya ia mudah untuk keluar dari hutan ini? Hutan ini masih belum terlalu dalam dan rute menuju sini mudah diingat. Jadi, yang aku maksudkan di sini, Nick apakah benar-benar meninggalkan syal ini untuk memberitahu kita jika dirinya hilang di sini atau ia sengaja menaruh ini sebagai patokan jika ia tersesat ia akan kembali ke sini?” Bahkan dengan penjelasan kedua dari Dylan membuat mereka tidak paham dengan maksud dari ucapannya. Mereka tidak dapat mencerna setiap perkataan dari Dylan itu. “Demi apapun, aku tidak paham apa yang kau katakan.” Dylan nampak frustasi karena ia tidak tahu harus bagaimana lagi menjelaskan ini kepada teman-temannya. “Sudahlah! Intinya adalah belum tentu Nick itu tersesat di hutan ini. Bisa jadi ada sesuatu yang menarik baginya atau ia sedang mencari sesuatu. Aku memiliki firasat demikian.” Mereka hanya mengangguk-angguk mendengar perkataan Dylan. Apapun bisa terjadi di sini. “Jika memang benar begitu, lalu apa yang membuatnya tertarik dengan hal tersebut?” “Entahlah, aku juga tidak tahu.” “Sepertinya aku sedikit paham apa yang dimaksud oleh Dylan. Menurutku, tidak mungkin kita akan mencari kearah timur. Karena arah timur adalah arah kembali kita ke tempat semula. Sepertinya, ia berjalan kearah barat. Biasanya, orang yang sedang berjalan menyusuri hutan pilihan utamanya adalah jalan lurus ke depan. Dan, mereka yang mengambil jalan ke kiri atau ke kanan biasanya karena ada petunjuk saja. Sedangkan, di sini tidak ada petunjuk satupun. Jadi, menurutku Nick berjalan ke depan, yaitu kearah barat,” opini dari Thomas itu diterima baik oleh teman-temannya. Sepertinya hal tersebut masuk akal bagi mereka. “Mungkin, apa yang dikatakan Tommy ada benarnya. Bagaimana kalau kita berjalan saja kearah barat?” Mereka menyetujui ajakan Samuel untuk mengikuti opini dari Thomas, yaitu berjalan kearah barat. Akhirnya, mereka secara bersama-sama berjalan kearah barat untuk mencari keberadaan Nicholas. Mereka hanya berjalan menuruti insting mereka saja. Di tengah malam yang dingin ini, mereka masih berjalan dengan merapatkan jaket mereka. Tak lupa, memasukkan tangannya ke saku jaket mereka. Malam ini udara terasa dingin sekali. Mereka merasa menggigil. Padahal, malam-malam sebelumnya saat mereka berada di hutan ini, mereka tidak merasa sedingin ini. Mereka hendak berhenti, namun, jika mereka berhenti pasti rasa dingin akan bertambah karena mereka tidak bergerak. Akhirnya, mereka memutuskan untuk tetap berjalan menyusuri hutan ini meskipun dengan langkah yang lambat. Samuel berkali-kali memastikan kondisi teman-temannya. Mereka mengatakan jika mereka baik-baik saja dan tidak ada masalah dengan mereka. Sebenarnya, Samuel mengajak mereka untuk berhenti sejenak, namun mereka menolak ajakan Samuel itu. Mereka tetap dalam pendirian mereka untuk terus melanjutkan perjalanan. Padahal, Samuel memiliki firasat yang buruk yang akan terjadi pada dirinya dan teman-temannya. Namun, ia juga tidak bisa mengatakan apa yang ia rasakan karena firasat itu juga belum benar. “Kalian tidak ingin beristirahat sebentar saja?” tanya Samuel yang entah sudah ke berapakalinya. “Tidak, Sam. Aku masih bersemangat untuk mencari Nick malam ini. Aku yakin, kita akan menemukannya malam ini.” Samuel mau tidak mau harus melanjutkan perjalanan mereka. Ia juga tidak bisa mengambil keputusan sepihak dengan beristirahat tanpa persetujuan mereka. Akhirnya, Samuel memiliki ide untuk meminta waktu untuk beristirahat sejenak saja. Pasti mereka akan mengiyakan permintaannya itu. Dan benar saja, mereka mengiyakan permintaan Samuel untuk beristirahat. Saat hendak mencari tempat istirahat, Samuel merasakan hal yang aneh, begitupun dengan teman-temannya. Malam ini tiba-tiba ada kabut yang muncul. Padahal, sebelumnya kabut muncul saat mereka baru tiba di hutan ini. Kabut ini awalnya masih tipis-tipis, lama-lama kabut ini berubah menjadi sangat tebal. Mereka hampir tidak bisa melihat sekeliling mereka. “Guys! Cepat saling berpegangan tangan, kita harus saling dekat satu sama lain. Kabut ini semakin lama semakin tebal,” perintah Samuel pada teman-temannya. Langsung saja, mereka saling berpegangan tangan dan saling mendekatkan tubuh mereka. “Jangan beranjak dari tempat kalian dan tetap saling berpegangan tangan! Jangan sampai ada yang terlepas.” Mereka mengeratkan tangan mereka. Jika salah satu dari mereka ada yang terpisah, hal tersebut akan menimbulkan masalah baru bagi mereka. Tidak lama kemudian, kabut tebal itu mulai menghilang perlahan. Kini mereka bisa saling melihat satu sama lain. Namun, kabut tersebut masih ada. Di waktu yang bersamaan, mereka mencium bau yang sangat menyengat. Mereka tidak tahu darimana bau itu berasal. Bau itu sangat mengganggu pernafasan mereka. “Bau apa ini?” tanya mereka bersamaan. Karena tidak kuat dengan bau itu, mereka menutup hidung mereka. Sayangnya, bau itu masih saja bisa mereka cium. Beberapa diantara mereka merasakan pusing yang melanda mereka. Thomas, Kimberly, dan Gabriella merasakan pusing yang dahsyat. Mereka bertiga langsung terduduk lemas di tanah. “Hei, Kim, apakah kau tidak apa-apa?” tanya Samuel kepada Kimberly yang berada di sampingnya. “Gab, are you okay?” Elizabeth merasa khawatir pada sahabatnya itu. Kondisi Gabriella sepertinya benar-benar lemas. Elizabeth tidak dapat melihat wajah Gabriella dengan jelas karena gelapnya malam dan kabut yang masih menyelimuti mereka. “Tommy, apakah kau baik-baik saja?” tanya Dylan. Mereka belum sempat menjawab pertanyaan dari Samuel, Elizabeth, dan Dylan, mereka langsung pingsan begitu saja. Hal itu membuat Samuel, Elizabeth, Dylan, dan Chan panik. Mereka berusaha membangunkan ketiga temannya yang pingsan itu namun tidak ada respon dari mereka. Tidak lama kemudian, kini giliran Chan yang tergeletak pingsan. Samuel, Elizabeth, dan Dylan pun semakin khawatir dan panik. Keempat temannya pingsan begitu saja di hadapan mereka. Dylan sepertinya menyadari apa yang membuat mereka pingsan. Kabut ini memiliki bau yang sangat mengganggu pernafasan, sehingga mereka merasa sesak karena kabut itu. Dylan berinisiatif mencari kain untuk menutupi hidung dan mulutnya. Melihat apa yang dilakukan Dylan, Samuel dan Elizabeth mengikuti yang dilakukan Dylan itu. Mereka mengenakan syal atau sapu tangan atau kain yang lain untuk menutupi hidung dan mulut mereka. Namun, hal itu sepertinya sia-sia. Mata mereka terasa perih karena kabut itu. Mereka tidak dapat melihat sekarang. Mereka memejamkan mata mereka supaya kabut itu tidak masuk ke dalam mata mereka. “s**t…” setelah mengucapkan kata u*****n itu, kini giliran Samuel yang pingsan karena kain yang menutupi hidung dan mulutnya belum benar-benar menutupi hidung dan mulutnya. Melihat hal itu, Elizabeth mengalami panik yang berlebih sehingga kain yang menutupi hidung dan mulutnya terlepas begitu saja. Dylan berusaha menenangkan Elizabeth yang sangat ketakutan itu. Karena hal itulah, kain milik Dylan juga ikut terlepas. Dan pada akhirnya, kedua orang itu pingsan secara bersamaan. *** Sinar mentari mengenai wajah mereka yang terkapar di atas tanah. Satu persatu dari mereka terbangun dari pingsannya. Saat bangun, mereka merasa masih ada rasa pusing yang hinggap di kepala mereka. Mereka terbangun dalam kondisi yang linglung. “Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Thomas yang masih belum sadar sepenuhnya. Ia mulai duduk sambil memandangi teman-teman yang berada di sampingnya. Mereka masih terkapar lemah meskipun beberapa dari mereka mulai membuka matanya. Mereka merasa aneh saat sudah benar-benar sadar. Sepertinya kabut semalam bukan sembarang kabut. Kabut itu seperti memiliki gas beracun yang dapat membuat manusia pingsan dalam waktu yang cukup lama. Selain itu, kabut itu juga membuat pernafasan mereka merasa sesak, mata mereka menjadi perih hingga berair, dan membuat kepala menjadi sangat pusing.   “Sepertinya, apa yang terjadi semalam itu bukan kabut biasa, melainkan ada semacam gas beracun yang menyebabkan kita pingsan seperti ini,” ucap Dylan. Dylan sepertinya sudah mengetahui hal ini sebelumnya. Jika bukan karena Elizabeth yang ketakutan semalam, pasti dirinya tidak akan ikut pingsan juga. Chan masih saja memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing. Ia sempat mual-mual beberapa kali. Sepertinya ia tidak sengaja menelan kabut yang beracun itu. “Benar apa kata Dylan. aku sampai mual-mual berulangkali karena tidak sengaja menelan kabut itu. Entah bagaimana bisa kabut itu mengandung racun yang menyebabkan kita seperti ini.” Sepertinya, firasat Samuel semalam itu benar. Akan ada sesuatu yang terjaid diantara mereka. Tidak lama setelahnya, kejadian semalam langsung terjadi begitu saja. Bahkan, Samuel yang sudah memiliki firasat itu juga merasakan imbasnya. Ia ikut pingsan bersama teman-temannya. Mereka masih saja tergeletak di atas tanah. Mereka bahkan enggan untuk berpindah posisi dari tempat ini. Kondisi mereka kini benar-benar sangat lemas. Bahkan, untuk berdiri saja mereka tidak mampu. Sepertinya, mereka akan menunda pencarian Nicholas hari ini. Mereka membutuhkan istirahat hari ini.   ***   To be continued
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD