Ketujuh orang itu kini berkumpul di ruang tamu di rumah Kimberly. Setelah mencari Nicholas di dalam rumah, mereka memutuskan untuk berkumpul dan berdiskusi di ruang tamu ini. Semenjak berkumpul, belum ada yang membuka suara. Sepertinya, mereka sedang larut dalam pikiran mereka masing-masing.
Nicholas tidak membawa ponsel. Tidak ada jejak atau tanda-tanda keberadaannya di sekitar sini. Bahkan Chan dan Dylann sempat bertanya kepada orang-orang yang berkemah di Little Forest apakah mereka melihat Nicholas berjalan di daerah sini atau tidak. Jawabannya adalah tidak. Mereka bahkan tidak melihat ada orang yang berlalu lalang di sekitar mereka.
Samuel akhirnya membuka suara setelah beberapa saat ia hanya terdiam saja. "Kita akan cari Nick di luar rumah."
Suara Samuel itu membuyarkan lamunan teman-temannya. Mereka kini beralih menatap ke arah Samuel.
"Bukankah gerbangnya masih tergembok? Bagaimana caranya Nick bisa keluar dari rumah?" Tanya Thomas.
Kimberly menjawab pertanyaan dari Thomas tersebut, "Bukankah sudah kukatakan sebelumnya, bagaimana mungkin Nick bisa memanjat gerbang yang tinggi seperti itu?"
"Menurutku bisa saja. Dia punya banyak cara untuk melakukan sesuatu." Dylann ikut menimbrung percakapan mereka.
"Jika Nick memang keluar dari rumah, kemanakah dia pergi?" Pertanyaan Chan membuat teman-temannya ikut berpikir. Jika dilihat, rumah Kimberly dikelilingi oleh hutan. Bahkan jarang ada kendaraan yang melintasi daerah depan rumahnya. Ditambah lagi Nicholas tidak membawa kendaraan miliknya.
"Apakah dia pulang ke rumahnya?"
"Sepertinya tidak mungkin. Rumah Kim dan rumah Nick tidak begitu dekat. Dia tidak membawa kendaraan dan ini sudah larut malam." Menurut Dylann, Nicholas tidak mungkin keluar dari rumah Kimberly tanpa menggunakan kendaraan. Itu akan membutuhkan waktu yang lama untuk sampai rumahnya. Dan sekarang sudah mulai larut malam, di luar sana pasti sangat gelap.
"Tapi tidak ada salahnya juga untuk mencoba mencari di luar rumah." Samuel seakan-akan pasrah dengan apa yang terjadi. Tapi ia harus bertanggungjawab atas menghilangnya Nicholas. Ia sudah berjanji akan menjaga teman-temannya dengan baik dan memastikan mereka dalam keadaan yang aman. Insiden ini membuat Samuel harus memenuhi janji yang sudah ia ucapkan sebelumnya.
"Ini sudah larut malam, apakah kita akan tetap mencarinya?"
"Tentu saja. Kita akan bersama-sama mencarinya," Jawab Samuel dengan yakin. Yang ia inginkan saat ini adalah menemukan keneradaan Nicholas. Namun, ia juga khawatir, jika saat pencarian ada salah satu temannya yang ikut menghilang juga. Akan tetapi, ia harus mengambil resiko itu ia tidak ingin Nicholas kenapa-kenapa.
"Haruskah kita mendatangi rumah Nick juga?" Pertanyaan Elizabeth menimbulkan keraguan di benak teman-temannya. Jika mereka mendatangi rumah Nicholas, apa yamg akan mereka katakan kepada orangtua Nicholas? Tapi, jika mereka tidak mendatangi rumah Nicholas, bagaimana jika seandainya laki-laki itu memang benar pulang ke rumahnya?
"Bagaimana kalau kita datang ke rumahnya esok hari?" Usul Thomas.
"Lalu, apa yang akan kita katakan kepada orangtua Nick nantinya? Kita tidak mungkin langsung mengatakan bahwa Nick menghilang. Itu akan membuat orangtuanya terkejut." Apa yang dikatakan Dylann memang benar. Tidak mungkin langsung mengatakan kalau Nicholas menghilang. Itu akan membuat kedua orangtua Nicholas sangat khawatir.
Gabriella yang sedari tadi diam, kini akhirnya ia membuka suara. "Besok aku akan ke rumah Nick dengan Chan atau yang lain. Tapi, yang mendatangi rumah Nick biar aku saja. Aku akan berpura-pura untuk mencari Nick. Aku akan menyusun skenario supaya orangtua Nick tidak curiga," Gabriella terdiam sesaat sebelum melanjutkan ucapannya. "Ini memang terkesan tidak baik, namun demi kebaikan bersama menurutku tidak masalah."
"Aku setuju dengan yang dikatakan Gaby. Itu bisa menjadi opsi lain jika nantinya kita tidak menemukan Nick di luar sana."
"Aku juga setuju dengan usulan Gaby. Setidaknya kita mencari Nick bersama-sama. Jika dalam dua hari tidak ditemukan, mau tidak mau kita harus memberi tahu orangtua Nick yang sebenarnya terjadi." Chan berharap jika Nicholas segera ditemukan. Ia merasa bersalah dengan Nicholas karena Chan tidak bisa menemani Nicholas saat mengambil tikar di gudang.
"Baiklah. Aku berharap semoga malam ini Nick ketemu. Aku tidak bisa membayangkan jika dalam dua hari ia tidak ditemukan. Kita akan menghadapi masalah besar. Dan aku juga tidak berani jika harus mengatakan hal yang sebenarnya pada kedua orangtua Nick." Samuel benar-benar takut jika Nick tidak segera ditemukan. Ia ingin sekali lapor kepada pihak yang menangani hal ini, namun, prosesnya membutuhkan waktu, harus membuat laporan, menunggu beberapa hari dahulu, dan lain sebagainya. Yang bisa mereka lakukan hanya menunggu, dan itu sangat membuang-buang waktu.
"Sudah pukul dua belas malam, bagaimana kalau kita cari Nick sekarang?"
"Baik."
"Ayo kita cari."
Mereka pun keluar dari rumah Kimberly yang bisa dibilang cukup besar ini. Kini merek sudah sampai di jalan depan rumah Kimberly. Penerangan hanya ada di lampu yang ada di depan rumah Kimberly. Selebihnya, hanya ada beberapa lampu penerangan yang cahayanya sudah tidak terlalu terang.
Mereka menyalakan senter yang mereka bawa. Keadaan tiba-tiba berubah menjadi nuansa horor seperti di dalam film-film. Hanya ada suara langkah kaki mereka dan suara jangkrik. Untung saja, udara malam ini tidak terlalu dingin. Itu akan memudahkan mereka dalam pencarian.
Ketujuh orang itu berjalan berdampingan. Mereka tidak ingin salah satu dari mereka ada yang menghilang lagi.
Mereka mulai meneriaki nama Nicholas. Mereka berharap jika Nicholas dapat mendengarkan suara mereka.
"Nick!!"
"NICK!!"
"NICK!! KAU DI MANA?"
Sayangnya, tidak ada yang membalas teriakan itu.
***
Satu jam berlalu. Kini waktu menunjukkan pukul satu malam. Namun, Nicholas juga belum ditemukan.
"Sam, bagaimana ini? Kita sudah berjalan sangat jauh. Tapi tidak ada tanda-tanda dari Nick juga."
Lagi-lagi Samuel terdiam. Ia sedang berpikir keras bagaimana memecahkan masalah ini. Pikirannya sudah tidak karuan. Samuel tidak bisa berpikir dengan jernih jika ia sedang panik.
Teman-teman yang lain paham dengan kondisi Samuel saat ini. Samuel bertanggungjawab atas hal ini dan itu membuat Samuel terlihat tidak bisa berkonsentrasi.
"Sam, are you okay?" Tanya Thomas untuk memastikan keadaan Samuel saat ini. Thomas paham dengan sifat-sifat Samuel, saat Samuel sedang panik ia tidak akan bisa tenang dan berpikir dengan jernih.
Samuel tiba-tiba langsung terduduk di aspal. Ia menunduk. Ia mulai mengeluarkan airmatanya. "Semua ini salahku. Seharusnya aku tidak membiarkan Nick pergi sendiri ke gudang. Dan aku seharusnya tidak memarahinya karena Nick lupa membawa tikar."
Teman-teman Samuel pun ikut terduduk di atas aspal. Mereka mencoba menenangkan Samuel saat ini. "Sam, jangan menangis. Ini bukan salahmu. Ini salah kita bersama. Kita tanggung semua ini bersama-sama, ya? Kita akan segera menemukan Nick secepatnya. Tapi, kau harus kuat, oke?"
"Benar apa yang dikatakan oleh Chan. Ini bukan salahmu. Dan kita akan melakukan ini bersama-sama. Kita harus saling mendukung. Kita akan mencari Nick bersama-sama."
Mendengar ucapan teman-temannya, Samuel mulai merasa tenang. Ia berdiri kembali dan disusul teman-temannya. Ia mengusap mukanya yang basah karena airmata yang sempat menetes. "Terimakasih sudah saling mendukung. Karena aku tidak mau ada sesuatu yang terjadi dengan kalian, kalian harus beristirahat malam ini. Kita lanjut untuk mencari Nick besok pagi."
"Baiklah, Sam."
Akhirnya, mereka kembali ke tenda mereka. Malam ini menjadi pengalaman yang terburuk dalam kehidupan mereka. Bahkan, jika bisa, mereka ingin menghapus malam ini dalam hidup mereka.
***
Samuel duduk di luar tendanya. Teman-temannya sudah tertidur pulas di dalam tenda. Hanya dirinya saja yang tidak bisa tidur malam ini. Ia masih berpikir bagaimana perginya Nick dan bagaimana bisa menemukan lelaki itu.
Samuel menatap langit yang ada di atasnya. Bulan dan bintang bersinar dengan terang. Ia duduk ditemani rasa dingin yang menusuk ke kulitnya karena angin hutan yang lumayan besar. Bahkan, api unggun tidak cukup untuk menghangatkan tubuhnya.
Tiba-tiba ada seseorang yang duduk di samping Samuel. Samuel terkejut dan menoleh ke arah orang tersebut duduk.
"Tommy? Kau tidak tidur?" Tanyanya pada sahabatnya sejak dulu. Samuel sangat akrab dengan Thomas dibandingkan dengan yang lainnya. Mungkin karena mereka sudah berteman sejak lama, sehingga mereka bisa saling mengerti dan memahami satu sama lain.
"Lalu bagaimana dengan kau sendiri? Kau tidak tidur?" Tanya Thomas balik.
Belum sempat menjawab pertanyaan dari Thomas, Thomas sudah tahu apa yang akan dikatakan oleh sahabatnya itu. "Aku tahu, saat kau sedang gelisah, panik, khawatir, atau tidak tenang kau menjadi susah berpikir dan menyebabkan susah tidur. Tapi, kau sudah memerintah kita semua untuk istirahat. Dan kau, juga harus istirahat."
"Tapi, Tom..."
Thomas menyela ucapan Samuel lagi. "Tidak. Kau harus istirahat. Dengarkan aku, bukan cuma kamu yang bertanggungjawab di sini. Tapi kita semua juga bertanggungjawab. Jangan seakan-akan semua ini beban yang harus kau pikul. Tidak. Kita semua yang harus memikul beban itu. Kita semua yang harus bertanggungjawab."
"Kau tidak mengerti, Tommy..."
Thomas kini dudu menghadap ke arah Samuel. Ia berharap jika Samuel dapat menuruti ucapannya saat ini. "Iya, mungkin aku tidak mengerti. Tapi, tolong, perhatikan kondisimu. Entah kapan kita akan menemukan Nick. Dan itu membutuhkan tenaga dan pikiran yang jernih, Sam. Kalau kau kenapa-kenapa, siapa yang akan memimpin kita dalam mencari Nick? Kita semua percaya sama dirimu. Kau selalu mementingkan oranglain daripada dirimu sendiri. Tapi untuk saat ini, tolong pentingkan dirimu sendiri dengan istirahat, oke? Besok kita akan mencari Nick dengan lebih keras lagi. Dan kita tidak ingin kau yang kenapa-kenapa "
Mendengar semua perkataan Thomas, membuat Samuel terenyuh. Pasalnya, Thomas ini yang selalu mengerti dengan keadaan dirinya. Teman-temannya yang lain juga mengerti dengan keadaan Samuel, namun tidak ada yang bisa mengerti lebih dalam selain Thomas.
Mungkin, apa yang dikatakan Thomas itu benar. Ia harus beristirahat malam ini. Bisa saja besok Nick belum juga ditemukan dan mereka semua harus mencari dengan usaha lebih. Namun, Samuel sangat berharap, saat matahari sudah memunculkan sinarnya, Nicholas sudah ditemukan. Samuel hanya ingin Nicholas segera ditemukan sehingga teman-temannya tidak merasa gelisah dan khawatir lagi.
"Baiklah. Aku akan tidur sekarang. Terimakasih sudah memberikanku saran yang sangat berguna ini."
Thomas merangkul Samuel dari samping. "Nah, ini baru Samuel. Sudahlah, segera tidur. Besok kita harus mencari Nick lagi."
Samuel dan Thomas masuk ke dalam tenda masing-masing dan mulai beristirahat malam ini. Mereka berharap besok ada kabar baik yang datang kepada mereka.
***
To be continued