Waktu menunjukkan pukul enam pagi. Udara pagi ini sangat sejuk. Dan itu mempengaruhi keadaan mereka. Semalam mereka tertidur dengan lelap. Mungkin karena terlalu letih dalam mencari keberadaan Nicholas. Namun, hari ini mereka harus melanjutkan pencarian kemana Nicholas pergi. Bahkan, pagi ini belum ada tanda-tanda kedatangan Nicholas. Hal itu menyebabkan teman-temannya menjadi sangat khawatir.
"Bagaimana rencana kita hari ini, Sam?"
Samuel tampak lebih tenang hari ini. Perkataan Thomas semalam membuat pikirannya lebih jernih. Ia harus tenang supaya teman-temannya juga ikut tenang, meskipun dalam keadaan yang sedang pelik ini.
"Hari ini, Gaby dan Dylan akan pergi ke rumah Nick untuk memastikan apakah Nick ada di rumahnya atau tidak. Untuk strateginya biar dilakukan sendiri oleh Gaby, karena ia yang mempunyai ide. Selain Gaby dan Dylan, kita akan tetap di sini dan berkemas. Kita akan mengemasi semua barang kita."
Gabriella dan Dylan akan pergi ke rumah Nicholas sekarang. Mereka berdua akan memastikan keberadaan Nicholas di sana. Mereka berharap jika Nicholas benar-benar berada di rumahnya.
"Kalau begitu, aku dan Gaby akan berangkat sekarang," Dylan berpamitan kepada teman-temannya.
"Hati-hati, ya. Jangan lupa kabari kami bagaimana hasilnya."
Setelah itu, mereka berdua pergi meninggalkan area perkemahan.
"Semoga saja Nick ada di rumahnya."
"Sambil menunggu kabar dari Gaby dan Dylan, lebih baik kita segera membereskan tenda dan yang lainnya." Samuel memerintah teman-temannya untuk segera membereskan semua barang-barang mereka.
Seharusnya hari ini mereka sudah selesai berkemah dan akan kembali ke rumah masing-masing. Namun, karena insiden ini, sepertinya mereka akan pulang terlambat. Itu tidak menjadi masalah bagi mereka. Yang terpenting saat ini adalah mencari Nicholas dan menemukannya.
"Baik, Sam."
Mereka mulai mengemasi barang-barang mereka dan mulai merubuhkan tenda. Tidak lupa mereka membersihkan tempat api unggun.
***
Gaby dan Dylan sedang dalam perjalanan menuju rumah Nicholas yang tidak terlalu jauh dan tidak terlalu dekat dari rumah Kimberly. Butuh waktu sekitar tiga puluh menit untuk sampai ke rumah Nicholas.
Setelah melewati hutan-hutan dan jalanan yang sepi, akhirnya mereka sampai di rumah Nicholas. Mereka memberhentikan mobil mereka dengan jarak kurang lebih lima puluh meter dari rumah Nicholas.
"Jadi, apa rencanamu, Gab?" Tanya Dylann kepada Gabriella.
Gabriella pun mulai menjelaskan rencananya kepada Dylann. "Oke, kau nanti di sini saja tidak usah ikut denganku. Aku akan beralasan kepada orangtua Nick kalau aku datang sendiri ke sini. Dan aku juga akan mengatakan kalau aku tidak ikut perkemahan itu. Aku akan datang ke rumah Nick dengan alasan aku ingin menemui Nick. Bagaimana? Apakah kau setuju?"
Dylann mengangguk paham. "Ya. Aku setuju dengan rencanamu. Tapi, apakah kau yakin itu akan berhasil?"
Gabriella mengangguk dengan sangat yakin. "Tentu saja. Saat aku bertanya apakah Nick sudah ada tiba di rumah, mereka pasti akan menjawab iya atau tidak."
"Oke, aku percaya denganmu."
"Aku turun sekarang. Semoga ini berhasil." Gabriella keluar dari mobil Dylann dan berjalan menuju rumah Nicholas.
Dalam perjalanannya menuju rumah Nicholas, ia berharap jika laki-laki itu ada di rumahnya. Gabriella benar-benar takut jikalau Nicholas tidak ada di rumahnya. Entah kemana lagi mereka akan mencari keberadaan Nicholas.
Gabriella mulai masuk ke pekarangan rumah Nicholas. Saat sampai di depan pintu rumah Nicholas, Gabriella melihat sekeliling rumah Nicholas. Tampak sepi. Mungkin saja, mereka sedang melakukan aktivitas di dalam rumah. Gabriella menarik nafas dalam-dalam. Ia harus menenangkan dirinya supaya tidak terlihat gugup.
Tok..tok..tok.
Gabriella mengetuk pintu rumah Nicholas. Namun belum ada jawaban dari sang pemilik rumah. Gabriella mengulangi mengetuk pintu lagi.
Tok...tok...tok...
Kali ini ketukannya lebih keras. Berharap ada yang mendengarnya. Namun, nihil. Tetap saja tidak ada jawaban.
Gabriella mulai memanggil nama Nicholas. Tidak ada jawaban dari dalam rumah. Rumah ini sangat sepi sekarang. Seperti sedang tidak ada orang di dalamnya.
Gabriella mencoba mengelilingi rumah Nicholas. Ia berharap ada orang di rumah ini yang melihatnya. Namun, tetap saja. Sepertinya, memang tidak ada orang di rumah ini.
Firasat buruk mendatangi perasaan Gabriella. Apakah benar kalau Nicholas tidak ada di rumahnya? Jika benar, mereka akan mencari Nicholas kemana lagi selain rumahnya?
Akhirnya, Gabriella memutuskan untuk meninggalkan rumah Nicholas dan menuju ke tempat mobil Dylann terparkir.
"Bagaimana, Gab?" Tanya Dylann memastikan. Dylan sedari tadi melihat Gabriella dari dalam mobil. Dylann menduga kalau rumah Nicholas sepi dan Nicholas tidak ada di rumahnya.
"Tidak ada." Jawaban dari Gabriella itu membuat Dylan lesu. Dugaannya benar. Tidak ada siapa-siapa di rumah itu. Dan itu artinya, Nicholas juga tidak ada di rumahnya.
"Kita balik saja ke rumah Kim. Kita harus mengabari mereka secara langsung," Dylan melihat Gabriella yang mulai bersedih. "Kau jangan khawatir, kita semua pasti akan menemukan jalan keluar dari masalah ini. Dan kita semua pasti akan menemukan Nick secepatnya."
Gabriella menunduk. Ia tidak ingin Nicholas mengalami hal-hal yang tidak ia inginkan. "Bagaimana kalau Nick tidak ditemukan?"
Gabriella meneteskan airmatanya. Dylan tidak tega melihat Gabriella menangis seperti itu. Sontak saja, Dylan langsung memeluk Gabriella untuk memberi perempuan itu ketenangan.
"Sudah, Gab. Jangan menangis. Menangis tidak akan menemukan keberadaan Nicholas. Kau harus kuat. Kita semua harus kuat. Kita semua akan menemukan keberadaan Nick. Kita harus yakin satu sama lain. Dan satu hal lagi, doakan Nick supaya ia ditemukan dalam keadaan selamat."
Gabriella mengencangkan pelukannya pada Dylan. Sungguh, ia sangat takut dengan kondisi Nicholas saat ini.
Setelah dirasa tenang, Dylan memacu mobilnya untuk menuju rumah Kim. Dylann yakin, pasti teman-temannya sedang menunggu kabar dari dirinya. Sebenarnya, ia sangat ingin menghubungi teman-temannya melalui ponsel, namun ia mengurungkan niat itu. Lebih baik Dylann menyampaikannya secara langsung.
***
"Kenapa mereka sangat lama sekali?" Mereka kini sudah selesai beres-beres. Namun mereka masih berada di Little Forest. Belum ada kabar sama sekali dari Gabriella maupun dari Dylann. Sudah berkali-kali Thomas menelepon Dylan atau Gabriella namun tidak ada balasan dari mereka berdua.
"Tunggu saja."
Mereka semua kini gusar. Mereka merasa tidak tenang.
Tidak lama kemudian, datanglah Gabriella dan Dylan di tengah-tengah mereka. Mereka mulai merasa sedikit tenang dengan kehadiran Gabriella dan Dylan. Tetapi, mereka masih khawatir dengan apa yang Gabriella dan Dylan temukan di rumah Nicholas.
"Akhirnya kalian datang juga."
"Bagaimana? Apakah Nick ada di rumahnya? Atau ada berita lain?" Tanya Samuel.
Gabriella dan Dylan saling pandang. Dari tatapan mereka, sepertinya mereka bingung bagaimana menjelaskan kepada teman-temannya.
"Kenapa?"
Akhirnya, Dylann memberanikab untuk membuka suara. "Baiklah, aku dan Gaby sudah datang ke rumah Nick."
"Lalu?" Tanya mereka bersamaan.
Kini Gabriella yang akan menjelaskan kepada teman-temannya. "Aku tadi datang ke rumah Nick. Aku memanggil Nick berulang kali," ucapan Gabriella terhenti sejenak. Mereka semua menunggu kalimat selanjutnya yang akan disampaikan oleh Gabriella. "Rumah Nick sepi, tidak ada orang. Bahkan, aku tidak menemukan ada tanda-tanda keberadaan manusia di dalam rumah Nick."
Mereka semua terkejut. Ini artinya, Nicholas tidak pulang ke rumahnya. Tentu saja, ini adalah kabar buruk bagi mereka.
"Ya Tuhan, bagaimana ini?" Chan merasa lemas seketika.
"Itu artinya...Nick tidak pulang ke rumah, bukan?" Tanya Kimberly memastikan. Kimberly sangat terkejut dengan ucapan Gabriella tadi.
"Iya, Nick tidak ada di rumahnya." Jawab Dylan menegaskan kalau Nicholas tidak ada di rumahnya.
Semua yang ada di situ seketika langsung lemah. Mereka kehabisan ide untuk mencari Nicholas kemana lagi.
"Apa yang harus kita lakukan?" Tanya Thomas yang sudah tidak bisa berpikir jernih akibat penjelasan dari Gabriella tadi.
"Entahlah, Tommy. Aku pun tidak tahu harus bagaimana lagi." Elizabeth merasa sangat pasrah sekarang ini.
"Apakah kalian ada yang tahu tempat-tempat yang sering dikunjungi oleh Nick?" Samuel sebenarnya sudah kehabisan ide untuk mencari tempat keberadaan Nicholas saat ini. Namun menurutnya, tidak ada salahnya mengunjungi tempat-tempat yang sekiranya bermakna atau penting bagi Nicholas. Siapa tahu, mereka akan menemukan Nicholas di salah satu tempat itu.
"Aku tahu beberapa tempat yang sering dikunjungi oleh Nick, namun sayangnya tempat itu sangat jauh dari sini. Menurutku, tidak mungkin Nick datang ke sana tanpa menggunakan kendaraan." Meskipun Chan zering bertengkar dengan Nicholas, tetapi Chan sangat mengenali kepribadian Nicholas. Tempat-tempat yang Nicholas sukai, apa yang seringkali membuatnya bersedih, dan masalah lainnya.
"Jadi, kamu yakin kalau Nick tidak pergi ke sana?" Thomas ingin memastikan kalau Chan yakin dengan ucapannya.
"Ya, aku yakin."
"Lalu, kemana kita akan mencari Nick?"
Pertanyaan dari Gabriella membuat teman-temannya terdiam. Mereka sedang memikirkan kemana kiranya keberadaan Nicholas saat ini. Dalam keadaan seperti ini, bisa saja Nicholas pergi ke tempat-tempat yang mereka tidak pernah dugai.
Sampai saat ini, mereka belum mengetahui pasti mengapa Nicholas bisa menghilang. Saat membersihkan tenda, Chan tidak sengaja menemukan ponsel milik Nicholas yang tergeletak begitu saja di samping tas milik Nicholas. Karena rasa penasarannya yang sangat tinggi, Chan pun membuka ponsel milik Nicholas. Untungnya, Chan mengetahui kata sandi ponsel milik Nicholas. Jari-jarinya bermain di atas ponsel berlayar datar itu. Ia membuka riwayat pesan yang dikirimkan atau pesan yang masuk ke dalam ponsel Nicholas. Tidak ada yang mencurigakan. Riwayat pesan Nicholas hanya berisi grup chat Vriends dan beberapa pesan dari orangtua dan teman-teman Nicholas di kampusnya. Karena tidak ada hal yang mencurigakan, Chan pun berhenti membuka ponsel milik Nicholas. Sebenarnya, Chan menyadari kalau perbuatannya itu tidak baik karena membuka ponsel oranglain tanpa izin. Namun karena situasi sekarang ini, siapa tahu Chan bisa menemukan informasi keberadaan temannya itu.
Sampai sekarang, mereka masih tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Mereka belum menemukan ide kemana mereka mencari keberadaan Nicholas.
Matahari mulai terik. Pengunjung Little Forest yang lain mulai meninggalkan hutan ini satu persatu. Kini menyisakan Samuel dan kawan-kawan dan beberapa pengunjung yang sedang mengemasi barang-barang mereka.
Setelah terdiam cukup lama, akhirnya mereka memutuskan suatu hal.
***
To be continued