“Nik … aku mau tanya tentang Gita. Memangnya, apa yang sudah terjadi diantara kalian?” sebuah pertanyaan ringan muncul dari bibir Winda. Sebenarnya, kata-kata tersebut sama sekali tidak memiliki tendensi apapun. Namun di telinga Niko, ucapan yang biasa dan terdengar lembut itu malah diartikan sebagai sebuah kata pembuka untuk dibukanya pengadilan atas dirinya. “Gita? Memangnya kenapa?” tanya si pemuda dengan nada menyangkal. “Hubungan kedekatanmu dengan Gita.” Dengan gemas, Winda kembali mengejar si anak muda yang masih saja belum mau terbuka tentang masalah itu. “Ohh … hanya masalah kerja saja. Tentu saja kami dekat. Dia kan sekretarisku …” dengan jurus ngeles, Niko belum mau mengakui apapun. “Hubungan pribadi? Sampai sejauh mana?” “Ahhh … enggak, enggak ada hubungan pribadi, kok.”

