Tubuh kekar itu mendadak kembali bangkit dari bersandarnya dan langsung berdiri. Dengan gerakan yang cepat dan tangkas, Niko cekatan mengemasi barang-barangnya. Bertepatan dengan kesibukan itu, Winda keluar dari dapur sambil membawa minuman diatas nampan. Melihat sang ‘adik’ tampan kesayangan nampak tergesa berberes, dengan segera dirinya menghampiri. “Ada apa, Nik?” tanya Winda heran sambil meletakan minuman di atas meja. “Apa yang Mbak Winda katakan tadi itu benar. Aku berpikir bahwa mungkin saja semuanya disebabkan karena terlalu sibuknya diriku dengan jalan pikiran sendiri. Sebenarnya, aku sudah membuat sebuah kesalahan kepada Gita. Tapi … bodohnya aku yang tak langsung meminta maaf padanya.” Niko menjawab pertanyaan dari Winda dengan sorot mata yang sudah berbeda. Tadinya, mata i

