"Aku ingin kau putus dari Tian.” Kalimat itu keluar begitu saja dari Alex, tanpa nada memerintah, tanpa emosi berlebihan. Justru ketenangannya yang membuat Victoria mendongak tajam. “Apa?” suaranya meninggi. “Kau bercanda?” Alex menatapnya lurus. “Tidak.” Victoria tertawa pendek, pahit. “Ini bukan urusanmu, Alex.” “Aku tahu,” jawab Alex cepat. “Tapi itu akan menyakitimu.” “Jangan sok tahu tentang hidupku,” balas Victoria. Dadanya naik turun, matanya berkilat marah. “Aku dan Tian sudah bersama lama. Aku mengenalnya jauh sebelum kau—” Dia menghentikan kalimatnya sendiri, rahangnya mengeras. “Dan aku mencintainya.” Kata itu seperti pagar. Alex tidak bereaksi. Dia hanya mengamati, bagaimana bahu Victoria tegang, bagaimana jemarinya bergetar kecil saat menggenggam tasnya, bagaimana mata

