Saat makanan datang, Victoria terdiam sejenak. Sup hangat itu beruap lembut, aromanya menenangkan. “Makan,” kata Alex lagi, lebih pelan kali ini. Victoria menurut. Sendok pertama menyentuh bibirnya, dan tanpa sadar bahunya sedikit mengendur. Rasa hangat menjalar, menenangkan bukan hanya tubuhnya, tapi juga pikirannya yang sejak siang penuh tekanan. Alex memperhatikannya tanpa bicara. Dia makan seperlunya, lebih banyak mengamati cara Victoria meniup supnya pelan, cara alisnya mengendur ketika rasa hangat itu masuk. “Kau terlalu memaksakan diri hari ini,” ujar Alex akhirnya. Victoria berhenti mengaduk supnya. “Proyeknya hampir selesai. Aku nggak mau ada yang tertinggal.” Alex menatapnya lama, tatapannya tak lagi dingin seperti biasanya. “Dan kau pikir aku akan membiarkan penanggung j

