Alex berdiri setelah memastikan tidak ada luka lain. Wajahnya masih tegang, sorot matanya jelas tidak setuju dengan apa pun yang akan keluar dari mulut Victoria selanjutnya. “Kita pulang,” katanya singkat, nyaris tanpa jeda. “Surveinya cukup sampai sini.” Victoria mengernyit. Dia mencoba berdiri, sedikit tertatih, tapi masih mampu menopang tubuhnya. “Nggak,” bantahnya langsung. “Masih ada dua titik lagi yang harus dicek.” “Victoria.” Nama itu keluar lebih keras dari biasanya. “Kakimu keseleo.” “Sedikit,” sahutnya cepat. “Bukan patah, bukan berdarah parah. Aku masih bisa jalan.” Alex menatapnya tajam, seakan sedang menimbang apakah dia perlu memaksa. Tangannya refleks meraih lengan Victoria, menahan gadis itu agar tidak melangkah terlalu cepat. “Ini bukan soal bisa atau tidak,” ucapny

