36

1184 Words

Victoria melangkah keluar dari ruang rapat dengan napas tertahan. Suasana dingin yang diberikan Alex di ruang rapat masih melekat di kulitnya seperti bayangan hitam yang mengikuti dari belakang. Semua orang bergerak dengan hati-hati, seolah satu langkah salah bisa membuat direktur itu menjatuhkan keputusan baru yang lebih menegangkan. Victoria memeluk tablet kerjanya, menatap angka-angka yang baru saja dipresentasikan. Namun pikirannya masih tertinggal pada sosok Alex yang sejak awal rapat tidak mengeluarkan satu kata pun, dan itu jauh lebih menakutkan daripada ketika Alex meledak marah. “Vic?” panggil salah satu staf lantai 10 dengan suara hati-hati saat dia lewat. “Apakah rapatnya berjalan lancar?” tanyanya ingin tahu. Victoria hanya tersenyum tipis. “Direktur Alex yang memutuskan har

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD