Ruang kerja Alex, suasana tegang, dingin, dan penuh tekanan. Rana masuk tanpa mengetuk, seperti biasanya, bahkan tidak peduli di ruangan itu sedang melakukan rapat atau tidak, dia selalu datang begitu saja seakan dia adalah nyonya, meski kenyataannya begitu. Gaun apa saja yang dia kenakan kontras dengan aura kelam ruangan itu. Alex berdiri di depan jendela, memeriksa laporan di ponselnya. Tanpa menoleh, Alex sudah tahu apa yang akan Rana lakukan. Nada suaranya datar, nyaris seperti bilah es. “Rana.” Wanita itu tersenyum kecil, sok lembut. “Kau bahkan tidak melihatku? Sudah lama kita tidak—” “Jawab dulu.” Alex menurunkan ponsel, tatapannya tajam. “Kenapa kau ada di sini?” Rana mendekat dua langkah. “Astaga, Alex. Ini kantor, bukan penjara. Aku datang untuk—” “Aku tidak tanya tempat

