27

1065 Words

Alex sudah duduk di ruangannya sejak setengah jam lalu, meski rapat internal barusan selesai. Meja kerjanya rapi, monitor masih menyala menampilkan grafik progres proyek, tapi pikirannya tidak berada di sana. Tangannya mengetuk-ngetuk meja pelan, ritmenya tidak beraturan pertanda bahwa dia sedang gelisah, atau lebih tepatnya, tidak sabar. Dia melirik jam di pergelangan tangan. Victoria harusnya sudah hampir selesai. Tidak biasanya dia menunggu laporan seseorang dengan perasaan seperti ini. Biasanya staf-nya yang menunggu dia, bukan sebaliknya. Alex mengalihkan pandangan ke pintu ruangannya, berharap melihat bayangan tubuh ramping itu muncul. Kecepatannya menoleh setiap kali ada suara langkah di luar seperti orang yang sedang menunggu seseorang, bukan bos besar yang dikenal dingin dan tak

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD