Mereka duduk, atau nyaris terjatuh, di sana. Ciuman itu berlanjut, lebih dalam namun tetap terjaga, napas mereka saling berbagi, d**a naik turun bersamaan. Alex menahan wajah Victoria dengan kedua tangannya, ibu jarinya menyentuh pipi gadis itu dengan lembut yang bertolak belakang dengan gejolak di matanya. Victoria merespons tanpa kata, jarinya mencengkeram jas Alex, bukan menarik, tapi berpegangan, seperti seseorang yang takut tenggelam dan menemukan satu-satunya pegangan. Di sela ciuman itu, ada air mata yang lolos, hangat, membasahi kulit. Alex merasakannya. Dan di sanalah, di atas sofa itu, dengan napas tersengal dan hati yang sama-sama compang-camping, Alex akhirnya menyadari satu hal yang tak bisa lagi dia bantah ini bukan sekadar pelampiasan. Ini adalah dua orang yang sama-sama t

