“Dengarkan aku,” katanya, jelas dan tanpa celah. “Tidak ada siapa pun yang akan menyentuhmu. Tidak hari ini. Tidak akan pernah.” Victoria mengangkat wajahnya, menatapnya dengan mata yang basah dan lelah. Malam itu napasnya terasa sedikit lebih teratur. Alex berdiri, menoleh ke petugas keamanan. “Tolong tunggu di luar,” katanya singkat. Pintu ditutup kembali. Dia kembali menghadap Victoria. “Kau ikut aku malam ini,” ujarnya, bukan perintah, bukan paksaan. “Bukan untuk kabur. Untuk aman.” Victoria terdiam. Lama. Lalu mengangguk pelan. Apartemen itu sunyi. Bukan sunyi yang menenangkan, melainkan sunyi yang seperti sudah terlalu lama terbiasa dengan satu napas saja, napas Alex. Tempat itu memang diciptakan untuk kesendirian. Tidak ada foto, tidak ada barang yang diletakkan sembarangan.

