Bab 14. Pura-pura Khawatir

1062 Words
Leon bangun lebih pagi. Hari ini ada rapat penting dengan para petinggi, dan dia ingin membahas hal itu dengan ayahnya. Keinginan Sera untuk ikut serta dalam rapat itu harus dia sampaikan. Ayahnya harus tahu agar tidak menyalahkannya nanti seandainya Sera melakukan sesuatu yang memalukan di rapat itu nanti. Dan yeah, dia memang berniat mempermalukan Sera. Dengan sikap Sera yang manja dan penuh amarah, dia bisa membayangkan bagaimana gadis itu mempermalukan dirinya sendiri nanti. “Pagi, Mom,” Leon menyapa ibunya yang sedang sendirian di dapur, “Mana Daddy, apa dia belum bangun?” “Tentu saja sudah. Sebentar lagi dia akan keluar. Kenapa? Apa ada yang ingin kau bicarakan?” “Ya. Aku memang ingin membicarakan hal penting dengannya.” Ibunya tersenyum lembut, “Duduklah. Mommy akan membuatkan kopi untukmu.” Leon mengangguk. Melangkah mendekat. Ibunya menarikan kursi untuknya. Baginya Leon adalah putranya, dia tidak pernah membeda-bedakan antara Leon dan Sera. Mereka bahkan keberatan saat tahu Leon dan Sera memiliki perasaan, karena dia dan suaminya ingin mereka tetap menjadi saudara tapi apalah daya. “Mana Sera? Apa dia belum bangun?” “Entahlah, Mommy akan memanggilnya nanti,” Martha meletakkan segelas kopi juga sepotong roti. “Bagaimana, Leon? Apa Sera bisa melakukan pekerjaannya?” “Dia harus belajar, Mom. Tapi dia justru pergi kemarin karena ada butik baru padahal aku sudah ingin mengajarinya.” “Ck, anak itu selalu saja bermain-main!” Martha kembali membuat kopi, “Padahal kami sudah senang dengan niatnya, tapi sepertinya kami memang hanya bisa mengandalkan dirimu.” Leon tersenyum tipis secara diam-diam. Memang itulah yang dia harapkan. Mereka memang harus mengandalkan dirinya karena perusahaan itu akan menjadi miliknya kelak. “Biarkan saja, Mom,” ucapnya dengan tenang, “Kita semua tahu, Sera selalu berubah pikiran, melakukan apa yang dia mau. Dan Mommy tidak perlu cemas, aku akan tetap mengajarinya.” Ibunya kembali tersenyum, “Kami sangat beruntung memiliki dirimu, Leon. Kalau kau tidak ada, mungkin kami akan kerepotan dengan sikap Sera yang kekanak-kanakan dan egois.” Dia kembali tersenyum secara diam-diam. Memang seperti itulah seharusnya, dan tidak sia-sia usahanya selama ini untuk mendapatkan kepercayaan dari kedua orang tuanya itu. “Tumben kau sudah bangun sepagi ini,” Henry menghampiri, sedikit terkejut mendapati putranya sudah berada di meja makan. “Pagi, Dad,” Leon menarik kursi yang ada di sampingnya, “Ada hal penting yang ingin aku bicarakan dengan Daddy.” “Hal penting apa, kenapa terlihat begitu serius?” ayahnya duduk, dia tahu Leon ingin membicarakan masalah pekerjaan. “Apa ada kendala di kantor? Atau ada investor yang ingin menarik sahamnya?” “Bukan begitu, Dad,” ekspresi wajah Leon berubah. Dia menunjukkan wajah cemas, membuat ayahnya jadi serius. “Ada apa, Leon? Kenapa kau terlihat prihatin seperti itu?” Sebelum menjawab pertanyaan ayahnya, Leon menghela nafas. “Bukan hal yang serius. Aku hanya ingin Daddy tahu, Kalau hari ini akan ada rapat penting dengan para petinggi perusahaan.” “Oh, itu bagus. Lalu kenapa kau terlihat khawatir seperti itu?” Henry mengambil gelas kopi yang baru saja diberikan oleh istrinya. “Sera bilang dia ingin mengikuti rapat,” ucap Leon tanpa basa-basi. Henry sedikit terkejut. Dia berpaling, menatap putranya sejenak. “Dia berkata seperti itu?” “Ya,” Leon kembali menghela nafasnya, “Dan aku takut dia membuat kekacauan nantinya. Aku juga khawatir kalian akan menyalahkan aku.” Dia pura-pura merasa sedih dan prihatin, seolah takut dia disalahkan nanti. Namun, reaksi yang ditunjukkan oleh ayahnya tidak sesuai dengan dugaan. Henry tertawa lalu menepuk bahunya dengan pelan. “Kau terlalu khawatir, Leon,” ucapnya di sela tawanya itu, “Sera memang memiliki sikap yang manja tapi aku yakin dia tidak akan mempermalukanmu, apalagi membuat kekacauan. Dia sendiri yang memutuskan ingin bekerja dan memutuskan untuk mengikuti rapat itu, jadi aku berharap kau mau membimbingnya supaya dia tidak melakukan kesalahan seperti yang kau khawatirkan.” “Yang Daddy katakan sangat benar,” sahut Sera. Mereka berpaling, Sera berdiri di depan pintu. Dia sudah rapi, dengan setelan sederhana berwarna biru tua. Sera menghampiri mereka dengan senyum penuh percaya diri. Dia mendengar semuanya, melihat ke pura-puraan yang ditunjukkan oleh Leon. “Sera,” Leon berdiri, “Kau sudah bangun?” “Apa yang kau khawatirkan, Leon?” dia berdiri di samping pria itu, “Apa kau pikir aku akan mempermalukan dirimu, mempermalukan diriku sendiri serta perusahaan di rapat itu nanti?” “Bukan begitu, Sera. Aku tahu kau tidak akan melakukan hal itu. Tapi karena ini pertama kali kau berada di perusahaan dan menghadiri rapat, aku cemas kau menyinggung para petinggi itu.” “Aku tidak sebodoh yang kau kira,” Sera mengibaskan rambutnya, “Dan aku tahu cara menempatkan diri dalam situasi seperti itu.” Leon tersenyum lalu memegangi tangannya. Itulah yang dia inginkan. Sera menunjukkan kepercayaan dirinya di depan kedua orang tuanya. Karena dengan begini, ayah dan ibu Sera akan menaruh harapan besar pada Sera. Dan ketika Sera membuat kekacauan nanti, maka yang ada hanyalah kekecewaan. Dengan begitu, Sera tidak akan mendapatkan kepercayaan lagi. “Aku sangat senang kau begitu percaya diri seperti ini. Tolong jangan salah paham, aku hanya berpikir kau tidak serius karena semalam kau justru pergi ke butik baru Padahal aku ingin mengajarimu.” “Kau melakukan hal itu, Sera?” ayahnya menatap tajam, “Kalau kau ingin belajar, tunjukkan dengan serius dan berhentilah bermain-main!” ucapnya tegas. Sera berusaha tersenyum. Dia tahu Leon sengaja mengatakan perkataan itu supaya dia dimarahi oleh ayahnya. “Dad, jangan marah,” Sera menghampiri ayahnya lalu memijat bahunya dengan lembut, “Ini terakhir kalinya, aku berjanji tak akan mengulanginya lagi. Aku akan belajar dengan tekun mulai hari ini, dan menunjukkan pada Daddy kalau aku pantas menggantikan Daddy.” “Henry, kita harus memberikan waktu pada Sera,” ucap istrinya dengan lembut, “Dia perlu waktu untuk belajar dan menyesuaikan diri.” “Baiklah,” Henry menepuk punggung tangan putrinya dengan lembut, “Daddy percaya padamu. Buktikan kalau kau mampu menjadi penerus Daddy.” “Itu sudah pasti,” Sera menunduk, memberikan kecupan lembut di pipi ayahnya. Leon mengepalkan tangannya di bawah meja, dan wajahnya mengeras. Semakin jelas kalau dia hanyalah alat yang dipakai oleh keluarga itu untuk mendapatkan keuntungan. Sebab dia tidak akan mendapatkan apapun, dan Sera yang akan menikmati semua hasil kerja kerasnya. Tak akan dia biarkan. Biarkan Sera tersenyum dan tertawa. Karena nanti, dia akan mempermalukannya sampai membuat Sera tidak lagi memiliki muka untuk datang ke kantor.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD