Leon melihat penampilan Sera malam itu. Dia mendengar kalau Sera mau pergi menemui sahabatnya. Tapi dia tidak tahu kalau Sera ingin pergi menemui Jarvis.
Kedua orang tuanya tidak mengatakan hal itu sesuai permintaan Sera. Mereka pikir Sera tidak mau membuat Leon cemburu.
“Kau bilang ingin pergi menemui teman, tapi kenapa penampilanmu seperti itu?” nada bicaranya penuh dengan kecurigaan.
“Ma- Malam ini acara ulang tahun sahabatku, tentu saja aku harus berpenampilan menarik,” dustanya.
“Ulang tahun?” Leon semakin curiga, “Kalau begitu kenapa kau tidak mengajak aku? Tidak biasanya kau pergi sendirian.”
“Aku bukannya tidak mau mengajakmu, Leon. Tapi karena di acara itu tidak ada yang boleh membawa lelaki jadi aku harus pergi sendiri.”
“Oh, jadi itu hanya pesta para gadis?”
“Benar sekali,” Sera menghampirinya yang sedang berdiri di ambang pintu, “Aku tidak akan pulang terlalu malam.”
“Baiklah,” Leon memeluk pinggangnya, “Jangan minum minuman keras, aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu. Hubungi aku kalau kau perlu dijemput.”
“Terima kasih telah mengingatkan, aku tidak akan melewati batas,” Sera memeluknya, “Aku akan mengundang teman-temanku ke acara ulang tahunku nanti. Kebetulan mereka sedang berkumpul di sana.”
“Lakukanlah,” Leon mengusap punggungnya, dan Tersenyum. Semakin banyak yang diundang Sera, semakin bagus. Dengan begitu, semakin banyak orang yang akan melihat kehancurannya.
Tanpa Sera sadari, dia sedang merancang kehancurannya sendiri. Dan dia yang akan menyempurnakannya.
Sera pura-pura memeluk Leon dengan penuh cinta, dan kembali memintanya untuk tidak mencemaskan dirinya.
Leon memintanya menikmati waktu, dan mengantarnya sampai di depan pintu setelah Sera berpamitan dengan kedua orang tuanya.
Sebuah mobil mewah berwarna hitam datang menjemput. Leon tidak menaruh curiga, dia pikir itu sahabat Sera.
Dia kembali ke dalam setelah Sera pergi. Biarkan gadis itu menikmati waktunya, karena sebentar lagi, Sera tidak akan bisa menikmatinya lagi.
Sera langsung diantar ke sebuah restoran. Di sana, Jarvis telah menunggunya. Pria itu sendirian, duduk dengan tenang.
Sera berhenti, melihat pria itu dari balik pintu kaca. Sebelum kejadian buruk itu menimpanya, tidak pernah terpikir sama sekali untuk mendekati pria itu apalagi menerima pinangannya.
Kabar buruk yang sering dia dengar tentang Jarvis sudah membuatnya takut. Dia pikir, pria itu hanyalah penjahat yang tidak pantas dicintai oleh siapapun apalagi olehnya.
Sera menarik nafasnya. Tidak ada yang perlu dia ragukan lagi. Dia mendorong pintu, melangkah masuk dengan wajah tegak.
Jarvis menoleh saat menyadari kehadirannya. Wajah pria itu selalu kaku dan tatapannya dingin. Tapi Sera mulai terbiasa. Mungkin, laki-laki seperti itu jauh lebih romantis.
“Maaf, aku membuatmu menunggu lagi,” ucapnya basa-basi.
“Tidak apa-apa. Aku yang ingin melakukannya dan aku memang sengaja datang lebih cepat.”
“Kenapa?” Sera memberikan mantelnya pada pelayan lalu duduk di hadapan Jarvis, “Apa di rumahmu begitu membosankan, sampai membuatmu rela datang lebih cepat dan menunggu?”
“Memang membosankan, Sera. Rumahku selalu sepi tapi setelah kita menikah nanti, maka tidak akan sepi lagi.”
Sera tersenyum, “Tapi kau tidak menikahi seekor kera, Tuan Jackson!”
“Apa aku berkata seperti itu?”
“Tidak,” Sera menggeleng, “Aku hanya bercanda saja,” rupanya pria itu bukan orang yang bisa diajak bercanda.
“Bagaimana?” Jarvis memajukan tubuhnya sedikit, lalu menumpu kedua tangan di atas meja, “Apa kau sudah berhasil menyadap ponselnya?”
“Tidak semudah yang aku bayangkan,” ucapnya sambil tersenyum.
“Sebenarnya apa yang ingin kau tahu? Kau bisa mengatakan padaku, dan aku akan membantumu dengan senang hati.”
“Terima kasih, Jarvis,” Sera melihat sekitar, “Bolehkah aku duduk di sampingmu? Aku ingin kita lebih dekat dan mengenal lebih jauh.”
“Lakukan, Sera. Tidak ada yang melarangmu.”
Setelah mendapat izin darinya, Sera berdiri. Dia mengambil kursi, lalu duduk di samping pria itu. Seperti itu jauh lebih baik. Dengan begitu mereka dapat berbicara dengan akrab.
Seorang pelayan datang untuk mencatat pesanan mereka. Sera curi-curi pandang, melirik ke arah pria itu sesekali. Banyak yang ingin dia tanyakan, tapi dia merasa canggung.
Seharusnya tidak ada yang perlu dia takutkan apalagi pria itu akan menjadi suaminya kelak.
“Hm,” Sera sedikit berdehem, untuk mencairkan suasana, “Bolehkah aku bertanya?”
“Sudah aku katakan padamu,” Jarvis memegangi tangannya, “Tanyakan apa yang ingin kau tahu, dan tidak perlu meminta izin seperti itu.”
“Terima kasih, Jarvis,” dia tersenyum canggung, “Mungkin pertanyaan ini sedikit sensitif, aku harap kau tidak marah.”
“Katakan Saja!”
“Ka- kakimu, apa yang terjadi?”
“Kecelakaan. Apa kau tak pernah mendengarnya?”
“Aku orang yang selalu berada di dalam cangkang, terbuai dengan cinta palsu sehingga tidak terlalu mengetahui dunia luar.”
Bukan itu yang ingin dia tahu. Karena yang ingin dia tahu adalah, apakah kaki Jarvis bisa sembuh atau tidak.
“Cinta palsu?” pria itu kembali memperlihatkan senyuman dinginnya, “Kau selalu mengucapkan perkataan itu. Apa kau tidak takut cinta yang akan aku berikan juga palsu?”
Sera diam, tatapan mereka bertemu. Benar, cinta pria itu sudah pasti palsu, sama seperti cinta Leon. Tapi kenapa dia justru memilih cinta palsu lainnya?
“Jawab aku, Sera?” Jarvis menarik tangannya, “Apa kau tidak takut cinta yang aku berikan juga palsu?”
Sera tertawa pelan, “Tidak!" Ucapnya tegas, “Aku tidak takut dan tidak keberatan sama sekali seandainya cinta yang kau berikan pun palsu!”
“Oh, aku tidak menyangka kau akan mengucapkan perkataan itu!”
Sera tersenyum tipis, “Setidaknya kau mengatakannya terus terang dan tidak menipuku. Aku juga sadar diri, pria seperti dirimu, tiba-tiba menginginkan aku sebagai istri sudah terasa sangat aneh.”
“Tidak ada yang aneh, aku juga tidak butuh seseorang yang memberikan aku cinta palsu. Tapi kau tak perlu khawatir, aku akan memberikan segalanya untukmu asalkan kau menjadi istri yang setia.”
Sera kembali tersenyum. Dia sudah mendengarnya, pria itu pernah mencintai seseorang tapi berakhir dengan penghianatan. Mungkin Jarvis sama seperti dirinya, tidak lagi percaya dengan cinta. Dan mungkin saja hubungan seperti itu jauh lebih baik daripada hubungan yang dipenuhi dengan kepalsuan.
“Apalagi yang ingin kau tahu? Utarakan saja!”
Serab tidak ragu, “Kau bilang kau tidak butuh seseorang yang memberikan cinta palsu, tapi aku pernah mendengar kau memiliki seseorang yang kau cintai dengan tulus. Mana dia?”
Ekspresi wajah Jarvis langsung berubah. Rahangnya mengeras, terlihat jelas kalau pertanyaan Sera telah mengorek sebuah luka yang tak ingin dia ingat apalagi dia bahas lagi.
“Hm, kalau tidak ingin kau bahas tidak apa-apa. Aku tidak akan memaksa,” ucapnya. Melihat ekspresi wajah pria itu saja sudah membuatnya takut.
“Tidak apa-apa. Tapi kau harus tahu, wanita itu telah aku tendang dari hidupku. Dan ingat baik-baik, aku benci penghianat. Aku bisa memberikan apa saja yang kau inginkan, tapi aku pun bisa mengambil semuanya darimu jadi berhati-hatilah!”
“Kau tidak perlu cemas,” Sera bersandar di lengannya. Tak menyangka pria seperti itu juga mengalami penghkianatan sama seperti dirinya. Mungkin hati mereka yang sama-sama terluka bisa saling mengobati. Dan kali ini, akan dia jadikan berbeda meski dia tidak tahu bagaimana dengan hubungan mereka nanti.