Bab 3. Hidup Kembali

1114 Words
“Sera!” Namanya kembali di panggil. Dan suara keras ketukan pintu menariknya kembali ke dalam dunia nyata. Apa yang terjadi? Bukankah dia telah mati? Bukankah Leon telah membunuhnya? Dia mencubit wajahnya sendiri. Rasanya sakit. Bertanda kalau semua itu nyata. Dia tidak sedang bermimpi, tidak juga sedang berhalusinasi. Dia yakin ada yang salah, sesuatu yang tidak dia ketahui terjadi pada dirinya. “Sera,” ibunya memanggil dengan lembut, “Sudah siang. Mau tidur sampai kapan?" “Mommy?” Sera memanggil ibunya seolah tidak percaya bahwa ibunya masih hidup. Seharusnya ibunya pun telah mati dibunuh oleh Leon. “Ya, segeralah keluar, Daddy menunggumu untuk sarapan.” “Daddy,” bisiknya pelan. Jadi kedua orang tuanya masih hidup? Sera melihat jam di dinding, pukul 08.00 pagi. Lalu dia mengambil ponselnya yang ada di atas meja. Itu hari Selasa, tanggal 17 Juni, dan dia terbangun tiga bulan sebelum hari ulang tahunnya. Tangannya turun dengan perlahan. Apakah dia hidup kembali? Apakah Tuhan memberikan kesempatan padanya untuk memperbaiki kesalahannya? Plak! Sera menepuk pipinya dengan keras. Rasanya sakit, semua itu bukan mimpi semata. Dia benar-benar hidup lagi, waktu seolah berbalik baginya. Dia kembali ke masa lalu, 3 bulan sebelum semuanya hancur. “Mom, Dad,” kedua matanya terasa panas. Sera segera melompat turun dari ranjang lalu berlari keluar. Dia menuruni anak tangga dengan terburu-buru. Dan di sana, di meja makan, ayahnya sedang duduk, menikmati segelas kopi sambil membaca sebuah majalah seperti yang biasa dia lakukan. Dan ibunya sedang sibuk mmengoles roti. Lutut Sera terasa lemas. Tubuhnya bergetar dan air matanya pun jatuh. Mereka masih hidup, ayah dan ibunya masih hidup. Menyadari keberadaannya, Henry menurunkan majalahnya. “Apa yang kau lakukan di sana, Sera? Kenapa kau hanya berdiri saja?” tanya ayahnya. “Kemarilah, Mommy sudah oleskan roti untukmu,” ucap ibunya dengan lembut. Sera menggigit bibir. Dan tanpa berkata apa-apa, dia langsung berlari menghampiri ibunya lalu memeluknya dengan erat. Tangisannya pecah, kedua orang tuanya tampak bingung karena keadaannya itu. “Syukurlah kalian masih hidup, syukurlah,” ucapnya penuh kelegaan. “Kenapa kau berbicara seperti itu? Apa kau bermimpi buruk?” ibunya tampak bingung. “Ya, aku bermimpi. Mimpi yang sangat buruk dan aku sangat senang kalian masih hidup, masih bersama denganku.” Ibunya tersenyum, mengusap punggungnya dengan perlahan. “Itu hanya sebuah mimpi saja, sayang. Tidak perlu kau pikirkan.” “Tolong katakan jika semua ini nyata, Mom? Katakan padaku bahwa aku tidak sedang bermimpi?” Martha dan suaminya saling pandang. Mereka tidak mengerti kenapa Putri mereka berbicara seperti itu. “Mom, apa aku sedang bermimpi?” Sera melepaskan pelukan lalu menatap ibunya dengan lekat. “Tentu saja tidak,” Martha mengusap wajah putrinya, “Tolong jangan membuat kami bingung seperti ini.” “Aku... aku benar-benar lega,” dia kembali memeluk ibunya, seolah takut kalau semua itu akan hilang. “Sudah, bukankah itu hanya mimpi? Kemarilah, ada hal penting yang hendak kami bicarakan denganmu.” Sera mengangguk. Dia melihat sekitar, mencari keberadaan Leon. “Mom, Leon pergi ke mana?” “Dia sudah pergi. Katanya ingin menyiapkan pesta ulang tahun untukmu." “Aku... aku sudah tidak menginginkannya,” keputusan yang tiba-tiba itu membuat ayah dan ibunya terkejut. “Kenapa?” tanya ibunya dengan ekspresi heran, “Bukankah kau sangat menantikan acara ulang tahunmu kali ini?" “Tidak lagi mengharapkannya, Mom,” Sera menggeleng pelan, “Aku tidak mau acara ulang tahunku dirayakan. Aku hanya ingin menghabiskan waktu dengan kalian di rumah.” Jika memang ini adalah kesempatan keduanya, maka dia tidak boleh menyia-nyiakannya. Dia tidak boleh mengulangi kejadian yang sama. “Ada apa denganmu?” tanya ayahnya, “Kenapa jadi berubah pikiran seperti ini?” “Sera, tidak ada yang mengintimidasi dirimu, kan?” ibunya terlihat cemas dan khawatir. Sera menggeleng dan tersenyum lembut, “Tidak ada yang melakukan hal itu, Mom. Aku hanya tidak mau merayakan acara ulang tahunku saja.” “Lalu bagaimana dengan rencanamu, bukankah kau ingin mengumumkan pertunanganmu dengan Leon? Bukankah kau menantikan acara ulang tahun itu untuk melakukannya?” Sera menunduk dan menggigit bibir. Kalau dia mengatakan pada ayah dan ibunya, bahwa Leon hanya memanfaatkan mereka. Apakah mereka akan percaya? Kalau dia mengatakan pada kedua orang tuanya, kalau dia telah mati dan hidup lagi, kalau kedua orang tuanya telah mati dibunuh oleh Leon, dan seluruh harta mereka diambil oleh Leon, apakah mereka akan percaya? Tidak. Tanpa adanya bukti, kedua orang tuanya tidak mungkin percaya apalagi mereka sangat menyayangi Leon. Mengatakan hal itu sama saja memperburuk keadaan, dan kedua orang tuanya bisa menganggap dirinya sedang menyebar fitnah. “Ada apa?" Ibunya menggenggam tangannya, “Bukankah itu yang kau nantikan selama ini?” “Sudah tidak lagi. Aku tidak mau mengumumkan pertunanganku dengan Leon.” Lagi-lagi perkataan itu mengejutkan kedua orang tuanya. “Kenapa?” tanya ayah dan ibunya secara bersamaan. Sera menghela nafas, “Dad, aku terima pinangan itu." “Apa?” kedua orang tuanya kembali terkejut. Sera tersenyum tipis, “Bukankah Daddy berkata Jarvis Jackson ingin menikahiku? Dia belum berubah pikiran, kan?” “Sera, Daddy benar-benar tidak mengerti dengan apa yang terjadi denganmu. Bukankah selama ini kau menolak keras dengan pinangan itu? Bukankah hanya Leon saja yang kau inginkan?” “Ya, tapi sekarang aku berubah pikiran. Aku akan menerima permintaan Jarvis.” Tak hentinya ayah dan ibunya daling pandang. Tidak mengerti dengan perubahan yang terjadi pada putri mereka. Kenapa begitu tiba-tiba? Kenapa dia tak mau lagi bersama Leon? Padahal dia begitu mencintainya, dan kenapa tiba-tiba dia mau menerima pinangan dari Jarvis? Laki-laki yang tidak dia sukai, mafia cacat yang duduk di kursi roda itu? Apa sebenarnya yang telah terjadi sampai membuat Putri mereka berubah pikiran dalam waktu singkat? “Dad, aku melakukan hal ini untuk kebaikan kita. Aku tidak lagi mencintai Leon, dan sepertinya Jarvis tidak terlalu buruk.” Dengan bersama pria itu, dia dapat mencegah apa yang terjadi dan dia dapat membalas Leon. Kali ini tidak akan dia biarkan Leon mendapatkan apapun, bahkan satu peser pun tidak. Dan dia tahu hanya Jarvis Jackson saja yang dapat membantunya. Sekarang, menikah dengan pria itu bukan sebuah kehancuran. Melainkan untuk keselamatan keluarganya. Henry menghembuskan nafas, “Baiklah, Daddy akan menghubunginya nanti. Dan menerima permintaannya. Tapi bagaimana dengan Leon? Dia tidak mungkin menerima keputusanmu yang tiba-tiba ini?” “Aku yang akan menjelaskan padanya nanti. Mulai sekarang, aku harap Daddy dan Mommy tidak lagi mempercayai Leon secara berlebihan.” “Daddy benar-benar tidak mengerti kenapa kau berubah seperti ini. Tapi dia kakakmu, tidak baik berkata seperti itu.” Sera tersenyum tipis, sudah dia duga ayahnya tidak akan percaya. “Aku hanya merasa bodoh selama ini. Dan sekarang aku ingin mengambil keputusan tepat dalam hidupku.” Leon, laki-laki tidak tahu diri itu akan dia tendang kembali ke jalanan. Karena dia memang lebih pantas berada di sana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD