Bab 4. Jarvis Jackson

1040 Words
Sera telah pergi ketika Henry memutuskan untuk menghubungi Jarvis. Dia sempat ragu untuk melakukannya. Dia pikir putrinya hanya bercanda saja, tidak serius untuk menerima permintaan dari Jarvis Jackson. Semua orang tahu Cinta Sera habis untuk Leon. Tidak pernah satu kali pun dia mau dekat dengan pria lain, dan menerima cinta dari pria manapun. Tapi keputusannya yang tiba-tiba itu? Permintaan itu sudah mereka tolak berkali-kali, tapi Jarvis tak henti memerintahkan anak buahnya untuk menghubunginya. Meski tidak jelas alasan Jarvis menginginkan putrinya dan sekarang, dia harus bernegosiasi dengan pria itu seandainya Jarvis menolak. Semua itu sesuai dengan permintaan putrinya yang tiba-tiba saja berubah dalam satu malam. Henry menghela nafas. Dia harap, Sera tidak berubah pikiran lagi setelah dia menghubungi Jarvis. Pria itu pasti akan marah, menganggap mereka mempermainkannya. Dan terus terang saja, sesungguhnya dia tidak begitu senang dengan keputusan Sera. Beberapa nomor di tekan. Dadanya berdebar seolah-olah dia sedang menghadapi sebuah persidangan. *** Sementara itu di tempat lain. Di sebuah gedung perkantoran yang berlapis kaca gelap, Jarvis Jackson duduk menghadap jendela. Tatapannya tertuju pada luar jendela, segelas minuman berada di tangannya. Tubuhnya tegap dari pinggang ke atas, bahu lebar terbungkus setelan hitam yang dijahit sempurna mengikuti postur tubuhnya. Wajahnya tegas, rahang kokoh dengan garis luka tipis yang memanjang dari pelipis kiri hingga mendekati tulang pipi. Bekas masa lalu yang tidak pernah ia sembunyikan. Rambutnya hitam pekat, disisir rapi ke belakang, menambah kesan dingin dan berwibawa. Jarvis duduk di kursi roda khusus berwarna hitam. Kedua kakinya terbalut kain hitam, tak bergerak sama sekali. Sejak insiden pada malam itu, kecelakaan hebat yang dia alami, semua orang mengenalnya sebagai mafia cacat. Tapi tak ada satupun yang berani dengannya. Kekuasaan, anak buah, semua ada dalam kendalinya. Pengaruh keluarganya pun membuat sebagaian dari mereka segan. Suara telepon berbunyi, Jarvis tidak berpaling. Dia menikmati minumannya dengan tenang. Asistennya yang sedari tadi berada di belakang menjawab panggilan itu. “Ya?” Hening sejenak, “Oh, Tuan Broklyn rupanya. Apa ada yang bisa aku bantu?” Begitu nama itu disebut barulah Jarvis berpaling. Henry Broklyn, untuk apa pria itu menghubunginya? “Tentu saja. Bos saya ada di sini,” sang asisten memandang ke arah Jarvis. Dan tanpa bertanya, Jarvis mendekat. Gagang telepon berpindah tangan, asistennya kembali menyibukkan diri, memeriksa dokumen yang harus dia selesaikan. Jervis menempelkan telepon ke telinganya tapi dia tidak berkata apa-apa. Ayah Sera semakin gugup saat mendengar hembusan napas kasar pria itu. “Maaf telah mengganggu waktumu, Tuan Jackson,” ucapnya akhirnya meski suaranya terdengar gugup. “Aku hanya ingin mendengar kabar baik. Jangan basa-basi dan membuang waktuku!” suaranya tenang tapi berbahaya. Tanpa Henry inginkan, keringat dingin membasahi telapak tangannya. Dia kembali ragu dan bertanya, apakah keputusan putrinya untuk menikah dengan pria itu sudah benar? “Aku... aku hanya ingin tahu apakah kau masih menginginkan putriku atau tidak?” Senyum tipis melengkung di bibir Jarvis. Itulah yang dia tunggu selama ini, jawaban atas permintaannya, karena dia hanya menginginkan Sera Broklyn. “Kenapa tiba-tiba saja berubah pikiran?Apakah kalian menerima permintaan ini karena berada dalam masalah?” “Tuan Jackson, kalau memang seperti itu, aku yakin kau pasti sudah tahu. Tapi keputusan ini putriku yang buat, tanpa ada paksaan dari siapapun. Aku sendiri terkejut.” “Putrimu?” senyum tipisnya berubah menjadi seringai berberbahaya, “Bukankah dia begitu mencintai Putra angkatmu itu? Bukankah dia selalu menolak? Tapi kenapa tiba-tiba dia menerima lamaranku?” “Aku... Aku tidak tahu!” “Jangan kau kira aku bodoh, Tuan Broklyn. Keputusan tiba-tiba ini sangat mencurigakan. Jangan coba-coba mempermainkan aku hanya karena aku menginginkan putrimu.” Henry menghela nafas berat, “Tidak ada yang berani mempermainkan Tuan Jackson apalagi kami. Aku pun tidak tahu kenapa Sera tiba-tiba berubah pikiran, mau menerima lamaran darimu. Jika memang Tuan Jackson ingin tahu, aku rasa lebih baik kalian berdua bertemu untuk membicarakan hal ini. Semua keputusan ada padamu.” Hening sejenak, tidak ada jawaban dari Jarvis. Henry menunggu dengan jantung berdegup cepat. Pria itu mau menerima atau tidak, dia akan menerima apapun hasilnya. “Baiklah,” ucap Jarvis akhirnya, “Besok malam, aku akan mengutus seseorang untuk menjemput putrimu. Persiapkan saja dirinya dan ingat baik-baik,” nada bicaranya berubah, penuh tekanan dan ancaman lagi. “Jika kalian memanfaatkan aku, dengan tujuan apa pun. Maka aku tidak akan tinggal diam. Aku akan menghancurkan semua yang kalian miliki. Dan putrimu itu akan aku lempar pada para musuhku untuk memuaskan mereka.” Henry menelan ludah. Resiko yang sangat besar dan berbahaya. Tapi dia yakin tidak ada niat terselubung dari putrinya, meskipun dia sangat was-was dan tak yakin. Sebelum dia mengucapkan sesuatu, panggilan diakhiri. Hanya berbicara dengan pria itu saja sudah membuat lututnya lemas. Padahal dia sudah sangat senang putrinya menolak permintaan Jarvis Jackson, tapi sekarang entah apa yang dipikirkan oleh Sera. Mereka harus menghadapi pria paling berbahaya di kota itu. Dengan tangan gemetar, Henry menghubungi putrinya untuk memberi kabar. Tidak lama kemudian terdengar suara Sera, dia terdengar penuh antusias seolah dia sudah tahu kalau ayahnya telah menghubungi Jarvis Jackson. “Bagaimana, Dad? Apa kau sudah menghubungi pria itu?” “Sera, Daddy sangat berharap kau mengubah pikiranmu lagi dan tidak bermain-main dengan hal ini.” “Tidak, Dad. Aku telah mengambil keputusan yang benar. Aku tidak akan mengubah keputusanku.” “Sebenarnya ada apa denganmu? Apa kau dan Leon sedang bertengkar sehingga kau mengambil keputusan gila ini? Apa dia telah menyakiti hatimu?” “Kami tidak bertengkar,” jawab Sera tegas, “Aku hanya merasa bodoh karena telah mencintai dirinya. Dan sekarang aku tidak ingin menjadi gadis bodoh lagi. Katakan padaku, apakah dia masih menginginkan aku menjadi istrinya?” Henry menghembuskan nafas, “Besok malam, dia ingin bertemu denganmu.” “Baiklah, Dad. Terima kasih,” Sera menutup telepon. Senyuman melengkung di bibir. Pria itu, setidaknya belum berubah pikiran. Dan besok, akan dia tunjukkan keseriusannya kalau dia bersedia menikah dengannya. Sera turun dari mobil, menatap gedung perkantoran yang berdiri kokoh di hadapannya. Di sana, Leon sedang menjalankan bisnis keluarganya. Selama ini mereka membiarkan Leon bertindak sesuka hati, mengambil semua kendali. Mereka mempercayai Leon sepenuhnya tapi sekarang kepercayaan itu sudah tak ada lagi. Sera melangkah dengan wajah tegak. Leon dan wanita simpanannya itu, akan dia balas berkali lipat apa yang telah mereka lakukan di masa lalu. Sekalipun dia harus mengorbankan hidupnya dengan menikahi Jarvis Jackson, asalkan keluarganya selamat, dia rela.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD