Bab 23. Hanya Kau Yang Penting

1096 Words
Semua barang-barang yang diberikan oleh Jarvis berada di atas meja yang ada di samping tempat tidur. Semua barang-barang itu diantarkan oleh pelayan sesuai perintah ibunya. Mereka tidak berhak menyentuh benda-benda itu sekalipun akan dikembalikan nantinya. Begitu membuka mata, yang Sera lihat adalah kotak beludru yang bertumpuk rapi. Dia tahu itu barang-barang yang diberikan oleh Jarvis, tapi dia tidak tahu apa isinya karena dia belum melihatnya. Dengan perlahan, Sera duduk di sisi ranjang. Dia mengambil salah satu kotak itu, membukanya dan terkejut saat melihat satu set perhiasan berada di dalam sana. Matanya berbinar. Dan dengan perlahan, Sera menyentuh perhiasan mahal yang berkilau itu. “Kau gila, Jarvis,” kotak ditutup, Sera mengambil yang lainnya. Dia kembali terkejut saat melihat perhiasan lainnya. Beberapa kotak lain pun dia buka dan lagi-lagi dia dikejutkan dengan tumpukan uang yang ada dalam sebuah koper kecil. “Kau benar-benar gila!” gumamnya. Tidak menduga pria itu akan membawa perhiasan mahal sebanyak itu padahal Jarvis belum mendapat kepastian meskipun dia telah memutuskan untuk memilihnya. Pantas saja Leon ingin mengembalikannya. Mungkin pria itu iri karena tidak bisa memberikan barang semewah dan sebanyak itu. Hari baru, dia harus lebih bersemangat. Apalagi hari ini dia akan bertemu Jarvis. Sera keluar dari kamar. Leon sudah berada di meja makan bersama kedua orang tuanya. “Pagi, sayang,” sapa ibunya. “Pagi, Mom,” Sera menghampiri ibunya, memberikan ciuman di pipi. “Semua barang yang diberikan oleh Jarvis ada di atas meja. Kau sudah melihatnya, kan?” “Ya, semua barang-barang itu terlihat begitu luar biasa. Semua perhiasan itu, aku yakin bukan barang murah!” “Lalu kenapa?” sahut Leon, “Bukankah aku sudah bilang harus dikembalikan? Jangan katakan kau berniat menyimpan semua barang-barang itu!” “Mengembalikan barang-barang yang dia berikan, aku khawatir akan menyinggung dirinya.” “Sera,” Leon menatap tajam, “Aku harap kau tidak silau dengan uang dan semua perhiasan itu!” Sera tersenyum, lalu menghampirinya. Dia memeluk Leon dari belakang, seperti yang biasa dia lakukan. “Leon, kenapa kau tidak mengembalikan semua barang-barang itu? Seharusnya, setelah kau menolak, semua barang-barang itu bisa langsung kau kembalikan.” “Benar, Kenapa tidak kau kembalikan?” tanya ayah mereka. “Bukankah sudah aku katakan semalam? Aku bukannya tidak mau mengembalikannya, Dad. Tapi Jarvis menolak dan berkata, hadiah itu untuk Sera. Dia ingin Sera yang menyimpannya.” “Kalau begitu, bukankah dia akan marah dan tersinggung?” Sera melepaskan pelukannya, “Dia sudah menolak, tapi kita bersikeras mengembalikan. Aku khawatir apa yang kita lakukan akan menyinggung dan melukai martabatnya. Jangan sampai dia marah lalu membuat kita berada dalam masalah.” “Yang Sera katakan sangat benar,” Martha meletakkan segelas s**u untuk putrinya. “Sebelum mengembalikannya, lebih baik Sera pergi menemuinya dan membicarakan hal itu baik-baik. Setelah dia menerima penolakan Sera barulah kita kembalikan. Bukankah seperti itu lebih baik?” “Tapi, Mom—” “Leon,” Ayahnya menyela, “Yang ibumu katakan sangat benar. Biarkan Sera pergi menemuinya secara pribadi agar tidak menyinggungnya. Kalau kau pergi dengannya, takutnya menyinggung.” Leon mengepalkan kedua tangan di bawah meja. Sial. Kenapa mereka Justru mendukung keputusan Sera? Sera tersenyum, meneguk susunya dengan santai. Apa Leon pikir dia bodoh? “Leon, Kau tidak perlu cemas,” Sera memegangi tangannya, dan pura-pura prihatin, “Aku akan menolaknya dengan cara baik-baik.” “Bukan begitu, Sera,” Leon memijit pelipis, “Aku hanya khawatir.” Tangan Sera digenggam balik, “Dia tahu kalau kita saling mencintai dan kau menolaknya karena itu. Aku khawatir dia justru menghasutmu, mengatakan sesuatu untuk menghancurkan hubungan kita supaya kau berpaling dariku dan lebih memilih dirinya.” “Apa dia akan melakukan hal seperti itu?” “Percayalah. Laki-laki yang telah ditolak, dia akan melakukan segala cara untuk mempertahankan harga diri. Aku harap kau tidak mempercayai apa yang dia katakan.” “Kau tidak perlu khawatir, dari dulu sampai sekarang tidak ada yang bisa menghancurkan hubungan kita,” Sera tersenyum. “Bagus, Leon,” batinnya, “Aktingmu sungguh luar biasa untuk menutupi kebusukanmu itu. Sungguh menjijikkan.” Mesti ada sedikit rasa cemas, tapi Leon percaya kalau Sera tidak akan berpaling darinya. “Kalau begitu aku akan pergi menemuinya hari ini juga,” ucap Sera basa-basi. “Aku akan mengantarmu.” “Tidak perlu, Leon. Aku tahu kau sibuk, dan mungkin saja ada hal penting yang harus kau lakukan.” “Tidak ada yang lebih penting dibandingkan dirimu, Sera. Aku akan tetap mengantarmu.” “Baiklah,” Sera kembali tersenyum walaupun dia tampak muak. Tidak ada yang lebih penting, katanya? Rasanya ingin tertawa mendengar semua tipuan itu. Kalau dia begitu penting bagi Leon, lalu bagaimana dengan wanita selingkuhannya? Hanya butuh waktu, dia pastikan akan membongkar identitas wanita itu. Siapapun dia, tidak akan dia beri kesempatan. Melihat keakraban mereka, tidak ada yang mencurigakan meskipun kedua orang tuanya sempat bingung dengan keinginan Sera waktu itu. Tapi sekarang mereka menganggap Sera hanya bercanda saja karena marah dengan Leon. Setelah sarapan, Leon mengantarnya dan kali ini Sera tidak menolak. Mereka pergi ke perusahaan Jarvis, hanya di sana saja Sera bisa bertemu dengannya. Dan kebetulan, Leon juga ada janji dengan Alexa. Kesempatan itu akan dia pergunakan untuk menemui kekasihnya itu. “Apa kau yakin tidak perlu aku temani, Sera?” itu hanya basa-basi supaya Sera melihat kalau dia begitu peduli. “Aku yakin, Leon. Hanya menghadapi pria itu, kau tidak perlu cemas. Asalkan aku berbicara baik-baik dengannya, maka semuanya akan selesai.” “Aku percaya denganmu, Sayang,” Leon mengecup dahinya. Tangannya bergerak turun, mengusap wajah Sera. Mereka saling menatap dan dengan perlahan, Leon mendekatkan bibir mereka. Jantung Sera berdegup, “Aku tidak suka kau disentuh oleh laki-laki itu lagi!” tiba-tiba perkataan Jarvis teringat. Refleks, Sera langsung memalingkan wajahnya. Leon tersentak, Sera tak pernah menolaknya. “Kenapa? Apa sekarang di cium pun sudah tidak mau?” “Jangan salah paham, Leon,” Sera kembali berpaling dan menatapnya, “Aku sedang sariawan, bukannya tidak mau di cium olehmu.” “Benar?” “Untuk apa aku berbohong? Mulutku sakit sejak semalam.” “Baiklah,” Leon mengecup dahinya, “Hubungi aku kalau sudah selesai. Aku akan menjemputmu.” “Terima kasih,” Sera memeluknya, “Aku pasti akan menyelesaikan ini,” yang dia maksud adalah menyelesaikan Leon. Tanpa menunggu jawaban, Sera turun dari mobil. Leon memandanginya sejenak. Wanita yang benar-benar bodoh. Seandainya Sera mau menerima Jarvis? Maka habislah dia. Tapi beruntungnya Sera masih mempercayai cintanya. Sekarang waktunya pergi, Leon menjalankan mobilnya. Sera masih berdiri di sisi jalan, melambai padanya. Dan begitu Mobil Leon sudah tidak terlihat, Sera berbalik dan mengibaskan rambutnya. Pria itu, akan segera dia tendang dari hidupnya dan dari keluarganya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD