Bab 22. Cukup Puas

1047 Words
Segelas minuman diteguk sampai habis ketika pintu kamarnya diketuk. Kalau bukan Sera, pasti kedua orang tuanya yang menyebalkan itu. Mereka hanya tahu mengandalkan dirinya saja, dan mereka tidak tahu bagaimana keadaannya tadi menghadapi Jarvis. Tapi beruntunglah, dia dapat mengendalikan situasi. “Leon, bisa kita bicara sebentar?” Panggil ayahnya. Leon tersenyum tipis, sudah dia duga si tua bangka itu. Gelas diletakkan ke atas meja, Leon segera keluar dari ruangan. Sera berada di sana bersama kedua orang tuanya, ekspresi wajahnya menunjukkan kecemasan, begitu juga dengan ibunya. “Leon,” Sera melangkah maju, “Sebenarnya apa yang kalian bicarakan? Apa kau bisa memberitahu kami?” “Kau tidak perlu khawatir,” Leon memegangi kedua tangannya, “Bukankah aku telah berhasil membuatnya pergi tanpa memaksamu untuk menikah dengannya? Aku rasa itu sudah cukup untuk membuatnya mundur.” “Tapi dia berkata akan kembali lagi,” ucap ibunya yang terlihat panik, “Dan dia terlihat semakin serius saja.” “Kalian tidak perlu khawatir. Laki-laki yang sudah kalah pasti akan menjaga gengsinya. Dia berkata seperti itu karena dia malu telah gagal meminang Sera. Percayalah, dia tidak akan pernah kembali lagi!” akan dia pastikan itu, dan dia percaya Sera tidak akan pernah memilih pria itu. “Syukurlah," Martha terlihat begitu lega, “Kau telah menyelamatkan adikmu dari tangan pria itu, Leon. Mommy tidak tahu bagaimana dengan nasib Sera seandainya kau tidak ada.” “Mom, Sera tidak saja adikku, tapi dia juga wanita yang begitu berharga dan berarti bagiku. Aku tidak mungkin membiarkan pria seperti Jarvis mengambilnya dariku.” “Terima kasih, Leon,” Sera melompat ke dalam pelukannya, seolah-olah dia merasa begitu lega dengan perjuangan Leon yang telah mempertahankan dirinya. “Sudahlah,” Leon mengusap punggungnya dengan lembut, “Yang penting malam ini kita telah berhasil menyingkirkannya. Dan semua barang-barang yang dia berikan, aku rasa harus segera dikembalikan,” dengan begitu Jarvis akan malu karena Sera tidak menerima barang-barang pemberiannya itu. “Daddy yang akan pergi menemuinya besok, dan mengembalikan semua barang-barang itu.” “Tidak, Dad,” tolaknya, “Biarkan aku dan Sera yang pergi.” Sera tersenyum, apakah Leon ingin memastikan apakah dia akan mengembalikan barang-barang itu atau tidak? Ataukah Leon takut dia tidak melakukannya? Permainan itu semakin menarik saja. Dia tidak akan melewatkan setiap detiknya. “Pergilah beristirahat, tidak perlu lagi memikirkan hal ini.” “Terima kasih,” Sera memberikan sebuah ciuman di pipinya supaya Leon semakin yakin dengan sandiwara yang sedang dia mainkan. Kedua orang tuanya tersenyum melihat itu. Mereka merasa sangat lega. Dibandingkan Jarvis, mereka merasa Leon jauh lebih baik. Leon telah mereka didik sejak kecil, memiliki perilaku baik dan bertanggung jawab. Dan Sera akan lebih aman bersama dengannya dibandingkan Jarvis yang terkenal sebagai penjahat itu. Tidak saja statusnya yang tidak mereka sukai, reputasi Jarvis juga tidak mereka sukai sama sekali. Apalagi reputasinya dengan pard wanita, Dia terkenal sebagai pria yang suka mempermainkan hati wanita Sebagai orang tua, mereka tidak rela Sera jatuh ke pelukan laki-laki seperti itu dan Leon berpuluh-puluh kali lipat jauh lebih baik dibandingkan Jarvis. Apalagi mereka tahu, selama ini Leon tidak pernah dekat dengan wanita manapun selain cintanya terhadap Sera. Malam itu kedua orang tua Sera pikir mereka telah melewatinya dengan damai karena Leon telah berhasil membuat Jarvis pergi. Tapi mereka tidak pernah tahu kalau putrinya dipermalukan oleh orang yang mereka percaya selama ini. Leon kembali ke dalam kamar, menarik napas lega. Senyum puas terukir di wajahnya. “Kau tidak akan pernah bisa mengambilnya dariku, Jarvis. Wanita itu, cintanya hanya untukku saja dan kau tidak akan pernah bisa memilikinya!” Permainan itu, akan dia menangkan. Tapi dia salah besar karena permainan itu ada dalam kendali Sera. Dia pergi ke kamarnya, mengunci pintu dengan rapat. Dia menunggu dan tak lama kemudian, ponselnya berbunyi. Sera segera mengambil ponselnya, dia tahu pria itu pasti akan menghubunginya. “Apa kau puas dengan hasilnya, Sera?” suara pria itu berat dan dalam, Sera memejamkan matanya sejenak. “Aku tahu Tuan Jackson tidak akan mengecewakan, dan aku cukup puas dengan hasilnya.” “Jangan terlalu cepat senang, Sera. Kau tahu semua belum selesai karena dia telah memberikan tantangan padaku!” “Aku telah mendengar ini, dan aku sangat ingin tahu tantangan apa yang dia berikan padamu. Kenapa dia begitu percaya diri seolah-olah dia tahu kalau dia yang akan memenangkan tantangan itu?” Pria itu tersenyum, “Bagaimana mungkin dia tidak percaya diri akan memenangkan tantangan itu, Sera? Dia tahu hatimu hanya untuknya saja. Yang aku katakan ini, apakah benar? Kau hanya mencintai Leon saja, kan?” “Tuan, orang yang memiliki kepercayaan diri juga harus ada batasnya. Dan aku rasa Leon harus melihat dirinya sendiri di depan cermin dengan baik agar dia tidak malu nantinya.” “Oh, jadi yang aku katakan salah?” Sera tidak langsung menjawab. Hening sejenak, memang tak ada yang salah dari apa yang dikatakan oleh pria itu. Dulu, hatinya sepenuhnya milik Leon, tapi cinta bodoh dan buta itu telah merenggut nyawanya. Dia tidak akan mengulangi masa-masa bodoh itu hanya untuk laki-laki seperti Leon. “Kau tidak menjawab sama sekali, apakah tebakanku benar? Apa kau sedang mempermainkanku dan berpura-pura menerima pinanganku? Apa sandiwara itu yang sedang kau mainkan, Sera?" Tawa Gadis itu terdengar, merdu tapi juga berbahaya. Sepertinya rumor gadis lemah dan bodoh yang dia dengar tidak sepenuhnya benar. “Aku memang bodoh karena telah jatuh hati padanya, tapi aku telah ditampar dengan kenyataan. Aku bukan orang yang suka bermain-main spalagi dalam hal ini, Tuan Jackson. Aku serius memilihmu dan ini bukan semacam sandiwara yang tak berarti.” Jarvis tersenyum tipis, ada kepuasan dari senyumannya itu. “Kalau begitu, aku ingin kita bertemu besok. Dan barang-barang yang aku berikan padamu, simpan itu baik-baik. Yang selanjutnya akan lebih banyak daripada itu.” “Aku tunggu kedatanganmu, Jarvis. Terima kasih, kau tidak mengecewakan aku sama sekali.” “Karena kau telah memilihku, maka aku pastikan kau tidak akan pernah kecewa!” ucap pria itu tanpa keraguan dan Sera tahu itu bukan sebuah omong kosong semata. Jarvis mengeluarkan selembar foto dari saku jasnya. Dia melihat foto itu dan tersenyum dingin. Besok, dia ingin lihat bagaimana reaksi Sera melihat foto yang dia ambil secara diam-diam itu. Apa Leon pikir dia bodoh? Saat pria itu sedang bermain dadu, dia sedang menyusun tak tik licik untuk membunuh orang. Dan akan dia perlihatkan, siapa yang akan dipilih Sera nanti.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD