5. TUAN MUDA WARDANA

1643 Words
Malam ini Lily menginap di rumah keluarga Wardana. Entah kenapa ia tidak bisa menolak permintaan Leo dan Grace saat memintanya untuk tidur di sini dan melarang untuk kembali ke kos miliknya. Padahal Leo dan Grace tidak melakukannya dengan cara memaksa, tapi entah kenapa Lily nurut saja saat Leo yang memintanya. Pria itu benar-benar memiliki hati yang lembut hingga dengan mudah membuat Lily luluh. Sejak tadi Lily tidak bisa memejamkan mata, padahal ia sudah sangat mengantuk. Kamar yang tidak biasa ia tempati membuatnya tidak bisa tidur. Bahkan hampir jam sebelas malam, matanya masih enggan untuk tertutup. “Dasar Jasmine nyebelin, masa kakak sendiri nggak dikasih tidur di kamarnya. Kan jadi nggak bisa tidur,” gerutu Lily.  Jasmine menolak keras saat Lily ingin tidur di kamarnya dengan alasan sedang fokus belajar untuk ujian hari senin. Maka terdamparlah Lily di kamar lantai dua persis bersebelahan dengan kamar Axel yang begitu menyeramkan bagi Lily. Ia menatap langit-langit kamar yang akan menjadi kamarnya. Kasur yang empuk, lemari pakaian yang besar bahkan di kamar ini juga terdapat sofa dan meja rias. Benar-benar disiapkan khusus untuknya. “Kok sikapnya beda banget ya sama Om Leo, bener-bener deh kok Mama bisa punya anak tiri kayak gitu,” pikir Lily. Karena tidak kunjung bisa memejamkan mata, Lily justru merasakan haus yang teramat. Tenggorokannya kering dan ia perlu air untuk membuatnya kembali segar. Akhirnya ia memutuskan keluar dari kamarnya dengan hati-hati. Di lantai dua hanya ia Lily dan Axel yang tinggal, sedangkan Jasmine, Grace dan Leo memilih di lantai satu. Alasannya adalah kesehatan Leo yang sering mengalami nyeri pada sendi kakinya, sedangkan Jasmine ingin lebih dekat dengan Mamanya karena belum terbiasa dengan rumah yang besar. Karena kondisi gelap, akhirnya Lily kembali ke kamar untuk mengambil ponsel sebagai penerang. Perlahan ia menuruni satu demi satu anak tangga, Lily sebisa mungkin tidak menimbulkan suara agar yang lain tidak merasa terganggu. Tapi ia yakin dengan rumah sebesar ini, langkah kakinya tidak mungkin terdengar oleh yang lain. “Untung gue ambil hp, kalau nggak bisa jatuhl dari tangga saking gepalnya. Mana nggak tahu tempat ngidupin lampu. Emang ya rumah besar nggak selalu bikin nyaman,” gumam Lily pelan. Akhirnya ia sampai di dapur dan segera mengambil air dingin di dalam kulkas. Di rumah ini ternyata di sediakan air kemasan yang bisa Lily bawa ke kamar tanpa harus membawa gelas. Lily mengambil satu botol dan segera menutup kulkas kembali. Ia berbalik dan siap untuk kembali ke kamarnya. Namun, betapa terkejutnya Lily saat berbalik justru ia menemukan sosok tinggi besar dan membuatnya spontan berteriak. “Hantu...” pekik Lily ketakutan. Bahkan air mineral yang ia bawa jatuh akibat terkejut. Untung ponsel yang masih menyala tidak sempat terlempar, jika itu terjadi habislah tabungannya untuk memperbaiki ponsel kesayangannya. Namun dengan segera, bibirnya dibekap oleh tangan Axel karena tidak ingin membuat seisi rumah bangun dengan teriakan Lily, “Lo ngapain teriak? Mau bangunin orang sekomplek?” tanya Axel dengan kesal. Tubuh Lily terhimpit antara kulkas dan tubuh Axel. Tangan pria itu masih senantiasa bertengger di bibir Lily dan wajahnya begitu dekat dengan adik tirinya itu. Keduanya justru saling beradu pandang dengan tatapan khas masing-masing. Axel dengan tatapan dingin dan tajam sedangkan Lily dengan tatapan takut namun justru maniknya terlihat begitu indah jika dilihat dari dekat. Karena Axel tidak kunjung melepaskan Lily, akhirnya gadis itu menginjak kaki kanan Axel hingga membuat pria itu meringis karena sakit. “Aduh..., lo gíla ya? Ngapain nginjak kaki gue,” ucap Axel dengan nada kesal. Ia memegang satu kakinya karena sakit akibat tenaga Lily begitu kuat menginjak kakinya. Lily menatap sinis Axel, tangannya sibuk mengusap bibirnya yang habis dibekap oleh Axel. “Masih untuk gue injak kaki lo, bukan adik lo yang gue tendang. Makanya jangan suka bikin kaget,” ucap Lily kesal. Axel berdecak sebal, “Lo yang ngapain tengah malam di dapur sendirian? Mau makan? Emang makan malam tadi masih kurang, hah?” Axel sama sekali tidak menurunkan nada bicaranya karena kesal. “Gue nggak mau makan tapi mau ambil air minum” Lily memungut kembali botol air mineral yang jatuh, lalu menunjukkan kepada Axel. “Gue haus, makanya ke dapur. Lo kira gue ke dapur buat nongkrong?” balas Lily sengit. “Lain kali nyalakan lampu, jangan gelap-gelapan begini” “Eh Tuan Axel, lo kira gue di sini udah tinggal berapa lama sampai tahu seluk beluk tempat nyalain lampu. Kalau aja gue tahu tempatnya, mana mungkin gue bawa hp ke sini. Dodol banget sih.” “Lo bilang gue apa?” Axel kembali merapatkan tubuhnya ke tubuh Lily, hingga membuat Lily kembali terhimpit. Tangannya bertengger dengan keras di bahu Lily hingga gadis itu meringis sakit. “Lo mau apa sih? Awas aja lo berani macam-macam, gue teriak biar seisi rumah bangun,” ancam Lily gugup, sambil tangannya mendorong d**a Axel agar menjauh. Namun sayang, tenaga Axel lebih besar dari pada tenaganya. “Gue kira lo polos ternyata banyak omong juga. Teriak aja, gue tinggal bilang lo yang mulai bersikap kasar sama gue. Ingat ya, ini adalah awal dari permusuhan kita. Jangan harap lo bisa tenang tinggal di rumah ini Lilyana Denira.” Axel menunjukkan seringai mengerikan kepada Lily. Lily bergidig ngeri saat namanya di sebut dengan lengkap oleh Axel. “Terserah lo, gue nggak takut. Minggir!” Lily mendorong Axel dengan sekuat tenaga hingga berhasil melarikan diri. Ia segera meninggalkan dapur dan kembali ke kamarnya dengan langkah cepat bahkan bisa dibilang setengah berlari. “Dasar nyebelin, mentang-mentang gue penghuni baru seenaknya aja main pegang-pegang. Bisa-bisanya dia ngancam gue, dikira gue takut apa,” gerutu Lily dengan kesal saat menaiki anak tangga. Lily segera masuk dalam kamar dan menguncinya rapat-rapat. Ia takut jika Axel bisa saja memperpanjang masalah dengan cara mengganggunya hingga ke kamar. Di dapur, Axel mengambil sebotol air mineral dan meneguknya hingga habis setengah. Ia masih dongkol namun ada sesuatu yang menarik perhatian Axel saat berdekatan dengan Lily. “Bahkan di tempat gelap seperti ini gue bisa lihat pancaran matanya begitu indah” gumamnya. “Tapi sayang, dia tipe wanita menyebalkan yang perlu gue hindari. Bisa-bisanya Papa punya anak tiri kayak gitu,” gerutunya kembali dengan kesal. *** “Non, mending duduk aja. Biar Si Mbok aja buatin sarapan nasi goreng” suara percakapan antara Mbok Nanik dengan penghuni baru rumah ini. “Nggak apa, mbok. Biarin saya bantu Mbok Nanik buat sarapan. Saya bingung harus ngapain di sini,” pinta Lily. Ia sibuk memotong sosis dan beberapa sayur untuk dicampur ke nasi goreng buatannya. “Mending, Non Lily duduk sama Non Jasmine di meja makan. Nanti kalau Bapak sama Ibu tahu Non Lily ikut masak, Si Mbok nanti kena marah terus dipecat. Aduh nanti Si Mbok cari kerja di mana?” Mbok Nanik benar-benar ngeri membayangkan hal itu terjadi. Walaupun sudah bertahun-tahun kerja di sini tetap saja ia takut jika majikannya memecatnya. Lily menoleh ke arah samping tempat Mbok Nanik berdiri, “Mbok, pokoknya tenang aja. Kan Mama sama Om Leo lagi nggak di sini, jadi Lily pastikan Si Mbok nggak akan kena marah. Mama Lily bukan tipe seperti itu kok, pokoknya aman. Okey?” Mbok Nanik menghela napas pasrah, Iya deh Non. Si Mbok kalau gitu siapin bahan buat makan siang aja kalau begitu. Non Lily kalau butuh apa-apa bilang sama Si Mbok ya.” “Siap,” jawab Lily semangat. “Oh iya, untuk Den Axel jangan pedas ya Non soalnya nggak senang makanan pedas.” Mbok Nanik tidak lupa dengan hal penting tentang Axel. Lily mengangguk pelan, “Oh jadi dia nggak suka pedas” gumamnya pelan. Tidak lama, sarapan yang di buat Lily sudah terhidang di meja makan. Lily dan Jasmine asik dengan piring masing-masing yang sudah berisikan nasi goreng. “Dik, Kakak ikut ya tidur di kamar kamu. Di atas seram tahu,” ucap Lily disela-sela suapannya. “Sejak kapan jadi penakut begini. Kan dari dulu kamar kita pisah, Kak. Lagi pula di rumah ini nggak ada hantu, pakai acara bilang serem segala.” “Kamu ih pelit banget. Biasanya juga dulu kalau aku pulang ke rumah selalu minta tidur bareng.” Jasmine memutar bola matanya, “Kan itu karena aku kangen Kak, jarang liat Kak Lily di rumah. Nah sekarang kan kita udah tinggal bareng, jadi nggak ada acara bobo berdua lagi.” “Apa Kakak batal aja pindah ke sini ya?” “Jangan, aku nanti nggak enak sama Mas Axel kalau cuma berdua. Dia orangnya pendiem banget, aku suka canggung sama dia Kak.” Lily mencondongkan tubuhnya ke depan, “Menurut kamu dia orangnya seperti apa?” “Ganteng,” jawab Jasmine langsung. Lily mendengus kesal, “Bukan itu, yang Kakak maksud sifatnya.” “Baik kok. Mas Axel nggak pernah macam-macam sama aku. Jarang ngomong sih tapi kalau aku ajak ngomong nyaut juga kok.” Jasmine menatap Lily dengan tatapan menelisik, “Kenapa nanya Mas Axel? Jangan-jangan Kak Lily terpesona sama kegantengan Mas Axel ya?” “Sembarangan kamu.” Sembur Lily. Jasmine tergelak, “Siapa tahu Kakak kesemsem sama Mas Axel. Emang sih ganteng banget, tapi sayang udah jadi saudara kita jadi nggak boleh dimacem-macemin.” Lily menatap jijik kepada Jasmine, “Dik, kamu kok ngomongnya bikin aku merinding gitu sih. Sejak kapan kamu tahu cowok ganteng? Perasaan selama ini kamu nggak pernah ngomongin cowok. Sekalinya ngomongin, malah si kunyuk itu,” ucap Lily sebal. “Siapa yang Kakak bilang si kunyuk?” tanya Jasmine heran. “Siapa lagi kalau bukan Tuan Muda Wardana” Jasmine terdiam saat Kakaknya menyebut nama Axel Wardana secara tidak langsung. Lily yang menyadari adiknya diam, nampak bingung. “Kok kamu diem? Tahu kan yang Kakak maksud siapa?” Jasmine mengangguk kaku, “Dia lagi di belakang Kakak.” Mata Lily terbelalak, lalu menoleh ke belakang. Dan benar saja Axel tengah berjalan ke arahnya. Jaraknya masih lumayan jauh, dan Lily berharap pria itu tidak mendengar apa yang ia ucapkan tadi. “Mámpus gue,” Lily menggumam, menyesali perkataannya tadi. ~ ~ ~ --to be continue-- *HeyRan*
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD