16. MENGHILANG

1921 Words
“Ma, Pa, Lily berangkat dulu ya.” Ucap Lily setelah menghabiskan sarapannya. “Hati-hati ya, semoga kerjaan lancar,” jawab Grace sambil mencium pipi Lily. “Kamu tidak ada lembur kan?” Lily menggeleng, “Nggak kok, Ma.” “Ly, kamu tidak berminat buat kerja di perusahaan sambil membantu Axel?” tanya Leo. Lily spontan menatap saudara tirinya dengan perasaan tidak enak. “Lily masih betah kerja di tempat sekarang, Pa.” “Sebaiknya Lily di tempat sekarang saja Pa. Lily masih perlu belajar banyak kalau ikut mengelola perusahaan.” Axel diam, tidak ikut dalam pembahasan itu. Baginya, kalaupun Lily bekerja di perusahaan tentu saja bukan sebuah ancaman. Lily terlalu mudah untuk ia buat tidak betah jika bekerja di tempatnya. “Mama benar, Pa.” Sahutnya. “Kalau begitu aku berangkat dulu.” Lily bergegas pergi karena ia sempat menangkap sorot mata dingin dari Axel. “Aku sudah selesai,” Axel beranjak dari duduknya setelah Lily pergi. “Hati-hati, Axel,” ucap Grace, entah anak tirinya dengar atau tidak karena nampak terburu-buru. “Aku juga Ma,” Jasmine menyusul. Setelah meja makan sepi, Grace menyentuh tangan suaminya. “Pa, jangan seperti itu lagi. Jangan membahas masalah Lily bekerja di perusahaan. Mama nggak enak sama Axel, takut dia tersinggung.” Leo menyesap teh buatan istrinya, pria itu paham maksud istrinya namun ia terlihat tenang saja. “Ma, bagaimanapun Lily dan Jasmine punya hak atas perusahaan. Bukan hanya Axel saja yang berhak.” Grace menggeleng. “Mama mohon jangan memikirkan itu, Pa. Lily dan Jasmine punya cara sendiri mengenai masa depannya jadi jangan singgung soal hak mereka di perusahaan.” Pria itu menghembuskan napas pelan. “Baiklah, Papa tidak akan membahas hal seperti itu lagi.” Axel mengejar Lily sebelum gadis itu masuk dalam mobil. Tangannya segera menjangkau tangan Lily hingga gadis itu terkesiap. “Axel? Ada apa?” tanya Lily sedikit kesal karena pria itu nampak kasar. “Senang kalau Papa minta elo kerja di perusahaan?” Lily menggeleng. “Sama sekali nggak. Tenang saja, gue nggak akan memanfaatkan status Mama untuk merebut posisi lo. Gue nggak minat sama sekali.” “Baguslah, gue juga ogah kerja sama lo.” “Ck. Lo kira gue ikhlas? Sama sekali nggak!” Jawab Lily lalu pergi meninggalkan Axel bersama dengan mobil yang dikemudikan oleh Soni. “Udah gue duga, pasti yang ada di pikirannya adalah kalau gue mau ngerebut posisinya,” gerutu Lily sebal. *** “Lo pasti habis diserbu sama nasabah ya?” tanya Nadine saat melihat wajah lelah Lily. Keduanya sedang istirahat makan siang di kafetaria dekat tempat kerja. Lily mengangguk. “Senin selalu saja melelahkan.” “Emang, kayak kerjaan nggak ada abisnya.” Ucap Nadine. “Eh iya, gimana rasanya semobil sama si bos?” “Semua ini gara-gara elo, Nad. Seneng banget ngerjain gue.” Nadine terkekeh geli. “Gue cuma kasian sama Pak Hery, berapa kali dicuekin sama lo.” “Memang seharusnya begitu, Nad. Sekali gue terima ajakan dia maka gue akan dianggap kasih dia peluang.” “Lo beneran nggak mau coba?” Lily menggeleng. “Gue nggak tahu tapi untuk dekat memang belum kepikiran. Lagi pula kalau gue ada hubungan sama dia, artinya gue harus pindah dari sini. Lo mau pisah sama gue?” “Minta Pak Hery yang pindah. Lagi pula dia kan jabatannya lebih tinggi dari lo, biar dia saja yang pindah dan elo tetap di sini sama gue.” “Gue nggak mau mikirin itu, Nad. Lo tahu kan di sini fans Pak Hery banyak dan yang paling menyeramkan si Mega. Gue nggak mau sampai kena teguran karena nenek sihir itu. Hidup gue udah pusing karena Axel dan gue nggak mau nambah penyakit lagi dengan berurusan sama Mega.” Nadine mengangguk pelan, ia setuju dengan ucapan Lily. “Iya juga sih, ya sudah kembali ke elo deh. Gue sebagai teman pasti dukung kalau itu yang terbaik buat lo.” “Nah begitu dong, kan gue senang kalau lo berpihak sama gue.” “Perasaan gue berpihak terus sama elo.” “Iya juga sih,” sahut Lily sambil tersenyum lebar menampakkan gigi rapinya. “Dari pada lo sibuk nyuruh gue sama Pak Hery, mending elo yang cari pacar.” Nadine nampak berpikir sebentar. “Gimana kalau gue deketin Axel?” Lily yang sedang menyeruput kuah soto seketika tersedak dengan ucapan Nadine. “Busetttt, untuk nggak nyembur gue.” Nadine segera memberikan segelas air putih miliknya kepada Lily. “Kenapa sih kok kaget begitu gue mau deketin kakak tiri lo?” Lily meneguk air hingga tersisa setengah. “Gimana nggak kaget, masa lo mau nyodorin diri ke kandang macan?” “Axel nggak galak ah, dari cerita lo dia itu nyebelin bukan serem.” “Sama aja, lo belum pernah liat kalau dia marah.” “Bilang aja lo nggak suka gue deketin Axel.” Lily menggeleng cepat. “Bukan gue yang nggak suka tapi gue nggak rela kalau teman gue ada hubungan sama pria yang punya kepribadian ganda macam engsel pintu.” Mendengar Lily menyebut Axel dengan sebutan engsel pintu, sontak saja gadis itu terbahak. “Lily Lily, bertapa berapa lama sampai nemu sebutan engsel pintu? Masa nama udah bagus diganti engsel pintu.” “Dia duluan yang cari perkara ganti nama gue jadi Lilyput.” “Ih imut banget sih nama panggilan Axel ke elo.” Langsung saja ucapan Nadine membuat Lily memutar bola matanya. “Imut dari mana? Yang ada nyebelin setingkat monas.” Tidak jauh dari meja mereka duduk, ada seseorang yang sedang memperhatikan keduanya. Lily dan Nadine tidak tahu kalau obrolan mereka ada yang mendengarkan. *** Axel belum berniat beranjak dari duduknya walaupun jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Ia masih sibuk dengan beberapa berkas sendirian di ruang kerja. Keenan sendiri sudah pulang lebih dulu atas izin atasannya. Saat sedang fokus pada layar leptop di depannya, dering ponsel yang nyaring membuat pandangan Axel teralihkan. Di lihatnya layar ponsel yang ada di atas meja dan menampakkan nama si penelepon. Alis pria itu tertaut saat tahu siapa yang tengah menghubunginya. “Halo Toni, ada apa?” “Bos, apa Nona Lily sedang lembur?” Axel mengingat percakapan antara Lily dan Grace. “Tidak, ada apa? Harusnya dia sudah pulang kan?” “Kalau seperti biasa, memang harusnya sudah. Tapi sampai sekarang mobil yang menjemput Nona Lily belum pergi. Saya kira Nona Lily sedang lembur tapi ternyata tidak.” “Aku hubungi dia dulu, kamu tunggu saja di sana nanti aku hubungi lagi.” “Baik, bos.” Axel segera menekan angka nomor dua untuk melakukan panggilan cepat ke nomor milik Lily. “Apa dia memang ada pekerjaan tambahan?” pikir Axel. Lama menunggu namun tidak ada jawaban dari gadis itu. “Lilyput kemana sih? Kalau telpon ke rumah pasti bikin Mama Grace dan Papa khawatir.” Axel masih mencoba menghubungi Lily namun hasilnya nihil, sama sekali tidak ada tanggapan. Tanpa menunggu lama, Axel segera menuntup layar leptop tanpa sempat dimatikan, lalu menyambar kunci mobil yang ada di atas mejanya. Pria itu menyusul Toni yang sedang mengawasi Lily di gedung tempatnya bekerja. Di tempat lain, Toni sedang bersama Soni, keduanya nampak cemas karena anak majikannya belum keluar dari gedung. “Mang, yakin kalau Nona Lily belum keluar dari tempatnya kerja?” “Yakin, saya selalu menunggu sejam sebelum jam pulangnya Non Lily. Kalau terlambat pasti Non Lily kasih saya kabar.” Toni sendiri merasa Lily memang masih berada dalam gedung. Ia ingin segera memastikan dengan cara menanyakan keberadaan Lily pada petugas keamanan di sana. Tapi jelas ia harus menunggu persetujuan Axel yang tengah dalam perjalanan. Tidak lama, mobil Axel sudah berhenti tepat di belakang mobil Toni. Pria itu segera turun dengan raut wajah nampak cemas. “Gimana? Lily sudah keluar?” “Belum, saya menunggu anda untuk izin bertanya ke satpam.” Axel mengangguk paham, “Kita pergi sama-sama. Mang, tunggu di mobil dan kalau Papa tanya bilang saja Lily lembur mendadak.” “Baik, Den Axel.” Axel dan Toni segera menghampiri satpam yang tengah berada di pos satpam. Ada dua orang yang terlihat sedang berjaga di sana. “Permisi Pak, boleh kami bertanya?” Dua satpam itu nampak waspada dengan kedatangan Axel yang wajahnya nampak serius ditemani Toni yang memiliki perawakan tinggi besar dengan rambut sedikit panjang. “Iya, ada apa?” “Pak, saya saudara dari Lilyanan Denira salah satu pagawai di sini. Kira-kira Bapak tahu apakah dia sedang lembur atau tidak?” “Setau saya semua karyawan sudah pulang, Pak. Apa anda sudah menghubungi ponselnya?” “Sudah tapi tidak ada jawaban,” sahut Axel. “Pak saya boleh minta tolong periksa lagi ruangan pegawai karena saya yakin dia pasti masih di dalam.” Kedua satpam itu saling pandang untuk mempertimbangkan permintaan Axel. “Pak tenang saja, nanti saya bayar berapa pun yang Bapak minta tapi tolong saya.” Toni berdehem. “Kalian tenang saja, kami tidak ada niat melakukan kejahatan. Kalau tidak percaya, silakan Bapak masuk sendiri dan kami tunggu di sini.” “Baiklah, sesuai peraturan anda berdua tidak bisa masuk ke area karyawan jadi tunggu di sini saja.” “Baik Pak, terima kasih,” ucap Axel. Setelah salah satu satpam pergi, Toni menyapu pandangan di sekitar halaman kantor. Pria itu punya firasat kalau Lily sedang berada di tempat yang jauh dari jangkauan orang. “Pak, itu basement kan?” tanya Toni menunjuk tempat yang di maksud. Satpam itu mengangguk. “Iya tapi sudah sepi tidak ada mobil.” Toni mengangguk. “Biar saya periksa ke sana sebentar,” ucap Toni pada Axel. “Baik, aku tunggu kabar dari satpam dulu.” Axel terus menghubungi Lily, berharap adiknya itu mau mengangkat. “Ly, lo jangan bikin gue khawatir. Jangan bilang lo sengaja kabur karena nggak tahan sama sikap gue. Padahal gue cuma iseng aja kok.” Batin Axel. Tidak lama satpam yang masuk ke gedung untuk memeriksa keberadaan Lily sudah kembali dengan membawa tas berwarna maroon. “Pak, saya hanya menemukan tas ini di ruang karyawan dan ada ponsel yang berdering di dalam tas.” Axel segera menerima tas pemberian dari satpam tersebut. Jelas ini milik Lily karena tadi pagi ia sempat melihat gadis itu membawa tas ini. “Jadi dia tidak ada? Bapak sudah periksa semua ruangan?” “Tidak semua ruangan bisa di akses oleh satpam. Tadi saya hanya bisa periksa ruang karyawan, pantry, toilet dan semua kosong.” “Jadi saudara saya dimana, Pak? Kenapa dia menghilang?” Panik Axel meningkat, bayangan kejadian masa lalu menghantuinya. “Bos, ada toilet di sekitar besament dan samar-samar saya mendengar suara. Apa mungkin Nona Lily ada di sana?” “Pintunya terkunci?” “Iya, saya yakin kalau Nona Lily terkunci di sana.” “Pak, bisa bantu kami sekali lagi?” “Tentu, kebetulan kami pegang kuncinya.” Membutuhkan waktu untuk mencari kunci toilet di basement karena kuncinya tercampur menjadi satu dengan kunci yang lain. “Pak, tolong cepat buka,” pinta Axel saat mereka sudah ada di depan pintu toilet. Pintu berhasil di buka, namun suasana di dalam gelap sehingga harus menyalakan lampu yang saklarnya ada di luar. Saat lampu menyala, betapa terkejutnya mereka menemukan Lily lemas di lantai toilet. “Ly, lo nggak apa-apa?” tanya Axel khawatir. “Kita bawa pulang dulu bos.” Ucap Toni. ~ ~ ~ --to be continue-- *HeyRan* -----------  Halo semua yg baru pertama baca ceritaku, terima kasih ya semoga betah ada di sini. Oh iya, maaf kalau aku up sore karena sabtu minggu, aku fokus sama keluarga. Bagi yang belum pencet tanda love, jangan lupa di tap ya. Happy reading:)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD