Beberapa hari setelahnya, tepatnya malam di mana hasil keputusan akhir Daisy dan Daisha terima dari pihak sekolah, mereka kembali berkumpul di ruang tengah. Dengan suasana dingin yang membersamai mereka.
“Mmm, sebelum kita mulai ngobrol lagi, kalian berdua mau Mama buatin minum?” ucap sang Mama seraya menatap lembut ke arah Daisy dan Daisha.
“Nggak usah, Ma. Kita langsung mulai ngobrol aja.” Daisy berucap cepat seraya mulai meremas pelan sebuah amplop berukuran sedang berisi surat keputusan akhir dari pihak sekolah.
“Hehe, Mama setuju. Sebenarnya dari tadi Mama udah nggak sabar pengen baca surat pemberitahuannya. Ayo, siapa yang suratnya mau duluan Mama baca?” Sang Mama berucap seraya menatap Daisy dan Daisha secara bergantian. Jangan lupakan raut wajah penuh penasarannya yang sangat terlihat jelas.
“Kamu duluan aja, Dek,” ucap Daisy pelan seraya menyikut lengan sang Adik yang memang sedang duduk di sebelah kanannya.
Mengangguk patuh, Daisha pun memberikan surat miliknya kepada sang Mama. “Ini, Ma,” ucapnya tak bersemangat.
“Wah, Mama nggak sabar sekali ingin membaca isinya. Mm, tapi kok amplopnya basah, Sha? Perasaan hari ini nggak turun hujan deh.” Sang Mama yang awalnya sangat tak sabaran ingin segera membuka amplopnya, kini menatap heran seraya memerlihatkan amplop itu ke arah semuanya.
“Mmm, tadi sempet ketumpahan air minum, Ma. I—iya, karena itu,” ucap bohong Daisha, karena pada kenyataannya kertas itu basah dikarenakan ia yang terus menangis tiap kali membaca ulang isi suratnya. Saking tak menyangkanya ia dengan hasil keputusannya, Daisha sampai membacanya berulang kali tiap kali ia teringat.
“Oalah, oke deh. Mama akan mulai baca isi suratnya.”
Dapat dilihat oleh Daisy dan Daisha, sang Mama sangat antusias sekali saat membuka amplop dan mulai membaca isi suratnya.
“Sayang.. kamu masuk jurusan IPA? Selamat ya. Mama seneng banget.” Sang Mama menatap bangga ke arah Daisha, kemudian mulai mengalihkan pandangan matanya ke arah sang suami dengan binar penuh kebahagiaan.”Yah, akhirnya keinginanku sejak dulu akan terwujudkan lewat anak-anak.”
“Alhamdulillah,” sahut Danu—suami dari Sela, Ayah kandung Daisy dan Daisha.
“Aku yang harusnya bilang itu ke Mama. Selamat ya, Ma,” jawab Daisha seraya tersenyum getir ke arah sang Mama.
“Hehe, kamu ini. Pokoknya selamat untuk kita semua. Mama seneng banget. Kita harus buat perayaan ini.”
“Jangan terlalu berlebihan, Ma. Jalan anak-anak menuju cita-cita kamu itu masih sangat panjang. Ibaratnya ini baru tangga pertama lho. Akan ada banyak tangga yang harus mereka lewati agar bisa sampai ke tahap itu,” sela Danu cepat.
“Hehe, iya juga ya? Maaf, Mama seneng banget soalnya. Oke, sekarang giliran amplop punya Daisy yang akan Mama baca isinya. Sini, Sayang.. Mama juga nggak sabar pengen baca punya kamu,” ucap sang Mama seraya menengadahkan tangan di hadapan Daisy.
“Ini,” cicit daisy pelan seraya menyerahkan amplop yang sudah tak enak dipandang itu kepada sang Mama. Tak enak dipandang karena sudah beberapa kali Daisy remas tanpa sadar. Saking ia merasa tak menentu saat ini. Campur aduk antara gugup, takut, sekaligus senang.
“Ini betulan? Kamu lagi nggak nge-prank Mama kan, Sy? Buat kasih kejutan?” ucap Sela tak percaya karena masih tak menyangka dengan isi surat yang baru saja ia baca.
“Nggak, Ma. Itu serius. Aku memang nggak keterima di jurusan IPA. Hasil akhirnya pilihan nomor dua yang disetujui.”
“Mm, atau kamu sendiri yang dari awal nulis IPS sebagai pilihan utama kamu?” tanya sang Mama seraya menatap penuh curiga ke arah Daisy.
“Mama tau sendiri kan kalau aku selalu pegang ucapan aku? Waktu itu aku setuju buat nulis IPA di urutan nomor satu, ya aku lakuin itu.”
“Tapi kok bisa sih kamu nggak diterima di IPA? Daisha aja bisa.”
“Mama tau sendiri kalau hasil keputusan akhir itu ada di tangan pihak sekolah. Berdasarkan nilai, bakat, dan pilihan kita yang sudah kita urutkan mana yang utama, kedua, dan ketiga. Mungkin setelah mereka menimbang, aku memang paling cocok untuk masuk jurusan IPS.” Daisy menghela napas panjang saat dilihatnya sang Mama masih menatap tajam ke arahnya. “Ma, nilaiku nggak setinggi Daisha. Peringkat kelasku pun nggak sebagus dia. Jadi ya wajar aja.”
“Itu mah kamu sendiri aja yang males. Belajarnya nggak rajin kayak Daisha. Nggak mau dengerin Mama sih. Sukanya ngelawan kalau Mama nasehatin. Disuruh belajar di kamar, bukannya nurut malah main game, nonton film, nyanyi-nyanyi nggak jelas. Begini kan hasilnya. Bikin Mama kecewa! Kenapa sih? Kamu kayaknya susah banget buat nurut sama Mama kayak apa yang dilakukan Daisha selama ini? Daisha itu penurut banget anaknya. Mama bilang A dituruti, Mama bilang B dituruti. Nggak kayak kamu! Males! Pembangkang! Semaunya aja kalau bertindak,” ucap marah sang Mama yang mulai membanding-bandingkan Kakak beradik itu.
Mengetahui sang Mama sangat marah kepadanya, Daisy hanya bisa diam. Benar atau salah apa yang diucapkan sang Mama barusan, menurutnya bukan saat yang tepat untuknya membela diri. Apalagi Daisy sadar betul, ia paling susah dalam mengendalikan ucapannya. Terkesan blak-blakan. Oleh karena itu bisa bahaya jika ia memaksakan diri untuk membela diri saat ini. Bukannya berhasil membuat sang Mama mengerti dan paham akan semuanya termasuk perasaannya, yang ada nanti justru bertambah marah dan kesal kepadanya. Dan tentu Daisy tak ingin hal itu terjadi.
“Ma, ya udah nggak papa. Mungkin Daisy memang lebih cocok di IPS dibanding di jurusan IPA. Toh udah ada Daisha kan yang sesuai dengan harapan Mama. Biarkan Daisy dengan pilihannya sendiri,” ucap Danu yang berusaha untuk menjadi penengah.
“Aku pamit ke kamar ya,” pamit Daisy seraya bergegas bangkit dari tempat duduknya. Berjalan pelan meninggalkan ruangan itu dengan hati yang merasa kecewa. Ternyata, sang Mama lebih mengedepankan keinginannya dibandingkan perasaan dan keinginan sang anak.
“Dimarahin langsung ngambek. Langsung kabur ke kamar. Itu anak mau jadi apa sih gedenya?” dumel Sela yang kemudian menatap lembut ke arah Daisha yang sejak tadi memilih diam. “kamu jangan seperti Kakakmu ya? Tetaplah jadi anak penurut kesayangan Mama. Kamu yang terbaik.”
***
Semuanya bermula dari kejadian itu. Kejadian yang terjadi beberapa tahun yang lalu. Karena keesokan hari hingga hari-hari berikutnya, hingga Daisy dan Daisha sudah memasuki jenjang perkuliahan, semuanya tak lagi sama.