Seorang gadis cantik berambut panjang kini terlihat sedang bersiap-siap. Berdiri di hadapan lemari pakaiannya yang sudah ia biarkan terbuka sejak sepuluh menit yang lalu, dengan tatapan menyasar dari atas hingga bawah. Tak lupa ia juga memandangi deretan baju yang tergantung dengan rapi di lemari sebelah kanannya.
“Hm, hari ini aku pakai baju yang mana ya?” ucap seorang gadis cantik itu dengan raut wajah seperti sedang berpikir keras. Entah kenapa hanya soal memilih baju, membuatnya seperti sedang memilih jawaban ujian. Sangat serius dan penuh pertimbangan. Seolah jika ia salah dalam menentukan pilihan, ia akan merugi dan menyesal selama berabad-abad.
“Wkwkwk. Daisy, Daisy. Kamu kok gaya banget sih? Hehe. Pakaian kamu kan meskipun banyak isinya itu-itu aja. Nggak jauh-jauh dari yang namanya kemeja, kaos, sweater, jaket, dan pakaian yang berbahan jeans. Kok pake acara pusing segala. Padahal tinggal cap cip cup doang hasil akhirnya pasti akan selalu keren kok. Gaya banget deh! Hehe,” ucapnya kemudian, lalu ia mulai mengambil pakaiannya secara asal dan kembali menutup lemarinya hingga bener-bener tertutup rapat. Agar hewan kecil yang menurutnya sangat menjijikan tidak bisa masuk dan bersemayam di dalam lemari pakaiannya. Karena jika hal itu terjadi, Daisy yang sangat takut dengan yang namanya kecoa itu akan mencuci ulang semua pakaiannya jika ia benar-benar menemukan keberadaan hewan kecil itu di dalam lemarinya. Saking takut, jijik, dan tak sukanya ia dengan hewan kecil yang satu itu.
Ya, gadis cantik itu adalah Daisy Graceila. Salah satu anak kembar dari pasangan seorang pengusaha bernama Danu dan Sela. Seorang gadis cantik yang dengan penuh perjuangannya dapat berhasil mewujudkan keinginannya untuk bisa berkuliah di jurusan seni sesuai minat dan bakatnya. Meski semuanya tak berjalan mulus, apalagi sang Mama yang sejak awal sudah menentang keinginan dan mimpinya. Tapi Daisy selalu bersyukur. Meski begitu ia masih memiliki sang Ayah yang selalu mendukungnya. Mendukung semua hal, keinginan, serta apa saja yang akan ia lakukan. Setidaknya masih ada orang yang mau menyemangatinya.
Setelah beberapa menit berkutat dengan pakaiannya. Kini Daisy terlihat menawan dengan outfit yang dikenakannya. Dengan memakai celana hitam, yang dipadu padankan dengan kaos hitam berlengan pendek juga jaket jeans berwarna denim, Daisy terlihat memukai di depan kaca super lebarnya. Apalagi ditambah dengan topi yang berwarna senada dengan warna jaketnya, membuat aura kecantikannya semakin terlihat menarik perhatian.
Setelah merasa siap, Daisy pun bergegas untuk pergi keluar dari kamar tidurnya menuju ruang makan dengan membawa tas kuliahnya. Seperti biasa, meski merasa enggan dan malas, rutinitas paginya setiap hari adalah sarapan pagi bersama keluarganya.
“Selamat pagi semua,” sapa Daisy setibanya ia di ruang makan. Di sana semuanya sudah berkumpul dan tengah duduk di tempat duduknya kecuali sang Mama yang masih terlihat mondar-mandir menghidangkan sarapan pagi untuk mereka.
“Selamat pagi, Sayang,” jawab sang Ayah seraya melemparkan senyuman manis penuh cintanya kepada sang putri.
“Selamat pagi, Kak,” jawab Daisha ramah, saudari kembarnya yang tampak cantik dengan dress selututnya.
“Nah, sarapan paginya sekarang sudah siap. Selamat makan..” ucap Mama Sela dengan begitu riangnya, seraya menatap semua hasil masakannya yang sudah terhidang di atas meja dengan tatapan penuh binar. Terlihat sangat puas dan tak sabar untuk segera mencicipinya. Mama Sela, meski ia memiliki asisten rumah tangga di rumahnya, untuk urusan makan ia lebih sering untuk ikut turun tangan. Merasa bangga dan senang jika keluarganya memakan dengan lahap hasil masakannya sendiri.
Kegiatan sarapan pagi berlangsung dengan hening. Sesekali mereka mengobrolkan sesuatu namun tak berlangsung lama. Selebihnya mereka terlihat sangat menikmati dengan menu makanan yang mereka lahap pagi ini.
“Sebentar, sayang. Mama lupa sudah membuatkan s**u coklat panas untuk kamu. Sebentar Mama ambilkan dulu s**u coklatnya ya,” ucap Mama Sela saat dilihatnya sang putri, Daisha, baru saja melahap habis sarapan paginya. Ia pun bergegas bangkit berdiri dengan penuh semagat, kemudian kembali dengan membawa segelas s**u coklat dan langsung menaruhnya di hadapan Daisha. Memintanya untuk segera menegak habis s**u coklat yang dengan penuh cinta dan kasih sayang telah ia buatkan khusus untuk sang putri.
“Lho. Kok cuma segelas, Ma? Buat Kak Daisy mana?” tanya Daisha heran seraya menatap tak enak hati ke arah sang Kakak. “Mmm, kalau gitu ini buat kak Daisy aja deh. Aku nggak minum s**u juga nggak papa," lanjutnya seraya menggeser posisi gelas yang masih hangat itu dengan hati-hati ke arah sang Kakak yang tampak diam sejak tadi.
“Iya, Ma. Kok cuma Daisha aja yang dibuatin s**u coklat? Kan sejak kecil Mama tau kalau Daisy dan Daisha keduanya sangat suka sekali meminum s**u coklat panas,” ucap Ayah Danu yang terlihat sama herannya dengan Daisha. Berbeda dengan Daisy yang saat ini hanya bisa tersenyum samar di tempat duduknya. Tersenyum samar seraya menatap gelas berisikan coklat panas yang baru saja Daisha taruh di hadapannya dengan tatapan getir, di tempat duduknya saat ini lebih tepatnya. Karena tanpa mendengar jawaban yang akan sang Mama jelaskan pun ia sudah sangat paham apa alasan di baliknya.
“Hm? Daisha kan harus banyak memakan dan meminum makanan yang sehat dan juga bergizi, Yah. Daisha kan mahasisiwi kedokteran. Materi pelajarannya udah pasti susah-susah. Tugas kuliahnya juga pasti sangat menumpuk. Jadi Mama harus memerhatikan juga setiap asupannya," ucap Mama Sela menjelaskan, yang diakhiri dengan memberikan tatapan lembut penuh kasih sayang ke arah Daisha.
Namun, tatapan lembut penuh kasih sayang itu seketika berubah menjadi tatapan datar saat tatapan Mama Sela beralih menatap Daisy. "Beda kasusnya kalau sama Daisy yang hanya merupakan mahasiswi seni. Kerjaannya palingan juga cuma senang - senang aja. Di kelas juga palingan cuma haha hihi aja. Mama juga jarang banget tuh liat dia nugas atau ngerjain sesuatu yang berbau materi kuliah. Begadang buat belajar apalagi. Hampir nggak pernah seingat Mama," ucap Mama Sela yang diakhiri dengan tatapan kesalnya saat beradu tatap langsung dengan Daisy.
Lalu lucunya, tatapan Mama Sela kembali berubah lagi ketika hendak menjelaskan tentang Daisha. "Kalau Daisha kan memang maa syaa Allah tabarakallah.. Luar biasa banget anaknya. Rajin. Hampir tiap malem belajar, nugas, dan lain-lain. Tapi ya, kalau memang Daisy pengen minum s**u coklat panas juga, ya tinggal buat aja sendiri. Udah besar juga kan?! Udah anak kuliahan lho sekarang. Bukan lagi anak TK atau pun anak sekolah dasar. Seorang Kakak juga kan. Atau kalau memang mau dibuatin, tinggal ngomong sama Bibi aja di dapur. Mama udah capek masak dari pagi. Pengen cepet-cepet rebahan,” lanjut Mama Sela dengan nada suara yang sangat terdengar ketus di telinga Daisy. Mendengar ucapannya yang luar biasa panjang kali lebar itu, juga disertai dengan bumbu-bumbu yang tak enak didengar di pagi hari yang begitu cerah ini, tentu saja berhasil membuat ketiga orang itu menghela napas lelah. Lagi lagi, alasannya karena itu.
“Ayah bener-bener heran deh sama Mama. Apa susahnya sih tinggal bikin s**u coklat panas sekaligus dua pas Mama bikin tadi? Mama ini emang bener-bener yaa. Apa Mama masih nggak bisa menerima takdir? Itu takdir yang sudah Allah gariskan untuk Daisy lho. Untuk keluarga kita juga. Kalau hanya Daisha yang dapat mengemban ilmu kedokteran sesuai cita-cita Mama. Satu nggak cukup kah? Mama masih belum bisa kah untuk ikhlas atas kehendak-Nya? Kalau Daisy tidak berkuliah di jurusan kedokteran, ya anggap saja itu memang bukan rezekinya. Bukan rezeki kita. Toh yang penting keinginan Mama untuk punya anak calon dokter udah terealisasikan oleh Daisha. Tutup buku soal yang lama, dan Mama harus tetap bisa adil sama keduanya. Mereka berdua.. Karena baik Daisha mau pun Daisy kan sama-sama anak kandung Mama. Bukan hanya salah satunya,” ucap Ayah Danu berusaha untuk menasehati serta membuka hati dan pikiran sang istri. Entah kenapa, sejak dulu istrinya itu selalu mementingkan ego dan keinginannya sendiri.
“Sudah, Yah. Nggak apa-apa. Daisy emang lagi nggak pengen minum s**u juga kok. Minum segelas air putih aja juga udah cukup,” ucap Daisy, meski sejujurnya dalam hati ia berkata lain. Bohong jika ia berucap tak ingin. Apalagi minuman itu adalah minuman favoritnya sejak kecil. Ditambah, hasil buatan sang Mama yang meskipun cara membuatnya sama seperti ketika ia membuatnya dengan tangan sendiri, sama juga cara membuatnya ketika ia melihat bibi, sebutannya saat ia memanggil asisten rumah tangga di rumahnya, membuatkannya s**u coklat panas. Tapi Daisy yakin bahwa rasanya pasti akan sangat nikmat karena dibuat dengan penuh cinta. Dan tentu saja ia sangat ingin mencicipinya.
“Tuh kan. Daisy nya juga emang nggak pengen. Ayah ini lebay banget deh pake acara nyeramahin Mama segala,” ucap Mama Sela dengan senyum kemenangannya. Tentu saja ia tak terima disalahkan apalagi diceramahi seperti tadi oleh sang suami di depan kedua putrinya.
“Mmm. Sudah jam tujuh pagi. Kebetulan Daisy ada jadwal kelas pagi. Daisy pamit berangkat dulu ya.” Sudah merasa tak nyaman dengan suasana yang ada. Daisy pun memilih pamit untuk segera berangkat menuju kampusnya. Ia bergegas bangkit setelah menegak habis air minumnya untuk bersalaman kepada sang Ayah dan sang Mama.
“Kak.. hari ini aku berangkatnya bareng Kakak ya?” ucap Daisha seraya menatap sang Kakak dengan tatapan memohonnya. Kebetulan ia juga telah menyelesaikan sarapan paginya, dan memang ia juga pun memiliki jadwal kuliah pagi hari ini.
Mendengar permintaan itu tentu saja Daisy menolak. Sejak beberapa tahun lalu ia selalu merasa tak nyaman jika harus berdekatan dengan sang Adik. Jika memungkinkan ia selalu menghindar jika harus bersama, berada dalam ruang yang sama dengan sang Adik. Kecuali karena beberapa alasan, seperti ketika keadaan memaksanya seperti saat ini, atau ketika hatinya tiba tiba melunak untuk sang Adik meski tak selalu. Entah alasan sebenarnya apa. Meski rasa cinta dan sayang, tetap ada untuk saudari kembarnya itu.
“Mm, kalau kamu bawa mobil sendiri nggak papa kan? Kita berangkatnya sendiri-sendiri aja. Aku kayaknya nanti nggak langsung pulang. Dari pada nanti kamu pulangnya naik taxi online, mending kamu bawa mobil sendiri kan?” ucap Daisy setelah berhasil menemukan ide yang menurutnya begitu cemerlang, bagaimana ia harus menolak permintaan saudari kembarnya itu di hadapan keluarganya.
“Oh, ya udah nggak papa kalau gitu. Nanti aku berangkat sendiri aja, Kak,” ucap Daisy seraya menyunggingkan senyuman manisnya. Memerlihatkan agar dirinya terlihat baik-baik saja meski jauh di dalam hatinya rasanya ia ingin menangis saja. Mau sampai kapan saudari kembarnya itu selalu menghindarinya? Selalu menjaga jarak darinya?
“Kak Daisy, ayoalah.. Mau sampai kapan Kakak begitu? Apa salah aku, Kak?” ucap Daisha dalam hati, seraya menatap sang Kakak yang kini sudah berjalan meninggalkan area ruang makan dengan tatapan sendunya.
"Ekhem. Sayang, kamu mau berangkat bareng Ayah? Ayo kalau kamu mau Ayah antar," ucap sang Ayah yang sepertinya tahu isi hati dan juga pikiran Daisha saat ini. Karena bukan sekali dua kali ia menyaksikan Daisy memberikan penolakan saat Daisha mengajaknya berangkat ke kampus bersama.
"Nggak usah deh, Yah. Bukan apa, Daisha hanya takut nanti Ayah telat nyampe kantornya. Daisha berangkat sendiri aja biar pulangnya nggak harus naik taxi online hehe," jawab Daisha yang segera bangkit dari kursinya. Bergerak menghampiri sang Mama juga sang Ayah untuk menyalimi mereka, saling memberi kecupan, serta meminta doa agar kegiatannya hari ini berjalan lancar.
"Kamu tenang aja. Besok-besok kalau pagi hari Ayah nggak terlalu sibuk. Ayah akan usahakan buat bikin kalian berangkat bersama," bisik sang Ayah saat Daisha selesai mengecup pipinya. Dan jangan lupakan kedipan mata yang sang Ayah berikan di akhir ucapannya. Membuat Daisha seketika langsung tersenyum lebar dan mengangguk penuh semangat.
"Terima kasih, Ayah. Ayah memang Ayah terbaik!"
"Sama-sama, Sayang. Pasti dong! Hehe."
"Kalian berdua lagi pada bisik - bisik apa sih? Bikin Mama penasaran aja." Mama Sela yang tanpa sengaja menatap ke arah keduanya saat baru saja selesai dengan sarapan paginya. Mengeryit heran saat dilihatnya sang suami dengan sang putri sedang saling berbisik. "Apakah mereka berdua sedang membicarakannya?" Pikir Mama Sela curiga.
"Hehe. Bukan apa-apa kok, Ma. Daisha berangkat dulu ya. Daaah.. Assalamualaikum.." Daisha yang memang sudah mengakhiri aksi saling berbisiknya dengan sang Ayah. Bergegas pergi meninggalkan ruang makan. Tentu saja setelah mengucapkan kalimat salam. Kalimat yang bukan hanya merupakan sebuah kata sapaan, namun juga merupakan sebuah kalimat doa.
Karena dari apa yang Daisha ingat, dari sebuah kultum singkat. Kalimat Assalamualaikum memiliki arti semoga keselamatan terlimpah padamu. Sedangkan kalimat Assalamualaikum Warahmatullah memiliki arti semoga Allah melimpahkan keselamatan serta rahmat-Nya padamu, atau semoga keselamatan serta rahmat Allah terlimpah untukmu. Dan kalimat salam yang lebih lengkap, yaitu Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh memiliki arti yang lebih lengkap pula. Yaitu semoga padamu Allah melimpahkan keselamatan, rahmat, serta keberkahan-Nya, atau bisa juga semoga keselamatan serta rahmat Allah dan juga keberkahannya terlimpah untukmu. Maa syaa Allah sekali bukan? Itu artinya, setiap kali kita saling menyapa dengan kalimat salam, sama halnya dengan kita saling mendoakan.
"Wa'alaikumussalam, Sayang. Hati-hati di jalan ya! Jangan ngebut-ngebut bawa mobilnya," jawab kompak Mama Sela dan Ayah Danu.