Selama perjalanan menuju kampus, yang Daisy lakukan selain berusaha fokus dalam hal menyetir mobil adalah termenung. Mengingat ingat perlakuan sang Mama kepadanya akhir-akhir ini. Mm, lebih tepatnya selama kurun waktu tiga tahun belakangan ini. Yaps, setelah hasil keputusan pemilihan jurusan SMA dibagikan.
Bukan hanya perihal s**u coklat panas kesukaan Daisha dan Daisy saja, tapi hal-hal yang lainnya pun sama. Seperti sang Mama ketika bingung hendak menyajikan menu makanan apa saat sarapan pagi atau makan malam, beliau akan bergegas pergi menghampiri Daisha. Menanyakan apakah ada menu makanan yang begitu ingin ia makan? Jika iya, dengan senang hati Mama Sela akan membuatkannya. Bukan sekali dua kali lho. Tapi setiap kali.
Tak hanya itu. Misalnya ketika sang Mama baru saja pulang dari mall atau suatu tempat. Sesampainya di rumah, ia akan langsung datang menghampiri Daisha. Kemudian berkata, "tadi Mama makan siang di rumah makan bento and sushi favorit keluarga kita yang di Kemang. Terus Mama inget kamu. Kamu suka banget menu chicken teriyaki bento sama salmon kani mayo roll nya. Mama beliin deh. Nih.. abisin yaa." ucapnya tanpa rasa bersalah kepada Daisy yang pada saat itu juga berada dalam satu ruangan dengan Daisha.
Saat Daisha dengan perasaan tak enak hati bertanya kepada sang Mama. "Ka.. kalau buat Kak Daisy, Ma?"
Sang Mama dengan polosnya hanya menjawab, "Mm kalau Daisy mau ya kalian bisa sharing."
Padahal Daisy sangat yakin kalau sang Mama tahu dan masih ingat bahwa kedua menu itu bukanlah menu kesukaannya. Dan tentu saja mengetahui fakta bahwa sang Mama tidak memikirkannya membuat Daisy tidak akan ikut memakannya.
Siapa pun itu pasti akan setuju bahwa perlakuan sang Mama kepadanya sangatlah tidak adil. Karena ketidakadilan itu, perlakuan sang Mama yang seakan lupa akan apa inginnya, makanan favoritnya, dan apa yang ia suka, bukan sekali dua kali sang Mama berlaku demikian. Tapi sering kali. Sangatlah terlihat jelas unsur kesengajaannya, karena hal itu sudah terjadi dalam kurun waktu yang terbilang cukup lama. Rasanya terlalu berlebihan bukan kalau alasannya hanya karena hal itu? Hal di masa lalu, di mana Daisy mendapat keputusan dari pihak sekolah untuk masuk ke jurusan IPS. Yang mana sang Mama menginginkan kedua putrinya masuk jurusan IPA.
Padahal itu bukan keputusan Daisy. Karena keputusan akhir ada di tangan pihak sekolah dengan segala bentuk pertimbangannya.
Padahal Daisy yang meskipun dengan berat hati, mau mengikuti keinginan sang Mama untuk menuliskan IPA sebagai pilihan pertamanya. Yang tentu saja konsekuensinya adalah ia harus masuk di jurusan IPA jika hasil keputusan akhir yang ia dapatkan adalah ia masuk jurusan IPA. Meski ia sangat-sangat tidak berkenan. Daisy mau lho merelakan mimpinya demi sang Mama.
Tapi kalau ternyata takdir lebih berpihak kepadanya, ya Daisy bisa apa. Daisy hanya bisa bersyukur akhirnya ia mendapatkan apa yang ia inginkan. Daisy bisa melakukan apa yang diinginkannya. Kesukaannya. Pilihan yang sudah sejak dulu ia pilih karena mimpinya.
Bukan kah seharusnya sekarang giliran sang Mama yang merelakan dan mengikhlaskan mimpinya atas Daisy?
Lagi pula sesuatu yang dipaksakan tidak baik bukan?
Ah sudahlah! Daisy merasa lelah jika terus memikirkan--
Ciiitttt..
"Astaghfirullah!" ucap Daisy terkejut hingga langsung membekap mulutnya. Tuh, kan! Inilah akibatnya kalau nyetir sambil melamun. Bahaya!
"Woi! Lo kalau nyetir itu pakai mata! Liatnya pakai mata! Bukan pakai dengkul, apalagi pakai mata kaki!" ucap marah seorang pengendara motor di depan mobilnya.
"Bukannya turun terus minta maaf malah bengong lagi! Woi! Turun, woi! Ganti rugi! Jangan mentang-mentang Lo orang kaya ya jadi bisa berbuat seenaknya. Apa perlu gue pecahin kaca mobilnya pake batu?" Lanjutnya yang terlihat semakin marah. Bahkan ia sudah meninggalkan sepeda motornya, lalu berjalan cepat mengambil batu besar di pinggir jalan dan bersiap untuk melemparkannya ke arah kaca mobil depan Daisy.
"Pak sabar, Pak. Mungkin orang yang di dalem mobil masih syok. Saya yakin orangnya akan bertanggung jawab. Dia nggak akan kabur. Bapak liat sendiri kan mobilnya masih ada di depan kita. Sekali pun dia ada niatan buat kabur pasti nggak bisa karena udah kita kepung," ucap seorang laki-laki yang entah dari mana datangnya. Laki-laki itu terlihat sedang berusaha menenangkan si bapak pengendara motor yang sedang mengamuk itu di depan mobilnya.
Setelah mengatasi keterkejutannya, Daisy bergegas turun dari mobilnya dengan takut-takut. Kenapa hari ini nasibnya begitu menyedihkan sih? Mengapa hari dan hatinya hari ini full mendung sejak awal pagi? Padahal langit pagi hari ini terlihat begitu cerah.
"Ekhem. Mm, saya minta maaf, Pak. Saya nggak sengaja. Beneran deh," ucap Daisy meminta maaf dengan perasaan takut-takut.
"Alah, Lo pasti tadi nyetirnya sambil main hp kan? Ngaku Lo! Anak muda zaman sekarang emang gitu. Terlalu menganggap enteng. Padahal bahaya itu main hp sambil nyetir mobil."
"Nggak, Pak. Saya nggak lagi main hp. Tadi bener-bener nggak sengaja kok. Saya aja masih nggak percaya saya tadi nabrak motor bapak." Daisy menggeleng gelengkan kepalanya cepat dan berusaha meyakinkan si Bapak. "Maafin ya, Pak. Saya janji saya bakal tanggung jawab kok, " lanjutnya.
"Hah! Alasan! Kalau bukan lagi main hp, atau memang nggak ada unsur kesengajaan harusnya mobil situ nggak nabrak motor gue dong! Jangan-jangan Lo memang sengaja kan? Kenapa? Ada masalah apa Lo sama gue? Bosen idup Lo sampe nyari masalah sama orang yang nggak dikenal? Gue laporan lho ke polisi!"
Daisy dan laki-laki itu saling beradu tatap saat mendengar si pengendara motor tadi masih tak hentinya memarahi Daisy. Bahkan mengancam Daisy akan melaporkan masalah ini ke kantor polisi. "Gue beneran nggak sengaja. Gue juga nggak lagi main hp sambil nyetir mobil seperti yang Bapak itu tuduhkan tadi. Yaa memang sih. Tadi gue sedikit ngelamun. Tapi ya gimana--"
"Nah kan. Akhirnya Lo ngaku juga. Tadi ngelamun? Mau sedikit ngelamunnya atau pun banyak, tetep aja Lo salah! Ngebahayain nyawa orang! Gue akan tetep bawa masalah ini ke kantor polisi," ucap si bapak tadi dengan volume suara yang bisa dibilang cukup nyaring, hingga berhasil membuat orang-orang di sekitar mereka mengalihkan tatap ke arah mereka. Bahkan ada juga yang berdatangan, entah hanya penasaran atau ingin ikut melerai.
"Lo bantuin gue pliss. Gue juga kalau ditanya, ya nggak ada niatan lah mau hal kayak gini terjadi. Gue nggak mau dibawa ke kantor polisi. Bokap nyokap gue bisa marah besar nanti. Bisa-bisa gue diusir dari rumah. Gue nggak mau!" ucap Daisy memohon kepada laki-laki itu, yang namanya pun bahkan tak ia tahu. Masa bodoh akan hal itu. Memohon kepada orang yang tak dikenal? Sebenarnya ini adalah hal yang paling ia hindari. Tapi mau bagaimana lagi. Ia tidak punya pilihan lain saat ini. "Sekarang aja gue lagi berasa dimusuhin Mama karena suatu hal yang menurut gue nggak harus diperbesar. Apalagi kalau ditambah masalah ini. Udah mah gue udah dapet julukan anak pemalas. Bisa-bisa gue dapet tambahan julukan baru lagi. Oh no!" lanjut Daisy dalam hati.
"Lo nya sih. Nyetir mobil pake acara sambil ngelamun segala. Berabe kan sekarang urusannya!"
Di saat seperti ini, tolonglah.. Bukan seperti ini bantuan yang ia butuhkan. Bukan untuk dimarahi lagi. Daisy sudah sadar betul akan letak kesalahannya.
"Iya. Gue kan udah bilang tadi nggak sengaja. Sebentar ini ngelamunnya."
"Mau sebentar mau lama tetep aja Lo salah! Lo harusnya--"
"Shut! Gue tadi bilang minta Lo buat bantuin gue bukan buat ini ya. Iya gue ngaku salah. Itu gimana si bapaknya?! Gue nggak mau masuk penjara. Gue masih punya cita-cita yang harus gue capai." Jika tak ingat ia sekarang sedang di mana, dan sedang ada masalah seperti ini. Mungkin si laki-laki tidak dikenal ini sudah Daisy pukul hingga dirinya merasa puas. Saking geregetannya ia kepada laki-laki itu.
Mendengar celotehan Daisy, si laki-laki itu langsung menghela nafas panjang. Kemudian ia langsung menghadap si pengendara motor tadi. Betul juga. Tujuannya saat ini pada awalnya karena ia ingin melerai. Meluruskan apa yang sebenarnya ia lihat tadi pada saat kejadian. Bukan untuk men-judge siapa pun.
"Begini saja, Pak. Saya harap masalah ini jangan diperbesar. Saya lihat juga kejadian tadi sebenarnya nggak sepenuhnya kesalahan si mbak ini. Saya lihat tadi bapak asal saja mau belok. Jadi keduanya sama-sama salah menurut saya. Jadi--"
"Tapi tetep aja mas saya di sini yang jadi korban. Saya yang mengalami banyak kerugian. Motor saya jadi korban sampai ada baret-baret begitu. Saya pun nih! Ada luka!" Potong si Bapak cepat, sambil menunjuk-nunjuk kondisi motornya saat ini, serta memerlihatkan luka yang didapatnya efek kejadian tadi. "Saya mas di sini korbannya. Si mbaknya mah nggak apa-apa."
"Gini aja. Tadi kan si Mbak nya udah bilang ya mau tanggung jawab. Kita clear in dengan cara damai aja. Sama-sama saling minta maaf, terus si Mbaknya bayar ganti rugi. Karena kalau pun Bapak mau bawa masalah ini ke kantor polisi, saya yakin Bapak juga akan disalahkan. Saya saksinya kalau Bapak juga salah."
Daisy melebarkan senyumnya saat dilihatnya si Bapak mulai mempertimbangkan ucapan si laki-laki tidak dikenal tadi. Ayolah, semoga saja si Bapak mau dan nggak memperpanjang masalah ini, harapnya.
"Gitu ya, Mas? Ya udah deh saya mau diajak damai. Saya mau biaya ganti ruginya lima juta!"
Mendengar itu sontak saja Daisy dan si laki-laki itu memelototkan kedua matanya. Lima juta? Yang benar saja. Pemerasan itu namanya. Daisy pikir lebih baik ia bawa saja masalah ini ke kantor polisi kalau solusinya seperti ini. Lagi pula uang lima juta, uang dari mana dia bisa membayarnya? Apalagi sudah akhir bulan. Niat hati tidak ingin melibatkan kedua orang tuanya bisa-bisa mereka tahu kalau nantinya ia meminta uang sebanyak itu.
"Yang bener aja dong, Pak. Masa lima juta?"
"Empat juta deh."
"Masih kebanyakan, Pak!"
"Tiga juta sembilan ratus?"
"Yah si, Bapak! Kalau mau ngelawak jangan sekarang dong, Pak. Bukannya bikin saya ketawa malah bikin saya tambah emosi tau!" Tawar menawar yang menurut Daisy sangat tidak berperikemanusiaan itu tentu saja membuatnya kesal. Karena setelah ia bepikir panjang, juga setelah ia hitung-hitung, sepertinya total kerugian yang dialami si Bapak itu tidak akan sampai tiga juta sembilan ratusan, apalagi lima juta.
"Lo juga bikin gue emosi tau! Gue nggak mau tau. Gue minta segitu kalau Lo mau lewat jalur damai."
"Shut! Lo mendingan diem deh kalau pengen masalah ini cepet selesai," ucap kesal laki-laki itu kepada Daisy saat dilihatnya keadaan justru bertambah keruh setelah celotehannya barusan yang semakin memancing emosi si pengendara motor. Bahkan parahnya bukan hanya Daisy dan si pengendara motor yang sedang dilanda emosi. Kini dirinya pun sudah mulai tersulut emosi melihat tingkah Daisy dan si pengendara motor yang tak mau kalah itu.
"Mm, saya rasa apa yang dibilang si Mbak ini ada benarnya juga, Pak. Rasanya nggak masuk akal kalau uang ganti ruginya sebanyak itu. Kebanyakan itu mah. Karena kalau saya hitung-hitung biaya kerugian yang seharusnya, sejuta pun nggak sampai kayaknya," ucap si laki-laki itu jujur, setelah menimbang dan menghitung kiranya berapa total kerugian yang dialami si Bapak. Untuk memperbaiki motornya yang baret, juga untuk mengobati luka lecet yang dialami si Bapak.
"Tuh kan. Lo juga mikir gitu kan? Emang si Bapak ini bener-bener ya. Kayaknya mau memanfaatkan situasi untuk mengambil keuntungan pribadi ya?! Sudah kuduga!"
Mendengar itu sontak saja si laki-laki tidak dikenal itu memberikan tatapan tajam ke arah Daisy. Pikirnya, ini anak dari tadi kayaknya nggak bisa liat situasi ya? Maunya apa sih? Seharusnya kalau dia ingin masalahnya cepat selesai dia harus tenang. Bernegosiasi dengan cara baik-baik. Bukan justru terus memancing emosi si Bapaknya.
"Hehe, maaf maaf. Oke gue diem," ucap Daisy meminta maaf, yang diakhiri dengan gerak tangan mengunci kedua daun bibirnya.
"Jadi gimana, Pak?"
Setelah berpikir selama beberapa detik, si Bapak itu pun akhirnya mengangguk. Setelah menghela nafasnya cukup panjang ia berkata, "Ya udah gimana baiknya menurut mas aja. Asalkan sesuai ya, Mas. Saya percaya sama si mas nya. Gue juga ogah berurusan lama-lama si Mbak ini! Gue tebak Lo pasti nggak punya pacar kan? Haha.. mana ada orang yang mau pacaran sama orang kayak Lo, Mbak, Mbak!"
"Hehe, sotoy banget si Bapak!" Tidak ada angin, juga tidak ada hujan. Kenapa si Bapak harus menyinggung perihal pacar sih? Kan Daisy bertambah emosi.
"Perasaan dari tadi lo manggil gue Bapak mulu. Gue bukan Bapak Lo ya! Lagian gue juga masih muda. Nggak setua itu untuk dipanggil Bapak."
"Yeee situ juga manggil saya Mbak mulu dari tadi. Saya bukan Mbak nya situ ya! Saya juga masih sangat-sangat muda!"
"Udah-udah stop. Saya pikir solusi terbaiknya adalah motornya dibawa ke bengkel terdekat aja, Pak. Eh, mas aja kali ya kalau nggak mau dipanggil Bapak. Kebetulan saya ada kontak bengkel deket-deket sini. Nanti saya hubungi mereka supaya bantu bawa motor mas nya. Nanti notanya minta langsung dikirim ke nomor Mbaknya aja. Untuk luka lecet yang mas alami, kalau sekiranya mas pingin pergi ke klinik untuk diobati di sana nanti notanya juga tinggal langsung dikirim ke si Mbaknya. Oh iya, saya lupa. Nama saya Arsel. Nanti pas orang bengkelnya datang Bapak sebutin aja nama saya. Biar cepet diproses. Bengkelnya rame banget soalnya. Mungkin itu yang bisa saya bantu. Saya pamit ya. Saya lagi buru-buru sebenarnya," ucap laki-laki itu sekaligus pamit undur diri. Mungkin benar ucapnya barusan. Sebenarnya ia sedang terburu-buru. Terlihat ia yang langsung berlari cepat menuju mobilnya setelah melihat jam tangannya.
Mendengar kata buru-buru, Daisy merasa teringat akan sesuatu. Tapi apa ya?
"Ah ya! Astaghfirullah.. gue kan ada jadwal kuliah pagi. Bisa-bisa telat ini," gumamnya saat ingat tujuannya ia berkendara tadi. Menuju kampus karena ada jadwal kuliah pagi.
"Pak eh, Mas. Saya juga lagi buru-buru nih. Ada jadwal kuliah pagi. Saya tulis nomor saya ya. Sebentar.." Daisy bergegas pergi mengambil secarik kertas juga pulpen dari dalam mobilnya. Menuliskan nomor teleponnya kemudian memberikannya kepada si pengendara motor itu.
"Nanti kalau udah ada totalannya langsung hubungi saya ya, Mas. Tapi jangan dilebih-lebihin lho. Ntar dosa!" Daisy ini. Masih.. saja!
"Bawel Lo! Iya. Udah sana pergi!"