Sangat Menarik

1592 Words

“Aku—” Kata itu terjebak di tenggorokan Alina seperti duri yang menolak ditelan. Ia tahu. Ia benar-benar tahu. Sebagai dokter, Gibran tidak membutuhkan pengakuan panjang. Tatapan matanya sudah berubah—tajam, menghitung, menyusun potongan fakta dengan kecepatan yang menakutkan. Alina menelan ludah. “Ini bukan urusanmu,” akhirnya ia berkata lirih, meskipun suaranya terdengar rapuh bahkan di telinganya sendiri. Gibran tertawa pendek. Bukan tawa lucu—lebih seperti reaksi seseorang yang baru saja dihantam realitas absurd. “Bukan urusanku?” ulangnya pelan. Ia melangkah lebih dekat lagi. “Alina, kau baru saja hampir muntah di depan seorang dokter yang tahu persis apa gejalanya.” Tatapannya turun sekilas ke perut Alina sebelum kembali ke wajahnya. “Dan kau ingin aku percaya ini tidak ada

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD