—tuntutan untuk mengubah seluruh rencana hidupnya. Tuntutan untuk berlutut di hadapan takdir yang ia sendiri ukir dengan tangannya, di tengah malam penuh kekosongan. Alina menyentakkan tangan dari perutnya seolah kulit itu panas membara. Mengapa aku melakukan ini? Mengapa aku bersikap seolah aku telah siap menjadi seorang ibu? Lima alat tes kehamilan berbaring di wastafel marmer, lima kebenaran yang tak terhindarkan, lima cerminan kegagalannya menjaga kendali diri. Kata PREGNANT yang bersinar di alat digital itu terasa seperti ejekan sarkastik terhadap moto hidupnya, ‘Kesempurnaan adalah hasil dari perencanaan matang.’ Ini salah. Ini harus salah. Ia menarik napas yang terasa tajam menusuk paru-parunya. Penyangkalan merayap, bukan lagi penyangkalan terhadap hasil tes, tetapi penyangkalan

