Di Tengah Keramaian

3694 Words
Jo akhirnya selesai menata perlengkapan misa bersama Centia. Setelah memberi beberapa instruksi terakhir, ia menepuk bahu Centia pelan dan mundur sedikit. Saat ia menoleh, pandangannya langsung tertuju padaku. Ada jeda singkat—reaksi kecil yang terasa spontan. Ia mulai berjalan ke arahku, dengan Centia mengikuti di belakangnya. Langkah Jo tampak mantap, dan sudut bibirnya terangkat tipis. Senyum itu sulit ia sembunyikan, dan aku bisa langsung merasakannya. Itu seperti ekspresi seseorang yang baru saja melihat sesuatu yang membuat dadanya berdetak lebih cepat. “Ra,” katanya pelan begitu cukup dekat. “Tumben kamu datang pagi.” Aku buru-buru menjawab, berusaha terdengar santai, seolah memang tidak ada apa-apa di antara kami. “Ee-ehh iya.. Lagi nggak mau buru-buru aja,” kataku sambil tersenyum kecil. Jawabannya terdengar aman, ringan—seolah memang tidak pernah terjadi apa pun yang aneh di antara kami. Mungkin itu akan sepenuhnya meyakinkan, kalau saja ia tidak terus menatapku sejak berdiri tepat di depanku. Tian di sampingku menyapa Jo, dan Jo membalas singkat sebelum pandangannya kembali jatuh kepadaku. Ia mencondongkan tubuh sedikit. Suaranya menurun, berubah menjadi bisikan yang hanya bisa kudengar. “Dress-nya…” Jo berhenti sejenak, menelan napas kecil. “…bagus.” Bisikan itu terdengar terlalu jujur untuk menjadi komentar biasa. Aku mengangguk, berusaha tetap tenang. “Tadi kan kamu yang pilih.” Jo tersenyum kecil—sudut bibirnya terangkat perlahan. Senyum yang membuat jantungku seperti melonjak. Biasanya aku datang mepet, sekitar lima menit sebelum misa dimulai, dan akhirnya harus duduk di bagian paling belakang. Tapi hari ini aku datang lebih awal, jadi kami berempat bisa duduk bersama: aku, Jo, Tian, dan Centia. Saat aku menoleh, aku melihat Via duduk di barisan sebelah kanan bersama adiknya, Lia. Centia sedang mengobrol dengan Tian. Sesekali ia menyapaku seperti biasa—ceria dan ramah. Aku mencoba membalas dengan nada serupa, walau aku tahu ia bisa merasakan kegugupanku. Bayangan tentang apa yang baru saja terjadi di antara kami bertiga masih terbayang, meski aku berusaha tidak memikirkannya. Jo yang duduk tepat di sampingku terlihat tenang, seolah memang tidak ada apa-apa. Tatapannya biasa saja, seperti semua yang terjadi kemarin hanyalah hal wajar baginya. Anehnya, justru sikap tenangnya itu membuatku semakin gugup. Beberapa menit kemudian, misa dimulai. Awalnya aku masih bisa bernapas normal. Sampai akhirnya, tanpa gerakan mencolok dan tanpa menoleh, tangan Jo bergerak mendekat ke tanganku yang terlipat di pangkuan. Ujung jarinya menyentuh punggung tanganku lebih dulu—ringan sekali, hampir seperti tidak sengaja. Aku tidak bergerak. Tidak menarik tangan, tapi juga tidak memberikannya. Hanya diam. Dan karena tidak ada penolakan, Jo perlahan menautkan tangannya dengan tanganku. Terasa hangat dan tenang. Mungkin karena terlalu tenang… aku sendiri malah tidak tenang. Jantungku berdetak kencang, telingaku ikut memanas. Aku menunduk sedikit agar ekpresiku tidak terlalu terlihat oleh orang lain. Sementara itu, Jo tetap menatap ke depan, seolah menyentuh tanganku bukan hal besar. Aku berusaha fokus pada misa di depan, tapi gagal total. Dalam keheningan itu, yang paling jelas justru degup jantungku sendiri. Dan tangan Jo tetap di sana, menggenggam tanganku dengan ketenangan yang justru membuatku gemetar, sampai suara pastor terasa jauh dan sulit kupahami. Saat pastor sedang berceramah, dari sisi kiri, aku merasakan seseorang bergerak. Tian memanggilku pelan. “Ra…” bisiknya pelan, cukup untuk menarik perhatianku. Aku refleks menoleh sedikit, memastikan Jo tidak terganggu. Ia tetap menatap ke depan dengan wajah tenang, seolah tidak sedang melakukan apa pun. Tian kemudian condong mendekat, wajahnya bergeser ke arahku. “Aku… mau nanya sesuatu,” gumamnya. Aku menegakkan punggung. “Hmm? Apa?” Di saat yang sama, tangan Jo menekan tanganku pelan. Bukan melepaskan—justru menggenggam lebih kuat, seolah sadar bahwa Tian sedang memperhatikan. Dan tanpa sengaja… Tian melihatnya. Matanya turun sebentar ke tangan kami. Ia pasti menyadari ada sesuatu antara aku dan Jo. Aku hanya bisa menahan napas. Dalam sepersekian detik, pikiranku kacau: Tian kaget? Salah paham? Panik? Atau… Tidak. Reaksinya bukan salah satu dari itu. Tian hanya menatapku dengan ekspresi yang sama. Tidak terkejut. Tidak menggoda. Tidak memberi tatapan “kamu ketahuan”. Seolah… dia memang sudah tahu sejak awal. “Hmm…” gumamnya pelan, seperti sedang berpikir. “Aku cuma mau nanya… kamu nanti ikut makan bareng kita kan? Habis misa?” Aku mengangguk cepat, pipiku terasa hangat karena salah tingkah. “Iya… iya, ikut.” Tian tersenyum—tenang dan ramah seperti biasanya. Tapi ada sesuatu di matanya. Semacam pemahaman, seolah ia tahu lebih banyak daripada yang kuperkirakan. “Okedeh..” bisiknya, sebelum kembali menghadap ke depan dan melanjutkan misa. Aku melirik Jo sekilas. Ia tetap fokus ke depan, tapi di sudut bibirnya ada senyum tipis—hampir tidak terlihat. Senyum yang menunjukkan bahwa ia sama sekali tidak takut meskipun kami sudah ketahuan. Atau mungkin… sejak awal hal ini memang bukan lagi rahasia bagi mereka? “Misa sudah selesai. Mari kita pulang dalam damai Tuhan…” seru Pastor. “Amin..”, sahut seluruh jemaat bersama-sama. Orang-orang mulai bergerak, suara bangku kayu bergeser memenuhi ruangan. Saat aku berdiri, barulah aku sadar: Jo baru melepaskan tanganku sepersekian detik setelah semua orang bangkit. Ia tidak terburu-buru. Seolah ia melepas bukan karena takut ketahuan, tapi karena misa memang sudah selesai. Dan anehnya… bukannya lega, aku malah merasakan hilangnya kehangatan genggamannya. Kami mulai berjalan keluar. Jo berada di sampingku—cukup dekat, meski tidak menyentuh. Tapi jarak sekecil itu pun masih terasa seperti sisa dari genggaman tadi, seolah hangatnya belum benar-benar hilang dari diriku. “Ra..” Jo memanggilku pelan saat kami mendekati pintu gereja. Aku langsung menoleh—terlalu cepat, tanpa sengaja. Jo tersenyum kecil, tenang, tanpa sedikit pun tanda gelisah. Seolah baginya apa yang terjadi sebelumnya… memang hal yang wajar. “Kamu gapapa?”, tanyanya. Pertanyaannya sederhana, tapi dari nada suaranya… terasa lebih dekat dan penuh perhatian. Seolah ia sedang memastikan sesuatu yang hanya dimengerti oleh kami berdua. “Aku gapapa Jo... Tapi…” Kalimatku terhenti saat melihat Tian berdiri beberapa langkah di depan, melambai kecil. “Ra! Jo! sini.. Cepetan dong jalannya...” Kami berdua refleks saling menatap dan tertawa kecil. “Ayo.. Sebelum dia semakin menjadi-jadi..” Lalu kami berjalan mendekat ke arah Tian dan teman-teman. Tian berdiri santai sambil mengaitkan tasnya. Saat matanya bertemu mataku, ia hanya tersenyum… entahlah, menurutku ia terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja melihat dua temannya bergandengan tangan diam-diam di tengah misa. “Jadi, makan bareng kan kita?” tanya Tian. Aku mengangguk. “Iya, jadi… Mau makan di mana sih?” “Nggak tau nih.. Enaknya di mana ya?”, ujar Tian berbalik ke arah Jo. Sekilas, tatapannya menunjukkan bahwa ia memahami apa yang terjadi dan tidak mempermasalahkannya. Seolah menangkap maksud Tian, Jo hanya tersenyum dan mengangguk. Sementara Via dan Lia sibuk berunding dengan yang lain, Tian mendekat ke mereka dengan sikap yang benar-benar biasa, seakan tidak ada apa pun yang perlu dipertanyakan. Aku menelan ludah, mencoba memahami semuanya. Jo tiba-tiba menunduk sedikit, mendekat. Suaranya rendah, jelas ditujukan hanya untukku. “Kamu kelihatan lagi mikirin sesuatu.” Aku memandangnya sebentar. “Bukan apa-apa… cuma… tadi waktu di dalam, Tian lihat kita lagi… gandengan..” Jo mengangguk pelan, “Aku tahu.” “Kamu nggak… khawatir?” tanyaku lirih. Jo tersenyum kecil—hangat, sabar, dan entah kenapa justru membuatku semakin gugup. “Kenapa harus khawatir?” katanya. Kalimat itu sederhana, tapi memberi rasa tenang yang sulit kujelaskan. Saat Jo melangkah mengikuti Tian, aku hanya bisa diam, membiarkan perasaan itu tumbuh pelan-pelan. Menyadari betapa besar arti genggaman tangan yang hanya sejenak itu. Tiba-tiba Centia menarik tanganku pelan. “Ra, ikut aku bentar ke kamar mandi, yuk..” katanya sambil memberi isyarat halus dengan uluran tangannya. Aku sempat bingung, “Hah? Ngapain Cent?” “Udah ikut aja.. Nggak lama kok.” ujarnya. “Perintah Jo..”, lanjutnya sambil berbisik padaku pelan. Karena tidak ingin menarik perhatian, aku mengikutinya masuk menuju kamar mandi kecil di samping ruang serbaguna. Begitu pintunya tertutup, Centia menghela napas pelan dan membuka tasnya. “Ini,” katanya sambil mengeluarkan sebuah kotak kecil. Aku menatapnya bingung. “Apa itu?” “Buka aja.. Ini titipan dari Jo..” Aku menerima, lalu membuka kotak itu. Di dalamnya ada mainan berbentuk seperti milik Jo—sesuatu yang selalu membuatku penuh desahan dan kenikmatan dalam dua malam kemarin. Itu mainan berbentuk p***s. “Cent... Ini...” Centia tersenyum geli dan mengangguk pasti ke arahku, “Mainan ini kan pernah kamu pakai waktu kita di apart. Jo yang bilang ke aku kalau kamu harus pakai ini sekarang.” Aku terkejut mendengar ucapannya. Mainan itu, aku pakai... sekarang? Di depan teman-teman kita? “Tapi ini… gimana caranya? Kita lagi sama anak-anak, terus... Kalau aku nggak bisa tahan gimana Cen?” Nada suara Centia terdengar geli, tapi wajahnya sedikit memerah. Rasa canggung di antara kami lalu mencair. “Aku yakin, kamu bisa kok. Kamu nggak sendirian.. Nanti ada aku sama Jo juga yang jagain.” Centia memberi kode supaya aku mendekat. “Sini deh. Aku bantu pasangin ke kamu...” Aku mendekat pelan. Centia berdiri di depanku, mengambil mainan itu lalu mengoleskannya dengan sesuatu yang bahkan aku tidak tahu namanya apa. Menyadari aku menatapnya, Centia dengan sabar menjelaskan: “Ini cairan pelumas. Biar lebih gampang masuk ke vaginamu dan gak gampang kering nanti.” Setelah melumasinya, Centia lalu berlutut dan memintaku membuka kaki dengan lebar. Jantungku berdebar saat ia melakukan itu. Bayangan akan kelihaian Centia kemarin, membuatku bergidik pelan. Perlahan, salah satu tangannya menyibakkan dressku ke atas. Dengan hati-hati, ia menurunkan celana dalamku sedikit lalu mengusap vaginaku yang tanpa kusadari sudah mulai basah karena perlakuan Centia. “Belum diapa-apain kok sudah basah sih Ra. Tapi gapapa deh... Alatnya jadi gampang masuk.” Alat itu mulai menusuk masuk ke dalam vaginaku. Awalnya sedikit sakit, tapi lama-lama terasa penuh. “Sshhh... Cent...” “Ssstt… Jangan keras-keras Ra... Desahanmu bisa bikin orang curiga.”, ucapnya sambil tertawa geli. Begitu alat itu sudah sepenuhnya tertanam di dalam tubuhku. Centia merapikan celana dalam dan dressku. Lalu menatapku dengan tatapan yang menguatkan. “Oke. Udah selesai. Kamu pasti bisa, lama-lama kamu pasti bakal terbiasa...” katanya santai. Centia lalu menutup kotak kosongnya kembali dan memasukkan ke tas yang dibawanya sejak tadi. “Kamu yakin Cent?”, tanyaku ragu. Kurasa Centia memang benar. Vaginaku terasa sangat penuh. Nikmat dan tidak nyaman di saat bersamaan. Tapi kalau ini memang keinginan Jo, aku tidak punya pilihan lain selain menurutinya. “Aku yakin. Seratus persen.” “Ayo keluar, nanti anak-anak pada nyariin,” lanjutnya. Kami berdua keluar dari kamar mandi dan kembali bergabung dengan yang lain. Hanya dengan meninggalkan ruang kecil itu saja, aku baru sadar kalau degup jantungku masih belum stabil. “Lama banget sih Cent...”, teriak Via. “Iya, habis dari kamar mandi nih. Sori-sori...” Sementara Centia masih saling bersenda gurau di sampingku. Aku masih berusaha menyesuaikan diri dengan mainan yang ada di dalam vaginaku. Saat berjalan, rasanya seperti menusuk-nusuk. Belum lagi rasa basahnya. Aku takut kalau teman-teman yang lain menyadari perubahan sikapku. “Danis! Kamu boncengin aku ya?” katanya pada adikku. “Hah? Oh, iya, Mbak Cent,” jawab Danis, terlihat agak kaget tapi tidak menolak. Di sebelah mereka, Via berdiri dekat motor adiknya, Lia. “Lia sama aku ya.” Sementara itu, Tian kulihat sudah berdiri dekat motor bersama Chatrin, yang terlihat akrab seperti biasanya. Itu bukan hal yang mengejutkan. Chatrin memang sudah lama dekat dengan kami, meski bukan bagian dari party family. Ia sering ikut mengobrol—terutama denganku—soal update make up atau konsep MUA terbaru. “Aku sama Tian,” kata Chatrin santai. Tian mengangguk. Dan Jo… otomatis berhenti di sampingku. “Rara,” panggilnya pendek. “Iya Jo...” Melihat wajah Jo yang tersenyum menggoda ke arahku, membuatku semakin tidak bisa mengontrol tubuhku. “Tahan ya… Kamu terlihat semakin menarik, saat ini...” ucap Jo pelan. Aku menunduk malu, tidak sanggup menjawab godaan Jo. Setelah itu, Jo naik ke motornya, menyalakan mesin, menatapku sebentar, lalu berkata, “Ayo Ra... Kamu pasti bisa…” Dengan jantung yang masih belum stabil sejak tadi, aku naik ke jok belakang. Suara mesin motor mengisi keheningan kecil di antara kami. Saat motor mulai melaju, angin yang menerpa wajahku tetap tidak cukup untuk menutupi kenyataan bahwa hari ini… banyak hal sudah berubah. Motor Jo melaju stabil di jalanan yang mulai ramai. Angin menyapu wajahku—cukup sejuk untuk membuat tubuhku sedikit lebih tenang, tapi tidak cukup untuk menghentikan pikiranku berlarian. Tanganku perlahan memegang pinggang Jo, mencoba mencari sedikit pegangan. Namun seiring perjalanan, gerakan motor membuat sesuatu yang tadi sudah terasa… semakin mengusik. Sensasinya menusuk-nusuk halus, membuatku menahan napas dan mengeluarkan erangan kecil tanpa sengaja dari balik punggung Jo. Aduh… rasanya sulit menahannya. “Hmmphh.. Pelan-pelan Jo bawa motornya...” “Kenapa Ra? Sakit ya?” “Sedikit Jo.. Rasanya nusuk-nusuk di dalam…” Jo tertawa. Tangannya mengusap punggung tanganku yang sudah melingkar di pinggangnya. “Aku pelan-pelan deh Ra... Kamu duduk yang nyaman ya...” Kata-kata itu seperti menguatkanku untuk tetap bertahan. Demi dirinya. Akhirnya, kami tiba paling akhir. Yang lain sudah berdiri di depan restoran kecil langganan kami. Suasananya santai dan akrab seperti biasa, tapi entah kenapa semuanya terasa sedikit berbeda bagiku. Centia melambaikan tangan begitu melihat kami datang. “Ra! Jo! Sini!” Jo memarkir motor. Saat aku turun, aku sadar bahwa rahasia kecil yang hanya kami bertiga tahu masih tetap ada di antara kami. Aneh, tapi rasanya aku mulai terbiasa menerimanya. Centia mendekat perlahan dan menatapku sebentar, seolah ingin memastikan aku baik-baik saja. “Aman kan?” bisiknya singkat, hanya aku yang dengar. Aku berusaha memaksakan senyum kecil. “Aman Cent…” “Ya sudah... Kamu jalan pelan-pelan aja.. biar nggak semakin nusuk dan sakit…” Ia tersenyum penuh pengertian. Mungkin… sebelum aku, Centia juga sudah pernah mengalaminya lebih dulu. Kami lalu masuk ke restoran bersama. Aku berusaha keras untuk terlihat biasa, padahal dari tadi rasanya aku harus menahan diri agar tidak melakukan hal apa pun yang bisa terlihat berbeda—atau memberi kesan seolah aku sedang menyembunyikan sesuatu. Jo duduk di sampingku. Ia mengambil menu, membuka halaman pertama, lalu—tanpa menoleh—berkata pelan, “Duduk yang nyaman, Ra.” Hanya itu. Kalimat biasa. Tapi nadanya membuatku otomatis memperbaiki posisi duduk. Aku bergeser pelan, mencoba mencari posisi yang nyaman agar tidak tampak seperti sedang menahan sesuatu. Kalimat itu terasa seperti tanda bahwa ia baru saja akan memulai “permainannya”. Dari saku celananya, Jo mengeluarkan remote kecil. Ukurannya pas di tangan, mudah disembunyikan dari pandangan orang lain. Centia, yang duduk di sebelahku, langsung menyadarinya. Ia cepat-cepat memberikan buku menu padaku, seolah ingin mengalihkan perhatianku sebentar. “Ra,” panggilnya pendek. Aku menoleh. Jo mencondongkan sedikit tubuhnya, nada suaranya rendah dan sangat tenang. “Aku mulai. Tahan ya Ra...” Meski pelan, Centia bisa mendengar bisikan Jo. Ia menggenggam tanganku, seakan mencoba menenangkanku. Tak lama kemudian, aku merasakan getaran halus di balik celana dalamku. Oh… tidak… “Hmphhh..” Tian yang ada di depanku, menoleh pelan. “Eh Ra.. Kenapa? Kok kayaknya kamu lagi nggak nyaman…” Matanya melihatku penuh tanda tanya, ingin tahu. “Ee-ehh.. Aku gapapa Tian.. Cuma laper aja.” Getarannya semakin terasa. Refleks aku membalas pegangan tangan Centia dengan erat. “Ohh laper.. Mau pesan yang biasa atau mau coba yang baru?” tanya Tian. “A-aku… yang biasanya aja,” jawabku. Tian mengangguk pelan. “Okee.” Aku mencoba menyeimbangkan napas. Tian dan Via sibuk membahas harga menu yang naik. Centia masih memilih makanan, dengan tangannya tetap mengusap punggung tanganku pelan. Semua orang terlihat santai seperti hari biasa. Hanya aku yang merasa dunia berputar sedikit lebih pelan. Ketika Jo mengetuk meja sesekali dengan jarinya—ritme kecil dan halus—aku tiba-tiba mendongak. Dari seberang meja, Tian menangkap itu. Chatrin yang duduk di sebelahnya juga ikut memperhatikanku. “Tarik napas Ra.. Tenang..”, bisik Jo saat mereka berdua sudah tidak memperhatikan kami. Jo kembali menekan tombol kecil di remotenya. Seketika alat yang ada di dalam vaginaku, bergerak naik turun. Seolah-olah, Jo dalam versi mini sedang menggerakkan penisnya di vaginaku—di tempat umum, di depan teman-temanku, dan di tengah keramaian. “Jo...”, rintihku pelan. Kalimat Centia di gereja tadi ternyata benar-benar terjadi. Sekarang aku benar-benar terasa panas dan rapuh. Rasanya ingin pulang saja dan menyelesaikan semua yang tertahan sejak tadi. Tapi mau bagaimana lagi—aku harus bertahan dan mengikuti setiap gelombang sensasi yang datang. Pelayan mulai meletakkan pesanan di meja. Semua orang terlihat santai, sibuk dengan cerita masing-masing. Tidak ada tanda apa pun yang berbeda. Tidak ada… kecuali apa yang kurasakan di dalam diriku sendiri. Beberapa saat kemudian, aku merasakan sesuatu yang membuat tubuhku menegang pelan. Hampir saja ekspresiku berubah tanpa bisa kutahan—seperti ada hentakan kecil yang membuat wajahku bereaksi. Sudut bibirku sempat tertarik, dan mataku terasa ingin terpejam, tapi justru malah membesar sedikit. “Jo… Sshhh...” Aku merasakan gelombang refleks itu naik—cepat, seperti akan muncul tanpa bisa kucegah. Dan tepat saat itu, Jo menatapku. Pandangannya turun ke tanganku yang masih menggenggam tangan Centia di pangkuanku. Lalu, dengan satu gerakan tenang, ia menarik tangan Centia dan menggantinya dengan tangannya sendiri. Genggaman tangannya mengingatkanku bahwa aku sedang menjalani momen ini bersamanya. Aku menarik napas perlahan dan mengembuskannya pelan, gerakan kecil yang mungkin tidak diperhatikan siapa pun, tapi bagiku terasa seperti cara sederhana untuk menenangkan diri. Chatrin, yang duduk di seberang, memperhatikanku—bukan dengan curiga, tapi lebih seperti kebingungan. “Mbak Ra…” gumam Chatrin, pelan, masih bingung. “Mbak nggak apa-apa?” Aku membuka mulut, hampir tidak yakin apa jawabannya. “Aku— hmmph.. Ga… papa...” Hanya dua kata, tapi tubuhku seperti tidak sejalan dengan pikiranku. Dadaku terasa panas, napasku kacau, dan aku kesulitan untuk tetap fokus. Semuanya terasa terlalu kuat sampai otakku seperti berhenti sebentar. Jo mencondongkan badan. Suaranya pelan, seperti sedang mengingatkanku dengan nada yang hampir biasa: “Ra… coba atur napas dulu, ya.” Chatrin menatapku, lalu menatap Jo, kemudian kembali menatapku—berusaha mencari penjelasan yang masuk akal. Karena nada Jo terdengar tenang dan biasa saja, Chatrin tidak melihat apa-apa selain perhatian seorang teman. Padahal apa yang kurasakan di balik itu… jauh lebih kuat. Dengan segenap usaha, aku mengikuti ucapan Jo. Tarik napas kecil. Hembuskan. Kali ini aku berusaha tidak terlihat panik, tidak kikuk, dan tidak menunjukkan betapa sulitnya aku menjaga diri tetap terlihat normal. Chatrin akhirnya mengangguk kecil, meski wajahnya masih terlihat bingung. “Oh… oke. Kirain kamu sakit Mbak..” Aku tersenyum tipis—senyum yang kupaksa untuk terlihat baik-baik saja. “Enggak, kok. Aku cuma… lapar.” Padahal tangan Jo di pangkuanku bergerak pelan, mengusap tanganku seolah memberi tanda bahwa aku sudah melakukan hal yang benar. Sentuhan itu justru membuatku jauh lebih tenang daripada ucapan siapa pun. Untung saja, Chatrin tidak bertanya lebih jauh dan memilih mengobrol dengan Centia. Kurasa Centia juga sengaja mengalihkan perhatian agar tidak terus melihat ke arahku dan Jo. Karena kami sedang berada di titik yang sangat intens—momen yang membuat seluruh tubuhku menegang dan hampir kehilangan kendali, seolah sesuatu di dalam diriku siap pecah menjadi rasa lega yang sulit dijelaskan. “Jo... Aku mau keluar Jo...” bisikku pelan. Jo mendekat dan tersenyum, “Dasar p*****r kecil. Sana keluarin semua. Rasain rasanya klimaks di depan teman-temanmu. Biar kamu tahu rasanya nikmat di tempat umum kayak pelacur.” Kata-kata Jo, semakin membuatku merasa b*******h. Getaran yang tadinya terasa biasa-biasa saja, entah kenapa kini terasa semakin cepat dan mengisap klitorisku tanpa ampun. Gerakan mainan maju mundur dengan cepat, seolah mengocok dinding vaginaku, terasa semakin tidak beraturan. Badanku gemetar. Jantungku berdebar keras. Sedikit lagi… sedikit lagi… Dalam sekejap, tubuhku mengejang. Tanganku mencengkram erat tangan milik Jo dan tanpa sengaja meloloskan erangan pelan dari bibirku, “Awhh..” Seketika, Centia menoleh. Jo hanya tertawa kecil dan mematikan alat itu. “Ra... aku tahu kamu suka, tapi jangan keras-keras...” ucap Centia berbisik sambil tersenyum geli. Dia pun menoleh dan mengeraskan suaranya, tawanya—seakan berusaha melindungiku dari perhatian sekitar. Harus kuakui, aku benar-benar tersentuh oleh tindakannya. “Sudah puas Ra?” Jo menunduk ke arahku dan melepaskan genggamannya. Tanpa seorang pun sadar, tangannya menyusup ke dalam dressku dari balik meja. Jarinya mengusap vaginaku pelan dari balik celana dalam yang masih menempel. “Basah banget Ra… Pasti enak kan?” Aku menunduk malu. Ini pertama kalinya aku merasa seperti ini. Malu. Nikmat. Bercampur menjadi satu. Kukira setelah beberapa menit, jantungku akan kembali normal. Tubuhku juga kukira akan kembali tenang. Tapi ternyata tidak. Setiap kali aku mulai stabil, selalu ada sesuatu yang mengingatkanku—bahwa bahkan alat kecil dari Jo saja bisa menggoyahkan seluruh keseimbanganku. Rasanya seperti ada pola yang tidak terlihat, pola yang hanya dipahami oleh aku dan Jo. Dan aku mengikuti ritmenya begitu saja, tanpa perlu penjelasan apa pun. Baru ketika aku menyadarinya, pipiku mulai terasa hangat. Kenapa aku bisa begitu… patuh? Pertanyaan itu sempat muncul dan membuatku hampir gugup lagi. Tapi saat aku mencuri pandang ke arah Jo, ia tetap santai. Tidak menatapku. Tidak memberikan respons apa pun. Justru malah sebaliknya—ia terlihat sangat tenang, seolah apa yang baru saja terjadi bukan sesuatu yang besar. Dan mungkin itu bagian paling berbahaya: bahwa yang membuatku mengikutinya bukan perintah keras, melainkan ketenangan itu. Ketenangan yang membuatku ingin bergerak selaras dengannya tanpa berpikir. Di seberang meja, Chatrin masih tampak bingung. Ia melihatku, lalu melirik gelas yang kupegang terlalu erat. Kemudian ia menatap Jo, lalu kembali lagi padaku. “Mbak Ra…” katanya pelan, seolah mencoba memahami sesuatu, “kamu tuh… kayak beda banget hari ini.” Jantungku langsung berdebar. Tapi sebelum panikku sempat muncul, Jo berkata—dengan nada paling datar: “Mungkin dia cuma lapar.” Biasa. Netral. Tidak memberi ruang untuk interpretasi apa pun. Chatrin langsung berhenti menatapku dan mengangguk pelan. “Ooh… yaudah. Mungkin sebentar lagi, makanannya datang mbak…” Aku mengangguk dan tersenyum tipis pada Chatrin. Jo bergerak sedikit. Tidak menyentuhku secara langsung. Tidak memberi isyarat mencolok. Ia hanya kembali mengusap pelan punggung tanganku. Isyarat kecil yang mungkin tidak diperhatikan siapa pun… tapi aku tahu maksudnya: fokus, tenang. Dan tubuhku langsung menurut. Tanpa berpikir. Tanpa menanyakan alasan. Saat itu aku baru sadar—dan mungkin inilah yang membuatku benar-benar merinding pelan: benda kecil yang masih tersembunyi di vaginaku bukan sekadar alat. Rasanya seperti pengingat halus bahwa hari ini… aku sudah “selangkah” lebih dekat dengan ritme yang Jo tetapkan. Dan betapa mudahnya aku mengikuti ritme itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD