“Aku mencarimu karena sudah lama tidak pulang ke apartemen,” kata pria itu sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana panjang yang dikenakannya.
“Mana mungkin aku pulang jika kau tidur di sana!” maki Rinka.
Alina dan Tania saling bertukar pandang dengan raut kebingungan.
“Karena itu aku datang kemari setelah bertanya pada Nyonya Rachel tempat magangmu. Aku akan pindah karena sudah menemukan tempat tinggal baru, jadi kamu bisa kembali ke apartemenmu lagi.”
“Tunggu-tunggu! Apa yang kalian bicarakan?” Alina menyela pembicaraan, kemudian bertanya lagi, “Kalian tinggal di apartemen yang sama?!”
“Karena bulan ini aku membayar setengah uang sewanya, Nyonya Rachel tiba-tiba saja menyuruhku berbagi ruangan dengan pria asing ini! Bahkan sampai saat ini pun aku tidak pernah tahu siapa namanya karena malam itu langsung pergi meninggalkan apartemen,” jelas Rinka.
“Namaku Alex, ini kunci apartemenmu.” Alex menyodorkan kunci apartemen Rinka.
Rinka hanya bergeming menatap kunci tersebut dengan raut sedih. Ia sudah bisa pulang ke apartemen dan artinya ia tidak akan tinggal di kamar inap Dominic lagi.
“Kenapa? Kamu sudah nyaman tinggal ditempatmu yang sekarang?” Pertanyaan Alex tepat sasaran.
Rinka merampas kunci apartemennya kemudian menggeleng menatap Alex. “Terima kasih sudah mengantar kuncinya.”
“Jika kamu tidak pulang ke apartemen, lalu di mana kamu tinggal selama ini?” Tania bertanya karena penasaran.
Alina turut berkomentar, “Kamu sedang krisis keuangan, tidak mungkin menyewa apartemen lagi dan mustahil tinggal di asrama pegawai rumah sakit karena kamu tidak memenuhi syarat untuk itu.”
Rinka sontak kelabakan menerima serangan pertanyaan dari teman-temannya. “Asrama kampus,” celetuknya, asal-asalan.
“Ayolah… jangan berbohong Rinka. Asrama kampus kita sudah penuh sejak penerimaan mahasiswa baru,” sahut Tania, menaruh curiga setelah melihat gelagat gugupnya sampai harus membohongi mereka.
Rinka mendadak bingung harus menjawab, apalagi sekarang Alina, Tania dan Alex sedang menatapnya serius menunggu jawaban. “Sini bajunya, aku akan memakainya!” Rinka merampas dress ketat dari tangan Alina yang sebelumnya enggan ia kenakan.
Hanya itu satu-satunya cara melarikan diri dari pertanyaan mereka, jadi Rinka terpaksa kabur menggunakan alasan mengganti pakaian. Walaupun pada akhirnya, ia menyesal juga karena dressnya teramat ketat hingga memperlihatkan lekukan tubuhnya.
“Kau berhutang jawaban pada kami! Berhubung pestanya akan dimulai, jadi kami akan skip jawabannya dulu,” ujar Alina setelah menunggu Rinka selesai ganti pakaian kemudian berangkat bersama menaiki mobil menuju gedung tempat diadakannya pesta yang lokasinya tidak jauh dari JH Hospital.
◄••❀••►
Brakkkk!
Suara pintu terbuka kasar mengejutkan Edward yang belum tidur dan sibuk membaca laporan Masphito melalui Ipadnya. Pria itu melepas kacamatanya lalu mengangkat sebelah alis ketika melihat kemunculan Rinka di pintu masuk.
“Mr.Dom!” Gadis itu berjalan sempoyongan mendekati ranjang.
Edward syok. Matanya terbelalak sementara tubuhnya membeku melihat penampilan Rinka yang malam ini begitu menggoda hingga membuat Edward menelan ludah susah payah.
“Kamu pulang sendirian dalam keadaan mabuk? Jangan lakukan ini lagi, berbahaya jika ada yang melecehkanmu di jalan,” omel Edward, lebih ke mengkhawatirkan Rinka.
Gadis itu mengabaikan ucapan Edward dengan mengatakan, “Mr.Dom saya ingin bertanya.” Mata sayunya menatap tegas Edward.
Lalu meneruskan pertanyaan tanpa menunggu jawaban pria itu. “Semua orang-orang dipesta membicarakan kita. Mereka bertanya, apa hubungan saya dengan Anda?”
Edward terdiam untuk sesaat, kemudian menjawab, “Tentu saja hubungan kerja antara pasien dan suster.”
Rinka menelan kekecewaan seraya mengangguk-angguk tersenyum miris. “Benar, saya juga mengatakan itu pada mereka. Jawabanku tidak salah,” ujarnya menguatkan hati, berbanding terbalik dengan kedua matanya yang kini berkaca-kaca menahan tangis.
Andai ia tidak dalam pengaruh alkohol, Rinka akan lebih memilih pergi tidur sekarang, namun efek alkohol menahannya untuk tetap tinggal di sisi Edward dan menanyakan semua hal yang berkecamuk di kepalanya.
“Lalu apa artinya ciuman dan sikap manis yang selalu Anda lakukan pada saya?”
“Suster Rinka, kamu mabuk. Minumlah dahulu…” Edward menyodorkan gelas berisi air mineral dari nakas sebelah ranjangnya.
Rinka hanya diam menatapnya cemberut, lalu menggeleng lemah, “Saya tidak butuh itu, yang saya butuhkan adalah penjelasan Anda,” lirihnya.
Edward menghela napas panjang seraya mengembalikan gelas ke tempatnya semula kemudian menepuk-nepuk bagian kosong pahanya yang tertutup selimut dan berakhir mengulurkan tangan seakan mengajak Rinka untuk duduk dipangkuannya lagi.
Rinka mengepalkan tangan di kedua sisi tubuhnya, ia bukan anak kecil yang semudah itu diluluhkan dengan kasih sayang tak jelas. “Jangan bercanda Mr.Dom!” teriaknya, tidak bisa menahan kemarahan lebih lama.
“Anda mencium dan memangku saya sembarang serta memberi perhatian-perhatian kecil selayaknya sepasang kekasih padahal hubungan kita hanya sebatas pekerjaan antara pasien dan suster!” Rinka mengeluarkan semua kata-kata yang selama ini hanya bisa ia simpan dalam hati.
“Apa Anda menganggap remeh harga diri saya?” Rinka melanjutkan dengan suara gemetar dan sialnya air matanya jatuh secara bersamaan.
“Aku memang tertarik padamu Rinka, tapi apakah itu bisa disebut jatuh cinta?” Pertanyaan tidak yakin Edward membuat Rinka tertegun menatapnya kalut.
Wajahnya perlahan menunduk menghadap lantai, “Aku tahu kalimat apa yang tepat untuk mendeskripsikan perasaan Anda pada saya saat ini,” gumam Rinka tanpa menatap mata Edward.
Edward memutuskan turun dari ranjang dan berjalan mendekati gadis itu. Tangannya mencoba meraih bahu Rinka namun gadis itu menepisnya dengan mengambil langkah mundur.
“Apa yang kamu tahu?” Edward akhirnya bertanya, mencari tau isi kepala gadis itu.
“Anda menggunakanku sebagai pelampiasan dari kesepian yang Anda rasakan selama di rumah sakit. Statusku memang tidak penting, aku hanya objek hiburan yang menarik untuk Anda mainkan kapan saja,” jawab Rinka, kali ini mata cokelatnya berani menatap Edward.
Mata berisi kebencian sekaligus kesedihan yang tersamarkan oleh derai air matanya yang terus keluar. Edward terkejut melihatnya menangis. Ia tidak berpikir Rinka akan merasa tersakiti karena sikapnya.
“Itu tidak benar.” Edward mencengkeram kedua bahu Rinka, membantah kata-katanya sambil menatapnya nyalang.
Edward lupa Rinka bisa membaca pikiran hanya dengan melihat sorot matanya. Dan Rinka tahu perkataannya benar. Penyesalan yang tergambar jelas di kedua bola mata bernetra biru milik pria itu sudah membuktikan segalanya.
“Mr.Dom, saya tahu bagaimana rasanya kesepian tanpa keluarga. Jadi kali ini saya akan mencoba memaafkan Anda.” Rinka mengusap air matanya sebelum menyingkirkan tangan Edward dari bahunya.
“Maaf jika Anda terganggu karena pertanyaan saya. Anda bisa kembali beristirahat dan saya juga akan pulang,” pamit Rinka tanpa ekspresi lalu membalikkan badan dan berjalan meninggalkan Edward.
“Kamu akan pulang kemana?” tanya pria itu.
“Apartemen. Masalah tempat tinggal saya sudah selesai dan sekarang sudah bisa kembali tidur di sana,” jawab Rinka.
Lalu ia merasakan kehangatan melingkupi tubuhnya ketika Edward tiba-tiba memeluknya dari belakang. “Tidak, kamu tidak boleh pulang dalam keadaan kacau seperti ini.”
Rinka membalikkan badan kemudian mendongak menatap wajah Edward yang hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya, bahkan Rinka bisa merasakan embusan napas pria itu menerpa permukaan wajahnya.
“Kenapa Anda selalu mempermainkan perasaanku?” Rinka menarik pakaian Edward.
Edward merengkuhnya, menenggelamkan tubuh mungil Rinka ke dalam dekapan tubuh kekarnya. “Aku juga tidak tahu. Yang kutahu, aku selalu bahagia bila didekatmu,” ucap Edward membuat perasaan Rinka semakin campur aduk mendengarnya.
BERSAMBUNG...