Pelukan Edward berbuntut ciuman yang tak memungkiri Rinka pun menikmatinya hingga refleks mengalungkan kedua tangannya di leher pria tersebut. Edward memperdalam ciumannya, membelai bibir bawah Rinka lalu menggoda lidahnya hingga pertahanan Rinka runtuh dan balas menciumnya secara agresif.
Bibir Edward beralih menuju leher Rinka, mengecup kemudian mengisapnya kuat-kuat hingga meninggalkan tanda kissmark. Memikirkan Lusi yang telah melewati batas dengan Ferro di sana, membuat Edward merasa ia juga pantas mendapat kesempatan yang sama.
Yaitu melewati batas dengan susternya.
“Suster Rinka,” suara berat Edward menyita perhatian Rinka dan berpaling menatapnya sayu.
“Ya Mr.Dom?” sahut Rinka lembut.
“Apa boleh aku membawamu ke ranjangku?” Edward meminta izin, meskipun rasanya salah karena ia memanfaatkan kesempatan ini disaat gadis itu masih dalam pengaruh alkohol.
Rinka terdiam sejenak untuk berpikir, namun tidak lama sebelum kemudian mengangguk dengan tersenyum manis. Senyum yang membuat Edward lebih bersemangat menggendongnya dan membaringkannya di ranjang.
“Hati-hati dengan infusnya.” Rinka membenarkan selang infus Edward ketika pria itu mengurung tubuhnya di atas.
Kebiasaannya sebagai suster sudah melekat meski dirinya mabuk dan Edward merasa bahagia mendapat perhatian kecil itu. “Ayo kita one night stand!” Edward berucap tenang dengan senyum malaikat yang selalu mampu menghipnotis akal sehat Rinka.
“One night stand?” Otaknya yang setengah sadar berpikir keras mencari arti dari kalimat itu. Sementara Edward sudah duluan mencium bibirnya lagi dan tak memberi Rinka kesempatan untuk berpikir.
Bagaimana Edward tidak tergoda jika malam ini Rinka terang-terangan memamerkan tubuhnya yang indah dibalik dress ketat berwarna hitam yang dikenakannya selepas dari pesta. Memikirkan orang-orang di pesta yang melihat penampilan terbukanya seperti ini entah kenapa membuat Edward menggeram kesal.
“Lain kali, jangan memakai pakaian terlalu ketat. Orang-orang bisa berpikiran mesuum ketika melihat tubuhmu,” sepertinya dirinya sekarang, Edward meneruskan dalam hati.
Rinka mengangguk lemah dengan wajah pasrah, Edward yang sudah diambang batas mendadak ragu sebelum melanjutkan kegiatan panas mereka. Apakah keputusannya benar mengajak gadis itu bercinta dalam keadaan mabuk? Edward seharusnya tidak mengambil keuntungan dari situasi ini.
“Mr.Dom aku ingin mengatakan sesuatu,” ucapan Rinka mengalihkan pikiran Edward yang kini kembali fokus menatap Rinka.
“Katakan,” jawab Edward dengan sebelah tangan membelai pipi Rinka yang masih memerah efek minuman keras.
“Aku… aku mencintaimu.”
Mata Edward terbelalak mendengar pengakuan Rinka. Niat awalnya yang mulia langsung lenyap sebab pernyataan Rinka membuat Edward benar-benar tersesat kemudian menyerangnya dengan ciuman.
Dan lagi-lagi Rinka membalas ciumannya dengan kelembutan yang sama hingga Edward terbakar gairah. Satu tangannya yang lain menyelinap di balik punggung Rinka dan menarik resleting dress gadis itu hingga atasannya melorot setengah memperlihatkan bra tanpa tali berwarna hitam yang menyembunyikan gundukan daddanya yang penuh dan bulat.
Mata Edward berkilat dipenuhi nafsu yang menuntun tangannya menyentuh gundukan padat tersebut dan membuatnya mendengar erangan keluar dari bibir gadis itu. “Ahh… Mr.Dom…”
Edward tidak dapat berpikir jernih lagi lalu ia pun semakin gencar menelusuri bagian-bagian lain dengan membelai d**a sampai ke bawah perut Rinka yang sontak terkesiap merasakan sentuhan jarinya di sana.
Biasanya Edward tidak bertindak sendiri, pengalaman bercintanya didominasi oleh Lusi karena Edward selalu mendahulukan kebutuhannya. Namun sekarang ia sedang bersama gadis perawan yang kemungkinan belum tahu apa-apa tentang cara memuaskan pasangannya.
Memunculkan insting pria Edward yang bergerak bebas tanpa perlu diminta lagi.
“Akhh!” Rinka menjerit ketika Edward menggunakan lidahnya membelai inti tubuhnya di bawah.
Tidak bisa, tidak bisa! Sensasi ini terlalu nikmat dan Rinka sudah tidak sanggup lagi bertahan.
“Rinka…”
Hening, tidak ada sahutan dari gadis itu lagi membuat Edward kembali ke atas memeriksa wajahnya yang sudah terpejam dengan napas teratur. Dia tidur?
Edward tercengang, tidak percaya Rinka bisa tidur dalam keadaan tubuhnya setengah telanjang. Namun Edward tidak marah, pria itu justru tertawa sambil menggeleng tidak habis pikir.
“Kalau begitu, selamat tidur…” Edward berguling ke sisi tubuh Rinka kemudian menyelimuti tubuhnya.
Meski tersiksa karena dorongan nafsu yang sebelumnya, namun Edward selalu bisa mengendalikan dirinya dengan baik dan ikut tidur sambil memeluk Rinka dari samping. Meskipun tak mendapatkan apa yang dia inginkan, tapi setidaknya Edward merasa bahagia setelah tahu gadis itu mencintainya.
Edward pikir Rinka akan membatasi dirinya supaya tidak merasakan hal-hal semacam itu, status mereka yang selalu Edward gadang-gadang hanya sebatas suster dan pasien juga salah satu cara Edward mengantisipasi perasaan itu muncul.
Namun sepertinya mereka berdua sama-sama kalah. Kalah oleh keadaan yang membuat mereka merasakan cinta. Walaupun Edward masih tidak yakin dengan perasaannya saat ini, namun sepertinya pria itu juga merasakan hal yang sama seperti yang Rinka rasakan.
Tapi membayangkan Lusi menangis karena dirinya membuat Edward kembali menyingkirkan perasaan tersebut. Sekali lagi Edward meneguhkan hatinya agar tidak terlena dengan perasaannya pada Rinka, karena ia sudah memiliki wanita yang dicintai.
Wanita yang selalu Edward ingin bahagiakan dan satu-satunya wanita yang tidak pernah Edward buat menangis.
◄••❀••►
Rinka bangun sambil meringis pening memegang kepalanya. Ia terkejut saat menyibak selimut lalu mendapati dirinya setengah telanjang. Rinka segera mendekap selimutnya kembali kemudian lebih terkejut lagi ketika melihat Edward tidur di sampingnya.
DI SAMPINGNYA?!
Ya Tuhan, apa yang terjadi kemarin malam? Rinka berusaha mengingat dan memutar kejadian semalam mulai saat ia datang ke pesta bersama Alina dan Tania, lalu mereka berpesta dan teman-teman memaksanya minum karena kalah permainan hingga ia ingat Tania mengantarnya pulang ke apartemen.
Lalu, kenapa dirinya ada di sini sekarang? Seharusnya ia berada di apartemennya, bukannya malah tidur satu ranjang dengan Dominic Rykerth.
Rinka memeriksa tubuhnya sekali lagi, dan ia merasakan jejak basah di leher serta inti tubuhnya yang masih rapat. Apa mereka melakukan foreplay kemarin?
Melihat keadaan tubuhnya yang sudah setengah telanjang serta letak celana dalamnya yang sudah geser, sepertinya memang benar dia dan Dominic melakukan foreplay kemarin. Astaga! Beruntung pria itu tidak sampai menjebolnya atau ia pasti akan terbangun dengan perasaan menyesal.
“Mr.Dom…” Rinka memanggilnya lirih sambil menoel-noel wajah tampan pria itu.
Namun Dominic tak kunjung bangun dan malah membuat Rinka penasaran akan satu hal. Disibaknya pelan-pelan kain selimut yang menutupi tubuh Dominic, kemudian Rinka mengintip ke bawah tubuhnya yang syukurnya masih menggunakan celana lengkap.
“Huft…” Rinka merasa beruntung karena tidak ada satu pakaian pun yang hilang dari tubuh pria itu, yang berarti dirinya masih aman.
Kemudian sepasang mata biru Dominic terbuka. Rinka terkesiap sambil mendekap selimutnya rapat-rapat ketika pria itu menatapnya teduh, lalu bangun dengan cara paling elegan yang pernah Rinka lihat dari seorang laki-laki.
Bahkan wajah bangun tidurnya masih tetap tampan, Rinka sontak bertanya-tanya kapan pria itu akan terlihat jelek karena mau dilihat dari sudut manapun Dominic selalu menawan.
BERSAMBUNG...