23 – SELAYAKNYA LANGIT & BUMI

1178 Words
“Selamat pagi suster Rinka.” Sapaan itu kelewat santai diucapkan mengingat keadaan mereka sedang tidur berdua satu ranjang. “Pagi Mr.Dom.” Rinka membalas sapaannya sambil mengerjapkan mata menatapnya gugup. “Tenang saja, kita tidak melakukan apapun semalam,” jelas Edward, barangkali gadis itu ingin tahu tapi terlalu malu untuk bertanya. Rinka mengangguk dengan pipi merona kemudian meminta izin, “Boleh saya pakai selimut Anda untuk pergi ke kamar mandi?” Edward menatap tubuh dan wajah Rinka naik-turun sebelum mengizinkannya, “Boleh.” Bergegas, Rinka turun dari atas ranjang sambil melilitkan selimut Edward menutupi tubuhnya yang setengah telanjang lalu berlari kecil menuju pintu namun terhenti akibat teriakan Edward, “Pakai saja kamar mandi dalamku.” Rinka mengikuti jari telunjuk Edward yang mengarah ke kamar mandi yang menjadi satu dalam kamar inap Edward yang super luas. Rinka sontak berpikir, mungkin lebih baik dia menggunakan kamar mandi dalam daripada ia keluar dengan penampilan seperti ini. Gadis itu akhirnya mengangguk lalu berputar arah menggunakan kamar mandi Edward, tapi lagi-lagi pria itu menahannya. “Pakai saja handuk dan kemejaku untuk sementara. Kamu tidak mungkin keluar memakai dress ketat itu lagi kan?” Benar juga, Rinka pun tidak ada pilihan selain menurutinya. “Baik, Terima kasih Mr.Dom.” Setelah berada di kamar mandi, Rinka melotot kaget melihat bekas kissmark yang ditinggalkan Dominic tersebar di beberapa bagian tubuhnya. Tidak hanya satu, melainkan ada, “Satu, dua, tiga. Arghh!” Rinka menghitung dan berakhir menjerit kesal. Satu di leher, dua di sekitar dadda, dan ketiga di area perutnya. Astaga! Sebenarnya apa saja yang mereka lakukan semalam? Rinka berusaha mengusir pikiran itu dan fokus membersihkan tubuhnya sebelum dokter Charles dan Joseph datang melakukan pemeriksaan pagi hari. Setelah 15 menit berkutat di kamar mandi, Rinka akhirnya keluar mengenakan kemeja Edward yang tampak kebesaran di tubuhnya. “Terima kasih sudah mengizinkanku menggunakan kamar mandimu Mr.Dom, kalau begitu saya akan langsung pergi ke ruang kerja untuk berganti seragam.” “Sebelum pergi, bisakah kamu membantuku ke kamar mandi?” pintanya. Memicu pelototan tajam Rinka mengarah kepadanya, “Biasanya Mr.Dom bisa sendiri tanpa bantuanku,” sahutnya, agak curiga pria itu akan berbuat mesuum lagi. “Aku bisa karena saat itu terpaksa karena tidak ada orang lain yang bisa membantuku, tapi sekarang kamu ada di sini. Ingatlah kamu kubayar untuk menjadi suster pribadi yang merawatku,” ujar Edward, secara tidak langsung membuat Rinka tidak dapat menolak permintaannya. Rinka memutar bola mata seraya mendengus kesal, “Baiklah, saya akan membantu Anda.” Rinka berjalan mendekati ranjang, membantu Edward turun dari ranjang kemudian mengantarnya sampai ke depan pintu kamar mandi. “Tolong ambilkan baju pasienku lagi di lemari di sana!” Edward menujuk lemari kecil di dekat dapur mini. Rinka mengangguk patuh sebelum mengambilnya, “Dimana handuk Anda? Biar sekalian saya ambilkan,” tanya Rinka setelah mengambil baju dilemari. “Tidak perlu, handukku sudah ada di kamar mandi,” jawab Edward. Kening Rinka berkerut, seingatnya hanya ada satu handuk di kamar mandi dan handuk itu bekasnya. “Tapi hanya ada satu handuk di sana, itupun sudah saya pakai.” “Memang, aku hanya punya satu handuk.” Jawaban Edward pun berhasil mengejutkan Rinka yang kini membuka mulut melongo. Jadi mereka menggunakan handuk yang sama? “Kukira orang kaya punya banyak handuk,” sergahnya, setengah meledek ketidakmampuan Edward membeli handuk yang lain. “Aku memang membeli yang baru setiap minggu, dan handuk lama selalu kubuang ke tempat sampah. Tapi sepertinya aku tidak akan pernah membuang handuk yang ini karena kapan lagi aku dapat handuk bekas tubuhmu,” godanya disusul cekikikan tawa sebelum kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Meninggalkan Rinka yang melongo karena perkataan Edward sebelumnya. “Kurasa Mr.Dom memang pria c***l,” gerutunya lalu cepat-cepat meninggalkan kamar untuk berganti seragam. ◄••❀••► “Mr.Dom! Saya punya kabar baik untuk Anda.” Rinka melapor setelah mendapat telepon dari Frederic. Kebetulan Edward sedang berjemur di bawah cahaya matahari untuk mendapat kebutuhan vitamin D yang cukup di balkon yang terhubung dengan kamar inapnya. “Kabar baik apa?” tanya pria itu sambil melepas kaca-mata hitamnya. “Mr.Frederic bilang ada kornea yang cocok untuk tranplantasi mata Nona Lusi. Tapi masalahnya, organ itu baru bisa diambil bertepatan dengan hari operasi Anda dilakukan,” jawab Rinka. Senyum di bibir Edward mengembang, “Biar sekretarisku yang mengurus pengambilannya. Terima kasih suster Rinka, berkatmu sebentar lagi Lusi bisa melihat,” ujarnya. “Sama-sama Mr.Dom, Anda keluarga yang baik sekali,” puji Rinka, yang tanpa sepengetahuannya memang sudah menjadi tugas Edward sebagai suami membantu istrinya yang buta. Senyum pria itu perlahan sirna, meski ia tidak mengatakan apa-apa namun dari sorot matanya terlihat kesedihan di sana. “Anda pasti merindukan keluarga Anda ya?” Edward termenung menatap Rinka yang selalu bisa menebak pikirannya. “Kurang beberapa hari lagi menjelang hari operasi Anda tiba, setelah dinyatakan sembuh Anda bisa segera kembali ke keluarga,” ujar Rinka, meski setelah itu mereka tidak akan pernah bertemu lagi, karena tidak ada alasan bagi mereka untuk bertemu. Rinka tidak akan menjadi suster pribadinya lagi, dan dia juga bukan siapa-siapa bagi pria itu hingga kemungkinan terbesar hari itu akan menjadi hari terakhirnya melihat Dominic. Perpisahan yang cukup menyakitkan bila diingat, dan Rinka harus mempersiapkan hatinya sebelum hari itu tiba. “Aku akan kembali ke keluargaku, dan kamu juga akan melanjutkan studimu di JH University. Menurutmu, apa kita bisa bertemu lagi suatu saat?” tanya Edward. Memunculkan setitik harapan di hati Rinka agar mereka bisa bertemu lagi di lain kesempatan. Namun gadis itu menjawab sebaliknya, “Saya rasa tidak perlu.” Ada kalanya lebih baik mereka tidak bertemu lagi dan saling melupakan demi kebaikan bersama. Edward terlihat kecewa dengan jawabannya. “Kenapa kamu berpikir begitu?” “Ibarat Anda adalah langit,” Rinka menunjuk ke arah langit cerah, kemudian menunjuk tanah yang ditapakinya, “dan saya adalah bumi. Mustahil bagi kita untuk bertemu lagi.” “Orang biasa seperti saya tidak selayaknya bersama Anda. Keberadaan saya di sisi Anda sekarang hanya karena faktor keberuntungan dan pekerjaan. Diluar itu, tidak mungkin saya bisa berdiri di dekat Anda,” imbuhnya kemudian mengulum senyum ironi. “Jangan sedih begitu!” Edward menarik pinggang Rinka hingga terjatuh ke atas pangkuannya. Lagi-lagi melakukan kebiasaannya yang suka memangku Rinka tiba-tiba tanpa izin. “Jika mustahil bagimu berdiri didekatku, biar aku yang melangkah menghampirinya,” ujarnya dengan senyum memesona andalannya yang selalu mampu menghipnotis Rinka hingga tak dapat berpaling ke arah lain. Ucapannya mirip lelaki playboy yang suka mengumbar janji manis palsu, tapi Rinka merasa terhibur dengan itu. “Gombalan Anda tidak akan mempan menggoda saya,” ledek Rinka. Edward terkekeh kemudian meyakinkan gadis itu, “Itu bukan gombalan, aku serius!” “Ya, ya, ya, anggap saja saya percaya,” Rinka menjawab cuek. “Kenapa kamu tidak memercayaiku?” sungut Edward. “Saya kan sudah bilang anggap saja saya percaya.” “Itu sama saja tidak memercayaiku.” “Saya percaya.” “Benarkah?” Dan begitulah seterusnya keributan mereka berlanjut hingga tanpa mereka berdua sadari, masing-masing dari mereka sama-sama merasa nyaman dan pasti akan merindukan momen-momen di mana mereka bisa mengobrol bersama seperti ini ketika sudah berpisah nanti. BERSAMBUNG...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD