24 – SUASANA CANGGUNG

1172 Words
Sehari sebelum hari operasi Dominic dilakukan, Joseph menyuruh Rinka memasang urine kateter karena kateterisasi dapat membantu drainase kandung kemih sebelum dan selama tindakan operasi berjalan. Hal itu penting sebab pengaruh sejumlah obat anestesi terhadap relaksasi otot kandung kemih dapat meningkatkan kejadian distensi kandung kemih dan mencegah terjadinya risiko cedera kandung kemih. “Kenapa harus saya? Kenapa tidak Mr.Jos saja yang memasangnya, kalian berdua kan sama-sama laki-laki?” protes Rinka, bukannya tidak bisa—ia sudah pernah belajar cara memasang urine kateter menggunakan boneka sebagai objek percobaan. Tapi kali ini berbeda, Rinka masih magang, terlebih lagi masalah utamanya adalah apakah ia mampu melakukannya ke p***s milik Dominic? Membayangkannya saja sudah membuat kedua tangannya gemetar, apalagi saat melihatnya langsung. “Kamu kira aku tidak sibuk hari ini? Aku harus membuat laporan untuk mempersiapkan operasi besok. Tugasku sebagai perawat sirkuler sudah banyak, tolong jangan menambah pekerjaanku suster Serra,” Joseph mengeluh, melihat dari wajah kurang tidurnya sepertinya pria itu tidak berbohong. “Lagi pula, Tuan Dominic itu pasienmu. Sudah jadi tanggung-jawabmu merawatnya, jangan libatkan perasaanmu ke pekerjaan Serra. Jangan sampai kamu melukai organ vitalnya hanya karena gugup,” Joseph kembali menasihati Rinka. “Baiklah, saya mengerti Mr.Jos,” Rinka meringis, mau tidak mau ia harus melakukannya karena pekerjaan. “Kamu bisa memasangnya kan? Seharusnya itu tidak akan sulit bagi mahasiswa cerdas sepertimu,” tanya Joseph, mendadak khawatir karena Rinka tampak terpaksa dan ragu-ragu saat menjawabnya. “Saya bisa, hanya saja masalahnya…” Rinka menggigit bibir bawahnya, kepala perawatnya pasti tidak akan percaya dengan jawabannya. “Apa?” Joseph mendesak kelanjutan ucapan Rinka yang menggantung. “Saya belum pernah melihat alat reproduksi pria secara secara langsung.” Rinka menjawab seraya memejamkan mata rapat-rapat, tidak berani melihat ekspresi Joseph setelah mendengar ucapannya. Dan benar saja, pria itu sangat terkejut. Apalagi Rinka bukan anak remaja yang baru merayakan umurnya yang ke 17, dia sudah 20 tahun lewat menginjak 21. “Kamu belum pernah melihat milik pacarmu?” Joseph bertanya heran. Rinka menunduk memainkan ujung sepatunya menahan malu, “Saya belum pernah punya pacar,” lirihnya disusul dengusan miris. Joseph lantas menatapnya prihatin sembari menepuk-nepuk pundak Rinka. “Jika begitu, percobaan pertamamu pasti akan sulit,” ujar Joseph yang bukannya menyemangati malah menakut-nakuti Rinka yang semakin tidak yakin bisa melakukannya dengan benar. “Huaaa!” Rinka mengerang frustasi dengan wajah menahan tangis. Kenapa ia selalu terlibat momen canggung dan mendebarkan dengan Dominic Rykerth? Semua itu tidak akan sulit dilakukan andai saja ia tidak punya perasaan bodoh yang seenaknya muncul tanpa diperintah di mana orang-orang menyebutnya sebagai CINTA. ◄••❀••► Rinka mengambil napas sedalam-dalamnya kemudian mengembuskannya perlahan, “Kamu pasti bisa Serra!” Rinka menyemangati dirinya, lalu mendorong troly berisi alat tempur atau lebih tepatnya peralatan steril yang Rinka butuhkan untuk memasang urine kateter. “Siang Mr.Dom…,” Rinka menyapa setelah masuk ke dalam kamar inap Edward yang seperti biasanya selalu sibuk dengan laptopnya. “Tumben kamu ke sini saat jam makan siang. Apa dokter Charles akan melakukan pemeriksaan lagi?” tanya Edward seraya melirik peralatan yang dibawa Rinka di atas trolynya. “Tidak, pemeriksaan selanjutnya akan dilakukan sore nanti. Sebelum saya menjelaskan apa yang akan saya lakukan, saya harap Anda tidak berpikiran macam-macam.” Rinka memberi Edward pengarahan sejak awal daripada pria itu terkejut nantinya. “Sebenarnya ini bukan tugas saya karena masih mahasiswa magang, tapi karena kemampuan dan tanggung-jawab saya bekerja sebagai suster pribadi Anda, dan Mr.Jos juga tidak mau melakukannya karena sedang sibuk, maka perlu Anda ketahui bahwa apa yang saya lakukan saat ini ‘amat sangat terpaksa’ demi kelancaran operasi Anda besok.” Rinka menekan tiga kata terakhirnya agar pria itu tahu semua ini bukan keinginannya melainkan sebatas tanggung-jawab yang harus ia emban. Penjelasan Rinka masih mengambang hingga Edward bertanya-tanya apa yang sebenarnya akan suster itu lakukan padanya? Edward kembali mengamati alat-alat yang dibawa Rinka di troly namun merasa asing dengan alat-alat medis tersebut kecuali spuit atau injeksi. Perhatiannya kemudian tertarik ke sebuah kantung persegi tersambung dengan selang panjang yang entah apa fungsinya itu. “Kamu akan mengambil darahku?” tebaknya karena berpikir kantung itu mirip kantung darah yang pernah ia lihat sebelumnya. Rinka menggeleng sembari mengangkat urinepack yang sejak tadi membuat penasaran pria tersebut. “Saya akan memasang urine keteter,” jawab Rinka tanpa ekspresi, yang tanpa sepengetahuan Edward sedang menahan gugup setengah mati. Otak cerdas Edward secara langsung menangkap maksud Rinka. Awalnya ia sempat kaget, namun melihat tangan gemetar Rinka—Edward mencoba tetap tenang agar gadis itu tidak semakin gugup. “Baiklah, lakukan!” perintah Edward lalu membereskan laptopnya sebelum berbaring telentang di tempat tidur. Rinka menelan ludah susah payah ketika pandangannya kini terpaku ke bagian bawah tubuh Edward yang masih tertutup celana panjang rumah sakit. “Anda tidak keberatan saya yang melakukanya?” “Anda pasien VVIP di rumah sakit ini, jika merasa tidak nyaman Anda boleh meminta Mr.Jos yang melakukannya. Selain karena dia perawat kompeten di JH Hospital, Mr.Jos juga seorang pria sehingga Anda tidak akan canggung saat pemasangan urine keteternya.” Rinka mengajukan negosiasi, barangkali bisa terselamatkan dari keadaan ini. Namun gelengan kepala Edward memupuskan harapan terakhir Rinka. “Tadi kamu bilang Mr.Jos sedang sibuk kan? Ini pekerjaanmu sebagai suster pribadiku, jadi lakukan saja,” jawab Edward dengan entengnya. Berbeda dengan raut wajah Rinka yang merasa sangat terbebani. “Kamu pernah melakukannya kan sebelumnya?” tanya Edward ketika Rinka dengan gerakan lambat memakai sarung tangan sterilnya. Gelengan kepala Rinka agaknya sedikit membuat Edward khawatir gadis itu akan melukainya organ pentingnya. “Saya hanya pernah mempraktekkannya ke boneka sebagai alat percobaan sewaktu belajar di kampus, walaupun Mr.Jos juga sudah mengajari tekniknya lagi tadi pagi tapi… saya tidak menjamin bisa melakukannya dengan benar.” “Anda tidak keberatan jadi manusia pertama bahan percobaan saya?” Rinka mencoba menakut-nakuti Edward agar pria itu berubah pikiran. “Aku percaya pada kemampuanmu,” jawaban Edward membuat Rinka menekuk wajahnya kesal karena sekali lagi gagal memengaruhi keputusan pria itu. “Tolong lepas celana Anda,” pinta Rinka dengan setengah hati dan jantung berdebar tak karuan. Edward menurut kemudian melorot celana panjang rumah sakitnya hingga menyisakan celana dalamnya berwarna hitam yang menonjol. Kira-kira apakah bentuk penisnya mirip dengan yang Rinka lihat di buku anatomi? “Jangan bilang kamu belum pernah melihat p***s seorang pria?” Ucapan Edward memalingkan perhatian Rinka kembali melihat wajahnya. “Saya pernah melihatnya dibuku!” Rinka menjawab kesal. “Aku senang, milikku jadi yang pertama kamu lihat secara langsung.” Bisa-bisanya Edward bangga dengan kenyataan itu. Rinka sudah akan memprotes lagi namun gerakan tangan Edward menurunkan celana dalamnya lebih mengejutkan hingga Rinka refleks menutup mata karena belum siap melihatnya. “Kamu itu sangat tidak profesional ya? Mana bisa kamu bekerja dengan mata tertutup seperti itu?” Ledekan Edward menyentil harga dirinya sebagai suster yang memiliki impian besar. Tidak bisa dibiarkan. Rinka harus membuktikan bahwa ia adalah suster yang kompeten. Setelah meyakinkan dirinya dan mendapat pasokan keberaniannya lagi, Rinka akhirnya membuka mata. Namun lagi-lagi ia dibuat tercengang oleh pemandangan di depannya. Milik pria itu sangat besar dan panjang, parahnya lagi sekarang berdiri tegak dengan gagah tanpa rasa malu. BERSAMBUNG...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD