“Bisa-bisanya Anda berpikiran kotor di saat seperti ini!” tegur Rinka sambil menatap marah Edward.
Edward pun dengan polosnya menjawab, “Ini normal karena aku seorang pria, dan reaksi malu-malumu itu juga salah satu pemicunya.”
Rinka melotot, dirinya salah satu pemicu pria itu terangsang sekarang?
Tidak ingin berlama-lama terjebak suasana canggung ini, Rinka berusaha mengabaikan ucapan Edward dan fokus pada pekerjaannya. Meski kata mengabaikan di pikirannya hanya omong kosong karena Rinka sama sekali tidak bisa untuk tidak memedulikan benda keras tersebut saat membersihkan area kelamin Edward dengan antiseptik lalu melumuri kateternya dengan gel pelumas.
“Ini… akan sedikit sakit,” ujar Rinka sebelum memberanikan diri memegang milik Edward kemudian berusaha fokus saat memasukkan kateternya melalui uretra ke kandung kemih.
Proses itu memang sakit dan membuat Edward pada awalnya merasa tidak nyaman, namun berkat melihat wajah cantik Rinka saat serius bekerja, pikiran Edward menjadi sedikit teralihkan dari rasa sakit tersebut.
“Selesai!” Rinka dapat bernapas lega setelah melakukan tahap akhirnya yakni menyambungkan ujur luar kateter ke kantung penampung urine.
“Kenapa punya Anda masih tegang?” Rinka bertanya karena benda itu sejak tadi masih berdiri gagah bahkan setelah Rinka selesai memasang alatnya.
“Nanti juga akan normal lagi. Atau kamu mau membantuku menidurkannya?” goda Edward diselingi kekehan menyebalkan yang berhasil membuat Rinka menatapnya tajam.
“Jangan bercanda Mr.Dom, Anda sangat tidak sopan pada suster Anda ini!” maki Rinka, kemudian menyerahkan celana dalam yang dirancang khusus untuk pasien yang memakai urine kateter.
“Cepat pakai celana Anda lagi!”
“Rasanya masih agak nyeri untuk menggerakan tubuhku, bisa kamu bantu aku memakainya?” Kali ini Edward tidak main-main saat memintanya karena ia memang merasakan nyeri dibagian bawah tubuhnya akibat pemasangan kateter tadi.
“Jangan jadikan itu alasan Mr.Dom, buktinya Anda masih bisa menggodaku tadi. Jadi berjuanglah memakainya sendiri, saya izin pergi dulu karena pekerjaan saya sudah selesai.” Rinka sengaja mengabaikannya kemudian mendorong kembali trolynya keluar ruangan.
“Kumohon suster… aku tidak bohong kalau ini sakit,” erangan menyedihkan Edward di belakangnya membuat langkah kaki Rinka terhenti ketika sudah mencapai pintu.
Kepalanya menoleh dan mendadak tidak tega melihat wajah tersiksa Dominic. Biasanya memakaikan pakaian bukan tugas suster karena ada keluarga yang membantu pasien mengenakannya, berhubung Dominic tidak memiliki keluarga dan satupun orang yang dapat membantunya, membuat hati nurani Rinka tergerak untuk menolongnya.
“Baiklah, saya akan bantu.” Rinka kembali ke sisi pria itu kemudian membantunya memakai celana dalam dan celana panjang rumah sakit seperti semula.
Dan itu adalah momen paling absurd serta tidak pernah Rinka bayangkan karena ia secara sadar memakaikan celana dalam milik seorang pria yang bukan suaminya. Oh God! Haruskah ia terlibat momen sejauh ini bersama pasiennya sendiri, terlebih lagi Dominic bukan pasien biasa—ia adalah pasien laki-laki yang Rinka cintai.
Melakukan hal-hal intim seperti ini sontak saja membuat Rinka berkhayal jika suatu saat menjadi istrinya. Namun tentu saja itu hanya akan jadi angan-angannya saja sebab mustahil mereka bisa bersama.
◄••❀••►
Malamnya, setelah Rinka pulang ke apartemen, Edward yang pura-pura tidur kembali terbangun dan mengetik balasan email Masphito di laptopnya.
To : Masphito
From : Edward
Subjek : I miss her
Masphito, tell me how is she? I am glad to hear she’s doing just fine.
To : Edward
From : Masphito
Subjek : Reply : I miss her
Nyonya Lusi baik-baik saja, Tuan muda Aiden juga tumbuh dengan baik. Anda seharusnya berada di sini bersama mereka.
To : Masphito
From : Edward
Subjek : I can’t do it
Masphito you know I can’t do that, she have a better life ahead without me. It’s better this way, I do! There was no days that I did not think about her. Sometimes I wish I can say this to her, “Sweetiee… the sunset is beautiful, isn’t it?”
But I can't do it. I have surgery tomorrow and I have a bad feeling.
Jujur, Edward punya firasat buruk mengenai operasi yang dijalaninya besok. Walau suster Rinka bilang dokter Charles terkenal tidak pernah gagal, entah kenapa ia masih tidak yakin jika semuanya akan berjalan lancar.
Maka satu-satunya hal yang harus ia pastikan sebelum kemungkinan terburuk itu terjadi adalah memastikan Masphito memberikan kornea yang sudah Edward dapatkan dari Frederic untuk transplantasi mata Lusi.
Edward kembali berbaring menatap langit-langit dengan pandangan kosong setelah Masphito menjawab emailnya dan berjanji akan memastikan Lusi mendapatkan donor matanya.
Membayangkan Lusi dapat melihat dunia lagi membuat Edward merasa bahagia. Sebenarnya jauh dilubuk hati Edward yang terdalam, ia merindukan istrinya. 5 tahun pernikahan selalu berada di sisinya membuat Edward tidak menginginkan situasi seperti ini terjadi pada mereka.
Situasi di mana ia terpaksa menjadikan saudara kembarnya suami pengganti untuk istrinya yang buta, sementara di sini ia juga terjebak perasaan tidak jelas dengan susternya sendiri.
Namun mengingat kembali penyakit dan keadaannya yang sekarat saat ini, tampaknya menyerahkan Lusi kepada Ferro merupakan pilihan tepat. Asal wanita itu bahagia, Edward rela meski tanpa dirinya.
Clung…
Ponsel Edward berbunyi di atas nakas, pertanda ia mendapatkan satu pesan yang ternyata dikirimkan Rinka dari apartemennya. Tanpa sadar pria itu tersenyum membaca nama suster Rinka tertera di layar handphone.
Message from Suster Rinka
Mr.Dom, Anda sudah tidur? Saya baru selesai belajar untuk persiapan operasi Anda besok, dan tiba-tiba saja memikirkan Anda yang mungkin gelisah malam ini. Atau mungkin hanya perasaan saya saja, jadi saya memastikannya dengan mengirim pesan pada Anda.
Gadis itu memang selalu tahu saat dirinya sedang resah. Edward terkadang agak heran karena Rinka selalu bisa menebak kondisi hatinya di beragam situasi, padahal mereka sedang tidak berkontak mata tapi gadis yang satu itu selalu bisa tahu.
Mungkinkah ini semacam ikatan cinta yang pernah Rinka katakan padanya?
Tak menampik fakta Edward dapat melihat gelagat dari gadis itu yang menyukai dirinya, Edward sendiri senang jika benar Rinka menyukainya tapi ia tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk menanggapi perasaannya sehingga hanya bisa bermain-main menjadikannya hiburan selama ini.
Selain karena hubungan pekerjaan di antara mereka sebagai pasien dan suster, faktor lainnya ialah Edward sudah beristri. Ia penasaran bagaimana reaksi Rinka ketika tahu dirinya sudah menikah dan membohonginya terkait identitasnya selama ini?
Meninggalkan pertanyaan tersebut, Edward kemudian membalas pesan Rinka dengan mengetikkan jemarinya di atas layar ponselnya.
Message To Suster Rinka
Aku baik-baik saja. Sekarang sudah malam, pergilah tidur karena besok akan jadi hari yang sibuk, sekaligus hari terakhir kita bertemu karena setelah itu kamu kembali ke kampusmu.
BERSAMBUNG...