Rinka menatap punggung tegap pria yang berjalan di depannya sedangkan dirinya memilih membuntut di belakang sambil membawa cairan infus Dominic menuju lift. Setelah momen absurd Rinka memasang nursing-capnya secara asal-asalan di depan Dominic, kini pria itu meminta Rinka menemaninya jalan-jalan ke rooftop rumah sakit.
Ting.
Pintu lift terbuka, Rinka bersama Dominic melangkah masuk ke dalam.
Berada satu ruangan di kamar inap yang luas bersama Dominic saja sudah bisa membuat Rinka gugup setengah mati, dan sekarang mereka malah terjebak berdua di lift dengan luas ruangan lebih sempit, rasanya Rinka ingin pingsan saat ini juga!
Syukurlah tidak lama kemudian pintu lift kembali terbuka. Angin sejuk dari luar rooftop seketika menyambut Rinka dan Edward yang keluar secara bergantian. Kegugupan Rinka sontak teralihkan berkat udara segar di sana.
“Aku belum pernah ke rooftop sejak dirawat di rumah sakit, ternyata tidak buruk juga,” komentar Edward seraya mengedarkan pandangan ke hiruk pikuk perkotaan Baltimore yang berada di negara Maryland, Amerika Serikat.
“Aku sering menghabiskan waktu di sini ketika sedang penat,” sahut Rinka seraya berjalan mendekati pagar pembatas. Berbeda dengan Edward yang lebih suka melihat ke perkotaan, Rinka terbiasa mengamati pasien-pasiennya dari atas.
“Saat kupikir hidupku tidak adil, pasien-pasien itu membuatku sadar dan kembali bersyukur. Setiap orang memiliki masalahnya masing-masing, dan aku masih beruntung karena diberi kesehatan untuk bertahan.”
Edward menunduk ke bawah melihat pasien-pasien yang saling bercengkrama di taman dan gazebo, lalu berpaling menatap wajah Rinka. “Tentu, kesehatan adalah yang utama.”
“Seseorang yang punya banyak uang dan hidup bahagia di keluarga tentram tapi sakit pun masih kalah dengan orang miskin yang hidup sehat,” lanjut Edward, memicu Rinka beralih menatapnya sambil menautkan alis tajam.
“Mr.Dom sedang membandingkan hidup Anda dengan hidup saya?” protes Rinka, tersinggung karena gambaran orang miskin yang sehat sangat sesuai dengan kehidupannya sekarang.
“Kamu tidak termasuk orang miskin karena masih mampu kuliah di Johns Hopkins University,” Edward menyahut santai.
Rinka mendengus seraya membuang wajah ke arah lain. Semua orang yang tidak mengenalnya pasti berpikir begitu, padahal kenyataannya Rinka berjuang mati-matian untuk kuliah di John Hopkins.
“Orang tuamu pasti bangga karena kamu merawat pasien eksklusif padahal masih berstatus magang, kulihat kemampuan juga sudah cukup profesional,” pujian Edward sama sekali tidak membuat Rinka merasa senang.
“Ayahku menghilang sejak aku berusia 15 tahun dan ibumu meninggal di ulang tahunku yang ke 17.” Rinka menjawab tanpa ekspresi, sementara Edward terkejut mendengar jawaban di luar prediksinya.
“Maaf, aku tidak tahu.”
Rinka menatapnya sekilas lalu terkekeh melihat raut wajah Edward. “Tidak perlu mengasihani saya, penyakit Anda lebih memprihatinkan.” Perkataan Rinka berhasil mengembalikan suasana yang tadinya menyedihkan.
“Tapi Anda tidak perlu khawatir, kata dokter Charles ada kemajuan cukup signifikan berkat pengobatan kemoterapi yang Anda jalani beberapa minggu ini. Tim medis sedang merencanakan jadwal tambahan untuk Anda melakukan Imunoterapi sebagai langkah kedua melawan sel kanker yang ada di tubuh Anda,” jelas Rinka.
“Saya memberitahu ini supaya Anda bisa lebih bersemangat untuk bertahan hidup. Kulihat dari wajah suram Anda sepertinya ingin mati saja,” guraunya, karena tahu Dominic dalam kondisi hati tidak baik.
“Apa aku terlihat tidak bersemangat?” tanya Edward.
Rinka mengangguk, “Lebih tepatnya putus asa,” celetuknya.
Edward terkejut karena sejak tadi ia sudah berusaha maksimal menutupinya dengan bersikap normal. “Bagaimana kamu tahu kondisi hatiku? Aku selalu bisa menyembunyikannya dari semua orang.” Termasuk ke istriku sendiri, Edward meneruskan dalam hati.
“Anda mungkin bisa mengelabui orang lain, tapi buktinya tidak pada saya. Karena saya bisa langsung tahu hanya dengan melihat mata Anda secara langsung.” Rinka menjawab kelewat pede.
“Hanya dengan tatapan?” tanya Dominic.
Sementara Rinka menyahut, “Yup.”
Reaksi cepat Dominic yang tiba-tiba membungkuk menyejajarkan wajahnya di depan wajah Rinka mengejutkan gadis itu hingga spontan melangkah mundur dan hampir saja terjengkang ke belakang andai tangan Dominic tidak segera menarik pinggangnya.
Rinka menahan napas ketika wajah pria itu teramat dekat dengan wajahnya saat ini, ditambah tangannya yang masih melingkar di pinggang Rinka beserta tubuh mereka yang hampir menempel satu sama lain, oh astaga! Rinka bisa gila dalam jarak sedekat ini.
“Sekarang tebak apa yang sedang hatiku rasakan saat ini,” perintah Edward ketika sepasang mata birunya bersitatap dengan mata coklat keemasan milik Rinka.
“Anda… tertarik pada saya?” Hanya itu satu-satunya yang bisa Rinka tangkap dari mata biru milik pria itu, Rinka sendiri pun terkejut dengan jawabannya sendiri.
Dan sialnya, jawaban itu sangat tepat sesuai yang Edward pikirkan saat ini.
Lalu kegilaan mulai terjadi di detik berikutnya ketika Edward mendaratkan ciuman di bibir Rinka yang terbelalak merasakan sentuhan di bibirnya.
Ya Tuhan… first kissnya diambil oleh pasiennya sendiri?
Rinka mendorong bahu Edward ketika sadar seorang suster tidak seharusnya berciuman dengan pasiennya sendiri, terlebih lagi Dominic Rykerth adalah pasien naratetama kelas VVIP. Bisa-bisa orang lain salah paham pada hubungan mereka.
“Anda bisa kembali ke kamar sendiri?”
Bukannya mendapat tamparan, protesan atau kemarahan, Rinka justru menanyakan sesuatu yang Edward sendiri heran. “Ya,” jawabnya.
“Kalau begitu, hati-hati.” Setelah menyerahkan cairan infus ke tangan Edward, Rinka kemudian membalikkan badan dan berlari menjauhinya.
Edward melongo melihat Rinka meninggalkannya seorang diri. “Dia pergi begitu saja setelah kucium?” Edward tampak syok walau tidak lama kemudian ia tertawa membayangkan wajah merona suster Rinka yang sekilas tadi tertangkap mata Edward.
Tawa Edward seketika lenyap ketika baru sadar ia tidak seharusnya mencium Rinka karena sudah memiliki istri. Ia bukan tipikal pria yang suka mencium sembarang gadis, lalu kenapa dirinya mencium Rinka tadi?
Tidak, Edward tidak boleh mengkhianati Lusi karena cintanya hanya untuk wanita itu seorang. “Maafkan aku Lusi.” Edward menyesal sambil mendongak membayangkan wajah Lusi yang tersenyum dari atas langit.
Ketika Edward sibuk berperang dengan pikirannya sendiri, di sisi lain Rinka yang hendak kembali turun ke bawah bertemu Yovita di depan lift. Wanita itu menatap Rinka tajam lalu tiba-tiba menamparnya.
PLAK!
Cukup keras hingga Rinka menyentuh pipinya yang terasa kebas.
“Berani-beraninya kamu menyalahgunakan tugasmu untuk bersenang-senang dengan pasien naratetama rumah sakit tempat kita bekerja!” maki Yovita, yang tadi tanpa sengaja melihat Edward dan Rinka berciuman di rooftop.
“Aku juga tidak tahu dia akan menciumku,” cicit Rinka, yang dibalas tawa meledek Yovita. “Hahaha, jadi maksudmu pria itu menciummu secara suka rela?!”
“Kau pasti menggodanya lebih dulu hingga Mr.Dom bersedia menciummu!” bentak Yovita, yang sebenarnya hanya iri karena Rinka menjadi suster kesayangan pasien VVIP rumah sakit mereka.
BERSAMBUNG...