bc

MUA Pilihan Mertua

book_age18+
27
FOLLOW
1K
READ
goodgirl
independent
CEO
boss
drama
bxg
city
office/work place
polygamy
husband
like
intro-logo
Blurb

"Menikahlah dengan Oliv," pinta mertua, setahun kemudian setelah Darian menikah dan belum memiliki anak dari Kalila.

"Oliv siapa sih, Yah? Aku bahkan nggak kenal siapa dia!"

Kalila menghentikan langkahnya ketika mendengar suara-suara dari pintu kamar suaminya yang terbuka lebar.

"Oliv, MUA yang dulu ayah pilihkan untuk pernikahan kalian. Dia cocok untuk kamu dan pasti bisa memberikan keturunan untuk kamu ...."

Untuk menghibur diri, Kalila memilih kerja di sebuah Wedding Organizer milik Kalandra Dewangga hingga pernikahan kedua Darian benar-benar dilaksanakan.

Namun, perekonomian keluarga perlahan surut hingga Kalila terpaksa menghidupi keluarga termasuk istri kedua suaminya.

Mampukah Kalila meneruskan pernikahan ini?

~masukkan ke rak supaya tahu kapan update~

chap-preview
Free preview
1 Masih Garis Satu
"Menikahlah dengan Oliv." Mata indah Kalila membulat ketika mendengar permintaan sang mertua yang ditujukan kepada Darian, suaminya. "Apa? Ayah jangan bercanda!" sergah Darian dengan nada berbisik. "Aku sudah punya istri." "Tapi kamu belum punya anak!" bantah Jordan, ayah kandung Darian tanpa berusaha memelankan suaranya sehingga Kalila mampu mendengar percakapan mereka dengan sangat jelas. "Yah, jangan keras-keras ..." pinta Darian. "Lila sedang di dapur ...." "Biar saja dia tahu," ketus Jordan angkuh. Kalila menarik napas dalam-dalam dan berusaha untuk tidak mengkhawatirkan permintaan mertuanya yang mustahil itu. Selama Darian setia kepadanya, bukankah dia tidak perlu khawatir? "Aku tidak setuju, Jordan." Ibu Darian menolak permintaan suaminya dengan terang-terangan. "Pikirkan perasaan Lila." Jordan menoleh ke arah istrinya, Ivana. "Dan kamu serta anakmu tidak pernah memikirkan perasaanku?" balas Jordan. "Darian itu putra kita satu-satunya, kalau dia tidak segera punya anak ...." "Astaga, Darian baru satu tahun menikah dengan Lila!" sergah Ivana mencoba memberikan pengertian. Sementara itu di dapur, Kalila maju mundur dengan bimbang. Dia baru saja selesai membuat teh untuk ketiga anggota keluarga itu, tapi untuk melangkah saja kakinya seolah seberat batu. Aku nggak boleh lemah, batin Kalila dalam hatinya. Dia akan menghadapi tantangan Jordan, ayah mertuanya itu. "Bu, ini tehnya!" Kalila muncul dari dapur dengan ekspresi wajah yang enak dilihat, sama sekali tidak terlihat seperti orang yang baru saja mendengar pembicaraan yang tidak seharusnya dia dengar. "Lila, kenapa tidak suruh pelayan saja?" Ivanka menyahut ketika Kalila dengan anggun meletakkan tiga cangkir teh di atas meja. "Nggak apa-apa, Bu." Kalila menerbitkan senyum termanisnya ke arah Ivana, setelah itu dia berdiri dan menyerahkan satu cangkir teh kepada Darian yang duduk di sofa. "Kamu nggak minum?" tanya Darian ketika Kalila duduk di sampingnya. "Enggak," sahut Kalila sambil menggeleng. Jordan terbatuk pelan. "Jadi bagaimana soal tadi?" tanya Jordan tanpa canggung, yang langsung dibalas dengan lirikan tajam dari sang istri. "Sudahlah, Yah." Darian mengelak. "Aku mau minum teh dulu." Kalila diam saja, dia terus mempertahankan sikap pura-pura tidak tahunya karena terkadang hal itu jauh lebih baik daripada mengetahui fakta yang kenyataannya jauh lebih menggores hati. Seperti pecahan kaca di dasar danau, begitu berkilau jika dilihat. Namun, sanggup melukai jika digenggam dengan begitu eratnya. Beberapa hari setelah itu, Kalila menyadari sikap Darian yang terlihat kikuk dari waktu ke waktu terhadapnya. Seakan mau mengutarakan sesuatu, tapi justru merasa bingung harus memulai dari mana. "Kamu kenapa?" tanya Kalila ingin tahu. Ketika itu Darian hanya berdiri mematung sambil memegang satu setel piyama tidurnya yang telah Kalila siapkan. "Enggak," geleng Darian terperanjat padahal suara Kalila tidak terlalu keras saat menegurnya. "Aku ... mau ada yang aku ingin bicarakan sama kamu, tapi ... besok-besok sajalah. Aku ngantuk sekali ...." Darian segera mengganti bajunya dan Kalila melirik sang suami sekilas. Dia tidak yakin kalau Darian sudah mengantuk sedangkan kedua matanya masih terbuka lebar sedemikian rupa. "Kamu nggak kelihatan ngantuk," komentar Kalila yang tidak bisa membendung rasa penasarannya. "Memangnya kamu mau bicara apa?" Darian tampak ragu-ragu dan tidak menjawab. "Apa ini soal ayah kamu?" tebak Kalila sambil lalu. "Apa sih yang kamu bicarakan?" Darian mengelak dan melupakan piyama bagian atasnya yang belum terkancing sepenuhnya. Dia menyergap Kalila dengan dua lengannya yang terjulur, kemudian memeluknya begitu erat. "Aku mencintai kamu," bisik Darian lembut. Kalila terkekeh. "Yang benar?" "Ya, kamu nggak percaya?" tanya Darian balik. "Meskipun sampai sekarang aku belum bisa hamil anak kamu?" tanya Kalila dengan nada yang dibuat biasa saja, tapi efeknya sanggup membuat Darian terdiam bisu. Pagi-pagi buta, Kalila turun dari tempat tidur dan meninggalkan Darian yang masih terlelap. Dia beringsut ke kamar mandi sambil membawa satu tespek yang akhir-akhir ini menjadi benda keramatnya. Namun, lagi-lagi Kalila harus didera perasaan kecewa karena melihat hanya ada satu garis merah yang muncul pada alat tes kehamilan itu. "Masih belum beruntung," gumamnya diiringi helaan napas berat. Meskipun begitu, dia tidak mau sedih berkepanjangan. "Bagaimana hari ini?" Ayah mertuanya, Jordan sudah menunggu di meja makan lebih awal ketika Kalila turun ke dapur untuk menyiapkan sarapan pagi. Ibu mertuanya juga terlihat sedang menyeduh teh ke dalam dua buah cangkir yang sudah tersedia di atas meja. "Lila, mari minum teh sama-sama!" ajak Ivana ketika Kalila datang mendekat. "Iya, Bu ...." "Kamu belum jawab pertanyaan saya, Lila!" sergah Jordan ketika dua wanita di depannya itu seakan sibuk sendiri. "Maaf, Yah!" ucap Kalila buru-buru. "Aku cuma belum beruntung ...." Kalila berdiri dengan salah tingkah, dia sendiri bingung dari mana Jordan seakan tahu kalau dia baru saja menggunakan alat tes kehamilan. Hal itu membuatnya takut sekaligus risi. "Sampai hari ini masih juga garis satu?" tanya Jordan tanpa berbelit-belit sekaligus tanpa berusaha memelankan nada suaranya padahal satu-dua pelayan sedang memasak untuk sarapan. "Jordan," tegur Ivanka pelan. "Jangan bertanya terus, itu privasi Lila." Jordan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Aku mau bicara sebentar dengan putraku," kata Jordan sambil berdiri dari duduknya dan meninggalkan dapur. "Ibu mau bikin apa, biar aku bantu!" ucap Kalila demi mengalihkan suasana supaya tidak canggung berlarut-larut. "Cuma teh, ini sudah selesai." Ivanka menyahut sambil mengulurkan satu cangkir teh yang yang masih panas kepada menantunya. "Kamu harus sabar ya menghadapi ayah mertua kamu?" Kalila hanya bisa mengangguk. Sebenarnya, dia sudah tidak sanggup lagi mengingat Jordan selalu merasa berhak mengurus rumah tangganya. Termasuk mendesak Kalila untuk segera melahirkan cucunya. Selesai minum teh, Kalila ke kamar tanpa dia ingat bahwa Jordan masih berbincang dengan suaminya. "Ayah sudah bilang kan, menikahlah dengan Oliv!" "Oliv siapa sih, Yah? Aku bahkan nggak kenal siapa dia!" Kalila menghentikan langkahnya ketika mendengar suara-suara dari pintu kamar suaminya yang terbuka lebar. "Oliv, MUA yang dulu ayah pilihkan untuk pernikahan kalian. Dia cocok untuk kamu dan pasti bisa memberikan keturunan untuk kamu ...." "Aku nggak mau menyakiti Lila, Yah!" Terdengar suara Darian yang menolak permintaan ayahnya keras-keras. "Dia harus mau, karena dia tidak bisa kasih kamu anak!" Jordan terus membujuk. "Aku menikah lagi pun nggak akan menjamin kalau istri baru itu bisa langsung kasih aku anak," bantah Darian. "Ayah jangan gegabah, aku sama Lila juga baru sebentar menikah." Sunyi sejenak, sementara Kalila terus mendengarkan dengan saksama meskipun itu tidaklah sopan. "Kenapa sih Ayah terus mendesak?" tanya Darian. "Nanti juga Lila hamil kalau sudah waktunya." "Kamu sih, kenapa harus menikahi bocah?" gerutu Jordan. "Bukankah ayah sudah pernah bilang sama kamu kalau idealnya itu kamu menikahi wanita dewasa yang subur dan bisa diandalkan?" "Tapi, Yah ...." "Lila itu masih terlalu muda, mungkin juga dia memang tidak bisa punya anak," imbuh Jordan lagi. "Yah, jangan bicara seperti itu. Aku mencintai Lila sejak lama!"

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.2K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.5K
bc

TERNODA

read
199.2K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
69.1K
bc

My Secret Little Wife

read
132.3K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook